
Akhirnya kegiatan gabungan ini sudah berada di penghujung acara. Semua penonton bersorak-sorai menyambut para finalis pertandingan bola basket.
"Loe sakit? Muka loe pucat banget" Tanya Adelia.
"Gue gak apa-apa" jawab Ratu ketus.
Pantas saja wajah Ratu terlihat pucat, sebab seharian penuh ia tak bisa tidur. Ditambah dengan beban pikiran yang harus ia pikirkan.
Adelia mencengkram tangan Ratu dengan kasar. Ia menatap tajam mata gadis itu.
"Gue gak mau ya, kalau loe kalah nanti. Loe alasan sedang tidak enak badan" ujar Adelia.
"Kita lihat aja nanti" tantang Ratu.
Pembawa acara sudah selesai melakukan pembukaan. Kini Adelia dan Ratu tengah berdiri ditengah lapangan saling berhadapan. Sebelum pertandingan dimulai, Hera meminta ijin untuk memasuki lapangan. Ia berjalan menghampiri Ratu.
"Buktikan, kalau Ketua Tim Basket SM yang terbaik" bisik Hera sembari memasangkan ikat lengan yang biasa digunakan oleh ketua tim basket SM.
Ratu tersenyum miring, ini bukan masalah besar untuknya. Semua orang harus tahu, siapa yang paling hebat diantara para pemain basket, tentu saja dirinya, Ratu.
PRIIIITTTTTT......
Setelah Hera pergi, peluit dibunyikan dan bola dilambungkan. Dengan gesit Ratu merebut bola itu dan menggiringnya ke area Adelia. Poin pertama sukses ia cetak dengan waktu yang begitu singkat.
Adelia kembali membara, ia bermain dengan sedikit amarah. Sorakan demi sorakan kembali terdengar, nama Ratu dan Adelia saling bersahutan. Waktu terus berlalu, dan Ratu terus mencetak poin, sedangkan Adelia masih setia dengan poin awalnya, nol.
Walau unggul dan sudah dipastikan kemenangan Ratu, tetapi gadis itu tetap memberikan permainan cantiknya. Sebenarnya ia ingin Adelia mempelajari taktik yang Ratu gunakan, namun sayangnya gadis itu bermain dengan emosi. Adelia tak bisa melihat semua gerakan yang Ratu ajarkan padanya.
Sedangkan dibangku penonton, Hera, Bintang dan juga Clara, tengah serius memperhatikan gerakan Ratu. Mereka menyadari jika Ratu menunjukkan taktik baru yang dipelajarinya.
"Del, jangan kasar dong mainnya" ucap Ratu kala Adelia mulai bermain kasar.
"Sorry" sahut Adelia ketus. Ia kembali mencoba merebut bola dari tangan Ratu, namun sekali lagi, Ratu berhasil mengelabui dirinya dan mencetak poin.
"Ratuuuu" teriak Hera, Clara dan Bintang berbarengan. Mereka melihat Adelia yang kesal lalu mendorong Ratu hingga gadis itu tersungkur.
__ADS_1
Peluit ditiupkan untuk memberhentikan permainan. Wasit datang dan mencoba menolong Ratu, tetapi gadis itu tak mau bangun. Tandu dipanggil untuk menggotong Ratu yang tak ingin membuka matanya.
"Dia lagi sakit? Kok panas banget badannya?" Tanya wasit keheranan.
Segera para panitia membawa Ratu ke ruang kesehatan agar bisa di periksa oleh dokter. Acara masih terus berlangsung, kemenangan tetap jatuh ditangan Ratu. Karena poin yang ia cetak jauh lebih banyak dari Adelia.
Kini Adelia tengah menatap Ratu dari luar ruangan, ia menyesal karena telah melakukan hal bodoh. Ia hanya marah karena walau dalam keadaan sakitpun, Ratu masih tak terkalahkan.
"Ratu gak apa-apa kan? Harusnya gue kasih tahu kalian, kalau dari awal dia sakit" gumam Adelia penuh penyesalan.
"Gak apa kok, dia cuma kurang tidur" sahut Bela.
"Kenapa kurang tidur?" sela Neil.
Bela tak menjawab pertanyaan Neil, ia hanya menunjuk ke arah Neil lalu pergi kembali mengikuti acara selanjutnya. Tak butuh penjelasan yang panjang, karena perkataan Neil membuat Ratu tak bisa tidur.
Setelah cukup lama menunggu, dokter membolehkan mereka semua masuk. Beliau menjelaskan pada Gio dan Bilal, jika Ratu kelelahan. Saat ini gadis itu tengah tertidur pulas, beliau menyarankan untuk membiarkan Ratu menghabiskan malam diruang kesehatan.
Mendengar penjelasan dokter, Gio, Faiq dan beberapa anak lain berjejer menjaga Ratu didepan ruang kesehatan. Sedangkan Ubay dan Aidan mengajak Neil juga yang lainnya pergi kembali ke acara penutupan. Ratu memang sudah menugaskan keduanya untuk menjaga Neil. Ezra dan David, sedang berkumpul bersama yang lainnya untuk melanjutkan rencana mereka selanjutnya.
Zayden terlihat tengah memandangi ruang kesehatan dari kejauhan. Gio dan Faiq segera masuk kedalam untuk memastikan keadaan Ratu. Layaknya sebuah dongeng putri tidur, ini adalah saat yang paling berbahaya bagai Ratu. Bisa saja seseorang mencoba melukainya.
"Kak gue mau masuk" teriak seseorang dari luar ruangan.
Faiq segera mengecek, dan mendapati Neil sedang berdebat dengan para teman-teman Faiq.
"Biarin aja dia masuk" perintah Faiq.
Jalan masuk pun terbuka untuk Neil agar bisa menemui Ratu. Ubay dan Aidan juga ada diluar, karena memang mereka mengikuti kemanapun Neil pergi.
Neil berjalan mendekat dan memeriksa keadaan Ratu, badannya masih sangat panas. Mata Ratu juga masih enggan terbuka.
"Dasar bodoh" gerutu Neil kesal. Selalu saja wanita dihadapannya itu membuat Neil khawatir.
"Neil, apa yang akan loe lakuin jika Ratu tidak pernah bangun lagi?" Tanya Gio.
__ADS_1
"Sssttt, dia bakal bangun Kak. Jangan ngaco deh kalau ngomong" sentak Neil. Ia menggenggam tangan Ratu yang terasa panas lalu menempelkannya ke pipi.
Neil terus mengoceh dan meminta Ratu untuk bangun. Ia juga berjanji tidak akan lagi mempermasalahkan kepergian Ratu untuk belajar di luar kota.
"Itu bukan keinginannya Neil, jika dia ingin, tentu saja berada didekatmu adalah prioritas. Tetapi Ratu telah memiliki perjanjian dengan Ayahnya" jelas Gio.
"Perjanjian apa?"
"Ratu bisa melakukan apapun yang ia mau. Loe pikir ini gratis? Dia berusaha lebih keras dari siapapun"
"Untuk Daniel?"
"Tidak, untuk dirinya sendiri. Neil, Ratu lebih mencintai dirinya sendiri lebih dari dia mencintai siapapun. Dirinya adalah kebanggaan Ratu"
Neil masih tidak mengerti dengan apa yang Gio jelaskan. Jika Neil berpikir kembali, semua yang Ratu lakukan selalu saja ada kaitannya dengan Daniel. Ia membenci hal itu, masalalu yang tidak bisa Ratu lupakan.
Ratu ingin melupakannya, tetapi rasa bersalah terus menghantui dirinya. Hal itu membuat hidup Ratu tak tenang, ia menghabiskan hampir sebagian waktunya demi menghapus duka yang Daniel tinggalkan.
Kenangan manis dan pelajaran berharga, Ratu tak bisa melupakannya walau ia ingin. Penyesalan selalu hadir kala dirinya mencoba membuang memori tentang Daniel. Kematian Daniel masih saja Ratu sesali, ia masih menyalahkan dirinya tentang kematian Daniel. Kata seandainya ini dan itu masih sering muncul dalam benak Ratu.
"Kak Ratu kenapa sih Kak?" Celetuk Raja yang baru saja masuk bersama Damar dan Liam.
"Gak apa-apa Ja. Kecapean aja" jawab Faiq.
"Hm, perasaan dari kemarin senang-senang aja. Kenapa tiba-tiba dia jadi gini? Kalian lagi bertengkar Neil?" Tanya Raja lagi.
Neil hanya berdehem menyahuti pertanyaan Raja.
Bahkan Raja pun bisa memahami, Ratu tidak akan melakukan hal konyol tanpa sebab yang jelas. Pasti gadis itu tengah sedih memikirkan sesuatu.
"Yaudah, putus aja Neil kalau loe emang gak bisa jagain Kakak gue. Gue bisa jagain dia kok" ucap Raja. Ia memandangi Neil, dan mata mereka saling bertemu. Ada kekesalan dan kekecewaan dalam tatapan Raja. Seolah ia menyalahkan semua yang terjadi pada Ratu kepada Neil.
"Bukan salah Neil, Ja" sela Gio.
"Terus salah siapa?"
__ADS_1
Gio dan Faiq tak bisa menjawab pertanyaan itu. Kebungkaman mereka membuat Raja semakin yakin jika Neil adalah penyebabnya.