Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
1. ALEA


__ADS_3

"Alea, Alena jangan jauh- jauh mainnya!.." teriak seorang wanita bernama Alessa kepada dua saudari kembar berusia tujuh tahun.


"Iya Maa..." sahut kedua gadis kecil itu. Mereka sedang bermain pasir di tepi pantai.


Alea membuat sebuah istana dari pasir pantai. Sedangkan Alena, ia berjalan- jalan di tepi pantai sembari memunguti kerang yang tersebar di tepi pantai. Ia terus memunguti kerang- kerang itu, hingga tampa sadar ia sudah berada di dalam air. Jauh dari Kakaknya. Saat hendak berjalan keluar dari air tiba- tiba suara sirene tanda bahaya berbunyi.


Alena terkejut mendengar suara nyaring dan menyeramkan itu dan menjatuhkan semua kerang yang ia kumpulkan dari tangannya. Sementara, para pengunjung langsung berlari- larian menjauh dari pantai, karena sebuah gelombang besar siap menghamtam daratan.


"Papa! Lena, Pa...!" Teriak Alessa ke suaminya, yang melihat Alena yang berdiri di dalam air, jauh dari Alea. Alessa dan juga suaminya berlari ke arah anak- anak mereka dengan perasaan cemas, karena gelombang besar itu sudah dekat. Alessa berhasil meraih Alea. Sedangkan, suaminya masih berlari menghampiri Alena. Alessa berharap suaminya bisa menyelamatkan anaknya itu, ia segera berlari menjauh bersama para pengunjung lainnya.


Dengan berlari sambil menggendong Alea, Alessa berkali- kali melihat ke arah belakang. Berharap suami dan anaknya ikut menyusulnya. Namun, apa yang diharapkannya berbanding terbalik. Gelombang besar itu lebih dulu menghempas daratan dan menyapuh bersih para pengunjung yang tidak sempat menyelamatkan diri. Setidaknya ada belasan orang menjadi korba dari peristiwa itu, termasuk Suami dan Anaknya.


"Akhhhh..." Alessa berteriak histeris melihat anak dan suaminya hilang dalam satu detik, di iringi suara tangisan Alea dalam gendongannya. Gadis kecil itu juga menyaksikan bagaimana Adik serta Ayahnya tiba- tiba hilang setelah sesuatu besar menimpa mereka. Begitupun dengan pengunjung lain yang berhasil menyelamatkan diri. Mereka berterik histeris serta menangis pilu melihat peristiwa itu.


***


9 tahun kemudian...


Di sebuah kamar, seorang gadis remaja dengan seragam sekolah lengkap berdiri di depan cermin sambil menatap tampilannya. Gadis berusia enam belas tahun itu bernama Alea. Alea tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin. Senyum itu surut ketika ia menatap sebuah bingkai foto di atas meja belajarnya.


Sebuah foto yang menampilkan dua orang anak perempuan yang berusia sekitar tujuh tahun berada di sebuah pantai.


Tak terasa air mata jatuh dari wajah cantik Alea. Saat melihat foto itu ia selalu teringat dengan adik kembar dan juga Ayahnya. Ayahnya yang meninggal akibat diterjang gelombang ombak besar saat berada di sebuah pantai. Sementara Adiknya hilang dan jasadnya belum di temukan hingga sekarang. Namun, besar kemungkinan Adiknya tidak selamat dari kejadian itu. Dan foto yang berada di meja belajar itu di ambil sesaat sebelum tragedi itu menimpa, saat mereka berlibur di salah satu pantai di luar kota tidak jauh dari kota tempatnya tinggal.


[Andai saja kejadian itu tidak pernah terjadi, mungkin hari ini kita masih bersama. Melakukan sesuatu bersama- sama. Sama seperti sebelum kau menghilang...] batin Alea sembari mengusap air mata yang terus mengalir di pipinya.

__ADS_1


Alea memang selalu emosional saat mengingat adiknya, ada perasaan bersalah di hatinya karena tidak bisa menolong adiknya saat di bawah arus ombak di depan matanya. Ia bahkan selalu menyalahkan dirinya atas kejadian itu, ia tidak bisa menjaga adik kembarnya dengan baik saat bermain di pinggir pantai.


"Lea! Sarapannya sudah siap sayang..." panggil Alessa, Ibu Alea dari luar kamar.


"Iya Maa, Lea keluar sebentar lagi..."


"Mama tunggu di meja makan yaa..."


"Iya.. Maa.." Alea mengambil tisue lalu membersihkan sisa- sisa air mata di pipinya, ia memperbaiki riasannya agar tidak ketahuan oleh Ibunya bahwa dirinya habis menangis. Setelah di rasa cukup, Alea pun mengambil tas sekolahnya dan meninggalkan kamarnya menuju di mana ibunya berada.


"Pagi Maa...!" Sapa Alea mencium pipinya Ibunya.


"Pagi, Sayang..." Alessa membalas perlakuan putri sulungnya. "Sudah.. sana kamu sarapan..." Alea menurut. Ia menarik kursi di samping ibunya lalu memulai sarapannya.


"Hari ini kamu di antar sama supir ya, Sayang.. soalnya Mama ada meating penting pagi ini..! Ngak apa- apakan? " tutur Alessa di tengah- tengah sarapan.


Setelah Ayahnya meninggal. Ibunya yang kini bertanggung jawab atas perusahaan milik ayahnya. Ibunya telah bekerja keras membuat perusahaan itu tetap bangkit bahkan sampai sebesar sekarang, jadi ia juga harus mengerti kesibukan Ibunya. Selama ini ia juga tidak pernah kekurangan kasih sayang dari Ibunya, karena Ibunya benar- benar bisa membagi waktu untuknya.


"Terima kasih Sayang, atas pengertiannya..." Alessa benar- benar bersyukur memiliki putri yang sangat pengertian dan tidak banyak menuntut seperti Alea.


Hanya saja, Alea selalu meminta dirinya untuk mencari adiknya, Alea percaya adiknya masih hidup dan berada di suatu tempat saat ini. Alessa awalnya juga merasa bahwa putrinya itu masih hidup, tapi harapan itu pupus ketika ia sudah berkali- kali mennyuruh orang mencari anaknya, tapi hasilnya nihil. Ia pun mencoba menerima kenyataan bahwa putrinya sudah tiada.


Mengingat suaminya yang pada saat itu berusaha menolong putrinya ikut menjadi salah satu korban dari belasan korban lainnya meninggal dunia, jasadnya di temukan setelah dua hari dari hari kejadian. Lantas bagaimana dengan nasib putrinya? Apakah gadis sekecil itu bisa selamat?


-

__ADS_1


Alea turun dari mobil yang membawanya, ia menatap gerbang sekolah yang menjulang tinggi di depannya. Biasanya ia sangat bersemangat untuk menjelajah seisi setiap bangunan di sekolahnya, tapi tidak dengan hari ini, ia merasa biasa saja.


Saat hendak melangkahkan kakinya masuk, dua orang gadis kembar melintas di depan matanya sambil bergandengan. Saudara kembar itu berbincang- bincang dan sesekali tertawa. Mata Alea terus mengikuti saudara kembar itu hingga masuk ke dalam sekolah. Terbesit rasa sedih dan iri di hatinya melihat kebersamaan saudara kembar tadi.


[Andai adikku ada di sini, aku pasti bisa seperti mereka... Apakah masih ada kesempatan bagiku untuk seperti mereka?] Alea benar- benar berharap sebuah keajaiban menyelamatkan adiknya dari tragedi itu, dan segera mempertemukan mereka.


Alea melangkah menjauh dari gerbang sekolah berusaha menahan air matanya. Entah kenapa moodnya hari ini benar- benar jelek, ia pun selalu teringat dengan adiknya. Ia sepertinya rindu dengan adiknya. Dan untuk mengobati rasa rindu itu, Alea selalu pergi ke suatu tempat. Di mana terakhir kali ia melihat Adik dan juga Ayahnya.


Kini Alea sudah berada di sebuah pantai di mana Ayah sekaligus Adik kembarnya di timpa tragedi itu. Butuh waktu sekitar 4 jam untuk sampai ke sini dari tempat tinggap Alea, menggunakan transportasi publik. Setiap kali Alea merindukan Ayah dan Adiknya, Alea selalu ke pantai ini. Berlama- lama menatap hamparan laut lepas yang merenggut orang yang sangat berarti dalam hidupnya.


[Sampai saat ini aku masih berharap kau masih hidup dan cepat kembali, cukup Ayah saja yang pergi untuk selamannya...]


Alea menghapus air matanya dan segera ingin pergi dari sana. Karena berlama- lama menatap hamparan laut itu, membuatnya kembali mengingat dengan jelas detik- detik tragedi itu terjadi.


Namun, saat ia berbalik badan, matanya tak sengaja menangkap sosok gadis berseragam sekolah menengah atas berjalan menuju air laut. Ia menatap sosok yang berjalan itu


dari belakang dan tampak mengenali sosok itu. Karena sosok itu sangat mirip dengannya, tapi terlihat acak- acakkan. Seragam yang digunakannya kotor, rambutnya pun basah.


[Alena? Apakah itu Alena?]


Karena penasaran dengan gadis itu, Alea menghampirinya dengan setengah berlari karena melihat gadis itu terus berjalan membela air laut, bahkan separuh dari tubuhnya saat ini sudah berada di dalam air.


[Apa gadis itu berniat bunuh diri?]


Alea mempercepat langkahnya dan membela air laut. Akhirnya ia berhasil menggapai gadis malang itu. Alea mengcengkram tangan gadis itu dengan kuat.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan bodoh! Apa kau ingin mati?..." Suara Alea tercekat saat melihat dengan jelas rupa gadis di depannya. Gadis itu benar- benar mirip dengannya. Apa ini benar- benar Alena, Adikku?


"Kau?" Suara gadis itu memecah keheningan yang tercipta, karena rasa keterkejutan dari keduannya. Alea menatap gadis itu masih dengan bertanya- tanya di kepalanya. Namun, gadis itu tiba- tiba limbun ke bawah yang membuat Alea terkejut dan reflek memeluk tubuh gadis itu agar tidak terjatuh ke dalam air. Dalam hatinya masih berharap, gadis yang ada di dalam pelukannya ini benar- benar adiknya.


__ADS_2