Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Ternyata


__ADS_3

Aya sampai kos-kosan menjelang malam, dia mampir dulu ke tempat saudara kembarnya untuk mengambil baju. Ia ingin kembali tinggal di kost kecil miliknya. Walaupun kecil tapi lebih nyaman, dan ramai karena ada Cika yang bagaikan adek kecil yang lucu juga Mita yang seperti ibu ke dua baginya.


Aya merebahkan tubuhnya di ranjang kecil yang entah kenapa malah membuatnya lebih nyaman. Ia jadi percaya kalau bahagia itu sederhana. Tidak melulu harus mewah dan bergelimang harta.


Entah kenapa dari semenjak pertemuannya dengan Alan, Aya merasa perasaan yang tidak enak. Rasa gelisah terus saja menghinggapinya. Apa ini gara-gara pertengkarannya sore tadi, memang Aya marah sekali saat Alan dengan begitu mudahnya menjelek-jelekkan Ima tapi entah kenapa rasa itu kini digantikan oleh rasa resah dan gelisah.


Aya keluar dari kamar mencari udara segar untuk mengalihkan rasa tidak nyamannya. Dilihatnya kamar Cika dan Mita yang masih gelap, ternyata teman satu kostnya itu belum pulang. Aya tahu pasti Cika sekarang sedang berkencan sedangkan Mita mungkin sekarang sedang kesal karena harus menemani saudara kembarnya yang entah apa yang dilakukannya asalkan Mita bisa berada lebih lama dengannya. Ia membayangkannya sambil senyum-senyum sendiri hingga suara deringan ponsel membuatnya tersadar.


"Halo...ada apa Kak Mita? Apa Asher merepotkanmu lagi?" Tanya Aya dengan diselingi tawa.


"Ra.....Alan kecelakaan, dia kritis sekarang dia di rawat di___"


Tiba-tiba telinga Aya berdenging entah apa yang dikatakan Mita setelannya Aya tidak mendengarnya sama sekali seolah tubuhnya mati rasa. Egonya saat memutuskan hubungan dengan Alan tadi luluh lantak saat mendengar kabar dari Mita. Aya mencengkeram dadanya yang terasa sakit. Bahkan lututnya melemas kalau saja tangannya tidak berpegang pada dinding pembatas mungkin ia langsung limbung.


Tanpa berganti pakaian ia buru-buru turun dan mencari kendaraan apapun, saat melihat Taxi ia langsung memberhentikannya.


"Pak!.... cepet jalannya pak!" Ujar Aya pada Supir Taxi dengan berderai air mata. Supir itu tampak bingung, tapi pada akhirnya ia menurut saja. Untunglah jalanan malam itu tidak terlalu ramai hingga Aya bisa sampai lebih cepat.


Dengan masih berderai air mata Aya berlari di koridor rumah sakit langsung pergi ke ruang UGD. Aya menghampiri laki-laki yang sedang sibuk menulis.


"Pasien kecelakaan dimana?" Tanya Aya panik.


Lelaki itu mengerjab beberapa kali, terpesona dengan kecantikan Aya walaupun kini matanya sedikit merah karena menangis, tak lama ia tersadar. "Di sana." Tunjuknya.


Aya langsung mendekati tempat yang ditutup tirai. Dibaliknya ada suara-suara sibuk sekumpulan orang.


"Kompresi!" Terdengar suara bariton perintah.


"Nadinya belum kembali Dok."


"Sudah berapa menit?" Tanya suara itu lagi.


"Tiga setengah menit."


Hening.....


"Kita tidak bisa menyelamatkan nyawanya, segera hubungi keluarganya!"


Aya terbelalak, telinganya kembali berdenging, suara gaduh di ruangan itu bahkan tampak hening di telinganya. Badannya terhuyung ke belakang sampai bersandar di dinding. Air matanya luruh tanpa bisa di cegah, tapi mulutnya tak bersuara sedikitpun. Tatapannya kini kosong. Alan benar-benar meninggalkannya, bahkan Aya belum sempat mengatakan kalau dia sangat mencintai lelaki itu.


Saat brangkar dengan jasad yang sudah tertutupi seluruhnya dengan kain putih itu di dorong keluar ruangan Aya langsung mengejarnya.


"Tunggu! jangan bawa dia dulu....izinkan saya mengatakan sesuatu untuk terakhir kalinya." Ucapnya lemah dengan isakan tangis terdengar pilu.


Petugas rumah sakit dan para suster tampak saling pandang tapi kemudian mengizinkan Aya.


"Al....maafkan aku, jangan tinggalkan aku dalam keadaan seperti ini!... bagaimana aku bisa hidup tanpamu, aku sangat mencintaimu Alan." Ucapannya pilu sambil terus menangis, memegang tangan yang sudah memucat.


"Aya?"

__ADS_1


Terdengar suara dari belakang yang sangat dia kenal.


Sebelum ia menoleh, "Maaf mbk, nama pasien yang meninggal ini bukan Alan tapi Rudi." Sahut salah seorang perawat yang membuat Aya buru-buru menoleh untuk memastikan sesuatu.


Aya mengerjab beberapa kali. Tampak Alan dengan baju pasien duduk di kursi roda dengan kaki yang terbungkus gips dan kening yang di plester berhenti di depannya.


"Alan?"


Alan sedikit mendekatkan kursi rodanya pada Aya yang masih mematung dengan wajah antara syok dan tidak percaya.


Alan menarik tangan Aya agar sedikit menunduk lalu menghapus sisa air matanya yang luluh di pipi putih mulus milik Aya.


"Jangan menangis, aku tidak apa-apa." Ucapnya lirih.


Tanpa menanggapi ucapan Alan, Aya langsung menghambur memeluknya dengan erat hingga lelaki itu sedikit meringis. Dibalik punggung gadis itu Alan tersenyum, tidak bisa dipungkiri kalau saat ini ia sangat bahagia mengetahui gadis yang dicintainya itu begitu menghawatirkannya.


Setelah mengantarkan Alan kembali ke kamar, Aya yang duduk di depan ranjang pasien terlihat menunduk dalam tidak berani memandang Alan scara langsung ia masih malu dengan peristiwa barusan.


Alan kini duduk bersandar sambil menatap wajah cantik wanita yang sangat di rindukannya. Tangannya meraih dagu Aya, agar gadis itu mendongak dan menatap wajahnya.


"Terima kasih sudah menghawatirkanku, aku juga sangat mencintaimu.... Aya."


Aya mengeryit, apakah Alan mendengar apa yang iya katakan tadi. "Siapa bilang aku....ju..juga.. mencintaimu?" Aya tergagap dan langsung membuang muka menatap apapun selain wajah lelaki tampan di depannya.


Alan tertawa kecil, "Aku sudah mendengar semuanya, saat kau mengatakan cinta pada mayat yang kau kira itu aku."


Wajah Aya langsung memerah, "Tidak! Aku tidak mengatakan apapun tadi,.... ngarang!" Kilah Aya.


"Al....maafkan aku, jangan tinggalkan aku dalam keadaan seperti ini!... bagaimana aku bisa hidup tanpamu__"


Aya yang panik langsung mencoba merebut ponsel Alan, buru-buru Alan menjauhkan ponselnya hingga wajah mereka berdua dalam posisi yang sangat dekat, mata mereka bersitatap cukup lama seakan menyalurkan semua isi hati yang sudah lama terpendam.


Tiba-tiba mata Aya terbelalak tatkala Alan menyambar bibirnya, ******* dengan begitu lembut, berganti antara bibir atas dan bawah, menggigitnya kecil. Aya yang masih dalam mode syok hanya bisa diam mematung, antara bingung dan terkejut menjadi satu.


Tapi saat memori kejadian ciuman Alan dan Ima berkelebatan membuatnya kembali tersadar hingga mendorong tubuh Alan dengan kuat.


"Aduhhh!" Pekik Alan.


"Eh Sorry...apa yang sakit?!" Tampak Aya panik saat melihat Alan tengah meringis kesakitan.


"Ini..." Tunjuk Alan pada bibirnya, sambil menahan tawa.


Aya langsung mendengus kesal, menatap Alan tajam. "Jangan banyak bertingkah!"


"Orang beneran sakit, aku tadi kan belum selesai udah main dorong aja!"


"Itu bibir mau aku gunting?....asal comat-comot sembarangan, bibir aku tidak sama ya sama bibir wanita yang sering kau cium!" Aya langsung membuang muka, bibirnya sudah mengerucut kesal.


Alan mengerutkan keningnya, ada apa dengan gadis di depannya itu, apakah dia cemburu??

__ADS_1


"Coba sekarang lihat aku." Alan memegang wajah Aya agar menghadap padanya. Mata mereka kembali bertemu.


"Hanya kamu wanita yang sering aku cium tidak ada lagi yang lainnya, karena ini hanya milikmu." Alan menunjuk tepat di jantungnya yang langsung membuat wajah Aya kembali memerah.


"Aku tidak menyuruhmu percaya padaku, aku sadar dari awal memang aku yang salah dan tidak seharusnya aku menyalakan orang lain, tapi asal kamu tahu....aku tidak bisa hidup tanpamu, lebih baik aku mat__"


"Sstttt!" Aya meletakkan telunjuknya di bibir Alan agar lelaki itu tidak melanjutkan kalimatnya.


"Aku tidak mau mendengarnya!... ayo sekarang makan dulu, biar aku suapi." Aya mengambil mangkok yang sedari tadi belum Alan sentuh, ia tahu sekali pasti laki-laki itu tidak mau memakannya, karena memang makanan rumah sakit biasanya tidak enak.


Alan berbinar senang, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, untuk pertama kalinya Aya berinisiatif menyuapinya tanpa paksaan.


Ia mengingat perkataan ayahnya tadi setelah dia ditangani oleh dokter. Setelah ayahnya tahu penyebab Alan kecelakaan Suhendra sempat memberikan nasehat.


"Pantas saja kalau dia marah, kamu yang baru mengenal sahabatnya beberapa bulan berani bilang seperti itu, harusnya kamu mikir dulu, bukannya kamu itu cerdas kalau soal bisnis, kenapa tiba-tiba bodoh dalam hal percintaan?"


Begitulah nasehat yang dikatakan ayahnya, jadi mulai sekarang dia akan sangat berhati-hati bila membicarakan masalah Ima, ia sangat bersyukur kelihatannya Ima belum mempengaruhi Aya sejauh ini, saat melihat sikap Aya yang biasa-biasa saja.


Satu mangkok bubur akhirnya tandas tidak tersisa. "Al memangnya tidak ada keluarga mu yang menjenguk atau datang untuk menemanimu malam ini?" Aya merasa aneh karena sedari tadi tidak ada yang menemani Alan.


"Ibuku tidak tahu aku masuk rumah sakit, aku sengaja tidak memberitahunya aku takut dia khawatir." Alan berbohong, karena memang sejak pertengkaran itu ia juga belum berani menghubungi ibunya.


"Tadi Lila dan yang lainnya ke sini tapi aku suruh mereka pulang, Romi dan Nando besok harus mengurus Acara Pensi menggantikanku, sedangkan Lila baru aja balik pasti dia capek dan perlu istirahat, jadilah aku sendirian sekarang." Alan langsung memasang wajah memelas, padahal ia sengaja menyuruh mereka termasuk keluarga ayahnya untuk tidak datang saat tahu Aya ke rumah sakit, ia perlu waktu berdua dengan Aya dan menyelesaikan masalahnya begitu kilahnya.


Aya memandang Alan dengan tatapan iba, tampaknya ia sudah masuk kedalam jebakan Alan, "Huuufff... baiklah biar aku yang menemanimu."


"Terima kasih." Alan berusaha menahan bibirnya agar tidak tersenyum, padahal sekarang hatinya sedang bersorak-sorai saat mendengar ucapan Aya barusan.


Alan menarik tangan Aya untuk dia genggam, "Aya bisakah kita memulainya dari awal, aku benar-benar tidak bisa hidup tanpamu, aku mencintaimu sejak lama." Ucapannya tulus.


"Tapi bagaimana dengan Ima?" Aya tampak bimbang.


Alan tersenyum, "Jangan memberitahunya dulu, pasti dia perlu waktu, bukankah katamu dia teman yang baik, pasti lama-kelamaan dia akan menerimanya."


Perlahan Aya mengangguk. "Jadi mulai sekarang kita jadian?" Alan memastikan.


"Iya..... pangeran penolongku." Aya tersenyum sambil menyentuh pipi Alan.


Sontak Alan langsung menghambur memeluk Aya dengan senyum yang merekah bahagia, hingga kakinya yang di gibs tak terasa menyentuh lantai.


"Awww...aduh!"


"Dasar bodoh!" Aya menatap Alan kemudian mereka tertawa bersama-sama.


TAMAT.....


Tapi bohong.... pisssss


Jangan lupa tinggalkan komentar, like dan vote biar aku tambah semangat nulis Next episode, macacihhhhh

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2