Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Romi Gagal Nembak


__ADS_3

Aya hanya bisa menghela nafasnya berat. Mendengar sahabatnya sedih membuat hantinya juga ikut sedih.


"Iya ma, nanti biar aku cari tahu,..udah jangan sedih, dia juga gak lagi deket sama cewek lain kok, tenang aja...mungkin karena lagi sibuk jadi gak sempat hubungin kamu." Aya mencoba menghibur ima.


"Makasih ya Ay, kamu selalu ada saat aku sedih."


"Iya, sama-sama...udah dulu ya? Nanti yang lain pada nyarin aku,.... pokonya kamu jangan sedih lagi." Aya menutup telfon kemudian menghampiri teman-temannya.


Kini tatap Aya berubah tajam, Alan yang menyadari itu hanya bisa mengerutkan keningnya. "Eh....loe pada apa gak ada yang pengen tau pacar barunya Alan?!"


Sontak Nando dan Romi menoleh kemudian mengaguk bersamaan, terutama Nando yang sepertinya sangat antusias. "Iya Al, kapan kamu ngenalin ke kita-kita, kita pengen tau cewek kayak apa yang udah berhasil naklukin Putra Mahkota kampus kita."


Kini Alan jadi tau siapa yang baru saja menelfon Aya, dia adalah Ima yang sekarang berstatus pacarnya. Terlihat dari perubahan raut wajah dan pertanyaan yang Aya lontarkan.


"Dia lagi sibuk!" Alan menjawabnya dengan malas.


"Yang bener?" Aya menatapnya penuh selidik.


"Kapan-kapan bakal aku kenalin ke kalian." Alan menjawab sekenanya.


"Bang!... bakso komplit tiga dibungkus ya?!" Teriak Aya sambil mengacungkan tangannya. Memberitahu Abang penjual bakso di kantin.


"Banyak banget...satu buat aku ya Sher?" Nando memandang Asher penuh harap.


"Sono pesen sendiri!...itu semuanya buat gue bawa pulang." Tidak lama Aya sudah menerima pesanannya. Abang tukang bakso masih setia berdiri menunggu Aya menyodorkan uangnya.


"Yang bayar Alan bang!" Aya menjawab tatapan abang-abang tadi. "Al, gue tagih janji yang kemaren.... Thanks!" Aya menepuk sebentar pundak Alan lalu beranjak pergi.


Alan terdiam, belum sepenuhnya menyadari maksud Aya. Tiba-tiba ia berlari mengejar Aya. Tapi tak cukup cepat hingga Aya sudah pergi dengan motornya.


"Sial!" Umpat Alan, dia jadi gagal menghabiskan waktu bersama Aya dengan alasan mentraktirnya makan.


"Mas Al! ...baksosnya belum di bayar!" Ujar bang Totok penjual bakso sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan, ternyata dia mengejar Alan, dia kira Alan akan lari dan tidak membayarnya.


Alan mengambil uang lima puluh ribu dari dompetnya lalu memberikannya pada bang Totok. "Kembaliannya buat Abang."


"Alhamdulillah rejeki anak Sholeh." Mata bang Totok bersinar melihat uang lima puluh ribuan di tangannya.


***


"Tumben beliin kita bakso Ra?" Tanya Cika setelah menuangkan bakso di mangkoknya.


"Maksudnya?" Aya merasa sedikit tersinggung.


"Hehehe....bukan gitu, maksudnya biasanya kamu kan beliin kita ayam, ini kok tumben beli bakso... please jangan tersinggung ya Ra? nanti kamu gak mau traktir kita lagi." Cika cengengesan kemudian memasang wajah memelas.


"Iya-iya....eh, kak Mita kenapa? Kok mukanya di tekuk gitu?" Aya menatap Mita yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Katanya sih, dia jadi pesuruh Asdos yang baru." Cika menjawab pertanyaan Alan, sambil menyuapkan bakso ke dalam mulutnya.


"Kok mau sih?" Aya juga sedang menikmati bakso.


"Mau bagaimana lagi, Kak Mita kan anak beasiswa, jadi harus selalu nurut kalau gak mau nilainya anjlok dan akan berakibat pada beasiswanya di cabut." Bisik Cika.


"Hey....kalian pada ngomongin aku ya?" Tiba-tiba saja Mita sudah berdiri di depan mereka.


Cika hanya bisa cengengesan, "gak kok Kak, kita lagi ngomongin Asdos baru yang bikin repot kak Mita itu loh!"


"Males banget ngomongin dia." Minta ikutan duduk bersila, sekarang mereka sedang menikmati baksonya sambil duduk lesehan di gazebo.

__ADS_1


"Katanya orangnya cakep ya Kak? Siapa ya namanya aku kok lupa? kayak pernah dengar di mana gitu." Cika coba mengingat-ingat.


Aya masih setia mendengarkan pembicaraan mereka sambil menikmati kuah bakso yang menurutnya begitu nikmat.


"Namanya Asher." Sahut Mita.


Sontak Aya langsung menyeburkan kuah bakso yang dia baru saja ia sruput.


"Raisha!!" Teriak Cika yang terkena semburan kuah bakso.


"Sorry Cik, gak sengaja." Ucap Aya menyesal sambil membantu Cika membersihkan wajahnya dengan tisu.


Setelah selesai meredam kekesalan Cika. Aya beralih menatap Mita.Ia mengambil ponsel di sakunya. "Apakah orangnya yang ini Kak?" Aya memperlihatkan foto yang ada di ponselnya.


"Iya,..Kamu kenal Ra?" Mita tampak terkejut sambil memperhatikan foto Asher, Cika yang penasaran juga ikut melihatnya.


"Lhah ini kan saudara kembarmu Ra? Bukannya dia kuliah di LA ya?" Cika ikut terkejut, Mita pun beralih menatap Cika.


"Bener.... kata dosen dia memang mahasiswa pindahan dari LA." Minta menimpali.


"Kurang ajar Asher, seenaknya saja dia memakai kekuasaan Papa, sedangkan aku di sini menderita." Batin Aya kemudian menusuk baksonya dan langsung melahapnya penuh sampai pipinya ikut mengembung.


Cika dan Mita hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Aya.


"Besok kan weekend, kita jalan yuk sambil shopping-shopping !" Ajak Aya. Ia perlu meluapkan kekesalannya pada Asher dengan menghabiskan uang.


"Maaf Ra aku gak bisa, besok aku ada kencan, bagaimana Kalau lain waktu saja ya... ya?." Cika tersenyum, sambil memegang tangan Aya.


"Kalau kak Mita?" Aya beralih menatap Mita


"Aku, gak bisa!" Jawabnya singkat.


"Sialan Asher!...ya sudah aku pergi sendirian aja!"


***


Keesokan harinya.


Tampak Alan masuk ke sebuah Cafe, "Tumben Sendiri Nan?" Tanya Alan setelah menduduki kursi di sebelah Nando.


Cafe itu adalah Cafe milik Nando. "Gak juga, ini lagi nungguin My Honey." Nando senyum-senyum sendiri, matanya tidak beralih dari gadget ditangannya.


"Romi gak kesini?"


"Tadi sih kesini, tapi pergi lagi katanya mau beli bunga." Nando menjawab pertanyaan Alan tapi matanya masih belum beralih.


"Bunga?" Gumam Alan tapi masih bisa di dengar Nando.


"Iya... kira-kira dia beli bunga buat siapa ya Al?..apa dia mau balikan lagi sama yuli atau buat gebetan barunya?"


Tiba-tiba Alan beranjak berdiri lalu pergi dengan tergesa-gesa. "Hooyyy Al!....kamu mau kemana?!" Teriak Nando. "Kamu gak pengen aku kenalin sama pacarku!"


"Gak!...nanti dia malah naksir aku!" Teriak Alan juga.


"Sialan loe Al!....eh,tapi bener juga ya?"


***


Aya sedang bersandar di tembok, seperti tengah menunggu seseorang. Penampilannya sekarang berbeda dari biasanya. Tanpa topi yang bertengger di kepalanya, apalagi rambut palsu ataupun kumis.

__ADS_1


Rambutnya di gerai indah, penampilan simpel dengan celana pendeknya. Tapi bisa membuat semua orang betah menatapnya. Sungguh cantik dan mempesona.



Banyak orang yang berlalu lalang menatapnya kagum, tapi itu tidak membuatnya risih, sekarang ia malah asik memainkan ponselnya.


"Biar tau rasa dia! siapa suruh bikin ima sedih." Gerutu Aya. Ternyata ia sedang sibuk mereject panggilan dari Alan. Pesannya pun tidak ia balas.


"Aya..?"


"Eh, Romi...udah dateng? Sejak kapan?" Tanya Aya menatap Romi yang sudah berdiri di depannya.


"Rom...hello..? ..Romi!" Aya memanggil Romi sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Romi yang terbengong.


Romi tersadar sambil tersenyum ia malu sekali karena sudah ketahuan mengagumi Aya. "Maaf...aku tadi kaget ngeliat penampilan kamu hari ini beda banget." Romi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kemudian menunduk.


Aya menatap penampilan dirinya, sepertinya tidak ada yang salah menurutnya. "Oh, apa karena rambutku?...tadi aku ke salon buat mewarnai rambut, udah lama banget gak ke salon, jelek ya Rom?" Aya memperlihatkan rambut barunya pada Romi.


"Eh enggak... Cantik kok!" Jawabnya singkat. "Malah cantik banget." Batinnya.


"Kamu mau ngomong apa Rom? Tumben gak lewat telfon aja?" Aya bertanya sambil membuka buku menu. Kini mereka sudah duduk di Cafe yang dipilih Romi.


"Ini buat kamu." Romi menyodorkan bunga yang sedari tadi ia bawa. Aya menerimanya dengan senyum yang sedikit dipaksakan, merasa aneh dengan sikap Romi.


Ternyata sedari tadi ada sepasang mata menatap mereka dari luar Cafe yang hanya terhalang oleh kaca. "Sudah ku duga kamu pasti mengajaknya ke sini, dasar tidak kreatif!...kamu mau nembak Aya di tempat yang sama saat kamu nembak Yuli." Gumam orang itu sambil melangkah masuk.


Romi meraih tangan Aya, menatapnya dengan lembut. "Aya aku pengen bilang sama kamu, kalau aku__"


"Hey Rom! ...kamu disini?" Tepukan di pundak, membuat Romi tidak melanjutkan kalimatnya. Dan orang yang menghancurkan moment romantis itu tidak lain adalah Alan. Dengan santainya ia langsung duduk disamping Romi.


Aya langsung menarik tangannya dari genggaman Romi, "Rom, aku ke toilet sebentar." Aya langsung beranjak pergi.


Di dalam toilet Aya sedang menggerutu sambil mencuci tangannya di wastafel. "Ngapain sih Alan kesini?.. weekend bukannya ngajak jalan ima malah keluyuran."


"Ih... ganteng banget ya dia?" Suara dua orang cewek yang baru masuk ke dalam toilet membuat Aya menoleh. ia menatap mereka sebentar kemudian keluar.


"Astaghfirullah!" Aya berjingkrak kaget, saat melihat Alan berdiri di depan toilet.


"Hay...." Alan tersenyum manis sambil melambaikan tangannya.


Aya memutar bola matanya jengah, "Toilet Pria ada di sebelah." Aya menunjuk pintu sebelah kemudian beranjak Pergi.


"Tunggu!" Alan memegang tangan Aya, mau tidak mau ia menghentikan langkahnya kemudian menatap Alan.


"Kamu cantik hari." Alan menatap Aya penuh cinta.


Aya langsung menunduk menyembunyikan rona merah di pipinya tapi kemudian ia melepaskan tangannya dari pegangan tangan Alan. "Aku gak mau bikin ima salah paham! jadi tolong jauhi aku!"


Alan tidak menyerah ia meraih tangan Aya lagi dan memegangnya dengan erat. "Tapi yang aku cinta itu kamu, dari dulu sampai sekarang."


Mata Aya sedikit berkabut karena air mata yang sudah menggenang. "Semuanya sudah terlambat Al, mencintai tidak selalu harus memiliki." Aya menatap ke arah lain asal tidak mata Alan, ia takut air matanya akan benar-benar jatuh. Segera ia melepaskan tangannya dari Alan dan segera melangkah pergi.


"Kalau kamu menerima Romi, aku bakal putusin ima!" Perkataan Alan langsung menghentikan langkahnya. Aya menoleh sambil mengerutkan keningnya tidak mengerti.


"Romi suka sama kamu, hari ini dia mau mengungkapkannya." Itu kata terakhir yang Alan katakan sebelum ia benar-benar pergi.


Bersambung.....


Maaf ya, kemaren gak jadi up...tadi malam belum kelar nulis udah ketiduran. jadi sekarang aku gak mau Php in kalian. insyaallah up hari ini satu aja. jangan bonsen ngasih sumbangan like,komen and vote ya? karena itu bikin aku semangat buat nulis

__ADS_1


__ADS_2