
"Apa yang unrgent?" Suara dari belakang telinga Aya, membuat Aya terlonjak kaget.
"Sejak kapan loe di sini?" Aya berbalik lalu bertanya pada orang yang ada di belakangnya yang ternyata adalah Alan.
"Apa yang urgent?" Tanyanya lagi mencoba melihat handphone yang di sembunyikan di belakang punggung Aya.
Aya sedikit panik, "Apa Alan sudah membaca pesannya?" Batinnya. "Menurut loe?" Aya balik nanya, ia ingin memastikan kalau Alan benar-benar tidak membaca seluruh pesan.
"Malah balik nanya? Apa tadi yang urgent? Coba sini lihat?" Alan mencoba merebut handphone di balik punggung Aya. Reflek Aya memajukan badannya. Alan tiba-tiba langsung mundur ia takut perasaan aneh itu muncul lagi.
Setelah di rasa aman ia langsung berlari meninggalkan Alan yang masih mematung, ia mengambil tasnya lalu kembali ke tempat Alan berdiri. "Al...gue minta izin, nenek gue kepeleset di kamar mandi dan sekarang masuk ICU gue harus cepat pulang!" Ujarnya berbohong, dengan ekspresi muka panik.
Alan sedikit terkejut keningnya berkerut, "Ya udah gak papa, nanti aku bilang ke teman-teman yang lain!" Jawab Alan. Tanpa sadar Aya menarik tangan Alan dan menciumnya segera, seperti anak yang akan berpamitan kepada orang tuanya.
Aya langsung berlari, sedangkan Alan mematung masih syok dengan yang baru saja Aya lakukan, sesaat Alan langsung tersadar "Sher kamu pulang naik apa?!" Teriak Alan.
"Nanti ada yang jemput!" Teriak Aya juga Sambil terus berlari.
Alan seperti teringat sesuatu "Astaga!" Pekik Alan.
Aya terus berlari tak tentu arah karena saking paniknya. "Aduh! Jalannya bener ini gak ya? Jangan-jangan aku nyasar!" Aya mulai ketakutan, ia takut kejadian saat ia kecil terulang lagi. Ia berjongkok membungkuk dan memeluk lututnya berusaha menghilangkan rasa takut.
Aya tiba-tiba merasakan tepukan di pundaknya ia menoleh ke belakang, Senyum kecil Alan menyambutnya.
Aya reflek berdiri dan memeluk Alan, "Thanks Bro...gue takut banget!" Ujarnya masih memeluk Alan dengan erat.
Setelah melepaskan pelukannya, Alan langsung berjalan lebih dulu, "Ikuti aku!"
Aya menyuruh Alan agar berjalan lebih cepat, sesampainya di jalan raya Aya menyuruh Alan untuk kembali ke perkemahan.
"Tunggu!" Teriak Alan pada Aya yang berjalan menjauh, Aya kemudian menoleh, dilihatnya jaket yang di lemparkan Alan kepadanya. Jaket varsity milik Alan yang sangat Ia inginkan.
"Buat kamu!"
Aya mendekati Alan, ia melepaskan jaketnya kemudian memberikannya pada Alan dan langsung memakai jaket yang Alan berikan. "Itu buat loe, gue gak mau barang yang cuma-cuma, agap aja kita barter." Aya kembali memeluk Alan dengan satu tangannya menepuk punggung Alan, seperti pelukan persahabatan. Lalau ia berlenggang pergi.
Beberapa menit setelah Alan pergi, mobil Alphard berhenti di depan Aya, pria berjas hitam turun dari mobil dan membukakan pintu untuknya dengan hormat mempersilahkan Aya untuk masuk. Ternyata Alan belum pergi, ia bersembunyi dibalik pohon menatap kepergian Aya. Entah apa yang ia pikirkan, hanya ia yang tahu.
"Dari mana Al?" Tanya Romi sesampainya Alan di perkemahan.
"Tadi nganterin Asher ke jalan raya!"
"Dia mau kemana?" Tanya Romi lagi
"Pulang!"
"Dia mau pulang? Kenapa pulang Al? Siapa yang nganterin? Udah kamu pastikan dia pulang dengan selamat?" Romi tiba-tiba memberondong Alan dengan banyak sekali pertanyaan.
__ADS_1
Alan mengerutkan keningnya, tidak biasanya Romi begitu khawatir dengan seseorang, kecuali dengan wanita yang dekat dengannya pikir Alan. "Tumben kamu khawatir banget?"
Dan Romi hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Dia pulang duluan katanya Neneknya masuk rumah sakit, tadi aku pergi setelah dia naik mobil jemputan." Alan menjelaskan lalu berlenggang pergi.
"Al, bukannya itu jaketnya Asher?" Tanya Romi setelah melihat jaket yang dipakai Alan sambil mengikuti langkah Alan dari belakang.
"Ya...dia ngajak tukeran!"
"Wah, beruntung banget kamu, dapat jaket mahal dari dia,"
Alan berhenti kemudian menoleh menatap Romi dengan raut wajah terkejut, "Tahu gak Al? jaket yang kamu pakai itu harganya sekitar lima belas jutaan!"
Alan terlonjak kaget, ia jadi makin penasaran siapa sosok Aya yang sebenarnya, mobil mewah yang membawanya tadi saja sudah membuatnya terkejut dan sekarang jaket dengan harga fantastis.
"Rom sini bentar!" Panggil Alan, setelah Romi mendekat Alan langsung memeluknya dengan erat. Sontak Romi langsung berusaha melepaskan pelukan Alan.
"Idih....kamu ngapain peluk-peluk, kamu gila atau kesurupan?" Romi memandang Alan penuh selidik. Yang dipandang diam saja, Alan tampak berfikir begitu keras, "Kenapa rasanya berbeda saat aku memeluk Asher dan memeluk Romi, padahal mereka sama-sama laki-laki." Alan sedikit frustasi lalu mengusap wajahnya yang gusar.
***
Selam perjalanan Aya melamun, syukurlah Alan menerima alasan kepulangan Aya tanpa banyak bertanya. Dia memberikan alasan kalau Neneknya masuk rumah sakit padahal sebenarnya Neneknya sudah lama tiada, tidak mungkin juga ia memberikan Alasan kalau Mamanya yang sakit, Aya masih punya akal sehat sehingga tidak akan memberikan Alasan seperti itu, sama saja dia mendoakan yang tidak baik kepada Ibunya.
Akhinya Aya sampai di gerbang Asrama Putri tempat tinggal Ima selama kuliah di Akbid, ia langsung disambut Ima di depan gerbang dan langsung di giring ke kamar ima. Di kamar itu berisi 2 tempat tidur.
"Kamar kamu di sini Ma?" Tanya Aya yang sudah berpenampilan perempuan. Dan dijawab dengan anggukan kepala.
Sesampainya di Restoran dengan perasaan deg-degan, Aya memberanikan untuk masuk. Tentu saja kedua orangtuanya tua Aya memilih private Room seperti biasa.
"Hallo sayang?" Silvia menyambut anaknya dengan pelukan hangat,tak lupa ia mencium pipi kanan dan kiri Aya. Sama seperti Silvia, Jonathan Ayahnya juga melakukan hal yang sama.
"Sayang bagaimanan kabarmu!, Putri Mama terlihat makin dewasa!" Puji Silvia.
"Ah Mama bisa aja!" Sahut Aya manja, begitulah sikap Aya dihadapan kedua orang tuanya yang begitu manja, berbeda bila saat di luar bersama teman-temannya. Menurutnya dengan bersikap seperti itu akan membuat kedua orangtuanya senang begitulah ia yang sangat menyayangi kedua orangtuanya diluar dari kebiasaan orang tuanya yang selalu mengekang yang ia tidak sukai.
"Kok, Papa Mama gak bilang kalau mau datang, untung hari ini Aya tidak ada praktek!" Ucap Aya berbohong, sebenarnya ada sedikit rasa bersalah di hati Aya sudah membohongi mereka, tapi apalah daya hatinya menginginkan sedikit kebebasan, lagi pula menurutnya ada banyak manfaat dia melakukan itu, seperti sekarang ia sudah sembuh dari trauma dan malah punya banyak teman yang sangat baik kepadanya, semua itu membuat ia sangat bahagia.
"Kenapa kamu melarang kami berkunjung ke asrama sayang, kan Papa juga ingin tau tempat tinggal mu?" Tanya Jonathan.
"Jangan Pa, Aya tidak mau orang-orang di sekitar Aya tau kalau Aya berasal dari keluarga Narendra keluarga terkaya di Negara ini, Aya ingin mereka memandang Aya sama seperti yang lainnya. Lagipula bukannya kata Papa banyak pesaing bisnis yang ingin menyakiti keluarga kita makanya Papa tidak pernah mau mengexpose anggota keluarga Papa!" Aya berusaha mencari alasan agar ayahnya tidak lagi datang mengunjungi asramanya.
Jonathan mengiyakan semua penjelasan Aya, merekapun berbincang-bincang melepas rindu sambil makan.
"Setelah ini Papa mau kemana?" Tanya Aya sambil menyuapkan makanannya.
"Papa sama Mama mau mengunjungi kakakmu Asher."
Aya langsung tersedak, otaknya berusaha keras mencari alasan agar kedua orang tuanya tidak jadi mengunjungi Asher yang tak lain adalah dirinya. "Oh...iya Pa, Aya baru inget katanya Asher sedang ada kegiatan MAPALA tempatnya jauh Pa, mendingan lain kali saja!"
__ADS_1
"Yang benar?" Jonathan menatap Aya penuh selidik.
"Kalau tidak percaya, Papa telfon saja ke kampusnya!"
Akhirnya Jonathan menelfon ke kampus Aya, dan tentu saja benar kata pihak kampus mahasiswa yang bernama Asher sedang mengikuti kegiatan karena termasuk kedalam panitia.
"Tumben Asher ikut kegiatan seperti itu?" Ujar Jonathan setelah menutup teleponnya.
"Orang Kan bisa berubah Pa, mungkin sekarang Asher pengen punya banyak teman, makanya ikut kegiatan seperti itu," jelas Aya kepada ayahnya.
"Oh iya sayang, setelah ini Mama mungkin akan jarang menghubungi kamu dan gak bisa menjenguk kamu lagi, karena Papa sama Mama mau ke London mengunjungi orang tua Kak Nadia, kamu tahu sendiri si kembar Lulu Lala tidak bisa pisah dari Mama, jadi kemanapun mereka pergi Mama harus ikut!" Silvia menjelaskan pada Aya, dengan raut muka sedih.
Di dalam hati Aya sangat senang, dirinya tidak perlu kerepotan untuk membuat alasan lagi, "Cie... yang udah punya penggantinya Aya!" Goda Aya.
"Iiiihhh sayang bukan begitu, ya beda lah kamu kan anak Mama, sedangkan Lulu Lala cucu Mama!"
"Iya...iya... Aya gak masalah kok Ma, selamat bersenang-senang di sana ya Ma?" Aya mencium pipi Silvia dan dibalas oleh senyuman.
Merekapun akhinya berpisah, Aya langsung kembali ke asrama Ima.
***
"Ini jaket siap Kak?" Tanya Anisa teman sekamar Ima, melihat jaket varsity milik Aya yang teronggok di ranjang.
"Oh...itu jaket temen Kakak, nanti juga kesini lagi buat ngambil!" Jawab Ima.
Anisa memegang jaket itu, ia merasa seperti pernah melihatnya, ia ingin memastikan sesuatu dan saat ia mulai membalikkan jaket. Terdengar ketokan pintu dari luar. "Itu orangnya, baru aja di omongin udah dateng!" Ujar ima lalu membuka pintu. Anisa mengurungkan niatanya, ia meletakkan jaket itu lagi.
Aya melongokkan kepalanya, "Maaf kalau aku sudah mengganggu!" Ucap Aya setelah melihat Anisa di dalam kamar ima.
"Teman kak Aya cantik sekali....,eh bukanya itu seragam kak Aya?" Tanya Anisa kepada Ima sesaat setelah Aya masuk.
Ima langsung membisikkan sesuatu di telinga Aya, kemudian Aya menggaguk.
"Maaf tadi aku pinjem sebentar seragamnya buat pemotretan, karena asistenku lupa tidak membawa kastum, karena pemotretan kali ini temanya tentang medis jadi aku pinjam punya Aya!" Ujar Aya berbohong mecoba menjelaskan pada Anisa agar tidak curiga.
"Oh... Kaka seorang model ya? Pantesan cantik banget, boleh minta fotonya kak?" Ujar Anisa begitu antusias.
"Syukurlah dia percaya," batin Aya. "Boleh, siapa nama kamu?" Tanya Aya dengan senyum ramah.
"Aku Anisa,.... kakak?"
"Aku Raisha." Jawab Aya.
Merekapun berfoto bersama, dengan Ima sebagai juru kamera, Aya meminta Anisa supaya tidak memposting fotonya di medsos karena alasan pribadi, dan Anisa menyetujuinya.
Mereka berbincang-bincang ala kadarnya sebelum Aya memutuskan untuk pulang. Hari ini sungguh Sangat melelahkan bagi Aya, lelah pikiran dan tenaga. Setelah disibukkan dengan kegiatan dari kampus dirinya juga harus berfikir keras mencari berbagai alasan untuk meyakinkan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Bersambung.....