Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Numpang Tidur


__ADS_3

Aya masuk ke dalam apartement Asher dengan mata yang sembab, "Kamu curang Sher!.. tempat tinggalmu lebih bagus daripada aku."


Aya melihat sekeliling ruangan apartemen bertema modern klasik itu, terdapat dua kamar disana dilengkapi kitchen set yang mewah dengan meja makan, sofa ruang tamu lengkap dengan home teather. Hunian yang cukup besar dan mewah.



"Kamu mau di sewakan apartemen kayak gini juga, di sebelah ada unit yang kosong." Tawar Asher sambil mendudukkan dirinya di sofa.


"Gak usah!... sepi gak enak."


Aya langsung masuk ke dalam salah satu kamar tapi kemudian ia keluar lagi, "Ini kamarku kan?"


"Hmmm." Sahut Asher datar kemudian ia juga masuk kedalam kamarnya sendiri. Sebenarnya ia penasaran sekali apa yang membuat saudara kembarnya itu menangis tapi ia tahu kalau Aya masih butuh waktu untuk sendiri, jadi saat Aya meminta untuk sementara menginap di apartemennya dia sama sekali tidak keberatan, sebenarnya ia juga rindu dengan adiknya itu, rindu dengan pertengkaran mereka.


Aya merebahkan dirinya di ranjang sambil menatap langit-langit, kasur yang empuk dan nyaman tidak bisa membuat dirinya tenang bahkan hanya untuk memejamkan mata. Pikirannya masih melayang ke kejadian yang membuat dirinya menangis, awalnya memang ia mengikhlaskan Alan, kemudian hanya karena Alan menyanyikan lagu kesukaannya hatinya kembali bimbang dan merasa harus bertahan serta memperjuangkannya sekali lagi. Tapi apa yang baru saja ia lihat, membuat hatinya hancur seketika.


"Sebenarnya apa tujuanmu Al? Apakah kamu berniat untuk mempermainkanku." Batinnya.


"Alan jahat! Kamu jahat!...kamu tega banget sama aku..hikhikhik." Aya terus menangis memukul-mukul bantal lalu menyembunyikan wajahnya tak terasa lama kelamaan ia pun tertidur.


***


Cahaya matahari membuat mata Alan silau, ia memicingkan matanya berusaha menyesuaikan cahaya.


"Aku ada dimana?" Gumamnya sambil mendudukkan diri, ternyata dia tidur di sofa pantas saja badannya terasa sakit semua.


"Akhirnya kau bangun juga!" Suara dari arah dapur membuat dirinya tersentak.


Tampak Romi sedang membuat minuman di sana.


"Minum dulu!" Romi menyodorkan air putih pada Alan.


Kepala Alan rasanya pening, dia memijat pangkal hidungnya agar mengurangi rasa pengar.



"Kok bisa aku ada di sini?" Tanyanya setelah meminum air pemberian Romi.


"Kamu gak inget tadi malam kamu mabuk berat?"


Alan berusaha mengingat kejadian yang dikatakan Romi, hingga memori berkelebatan di dalam otaknya, mulai kejadian di Cafe Nando hingga di dalam mobil Romi, Alan mengingat semua kejadian itu bahkan apa yang ia rancaukan ia ingat semuanya. Hingga sampai kejadian memalukan di dalam lift, Alan memuntahkan isi perutnya ke baju Romi, hingga membuat Romi geram dan berakhirlah Alan yang tidur di sofa.


Alan mendongak menatap Romi sambil tersenyum canggung. Namun tiba-tiba perut Alan terasa bergejolak, buru-buru ia berlari menuju kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.


Alan berjalan gontai, belum juga pusing di kepalanya membaik badannya kini terasa sakit dan lemas.


"Udah sana pulang!" Usir Romi.


"Please Rom, biarkan aku di sini dulu, apa kamu gak lihat keadaan ku sekarang." Ucapan lemas.


"Oke!... tapi jelaskan semuanya, apa yang sebenarnya terjadi?...apa yang membuatmu sampai seperti ini?"


Dengan terpaksa Alan, menceritakan semuanya pada Romi. "Gimana aku menjelaskan yang sebenarnya pada Aya Rom?"


Romi mengedikkan bahu acuh, "Itu masalah mu, kenapa gak dari dulu kamu mutusin Ima?"


Alan hanya bisa mengacak-acak rambutnya frustasi. Alan memutuskan akan pulang nanti setelah badannya terasa lebih enakan.


Alan membuka pintu rumahnya, "Alan pulang Ma!"


"Dari mana saja kamu?" Alan langsung di sambut tatapan tajam sang ibu. Anita bersedekap sambil menatap putra sulungnya.

__ADS_1


"Alan nginep di apartemen Romi." Jawabnya singkat.


"Kenapa kamu membiarkan Ima pulang sendiri?... apa gara-gara gadis yang bernama Raisha itu!" Sentak Anita.


Alan mengerutkan keningnya dalam, dari mana ibunya tahu tentang Aya. "Semua ini tidak ada hubungannya dengan dia."


"Ibu sudah tahu semuanya! Karena gadis itu kamu putus dengan Ima!.. Karena gadis itu juga kamu sudah berani mabuk-mabukan, jauhi dia!...dia bukan gadis baik-baik!" Anita meluapkan semua amarahnya saat mengetahui putranya mabuk.


"Aku tidak bisa hidup tanpa dia Ma!" Alan menolak keras.


"Sudah tante, kasihan Alan." Entah datang dari mana Ima sudah berdiri di samping Anita sambil mengelus lengan ibunya.


"Hey gadis Sialan!... apa yang sudah kau katakan pada ibuku?...masih berani kau ada di sini?!" Sentak Alan.


Plak!!


Alan merasakan panas di pipinya, untuk pertama kalinya sang ibu menamparnya.


"Ibu tidak pernah mengajarimu berkata kasar pada seorang wanita Alan!" Mata Anita sudah memerah. Rasa amarahnya sudah sampai ubun-ubun saat melihat sikap putranya yang berubah.


"Dia itu wanita licik Ma!...wanita ular bermuka dua!"


"CUKUP!" teriak Anita sampai mengema dalam ruangan hingga membuat Anisa sang adik keluar dari kamarnya penasaran dengan keributan apa yang sudah berlangsung di rumahnya.


"Ibu perintahkan sekali lagi, jauhi gadis itu!....dia memberi pengaruh buruk padamu Al, dia bukan wanita baik-baik....wanita baik mana yang tega merebut pacar sahabatnya sendiri dan memaksa orang lain untuk berbohong!"


"Benar Kak, Raisha itu bukan perempuan baik, dia juga mencoba menggoda Kak Romi, lebih baik Kak Alan cepat jauhi dia, sebelum terlambat." Tiba-tiba Anisa ikut memperburuk keadaan.


"Diam kamu!... tahu apa kamu tentang dia?" Alan menjeda untuk menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan mencoba mengontrol emosinya. "Maaf Ma, Alan tidak bisa."


"Sekarang kamu pilih Mama atau dia?" Alan seperti tersambar petir, mana bisa dia memilih antara ibu yang sudah mengandung dan melahirkannya dan wanita yang sangat dicintainya, itu sesuatu yang mustahil.


Dunia Alan serasa runtuh, sebenarnya apa yang sudah Ima katakan pada ibunya, apakah wanita itu sudah mencuci otak ibunya sampai bisa membuat ibunya yang biasanya sabar dan pemaaf menjadi sosok yang berbeda, tidak hanya menamparnya bahkan ibunya sekarang mengusirnya dari rumah.


"Maaf Ma." Ucapan Alan membuat Anita terhuyung hampir jatuh kalau saja Ima dan Anisa tidak menahannya.


Dengan cepat Anita mengambil dan melemparkan baju dan tas Alan ke wajah putranya.


"Pergi kau dari sini!...kau bukan putraku lagi!" Dengan derai air mata Anita masuk ke dalam kamarnya disusul Anisa.


Ima mendekat dan berdiri di depan Alan, "Kamu masih punya kesempatan Al, kembalilah padaku, maka ibumu pasti akan menerima dan memaafkanmu lagi."


Tangan Alan mencengkeram kuat, "Diam kau!...sampai matipun akun tidak akan pernah kembali padamu." Alan langsung beranjak pergi setelah memasukkan semua bajunya kedalaman tas.


Alan menatap pintu rumahnya dengan berat hati. Dia berdoa semoga ibunya selalu diberikan kesehatan dan terhindar dari orang yang berniat buruk padanya seperti Ima.


Sekarang tujuannya adalah mencari keberadaan Aya. Alan mencoba lagi untuk datang ke kost Aya, tapi lagi-lagi dia tidak bisa menemukannya kata ibu kost Aya izin untuk sementara tinggal di rumah saudaranya. Itu artinya Aya akan lebih lama tinggal di tempat Asher.


Akhirnya dia datang ke kampus, berharap kali ini Aya ada di sana. Mahasiswa yang semula akan meninggalkan kantin mengurungkan niatnya, mereka masih ingin menikmati ciptaan tuhan berupa paras rupawan dari seorang Putra Mahkota kampus sekaligus ketua BEM itu.


"Gimana Rom?" Tanya Alan sesaat setelah ia duduk di kursi kantin.


"Dia tidak masuk kuliah." Romi menatap Alan heran. Baju sahabatnya itu masih sama seperti tadi pagi.


Matanya menangkap tas besar yang ada di samping Alan, "Jangan bilang kalau kamu di usir?" Anggukan kepala Alan menjawab rasa penasaran Romi.


Romi menghembuskan nafas berat, "Terus kamu mau tinggal di mana?"


"Untuk sementara aku numpang di tempatmu ya?" Alan menyeruput minuman yang baru saja ia pesan.


"Gimana bisa kamu di usir dari rumahmu sendiri Al?

__ADS_1


"Ini semua gara-gara wanita ular bermuka dua itu, Sialan!"


"Apa rencanamu selanjutnya?"


"Aku ingin menemui Aya, aku kangen sekali padanya." Alan menghembuskan nafasnya berat. "Aku ingin meluruskan kesalah pahaman ini."


"Pasti itu akan sulit, aku yakin dia lebih percaya pada sahabatnya itu dari padamu."


Benar yang dikatakan Romi, Alan hanya bisa mengacak-acak rambutnya frustasi.


Tiba-tiba Romi mengingat sesuatu, "Aku dengar-dengar Asher jadi Asdos di kampus ceweknya Nando, coba kamu kesana!"


Mata Alan tiba-tiba berbinar, "Oke....aku akan kesana." Alan berdiri dan langsung menyambar jaketnya.


"Titip tasku, langsung bawa saja ke apartemenmu!" Teriak Alan dari kejauhan. "Sekalian bayarin minumanku!


Romi berdecak kesal, "Udah dibantuin malah ngelunjak."


***


Asher mendengar suara berisik yang berasal dari dapur. Segera dia bangun setelah mencuci muka.


"Kamu ngapain?" Tanya Asher sambil mendudukkan dirinya di kursi meja makan. Asher tengah memandang Aya yang sedang memunggunginya.


"Kamu gak lihat aku sedang masak." Sahut Aya.


Asher menelan ludahnya kasar. Asher kini beralih menatap hidangan yang sudah terhidang di meja makan begitu banyak hingga meja makan itu terasa penuh. Ada juga satu boxs berbagai macam jenis kue di sana.


"Oh my God Ayak!.... terus semua makanan di meja makan ini apa?! Kamu mau buka restoran?" Teriak Asher geram.


"Ya untuk kamu makan lah!" Jawabnya tanpa dosa.


Asher hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia lupa kalau saudara kembar ini punya kebiasaan unik, tiap dia merasa sedih dia akan seharian berada di dapur untuk memasak ataupun membuat kue.


"Aku seneng sih kalau kau ada di sini, aku tidak perlu repot-repot untuk Delivery makanan, tapi kalau begini caranya bisa rugi besar aku, bisa-bisa isi kulkasku habis." Protes Asher.


"Udah gak usah cerewet, tinggal makan aja repot!" Aya mendudukkan dirinya di depan Asher. Mereka makan dalam diam.


"Mau di apakan sisa makanan yang masih banyak ini?" Ujar Asher setelah meletakkan sendoknya.


"Nanti tolong kasih ke Kak Mita sama Cika." Aya sibuk memasukkan makan dan kue ke kotak makan. Dia sudah menyiapkan dua bekal.


"Nanti sisanya biar aku kasih ke pengemis dan pemulung yang ada di jalan." Aya melanjutkan kalimatnya lagi.


Mendengar nama Mita Asher langsung berbinar senang "Siap bos!...tapi aku gak sudi kalau harus ngasih ke si petasan banting!"


Petasan banting yang Asher maksud adalah Cika. Aya memutar bola matanya jengah, "Tinggal nitip ke Kak Mita sih!"


"Kamu gak kuliah?"


"Gak!" Jawab Aya singkat. "Aku pinjam mobil buat belanja, ngisi kulkas."


"Di bawah masih ada satu mobil warna hitam, pake aja!"


"Kenapa gak si merah?" Yang di maksud Aya adalah mobil Ferrari merah yang biasa Asher bawa.


"Gak!...aku masih ingat ya, si biru dulu pernah kamu bikin lecet...aku gak mau si merah bernasib sama!" mendengar itu Aya memutar bola matanya jengah.


Bersambung.....


Makasih yang udah setia dengan ceritaku....wah seneng banget aku banyak yang koment, jadi makin semangat untuk nulis rutin tiap hari...makin banyak yang koment makin semangat, jadi jangan bosan-bosan buat Like, koment dan Vote ya?.... macacihhhhh.

__ADS_1


__ADS_2