
"Al___"
"Sebentar." Alan memotong ucapan Ezra karena ponselnya bergetar.
"Hallo! Iya...oke, aku kesana sekarang." Dimasukkan lagi ponselnya ke dalam saku. "Sorry Zra, sepertinya aku harus pergi."
"Buru-buru sekali. Kau masih punya hutang padaku."
"Hutang apa?" Alan mengerutkan keningnya.
"Kau harus membantuku membuat moment romantis saat aku melamarnya. Karena lamaran sebelumnya kacau."
"Oke." Alan beranjak kemudian mengambil obat yang sudah disiapkan Ezra untuknya.
***
Seorang wanita cantik dengan rambut coklat berjalan di sebuah Mall kemudian masuk ke salah satu outlet aksesoris dan perhiasan.
"Kamu udah lama Jess?" Wanita itu lalu duduk di sebelah wanita yang bernama Jessica.
"Belum lama. Kamu ke sini mau beli apa Ay?"
"Aku gak mau beli, cuma mau memeriksa sesuatu."
Salah seorang pegawai menghampiri mereka. "Ada yang bisa saya bantu?"
Aya memperlihatkan gelang berwarna hitam miliknya. "Begini sist. Apakah anda tahu dari mana gelang ini diproduksi?"
Pegawai itu memperhatikan gelang milik Aya. "Ini produk dari Indonesia. Beberapa produk kami juga berasal dari sana."
"Gelang siapa ini Ay?" Tanya Jessika pemasaran.
"Gelang milikku."
"Apakah gelang ini baterainya habis? kemarin gelang ini menyala tapi kemudian tiba-tiba mati." Aya menatap pegawai wanita yang ada dihadapannya.
"Tidak Nona....ini adalah gelang couple, gelang ini ada pasangannya. Bila pasangan gelang ini berdekatan maka baru memancarkan Lampu berkelip seperti yang anda katakan."
"Apakah masih ada gelang yang seperti ini di sini? Aku ingin memesannya." Tiba-tiba Jessica menyahut.
"Buat siapa Jess? Bukannya kamu tidak punya pacar."
"Buat calon pacar aku Ay. Aku masih dalam misi untuk mendekatinya."
Aya memutar bola matanya jengah saat mendengar ucapan sahabatnya yang selama ini bersamaanya saat tinggal di Singapur.
"Maaf sekali Nona gelang ini pesanan khusus. Dan sudah sejak empat tahun lalu tidak di produksi lagi. Ini termasuk gelang langka." Jessica Langsung kecewa mendengar penjelasan sang pegawai.
"Maaf saya mau bertanya lagi. Berarti kalau gelang ini berdekatan dengan gelang couple yang sama-sama dari produk yang sama. Dia juga bisa bereaksi ?"
"Oh... tidak Nona. Gelang ini punya seri tersendiri. Apalagi punya anda termasuk seri yang langka dan khusus. Gelang ini punya keunggulan dia akan mengisi daya sendiri saat dipakai. Jadi tidak mungkin baterainya bisa habis seperti yang anda katakan tadi."
Kini Aya berjalan sambil memikirkan ucapan pegawai dari outlet yang baru saja ia tinggalkan beberapa menit yang lalu. Pegawai itu juga sempat mengatakan sesuatu yang membuat dia tercengang. Ternyata kalung yang ia pakai sekarang juga di buat di tempat yang sama dengan gelang miliknya.
"Kamu ngelamunin apa Ay?"
Aya langsung tersadar. "Menurutmu orang yang sudah meninggal bisa hidup lagi gak?"
"Ya gak lah. Jangan ngomong kayak gitu lagi! serem ih....Aku jadi takut sekarang." Jessica mengeratkan pelukannya di lengan Aya. Karena mereka kini sudah sampai di basement Mall. Suasana yang sepi, agak gelap dan pengap membuat Jessica semakin beringsut takut.
"Aku kan cuma tanya. Dasar penakut!"
"Kenapa kamu menanyakan hal itu?"
"Itu karena. Gelang dan kalung ini."
"Sebenarnya gelang dan kalung milikmu itu pemberian siapa Ay? Bukan dari Dokter Ezra ya?"
"Bukan! Tapi dari mantan pacarku yang sudah lama meninggal." Mereka sudah sampai depan mobil. "Kamu yang nyetir saja!" Aya melemparkan kunci mobilnya pada Jessica.
__ADS_1
Mobil mulai melaju keluar dari Mall terbesar di negara itu. "Yang katamu meninggal saat kecelakaan bersamamu empat tahu lalu ya?" Seperti menemukan sesuatu. "Eh kok aneh ya, gelang milikmu juga sudah tidak di produksi sejak empat tahun lalu kan?"
"Jangan-jangan...." Ucap Aya dan Jessica serentak.
Untung saja Aya tadi sempat menanyakan no telepon produsen gelangnya itu pada pegawai tadi.
"Gimana?" Tanya Jessica melirik Aya yang baru saja menutup telepon.
"Mereka tidak mau memberitahu nama pembuatnya. Mereka cuma bilang kalau orang itu pergi kuliah di luar negeri. Dan kamu tahu di mana dia kuliah??"
Jessica memicingkan matanya. "Dimana memangnya?"
"Di sini Jess! Di Singapur!" Ucap Aya menggebu.
"Singapur kan luas. Lagi pula kamu juga tidak tahu namanya."
Aya menepuk jidatnya. "Iya...ya, lupa!"
Mereka memutuskan untuk pulang. Aya juga akan mencoba untuk menghubungi Asher walaupun dia tahu pasti akan sulit seperti sebelum-sebelumnya.
***
"Ayaaaaa! Kamu juga kuliah di sini?!" Teriak Jessica saat mendapati Aya masuk ke area kampus yang sama dengannya.
"Jess, gak usah teriak-teriak! Suaramu kayak toa masjid tahu."
"Apaan toa masjid?" Tanyanya polos.
"Beginini kelamaan tinggal di luar negeri toa masjid aja gak tahu. Jangan-jangan kamu gak pernah ke masjid ya?"pandang Aya penuh selidik.
"Enak saja! Pernah lah." Jawabnya sewot. "Kamu mau langsung ke kelas apa kemana nih?"
"Aku mau ke aula dulu ikut seminar."
"Hayuk...aku juga ikut seminar."
Aya langsung menatap Jessica penuh selidik. "Tumben, biasanya kamu gak mau. Katamu ikut seminar cuma bikin ngantuk."
Aula tempat di selenggarakan seminar sudah terisi sebagian. Aya dan Jessica memilih duduk di kursi agak ke belakang agar mudah melihat ke atas podium.
Setelah beberapa menit duduk Aya merasa aneh karena Jessica yang sedari tadi celingak-celinguk seperti mencari sesuatu.
"Kamu nyari apaan Jess?"
"Aku lagi cari calon pacar aku."
Aya mengeryit. "Siapa? Anak semester kita juga?"
"Bukan, dia senior kita. Sekaligus temen Kak David."
"Wiih...sesama playboy dong? Secara Kak David kan playboy kelas kakap."
"Enak saja. Tidak begitu Ferguso! Dia anak baik-baik. Bahkan lebih tampan dari pada pacar doktermu itu. Jangan sampai kau jatuh cinta padanya. Karena dia hanya milik Jessica seorang." Ucapnya lebay sedikit mendramatisir.
"Apa kau bilang Marimar? Aku tidak akan percaya padamu begitu saja, sebelum mataku melihat sendiri buktinya." Aya ikut-ikutan masuk ke dalam Drama yang dibuat Jessica.
Ucapan mereka sampai membuat orang-orang yang ada di belakang mereka kasak-kusuk. Aya dan Jessica yang menyadari itu saling pandang kemudian tertawa bersama dengan mulut yang ditutup.
Jessica masih setia mencari sosok yang dari tadi ia tunggu-tunggu. Sedangkan Aya sedang bermain dengan ponselnya sambil menunggu acara dimulai. Ponsel yang Aya pegang tiba-tiba jatuh saat seseorang lewat dan tidak sengaja menyenggolnya.
"Ay...itu dia orangnya. Kak Niel Ay, ganteng banget kan?" Jessica dengan tidak sabaran menepuk-nepuk punggung Aya yang sedang sibuk mencari ponselnya yang terjatuh.
"Sebentar aku lagi nyari ponselku yang jatuh ini jess."
Jessica menatap Aya sambil berkacak pinggang. Saat Aya sudah duduk tegap.
"Itu orangnya Ay." Tunjuk Jessica tanpa menoleh.
Aya menatap ke arah tempat yang ditunjuk. Terlihat seorang laki-laki berkaca mata. "Idih culun gitu katanya ganteng."
__ADS_1
Jessica menoleh melihat ke tempat yang ia tunjukkan. "Bukan yang itu tapi sebelahnya yang pakai Kaos hitam."
Karena lelaki yang di tunjuk Jessica duduk membelakangi mereka jadi Aya tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya. Tapi entah kenapa Aya seperti sangat mengenal punggung pria itu. Lamunannya terbuyar saat acara dimulai.
Semua orang tampak membubarkan diri setelah acara seminar selesai. Tapi tidak dengan Jessica yang masih setia memandang sosok di depannya yang berjarak agak jauh.
"Ayo Jess acaranya sudah selesai." Tepuk Aya di punggung Jessica.
"Eh..eh, udah selesai ya?" Jessica tampak gelagapan.
Jessica melangkah semangat saat melihat lelaki yang ia sukai. Dan bermaksud menghampirinya.
"Hay Kak Niel?!" Sapa Jessica dengan suara yang tidak pelan.
"Sssttt...diem Lo! dia lagi tidur kasihan kalau bangun." Ucap David yang ternyata duduk di sebelah Alan.
Benar saja lelaki itu sedang bersandar dengan wajah mendongak dan tertutup buku.
"Iya ya....sorry." Jessica tampak kecewa.
Sedangkan Aya hanya geleng-geleng melihat wajah cemberut Jessica dan berpindah menatap Lelaki yang tidur dengan wajah yang tertutup buku itu. "Bisa-bisanya ada orang yang tidur saat seminar berlangsung. Harusnya kalau mau tidur mending di rumah saja." Batin Aya.
"Hey...ada Ayank di sini. Makin beautiful aja." David menggoda Aya sambil mengedipkan matanya. Tapi hanya ditanggapi senyuman sama si empunya. Aya sudah biasa di panggil begitu. Namanya di plesetin dari Aya jadi Ayank. Memang dasar cowok playboy. Siapapun di gombalin.
"Itu temennya gak dibangunin Kak?" Tanya Aya melirik Alan sekilas. Sebenarnya dia penasaran dengan tampangnya.
"Biarin. Tumbenan dia bisa tidur. Mungkin penyakit insomnianya udah sedikit membaik."
"Insomnia? Jangan-jangan lelaki ini orang yang sama dengan yang di ceritakan Ezra." Batin Aya.
"Eh...jangan-jangan dia pasiennya Ezra juga Kak?"
"Iya. Aku yang kenalin dia sama Ezra. Eh btw kalau kamu udah putus sama Ezra bilang ke aku ya? Kak David bakal nerima kamu dengan lapang dada. Cinta Kak David tidak pernah pudar utuk Ayank." David merentangkan tangannya. Tak lupa wajahnya yang songong.
"Udah yuk cabut aja Ay. Gak usah dengerin gombalan kakak aku yang rese itu." Jessica langsung menarik tangan Aya keluar.
"Hmmm... Ay, aku liat gelang kamu dari tadi kok menyala?" Tanya Jessica lirih. Sambil terus berjalan menuju parkiran.
Aya langsung menatap gelangnya yang masih sama, tidak menyala seperti yang Jessica bilang.
"Masa? Kapan? Sekarang gak tuh."
"Hmm... gimana ya Ay?" Jessica Tampak tidak tenang, seperti ingin memberi tahu sesuatu tapi ragu.
"Kenapa?"
"Gak jadi deh." Jessie tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Sepanjang perjalanan Jessica diam saja seperti tengah memikirkan sesuatu entah apa itu. Sejujurnya Aya ingin bertanya tapi ia urungkan, mungkin saja dia memikirkan cara mendekati cowok incarannya begitu pikir Aya.
Di sisi lain, Alan kini sedang menegakkan badannya memutar ke kiri dan ke kanan kemudian merentangkan tangannya. Merenggangkan otot-ototnya yang kaku.
"Eh, pada kemana semuanya?" tanyanya bingung saat melihat aula sudah kosong dan hanya tinggal dirinya dan sahabatnya David.
"Lo dah bangun?" David mengalihkan perhatiannya dari benda pipih yang ia pegang.
"Emang aku tadi tidur?"
"Gak nyadar Lo? tidur udah kayak kebo."
Alan hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Udah sembuh sakit Lo? atau tadi sebelum ke sini Lo minum obat tidur dulu?"
"Gak lah!" sanggahnya. "Gak tahu juga nih. tiba-tiba aku ngerasa nyaman, seperti dia ada di dekanku. Tapi mana mungkin." sambungnya sambil tersenyum miris.
Memang setelah mendapat informasi dari orang suruhan Alan yang mengatakan Aya mengalami kecelakaan yang cukup hebat saat akan menemui dirinya Alan merasa tidak tenang. ia tidak tahu bagaimana kabar Aya. Masih hidupkah gadis yang ia cintai itu. Tapi entah kenapa Alan yakin kekasihnya itu masih ada di dunia ini. Ketidak tenangan yang Alan alami berakibat insomnia yang cukup berat. Tak jarang ia sampai tidak tidur hanya untuk melamun, menyesal dan memikirkan Aya sepanjang waktu.
Alan terus mencari keberadaan Aya. Walaupun sulit karena entah kenapa Alan merasa ada sesuatu yang menutup rapat-rapat akses dirinya dalam hal pencarian Aya. Dan ia tahu pasti siapa yang melakukannya.
__ADS_1
Bersambung.....
maaf ya baru up. kemaren-kemaren lagi mager. jangan bosan-bosan buat baca ceritaku. sabar sebentar lagi Aya bakal ketemu Alan kok, aku gak mau lama-lama kayak senetron Indo, jadi pantengin terus ceritaku. jangan lupa like, koment dan vote. macacihhhhh