
Hari ini adalah hari pertama bagi Alea menjalani perannya sebagai Alena di sekolah. Kini Alea berdiri menatap gedung bertingkat dua di depannya. Dimana Alena bersekolah selama ini. Sebuah sekolah yang jika di sandingkan dengan sekolahnya di ibu kota, tentu sekolahnya lebih besar dan mewah. Tapi menurut yang ia baca, sekolah ini menjadi sekolah terfavorit dan sekolah paling berkelas di kota ini.
Alea melangkah masuk ke dalam area sekolah, gaya berpakaian serta tampilannya sudah mirip seperti Alena. Sebenarnya Alea kurang puas dengan tampilannya saat ini, tapi apa boleh buat, ia harus mengikuti gaya Alena. Ingin memakai make up seperti kehidupan sehari- harinya takut ada yang curiga. Lagi pula alat dan produk make up milik Alena sangat terbatas, hanya ada bedak, suncrean, pembersih wajah dan pelembab bibir. Hal hasil, ia hanya memakai yang ada saja.
Alea menelusuri setiap koridor untuk mencari di mana kelas Alena. Sama seperti hari- hari sebelumnya, seluruh siswa yang Alea lalui terus menatapnya membuat Alea risih. Sebab, tatapan itu terasa aneh bagi Alea karena belum pernah mendapat tatapan seperti itu dari siswa di sekolahnya dulu. Tatapan yang mengandung rasa kasihan dan bernasib sama dari siswa yang bermuka kusam tanpa make up di wajahnya, tatapan mengejek dari siswa bermake up tebal, dan tatapan yang hanya sekedar menatap, itu semua Alea dapatkan di hari pertamanya menjadi Alena.
Dari tampilannya, Alea sudah dapat menebak jika siswa yang tanpa make up itu berasal dari siswa bantuan sosial, sama seperti Alena. Alea mengetahui itu ketika mengecek ponsel Alena semalam dan mendapati grub siswa bantuan sosial yang adminnya berjumlah dua orang yang selalu mengirim kata- kata kasar kepada siswa yang menerima bantuan sosial itu. Alea tidak habis pikir, mengapa ada orang bermulut seperti itu?
Alea berhenti di depan salah satu ruangan kelas yang menuliskan kelas 2-A yang ia cari, kelas itu terletak di lantai dua. Dengan langkah mantap, Alea memasuki ruang kelas itu yang tampak sepi. Alea mulai mencari di mana Alena duduk selama ini, tanpa sengaja menangkap sebuah meja yang kotor di penuhi tulisan berisi kata- kata kasar.
[Kau menjijikan!.., Mengapa kau masih disini, hah? Dasar sampah!.., sebaiknya kau pergi dari sini Alena ******..,] Alea membaca tulisan itu dengan tangan terkepal, ingin rasanya ia menjungkir balikan meja itu dan menghancurkannya jika tidak mengingat dirinya sedang menyamar menjadi Alena.
Dengan menahan amarah di hatinya, Alea mendudukan tubuhnya di kursi yang mejanya di penuhi kalimat cacian dan makian lainnya.
__ADS_1
[Apakah hidupmu semenyedihkan ini Alena?] Batin Alea menerawang kehidupan yang selama ini Adiknya jalani. Alea tidak tahu saja, bahwa yang ia lihat barusan hanya sebagian kecil dari penderitaan adiknya. Ada penderitaan yang lebih besar yang sudah menunggu untuk Alea melihat bahkan merasakannya sendiri.
Setelah beberapa saat...
Dringgggg!
Bunyi tanda pelajaran akan di mulai begitu nyaring terdengar, seluruh siswa yang masih di luar kelas dengan patuh memasuki ruangan kelas mereka masing- masing. Begitupun di ruangan kelas Alea berada, seluruh bangku yang tadinya kosong telah terisi oleh pemiliknya. Suasana di dalam raungan itu begitu riuh di penuhi canda tawa dari siswa- siswa lainnya.
"Pagi Pak Riswan!.." Balas seluruh siswa serentak. Lalu fokus seluruh siswa tertuju pada setumpuk kertas yang dibawah oleh Pak Riswan, yang sepertinya lembar soal.
"Baiklah.., hari ini bapak akan mengadakan ujian harian..," Seluruh Siswa di kelas itu tampak terkejut dan tidak menerima adanya ulangan harian mendadak, karena mereka tidak di beri tahu sebelumnya. Apalagi mata pelajaran kali ini adalah mate- matika.
"Tapi Pak.." salah satu murid mencoba protes tetapi ucapannya langsung di potong oleh Pak Riswan.
__ADS_1
"Jika ada yang tidak siap, silahkan keluar!.." Ucap Pak Riswan tegas membuat beberapa murid yang tadinya ingin melayangkan protes terdiam dan tak berkutik. Jika mereka keluar, maka mereka dianggap tidak tidak hadir dan tentu saja mereka akan kehilangan nilai dari ujian harian yang sangat berarti untuk nilai rapor mereka.
Mau tidak mau, siap tidak siap, siswa di kelas itu harus harus melaksanakan ujian harian saat itu juga, jika mereka tidak ingin nilai ujian harian mereka kosong dan berpengaruh pada nilai rapor nantinya.
Sedangkan Alea, ia tidak mempermasalahkannya. Karena ia sudah terbiasa dengan ujian mendadak seperti ini di sekolahnya dulu. Baginya ujian mendadak seperti ini sangat efektif untuk membangun semangat para pelajar agar lebih rajin belajar ketika di rumah. Dari sini juga terlihat, mana siswa yang hanya belajar ketika ada ujian.
Kertas soal ujian selesai dibagikan. Para pelajar mulai membaca dan meneliti setiap soal yang tertulis di kertas itu. Dari raut wajah para siswa bisa menggambarkan jika soal ujian kali lebih sulit dari biasanya.
Pak Riswan tersenyum licik melihat ekspresi dari anak didiknya. Ia sangat puas telah mengerjai anak didiknya dengan cara memasukkan beberapa nomor soal dari pertemuan terakhir yang hanya membahas pengenalan dan rumus tentang materi tersebut, yang pastinya asing di mata anak didiknya.
Pak Riswan melakukan itu untuk menguji anak didiknya, apakah anak didiknya memperhatikan tugas yang diberikan atau tidak. Karena pada pertemuan terakhir, Par Riswan mengajar di jam terakhir. Sebelum mengakhiri pertemuan, Pak Riswan memberi tugas pada anak didiknya agar mempelajari materi yang baru ia jelaskan. Namun, sepertinya hal itu kurang di perhatikan karena Pak Riswan mengatakan kalimat itu bertepatan dengan berbunyinya bel tanda pembelajaran selesai.
"Baiklah.., kertas soal sudah berada di tangan kalian!..," Ucap Par Riswan setengah berteriak membuat perhatian seluruh siswa beralih kepadanya. "Sekarang kerjakan!..," dalam sekejap suasana di dalam 2-A berubah, seluruh siswa hanya terfokus mengerjakan soal demi soal, tidak ada kata yang terucap dari bibir mereka. Hanya ada suara pulpen bergesekan dengan kertas memenuhi ruangan itu.
__ADS_1