
Setelah mendapat pengarahan, semuanya masuk ke dalam Bus, Aya langsung duduk di samping Lila. Dari pintu masuk Bus ada yang menarik perhatian. Seorang Wanita dengan pakaian yang mencolok jaket berwarna merah dengan hiasan bulu-bulu di topinya siapa lagi kalau bukan Sheila, ia langsung mencari keberadaan Alan.
Alan duduk di kursi depan yang berisi dua Orang. Tanpa meminta izin Sheila langsung duduk di samping Alan. Sontak Alan langsung mendengus kesal, lalu ia mengedarkan pandangan seperti tengah mencari seseorang.
"Kak aku gugup banget, gimana cara mengatasinya? Rasanya takut bercampur senang!" Aya berbisik pada Lila yang duduk di sampingnya.
"Tenang saja, coba tarik nafas lalu hembusan perlahan sampai perasaanmu tenang, fokus pada rasa senangnya saja!" Lila mencoba menenangkan Aya yang sedari tadi merasa cemas.
Aya mulai memejamkan matanya, dan melakukan apa yang di perintahkan Lila.
"Astaga!" Tonyoran di kepala mengagetkan Aya. Siapa lagi yang kebiasaannya suka mentonyor kalau bukan Alan.
"Apain sih loe, ngangetin gue aja!" Aya protes.
"Cepetan pindah ke depan!" Perintah Alan.
"Enak aja loe mau duduk sini, gue yang duluan!" Aya melotot tak terima.
"Kelamaan!" Karena sudah tidak sabar Alan langsung menarik lengan Aya.
"Shei pindah ke belakang, kursi depan hanya untuk panitia!" Ujar Alan setelah sampai ke tempat duduknya.
Dengan wajah yang kesal terpaksa Sheila pergi kemudian Alan langsung mendorong Aya untuk duduk di sebelah jendela dan ia juga langsung duduk di sampingnya.
"Pantesan narik-narik gue,ternyata loe mau ngusir nenek sihir!" Aya berucap sambil tertawa.
"Nenek sihir?" Tanya Alan sambil mengerutkan keningnya.
"Yo'i ...itu yang barusan loe usir!" Aya masih tertawa cekikikan.
Tiba-tiba Alan ikut tertawa, "mimpi apa semalam gue, bisa liat loe ketawa!" Aya malah tertawa terbahak-bahak.
Alan yang mendengar sindiran Aya langsung memasang wajah dingin.
Bus sudah mulai melaju, Aya tampak makin panik, tangannya gemetar dan badannya tidak bisa diam. Alan yang melihat itu tampak tidak nyaman.
"Bisa diam gak?!" Bentak Alan.
"Al.....gue gak jadi ikut gue turun aja!" Aya langsung berdiri. Alan yang melihat itu kaget dan langsung menarik Aya untuk duduk kembali.
"Gak bisa! Coba sekarang tenang dulu!"
Aya langsung memejamkan mata, menarik nafas panjang seperti yang di ajarkan Lila. Alan yang melihat itu justru menahan tawa.
"Kamu ngapain? kayak orang mau melahirkan," akhinya Alan tertawa karena sudah tidak tahan.
"Eh...loe, ngomong sembarang, ini cara yang barusan di ajarkan kak Lila!" Aya protes.
"Gimana berhasil?"
__ADS_1
"Gak, masih panik gue!" Aya bingung apa yang harus dia lakukan.
"Mending kamu tidur aja!"
"Gimana gue mau tidur, kalo ini tangan masih gemetaran!" Aya mencengkeram tangannya yang masih saja bergetar.
Alan mencoba mengalihkan perhatian Aya, dengan mengajaknya bicara, ia menyuruh Aya untuk membayangkan betapa indahnya alam, pemandangan dan sesuatu yang Aya sukai yang mungkin hanya ada di hutan.
Ayapun sudah mulai tenang, Alan kemudian menyodorkan headset yang tersambung dengan handphonenya. Menyuruh Aya untuk memakainya.
"Kamu mbayangin apa tadi? sampe senyum-senyum sendiri!" Tanya Alan.
"Oh..... bayangin kunang-kunang!" Jawabnya singkat, kemudian memakai headset yang diberikan Alan.
Alan mengerutkan keningnya sesaat setelah mendengarkan Jawaban Aya. Ia berniat menanyakan sesuatu pada Aya tapi setelah melihatnya rileks dan menikmati suara dari handset, jadi ia urungkan.
"Musiknya enak banget Al, bikin hati tentram, gue jadi ngantuk!" Ujar Aya sambil menguap, "kapan-kapan gue minta ya?" Suaranya sudah lirih. Tidak lama Aya sudah masuk ke alam mimpinya.
Ternyata musik yang di dengar Aya adalah musik instrument suara alam yang tujuannya untuk relaksasi.
Guncangan dari Bus membuat kepala Aya yang mulanya bersandar di kaca jendela berubah bersandar di bahu Alan. Melihat itu Alan langsung mendorong kepala Aya.
Dilihatnya Aya begitu pulas Alan jadi penasaran ingin ikut mendengarkan suara musik yang terpasang di handset miliknya, karena jujur saja ia hanya asal Googling.
Ia mengambil satu handset dan ia dengarkan, hanya beberapa menit Alan sudah ikut masuk ke alam mimpi.
Terdengar suara cekikikan dari depan tempat duduk Alan dan Aya. Nando terlihat sibuk mengambil foto pemandangan yang menurutnya sangatlah menakjubkan. Sambil terus menahan tawanya.
Suara pesan masuk dari handphone Alan dan Aya, membuat Meraka terbangun. Dilihatnya semua orang di Bus sudah turun. Alan yang mengetahui hal itu langsung beranjak menyusul teman-temannya.
Semuanya sudah berkumpul, Alan teringat pesan yang beberapa menit masuk di handphonenya, kemudian ia membukanya. Matanya langsung terbelalak. Sebuah kiriman foto dari Nando.
Di foto itu tampak Aya bersandar di bahu Alan sedangkan Alan juga bersandar di kepala Aya mereka memakai satu headset yang sama. Pemandangan yang terlihat seperti sepasang kekasih.
Dari kejauhan Nando tampak menahan tawanya, setelah melihat ekspresi Alan. Alan yang melihat Nando langsung berjalan cepat ingin menghampirinya tapi tertahan oleh Lila yang berdiri di depannya.
"Al, mana Asher?" Lila bertanya dengan wajah cemas.
Karena masih sebal dengan foto yang diambil Nando ia tidak menjawab pertanyaan Lila.
Sesaat kemudian Lila sudah membawa Aya turun dari Bus, ternyata dari tadi Aya menetap di mobil ia tidak mau turun karena desakan Lila akhinya ia menurut.
"Al, loe gak cemburu sama Asher? Liat tu!" Tunjuk Nando dengan dagunya.
Alan langsung menoleh ke arah yang ditunjukkan Nando. Ia melihat Aya begitu menempel dengan Lila, ia merangkul tangan Lila seakan tidak mau kehilangannya.
"Hay Al, dari tadi aku cariin ternyata kamu di sini!" Ujar Sheila manja dan merangkul tangan Alan.
Alan Langsung menepisnya dan berlalu meninggalkan Sheila. Sheila menatap kepergian Alan, tiba-tiba ia mendengus kesal saat melihat Alan menghampiri seseorang. "Lagi-lagi dia! Awas saja kau! Belum tau siapa Sheila sebenarnya!" Gumamnya sambil tersenyum licik.
__ADS_1
Alan langsung memiting leher Aya saat sudah berada di sampingnya. Lila yang melihat itu berusaha melepaskan cengkeraman Alan. "Al, lepaskan.... Kasian dia!"
Alan kemudian merenggangkan pitingannya, "Hoy...bilang kalau cemburu bukan gini caranya!" Aya sedikit emosi, seumur hidup dia belum pernah diperlakukan seperti itu.
"Udah kamu sama aku aja, jangan nempel Lila terus!" Alan merangkul leher Aya mengajaknya pergi.
Di depan Aya sudah terlihat hutan yang begitu lebat, ia mulai ketakutan, tremor di tangannya juga semakin hebat.
Alan yang melihat itu, langsung memasukkan tangan Aya ke dalam saku jaket yang Aya kenakan. "Kamu gak malu sama temen-temen? Tenang ada aku di sini, ingat kita itu pergi rame-rame gak sendirian, gak mungkin nyasar, inget pesanku di Bus tadi!" Jelas Alan berbisik di telinga Aya.
Dengan berani Aya masuk bersama Alan ke dalam hutan tentu tangan Alan tidak lepas dari pundak Aya. Selama perjalanan mereka seperti lem yang selalu menempel kuat. Alan sudah tidak peduli dengan tatapan aneh teman-temannya. Ia hanya ingin menyembuhkan Aya dari trauma seperti janji yang ia ucapkan.
"Rom, dari tadi tingkah mereka aneh banget! Aku kok curiga!" Nando menatap Alan dan Aya dari kejauhan.
"Udah, jangan campuri urusan mereka! Nanti Alan juga jelasin semuanya pada kita!" Romi menanggapi.
"Aku cuma takut, Alan jalurnya jadi belok!" Seketika Nando langsung mendapat pokulan di kepalanya. Diapun meringis kesakitan.
Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan tepatnya dekat danau, yang lainnya tampak sibuk membangun tenda untuk bermalam. Sengaja memilih tempat yang dekat dengan danau agar mudah mencari air untuk memasak ataupun mandi.
"Sudah sampai! Bisa lepasin gak!" Alan menatap tangan Aya yang merangkul pundaknya.
Aya sudah tampak tenang tidak seperti saat masuk. Mungkin karena suasananya yang ramai dan keindahan danau yang ada didepannya.Ia sangat menikmatinya, ada jembatan kecil tepat ditengah-tengah danau, mungkin tempat apabila ada perahu yang singgah. Aya mulai menatapi langkahnya dijembatan kayu itu. Saat tiba di ujung iya merasakan tangan seseorang mendorongnya dari belakang.
Alan nampak berbincang dengan Lila, ia membahas tentang acara yang akan dilaksanakan. Tapi beberapa menit kemudian ia merasa ekspresi wajah Lila berubah, ia mengikuti arah sorot mata terkejut dari wajah Lila.
Byurrr....!!
Orang-orang yang tampak sibuk seketika menghentikan kegiatan mereka setelah mendengar suara itu. Aya yang sudah tercebur ke dalam danau tampak berusaha menyelamatkan diri, tangannya terangkat seperti berusaha menggapai tapi kepalanya semakin tengelam.
"Al... sepertinya Asher gak bisa berenang!" Teriak Lila.
Mendengar itu tanpa pikir panjang, Alan langsung berlari dengan cepat sambil melepaskan jaket dan sepatunya.
Karena jaraknya cukup jauh, saat Alan menceburkan diri Aya sudah tidak terlihat. Para mahasiswa yang sudah berkumpul di tepi danau tampak cemas karena sudah lama sosok Alan dan Aya tidak juga muncul.
Saat melihat Alan yang menarik Aya dari air, mereka berbondong-bondong membantunya. Alan mencoba memeriksa nafas Aya. Alan tampak terkejut dan mulai panik tanpa banyak berfikir Alan langsung memberikan pertolongan pertama. Ia menekan dada Aya dengan kedua tangannya beberapa kali kemudian ia mendongakkan kepalanya, menutup hidungnya dan mulai meniupkan udara lewat mulutnya hal itu ia lakukan sampai beberapa kali.
"Uhuk! Uhuk!..."
Aya terbatuk-batuk dan mengeluarkan air yang terjebak di paru-parunya. Semua orang yang tegang tampak bernafas lega.
Aya yang masih tampak bingung sambil mengatur nafas ia berusaha bangkit. "Aku kenapa? " Tanyanya, dengan suara lirih.
"Kamu tadi tenggelam, untung Alan nolongin kamu, muka kamu udah pucet banget kayak gak bernafas kalau Alan telat sedikit saja ngasih nafas buatan pasti kamu udah gak di sini!" Lila menjelaskan.
Mendengar itu Aya terbelalak dan langsung menatap Alan yang duduk di sampingnya dengan baju yang basah kuyup.
Bersambung.....
__ADS_1
Terimakasih yang sudah mampir untuk membaca tulisan saya, jangan lupa tinggalkan like dan komen..