Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Gadis Baik Hati


__ADS_3

"Papa tahu dari mana Alan ada di sana?" Tanyanya setelah masuk ke dalam mobil Suhendra.


"Dari dua sahabatmu itu, ....bahkan Papa juga tahu siapa gadis yang kau cintai."


"Pasti dari Romi!"


"Salah, Papa sudah tahu bahkan sebelum kamu menyadarinya."


Alan mengerutkan kening dalam, "Maksudnya?"


"Sepertinya kalian memang sudah di takdirkan bersama setelah sebelas tahun, kalian di pertemuan kembali."


Alan terbelalak, jadi Papanya sudah tahu semua, "Kenapa Papa tidak bilang?!"


"Salah kamu sendiri, kan sudah beberapa kali Papa mengundangmu untuk makan malam, Papa bermaksud memberitahumu tapi kamu malah sok sibuk tidak mau menemui Papa!"


Alan mengacak-acak rambutnya, dia sangat menyesal ini semua gara-gara ego dan gengsinya yang besar.


"Sejak kapan Papa tahu?"


"Mungkin sejak Asher yang asli datang ke kampus."


Alan semakin terbelalak, itu kan sudah lama sekali, dan itu artinya selama ini ayahnya tahu kalau Aya menyamar sebagai Asher saat di kampus.


"Jadi Papa tahu kalau Aya itu__" belum selesai dengan kalimatnya Suhendra sudah mengangguk.


"Untuk masalah ibumu,Tenang.... nanti Papa bantu.....Kamu tinggal meyakinkan Aya saja kalau kamu benar-benar tulus mencintainya."


Rasanya beban yang ada di pundaknya perlahan terangkat, dari dulu Papanya memang is the Best.


"Thank you Pa." Mata Alan berkaca-kaca kemudian ia memegang pundak Suhendra.


"Anak laki-laki tidak boleh menangis!"


Buru-buru Alan menghapus air mata di sudut matanya, "Papa tahu tempat tinggal Asher?"


"Tentu saja tahu, kau pikir siapa yang bisa memasukkan dia jadi Asisten dosen di universitas Bimatara kalau bukan Papamu ini." Ucap Suhendra menyombongkan diri.


Alan memutar bola matanya jengah, "Dimana dia tinggal Pa?" desak Alan.


"Sabar! Nanti Papa kasih tahu tapi ada syaratnya."


Alan berdecak kesal, Ayahnya belum berubah selalu saja tidak mau rugi, Alan tidak sadar sifat ayahnya itu sudah diturunkan padanya.


"Acara Pentas Seni yang akan diadakan lima hari lagi, harus sukses!....kamu yang harus bertanggung jawab."


Alan sampai lupa kalau di kampusnya akan di adakan acara itu, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu untuk bertemu dengan Aya, karena Aya termasuk dalam panitia.


Alan sampai di rumah ayahnya langsung di sambut pelukan hangat dari ibu tirinya, kali ke dua Alan masuk ke dalam rumah ini, yang pertama saat Alan bermaksud melamar Lila yang ternyata adalah kakaknya sendiri, tapi kejadian itu sudah lama jadi Alan sudah melupakannya.


Makan malam berjalan dengan sangat hangat dan ramai, itu karena ulah adik laki-lakinya yang kadang sering datang menemuinya hanya karena minta uang jajan. Alan tidak pernah mempermasalahkannya, dia juga sama sekali tidak membencinya, dari dulu ia memang ingin sekali mempunyai adik laki-laki. Celotehannya selalu membuat semua yang ada di sana tertawa.


"Papa curang!... Kegantengan Papa semuanya di turunkan ke Kak Alan, aku cuma dapat sisanya, harusnya Papa adil paling tidak Fifty-Fifty." Celoteh Radit.


"Papa pilih phone a friend."


"Emang kuis Who wants to be a millionaire?" Sahut Alan yang sontak membuat semuanya menatap Alan, karena memang dari tadi Alan diam saja mereka takut Alan merasa tidak nyaman bersama mereka.


Kemudian sontak semua orang tertawa, "Wah.... Radit tidak tahu, aku belum lahir." Ucapnya polos. Mengundang tawa untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


"Kak, main PS yuk?" Ajak Radit, setelah makan malam selesai.


"Biarkan Kakakmu istirahat dulu Dit." Ela ibunya Lila dan Radit memberi peringatan.


"Gak papa Bun,....hayuk!" Alan merangkul Radit di ajaknya ke kamar adiknya itu.


"Tunggu dulu Kak,... kita cari camilan dulu, pake motor Radit biar cepat." Kakak beradik berbeda usia itu berlenggang pergi menuju garasi.


Ela tersenyum, ia senang sekali putra sambungnya itu mau memanggil Bunda, karena ia tahu Mama satu-satunya hanyalah Anita.


"Ma,...gak apa-apa kan Papa menemui Mamanya Alan besok?" Suara sang suami membuatnya tersadar. Suhendra bermaksud meminta izin pada istrinya, ia sangat menjaga perasaan istri sekaligus cinta pertamanya itu.


"Tentu saja tidak apa-apa, sebenarnya Mama juga kangen sekali dengan Mbak Anita ...tapi Mama tidak berani menampakkan diri di depannya, Mama masih merasa bersalah." Lirih Ela, air matanya sudah keluar.


Suhendra hanya bisa memeluk istrinya, sebenarnya itu bukanlah kesalahannya tapi kesalahan Suhendra, dialah yang membuat sepasang sahabat itu tidak lagi bisa berteman.


***


Aya mengendarai mobil membelah jalanan malam kota J***a yang tidak terlalu padat, yang Aya sukai dari kota itu adalah bangunannya yang kuno dan artistik. Banyak tempat nongkrong anak muda dan pengamen jalanan yang bisa dibilang keren karena manggung di Cafe sambil syuting untuk konten Youtubenya. Mungkin tidak pantas di sebut pengamen, lebih kerennya di sebut Para penghibur musik, menghibur hati yang sedang galau seperti Aya.


Ia turun karena ingin melihat penampilan mereka sedikit lebih dekat.


"Mbak...minta uangnya, saya belum makan dari pagi." Ucap seorang anak kecil membuat Aya langsung menunduk untuk melihatnya.


Ia sampai lupa tujuannya keluar tadi memang untuk membagi-bagikan makanan setelah itu belanja kebutuhan dapur.


"Ade belum makan? Kakak punya banyak makanan...ade mau?" Ucap Aya lembut.


Anak itu mengangguk, kemudian Aya bertanya apakah masih ada teman-teman yang lainnya. Anak itu menunjukkan gerombolan anak-anak seusianya dan ibu-ibu yang sedang mengemis di pinggir jalan sama seperti yang anak itu lakukan.


Aya menatap iba, ternyata dia harus banyak bersyukur keadaannya tidak seburuk mereka, Aya jadi malu sendiri dengan keadaannya hanya karena seorang laki-laki yang belum pasti punya perasaan yang sama dengannya ia bisa sesedih itu dan merasa dirinya yang paling menderita.


Ternyata dengan memberikan secara langsung bisa membuat rasa puas yang teramat apalagi saat melihat mereka menikmatinya secara langsung, tak jarang mereka memuji masakan Aya, membuatnya menyunggingkan senyum bahagia.


Aya sibuk memilih bahan makanan segar, hingga tepukan di pundaknya membuat dia menoleh.


"Eh.... ketemu Kakak cantik."


Aya mengeryit memandang pemuda yang sedang memandangnya sambil tersenyum cengengesan.


"Siapa ya?"


"Kakak lupa?...aku adiknya Kak Lila yang paling ganteng se Antero negeri." Ucapnya congkak.


"Oh.... iya, Radit kan? Sendirian?" Setelah benar-benar mengingatnya Aya tersenyum memandang pemuda yang menurutnya sangat lucu.


"Gak! Sama kakak."


"Kak Lila udah pulang?" Karena seingat Aya Lila sedang ada di luar kota.


"Bukan, sama kakaku yang paling ganteng." Radit terdiam sesaat seperti baru mengingat sesuatu. "Oh my God pasti kak Alan nyariin.....aku pergi dulu Kakak cantik! Daaa!" Teriak Radit sambil berlari.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" Alan memandang adiknya yang baru datang.


"Aku baru ketemu bidadari Kak!" Sahutnya sedikit ngos-ngosan.


"Bidadari kok di Mall, adanya tu di kali." Alan sedikit menempeleng adiknya.


"Kayaknya Kak Alan kalau sama Kakak cantik tadi cocok deh, jadi couple of the year." Radit mengangkat kedua tangannya membayangkan tulisan itu terpampang besar di depannya.

__ADS_1


"Kakak cantik siapa lagi itu?" Alan tengah sibuk memilih beberapa cemilan kemudian memasukkannya dalam keranjang.


"Aku lupa namanya,.... namanya itu kayak penyanyi perempuan, lagunya kayak gini nih 'Could it be love could it be love,


Could it be could it be could it be love__" Radit menyanyikannya sambil joget-joget.


"Raisha!" Pekik Alan langsung berlari. Radit berteriak memanggil kakaknya, belum jauh Alan kembali lagi menghampiri Radit kemudian menarik adiknya di ajaknya berlari.


"Di mana dia?" Alan tampak panik mondar-mandir sambil mengedarkan pandangannya keseluruhan sudut tempat yang bisa ia jangkau.


"Tadi di sini." Sebenarnya Radit bingung dengan sikap kakaknya yang menurutnya sedikit berlebihan, tapi tetap saja ia menurut saja.


Seorang gadis memakai topi buru-buru masuk ke dalam mobil warna hitam, itu adalah Aya. Setelah mendengar Nama Alan di sebutkan Radit ia buru-buru pergi dan mengurungkan niatnya untuk berbelanja. "Besok sajalah belanja di pasar!" Gumam Aya.


***


"Ada apa kamu ingin menemuiku?" Ucap seorang wanita paruh baya. Sambil menyesap minumnya, menghilangkan dahaga di terik matahari siang itu.


"Apa kamu tidak kangen dengan putramu?" Pertanyaan yang dijawab pertanyaan oleh Suhendra.


"Putra yang mana?...aku hanya punya seorang putri." Jawab wanita paruh baya yang tidak lain adalah Anita.


Suhendra tertawa kecil, "Jangan berbohong, aku yakin sebenarnya kau menghawatirkannya, tenang dia tinggal bersamaku.....aku jadi bingung, harus berterima kasih atau marah padamu, karena kau mengusirnya akhinya dia mau memaafkanku."


Anita diam saja, tapi sesungguhnya hatinya sangat senang karena putranya baik-baik saja bahkan ia sudah mau memaafkan ayahnya.


"Apa tidak terlalu kejam, kalau kau sampai mengusirnya cuma gara-gara mencintai seorang gadis?"


Pertanyaan Suhendra membuatnya menatap tajam pria itu. "Gadis itu bukan wanita baik-baik, dia sudah merebut pacar dari sahabatnya sendiri....kamu tahu sendiri aku sangat membenci hal itu!" Desis Anita.


Suhendra hanya bisa menghela nafas panjang, karena kesalahannya dulu membuat Anita menjadi seperti ini. Ia sungguh sangat menyesal apalagi sekarang malah berdampak pada putranya Alan.


"Apa kau sudah pernah bertemu dengan gadis itu?" Tanya Suhendra.


"Tidak perlu!....hanya mendengar tentang dia saja aku sudah dapat menilainya." Tampaknya Anita tengah menatap sesuatu yang ada di luar jendela kaca besar yang ada di Cafe hingga membuat raut wajahnya berubah serius.


Suhendra mengikuti arah pandang Anita, ia langsung tersenyum. Sesuatu yang dari tadi ia tunggu sudah menampakkan diri pikirnya.


"Ngomong-ngomong soal menilai, bagaimana penilaianmu tentang gadis itu?" Tunjuk Suhendra pada seorang gadis yang dari tadi menjadi pusat perhatian Anita, gadis itu sedang membagi-bagikan makanan kepada pengemis dan pemulung.


Anita menyunggingkan senyuman, "Gadis yang cantik dan juga baik hati,....oh iya pantas saja aku seperti pernah melihatnya, tadi pagi saat di pasar aku sempat di tolong olehnya."


Anita teringat, tadi pagi saat pulang dari pasar belanjanya sempat jatuh berserakan saat di tabrak seseorang, dan gadis itulah yang membantu memungutinya, tapi sayang dia belum sempat menanyakan siapa namanya.


"Gadis itulah yang saat ini di sukai oleh putramu Alan." Ucapan Suhendra membuat Anita terbelalak tak percaya.


"Jadi gadis itu yang namanya Raisha?" Pertanyaan Anita membuat Suhendra mengeryit, apakah Aya menggunakan nama lain, Suhendra menggelengkan kepala pelan, pantas saja Alan dan Anita tidak menyadari siapa gadis itu rupanya gara-gara ini.


"Dia itu sebenarnya Aya....kamu masih ingatkan siapa Aya?" Suhendra mencoba mengingatkan Anita yang langsung menggeleng.


"Peristiwa Sebelas tahun yang lalu! gadis yang ditolong Alan waktu itu, yang namanya ia sebut saat pertama kali sadar dari koma."


Anita memijit pelipisnya, berusaha keras mengingat peristiwa yang mantan suaminya sebutkan.


"Jadi dia gadis itu?" Tunjuk Anita.


Bersambung....


Maaf baru up, karena baru aku review ulang pagi ini, semoga bisa up tiap pagi, aku sekarang lebih seneng up pagi. kenapa? karena biasanya komentarnya banyak. jangan lupa Vote dan kasih 5 rating ya?? macacihhhhh

__ADS_1


__ADS_2