Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Acara Pertunangan Dadakan


__ADS_3

Ezra terdiam setelah mendengar ucapan Alan.


"Becanda Bro! Jangan dianggap serius begitu. Aku kebelakang dulu ya?" Alan menepuk pundak Ezra setelahnya dia pergi.


Suara Dodi sang Host membuat Ezra tersadar sepenuhnya. Bahkan matanya berbinar saat mendengar ucapan Dodi.


"Nampaknya mempelai wanita juga tidak mau kalah. Dia juga ingin mempersembahkan sebuah lagu. Katanya sih buat seseorang yang sangat dicintainya. Tentu kita pasti tahu siapakah itu iya kan? Langsung saja kita sambut penampilan dari Nona Aya!" Dodi Langsung mempersilahkan Aya ntuk mulai.


"Lihatlah sayang, Aya bahkan mempersembahkan sebuah lagu untuk Ezra. Itu artinya dia sudah menerima Ezra." Bisik Jonathan di telinga istrinya.


"Apa Papa yakin lagu itu buat Ezra bukan yang lain?" Silvia malah bertanya.


"Maksudnya?"


Silviana hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban.


Aya sudah duduk manis di balik piano tangannya dengan lihai menekan tuts piano. Suara piano mengalun dengan begitu merdu.


Seusai itu senja jadi sendu awan pun mengabu


Kepergianmu menyisakan duka dalam hidupku


Awalnya Ezra terkejut tapi kemudian membatin mungkinkah Aya menyayikan lagu itu untuk cinta pertamanya yang katanya meninggal dalam kecelakaan? Karena saat ini Ezra bisa melihat dengan jelas air mata jatuh di pipi Aya.


'Ku memintal rindu menyesali waktu mengapa dahulu


Tak kuucapkan aku mencintaimu sejuta kali sehari


Walau masih bisa senyum


Namun tak selepas dulu


Kini aku kesepian


Jonathan yang sedari tadi sudah menahan emosi karena ulah putrinya, yang saat ini menangis sambil terus bernyanyi. Di saat seharusnya menjadi moment bahagia, putrinya malah membuat seakan-akan hari ini adalah hari terburuk baginya. Jonathan langsung berdiri, saat hendak melangkah ia malah di cegah oleh Silvia.


"Papa mau kemana? Lebih baik duduk diam di sini dari pada Papa malah mempermalukan diri sendiri!" Bisik Silvia dengan penuh penekanan.


Tapi tak ayal ucapan itu berhasil membuat Jonathan mengurungkan niatnya. Ia ingin melihat seberapa besar usaha putrinya menggagalkan Pesta pertunangan yang sudah ia rancang sedemikian rupa. Sebenarnya ia sudah sangat jengah karena sepanjang lagu banyak sekali yang berbisik-bisik dan bahkan ada juga yang ikut menangis.


Kamu dan segala kenangan


Menyatu dalam waktu yang berjalan


Dan aku kini sendirian


Menatap dirimu hanya bayangan


Sesekali Aya menyeka air matanya.Tapi sorot matanya yang kosong menyiratkan begitu banyak kesedihan.



(itu pura-pura Aya lagi main piano ya?)


Tak ada yang lebih pedih


Daripada kehilangan dirimu


Cintaku tak mungkin beralih


Sampai mati hanya cinta padamu......dst.


Aya menatap Alan yang tengah bersandar di dinding. Dari kejauhan Alan juga sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan tapi ada tatapan penuh rindu dari mata lelaki tampan itu.


__ADS_1


Dan pandangan mereka berdua dapat ditangkap oleh Ezra. Pikirannya kini berkecamuk saat sorot mata mereka sangat menyiratkan cinta yang begitu dalam. Hingga ketukan di meja membuatnya tersadar kemudian menoleh. Seorang gadis cantik yang sedari tadi duduk diam di hadapannya menyodorkan sepucuk kertas yang terlipat. Setelah memberikannya ia langsung pergi entah kemana. Dibukanya kertas berwarna putih itu dan langsung membuatnya terbelalak.


'Ku mencintamu


Kamu dan kenangan.....


Tepuk tangan mengakhiri lagu Aku dan kenangan By Shanna Shannon.


Ternyata gadis yang memberikan kertas padanya itu menghampiri Aya yang baru saja turun dari panggung. Dan Aya pun langsung menghambur memeluknya. Menumpahkan semua tangisnya di pelukan wanita yang sepertinya umurnya lebih tua sedikit dari Aya.


Acara puncak akhirnya di mulai. Dengan perasaan berat Silvia menyodorkan kotak beludru yang berisi sepasang cincin. Aya mengambil satu cincin polos. Tapi tidak dengan Ezra, bukannya mengambil cincin satunya dia malah turun dari panggung. Dan yang lebih mengagetkan lagi dia menarik tangan Alan dan diseret ke atas panggung.


"Cepat ambil cincin itu dan pakaian ke Aya!" Ujar Ezra dan tentu berhasil membuat semua orang tercengang termasuk Alan sendiri.


"Apa maksudmu?" Alan memandang Ezra penuh tanya.


"Aku sudah tahu hubungan kalian dari seseorang."


Aya dan Alan mengikuti arah pandang Ezra yang ternyata sedang menatap Lila.


Flashback on


Ezra perlahan membuka kertas dari seorang wanita yang datang bersama Alan.


"Calon tunanganmu Aya dan Alan atau Lelaki yang kau panggil Niel. Mereka saling mencintai. Inilah bukti cinta mereka https://momentsAAlight.….......


Setelahnya Ezra langsung membuka surel yang Lila berikan. Di sana ada banyak rekaman dan foto-foto romantis antara Aya dan Alan bahkan ada rekaman suara sesaat sebelum Aya bangun dari komanya. Moment video itu sengaja Alan buat untuk mengobati rasa rindunya pada Aya. Dan hanya Alan dan beberapa sahabatnya saja yang tahu termasuk Lila.


Dari sinilah Ezra merasa sangat bodoh. Kenapa dia baru menyadari kalau Alan yang Aya maksud adalah Niel sahabatnya. Dan Ezra yakin ingatan Aya bisa kembali saat pertama kali dia melihat wajah Alan saat dia akan melamar Aya waktu itu. Ezra tidak mau menjadi orang ketiga di antara hubungan mereka jadi dia akan melakukan sesuatu yang menurutnya benar.


Flashback end


"Aku tidak mau menjadi penghalang di antara kalian berdua. Aku tahu seberapa besar cinta kalian satu sama lain. Maaf karena aku baru menyadarinya." Ezra sedikit menunduk.


"Itu bukan masalah! Tapi...." Alan menatap Jonathan dengan raut wajah antara enggan dan menyesal.


"Om Jonathan, Ezra tahu Om itu orang baik dan pasti ingin anaknya bahagia kan?"


"Tapi Zra bagaimana dengan kamu? dengan Papamu?"


Ezra menatap Papanya yang sedari tadi diam saja tanpa ekspresi. "Aku dan Papa tidak apa-apa Om. Walaupun aku tidak berjodoh dengan Aya kita tetep keluarga kan Om?"


"Tentu saja! kamu sudah Om anggap sebagai putra Om sendiri." Ezra tersenyum mendengar ucapan Jonathan.


"Ezra...."


Panggilan Aya membuat Ezra menoleh menatap gadis cantik yang sudah mengisi harinya selama tiga tahun terakhir.


"Apakah Papamu tidak apa-apa? Bagaimana kalau penyakit jantungnya kambuh?" Ucap Aya lirih tapi masih bisa di dengar.


Pertanyaan Aya membuat Ezra terbelalak. "Sejak kapan Papaku punya penyakit jantung? Siapa yang bilang?"


Perlahan Aya menunjuk papanya.


"Wah... kurang ajar kau Jhon! Kau mendoakanku sakit jantung? Sahabat macam apa kau ini? Syukurlah aku batal besanan denganmu!" Sunggut Kevin sambil berkacak pinggang menatap tajam ke arah Jonathan yang tiba-tiba mendelik.


"Bukan begitu Maksudku. Aku hanya bercanda Vin. Dengarkan dulu penjelasanku." Jonathan berusaha membujuk Kevin.


"Sudahlah biarkan saja mereka! Sekarang ambil cincinnya dan segera pakaikan!" Perintah Silvia pada putrinya juga calon mantu idamannya. Mereka menghiraukan dua pria paruh baya yang terus berdebat.


Perlahan Alan menyematkan cincin di jari manis Aya kemdian disusul Aya. Syukurlah ukuran jari Ezra dan Alan sama sehingga tidak ada kendala.


"Setelah ini kita beli cincin pertunangan yang baru." Bisik Alan.


"Tidak perlu! Lebih baik langsung beli cincin kawin saja." Jawaban Aya membuat Alan terkekeh dengan segera ia mencubit gemas tempat favoritnya yaitu hidung mancung gadisnya itu. Sebenarnya ia ingin sekali mencium Aya tapi ia sadar Restu calon mertua yang satunya saja belum kelihatan.

__ADS_1


Tepuk tangan penonton membuat Jonathan tersadar. "Aku kan belum bilang setuju?"


"Mereka tidak butuh persetujuanmu! Mama dan seluruh keluarga sudah setuju!"


"Rasain!" Celetuk Kevin sambil terkekeh.


Jonathan hanya bisa menekuk wajahnya. Beberapa tamu sudah undur diri. Sedangkan Alan berbincang dengan keluarga Aya membicarakan acara pernikahan. Mereka bermaksud untuk mengadakan pertemuan keluarga terlebih dulu karena keluarga Alan yang belum mengetahui perihal pertunangan Aya dan Alan yang dilaksanakan secara mendadak.


Ezra melihat gadis cantik yang duduk sendiri di kursi dekat kolam kemudian menghampirinya.


"Sendirian?" Tanya Ezra setelah duduk di sampingnya.


"Seperti yang kau lihat."


"Perkenalkan namaku Ezra. Kau?" Ezra mengulurkan tangannya.


"Lila." Jawabnya singkat menyambut uluran tangan Ezra.


"Apakah kau sudah punya kekasih?"


"Eh?"


"Maaf. Aku hanya tidak mau membuat seseorang salah paham." Ezra tersenyum menatap air kolam yang tampak berkilau terkena cahaya bulan dan lampu-lampu di sekitarnya.


"Tidak punya. Hanya belum menemukan yang pas."


Entah kenapa jawaban Lila membuat Ezra tersenyum. "Kalau boleh tahu kamu kerja di mana?"


"Rumah sakit."


Jawaban Lila membuat Ezra tercengang. "Kamu seorang dokter?"


"Iya. Lebih tepatnya Dokter spesialis anak."


"Sama aku juga Dokter. Tapi aku Dokter spesialis penyakit dalam." Entah kenapa senyum Ezra semakin mengembang.


"Dokter spesialis anak ya? Sangat cocok menjadi ibu dari anak-anakku." Sambung Ezra yang langsung mendapat tatapan penuh tanya dari Lila.


Tanpa berkata apapun Ezra Langsung menarik tangan Lila mengajaknya entah kemana.


"Pa! Aku sudah mendapatkan calon istri. Ini dia orangnya." Ezra menunjukkan dengan arah tatapannya pada Lila.


"Hey! Apa maksudmu?!" Lila mencoba melepaskan cengkraman tangan Ezra tapi dia kalah tenaga.


"Ezra jangan mengada-ada. Siapa perempuan ini? Dari mana kau mendapatkannya?"


Pertanyaan yang Kevin lontarkan membuat Lila makin terkejut bagaimana bisa dia dianggap sebuah barang yang seakan di pungut dari pinggir jalan.


"Dia kakaknya Niel...eh maksudku Alan. Apa Papa tahu dia itu Dokter spesialis anak seperti almarhum Mama." Ezra menjelaskannya dengan raut wajah berbinar. Memang benar Ezra itu adalah seorang anak yatim dia ditinggalkan mati ibunya saat umurnya masih delapan tahun. Dan dari lupuk hatinya yang paling dalam dia mengidamkan sosok seperti ibunya yang lembut dan penuh perhatian Ibunya dulu seorang Dokter spesialis anak. Jadi secara tidak langsung dia memimpikan menikah dengan seorang dokter seperti mendiang Ibunya dan itu hanya ayahnya yang tahu.


"Benarkah begitu nak? Baiklah kalau begitu kapan kalian akan menikah?"


Pertanyaan Kevin untuk kesekian kalinya nembuat Lila makin tercengang bahkan mulutnya sampai terbuka.


"Hey! Tunggu dulu. Aku belum setuju!" Lila melayangkan protes.


"Sudahlah Lil. Aku yakin Papa sama Bunda pasti setuju. Mereka sudah capek mencarikanmu jodoh, usiamu juga tidak muda lagi. Apa kamu masih betah di sebut perawan tua?!" Entah dari mana tiba-tiba Alan menyahut begitu saja.


"Dasar adik tidak tahu terimakasih! Beraninya kau menghinaku!" Lila bersungut marah.


"Ezra ini lelaki yang baik. Coba kau pikir dia selama tiga tahun rela dengan ikhlas menjaga jodohku kurang baik bagaimana?"


Seperti diangkat ke langit kemudian dijatuhkan lagi begitulah yang Ezra rasakan. Dia baru menyadari ternyata sahabatnya itu begitu laknat.


Bersambung.....

__ADS_1


maaf ya baru up, otak lagi buntu ini. aku ngetik satu episode ini saja butuh waktu tiga hari nunggu pas mood lagi bagus. hayo Siapa yang kemarin jodohin Ezra sama Lila, tembakan anda benar mereka memang aku sandingkan kok tenang saja. jangan lupa lika koment dan Vote ya?


__ADS_2