
Di ibu kota...
Di kawasan perumahan elit, di salah satu rumah. Alena membuka pintu kamar Alea yang akan menjadi kamarnya. Alena di izinkan pulang dan bisa menjalani rawat jalan setelah pihak rumah sakit menyatakan kondisinya membaik.
Alena berjalan masuk, ia menatap ke sekeliling kamar yang di dominasi dengan warna pink putih. Di dinding kamar terdapat banyak bingkai foto yang menampilkan dirinya juga beberapa lukisan, menggambarkan sang pemilik kamar sangat suka dengan seni.
Namun, Alena merasa sangat asing dengan kamar ini, walaupun ia kehilangan ingatannya tetapi instingnya berkata, tidak pernah melihat tempat ini sebelumnya.
Alena menanggalkan tasnya di atas ranjang saat melewatinya. Alena berhenti tepat di sebuah rak di samping meja belajar.
"Aku yang mendapatkan semua piala ini?.." Tanya Alena penuh takjub menatap deretan piala yang berjejer rapi di rak tersebut.
Piala- piala itu terdiri dari penghargaan juara kelas dan kompetisi akademik maupun non Akademik. Alena terkagum- kagum melihat angka yang tertera pada piala- piala tersebut.
"Mengapa aku hanya mendapatkan angka satu dan dua.., padahal angka tiga kan bagus!..-"
Ting!
Bunyi notifikasi menandakan sebuah pesan masuk kedalam ponselnya.
Alena segera beranjak menuju ranjang lalu mengambil ponselnya di dalam tas yang dibawanya tadi.
bunyi pesan teks dari username bernama Calvin.
Alena menerka- nerka siapa gerangan sosok bernama Calvin sebelum ia kehilangan ingatannya. Apakah sahabat, teman biasa, ataukah pacar seorang Alea?.
"Aaahh.., tidak.., tidak.., jangan berpikir yang tidak- tidak Alea. Kau bahkan tidak mengingat apa- apa!" Alena menggeleng- gelengkan kepalanya lalu membalas pesan Calvin.
balas Alena.
Dritt!!
__ADS_1
Alena terkejut dan gelagapan saat sosok bernama Calvin itu malah menelponnya. Tidak tahu harus menjawab apa. Tetapi Alena tetap menjawab panggilan itu. "Hal-..,"
"Kau sudah berada di rumahmu sekarang, apa benar?" tanya Calvin terdengar antusias dari seberang telepon. "I-ya..," Jawab Alena apa adanya.
"Baguslah! Aku senang mendengarnya..," Alena hanya diam mendengarkan. "Yasudah ya! Aku akan mampir ke rumahmu setelah pulang sekolah.., Dah!..," Tut! Calvin mengakhiri sambungan telepon dengan suara setengah berbisik.
Alena terdiam menatap ponsel di tangannya dengan sejuta pemikiran yang ada. "Apa dia benar- benar pacarku? Aku harus berbuat apa sekarang? Mengapa aku tidak bisa mengingatnya!..," Alena memegangi kepalanya yang masih terbalut perban. Kepalanya terasa sedikit sakit.
Sedangkan…,
Di sebuah sekolah menengah atas yang sangat besar dan terkenal di ibu kota. Di salah satu koridor sekolah. Seorang pelajar laki- laki tampan dengan terburu- buru memasukkan ponselnya ke dalam saku seragamnya. Tapi sepertinya itu sia- sia, karena geng pelajar perempuan berisi empat orang yang Calvin hindari sudah berada di dekatnya, tentunya mereka tau apa yang baru saja yang Calvin lakukan.
"Siapa yang baru saja kau hubungi? Apakah Alea?.." tanya Starla yang berpenampilan paling mencolok di antara mereka. Starla menatap Calvin dengan tatapan mengintimidasi di ikuti tiga temannya.
Calvin menghela nafasnya. Sebenarnya ia enggan untuk menjawab, tetapi ia mengingat di depannya saat ini adalah teman sekelas sekaligus perkumpulan geng Alea yang tentunya sangat ingin tahu tentang kondisi Alea. Calvin menjadi pusat informasi tentang Alea, selain karena jarak rumah yang berdekatan, Calvin dan Alea telah bersahabat sejak kecil, bahkan banyak yang bilang mereka seperti seorang saudara yang selalu menjaga satu sama lain.
"Iya… Aku baru saja menghubungi Alea…" jawaban itu sontak membuat 4 orang di depannya heboh.
"Benarkah?…" tanya Starla.
"Apa lukanya parah?…" Lilis.
"Apa benar ia tertabrak mobil?…" tanya Liyas.
Nah! Ini yang Calvin tidak sukai dari Starla dan teman- temannya. Mereka selalu heboh dan berisik menyangkut hal apapun. "Iya… Iya… Iya… Iya…" Starla, Lisa, Lilis dan Liyas menghitung jawaban Calvin dengan jarinya. Calvin mengucapkan kata 'iya' sebanyak 4 kali, artinya menjawab benar semua pertanyaan dari mereka.
"Aakh…" Calvin dan beberapa pelajar yang berada di koridor yang sama tersentak kaget saat Starla dan 3L (Lisa, Lilis, Liyas) menangis histeris.
"Oh… Alea ku yang malang… Mengapa hal buruk harus menimpamu?…" Drama Starla yang di dukung oleh 3L di belakangnya yang saling berpelukan di iringi isak tangis yang menjiwai.
"Alea di mana sekarang? Ia sudah berada di rumahnya?…" pertanyaan spontan Starla di tengah dramanya membuat Calvin tanpa sadar mengangguk mengiyakan. Padahal Calvin berniat untuk tidak memberi tahu dulu keberadaan Alea pada teman- teman sekelasnya.
__ADS_1
"Bagaimana…jika sepulang sekolah kita menjenguk Alea?…" usul Starla di angguki oleh 3L.
"Sebelum ke rumah Alea…kita mampir ke supermarket… Beliin snack kesukaan Alea, Bagaimana?…" usul Lisa, menatap teman- temannya satu persatu meminta persetujuan.
"Jangan Snack deh, Lis! Coklat saja bagaimana?" usul Elis.
"Jangan coklatlah!… Buah saja lebih sehat…" balas Liyas.
"eeeh… Kalian harus ingat, Alea lebih kaya dari kita… Ia bisa membeli itu semua…" Sahut Starla menimpali membuat perhatian 3L mengarah ke Starla.
"Terus.., kita harus bawa apa?.." tanya Liyas.
"Yaa.., kita gak usah bawa apa- apa... yang terpentingkan kita datang menjenguk lalu mendoakan kesembuhan Alea... setuju?.." Starla meminta persetujuan menatap 3L satu persatu. Awalnya 3L tampak ragu mengambil keputusan, namun setelah 3L memberi kode satu sama lain melalui matanya, mereka akhirnya mengangguk.
Setuju!.."
"Aahh.., tidak, tidak..!.." Calvin yang sejak tadi diam memperhatikan Starla dan 3L, baru tersadar dan merutuki kebodohannya yang tanpa sengaja memberi tahu keberadaan Alea.
"Apanya yang tidak?.." tanya Starla menatap Calvin bingung.
"Kalian tidak boleh menjenguk Alea sore ini..!" Larang Calvin. Membuat Starla dan 3L menatap Calvin semakin bingung.
"Kenapa tidak boleh?.." ucap Lisa tidak terima.
"Yaa.., karena Alea butuh waktu istirahat yang banyak untuk pemulihannya... Alea juga baru keluar dari rumah sakit... Kalau kalian datang, kalian hanya mengganggu waktu istirahatnya... kalian mau jika Alea akan membutuhkan waktu yang lama untuk kembali ke sekolah?.." Starla dan 3L sontak menggeleng. Mereka ingin sekali menjenguk Alea. Tapi jika di pikir- pikir, yang dikatakan Calvin ada benarnya juga. Alea harus istirahat untuk pemulihannya dari kecelakaan... pikir Starla.
"Yaudah deh.., kita jenguk Alea lain kali saja... Ayo kembali ke kelas!.." ajak Starla pada 3L dengan lesuh.
"Nanti.., jika kita jenguk Alea, kita bawa banyak makanan kesukaan, Ya!.. sampai di sana kita juga yang akan memakannya.., orang sakit tidak boleh makan sembarangan..." usul Starla berubah pikiran sambil berjalan ke arah ruang kelasnya di ikuti 3L dibelakangnya.
"Jangan lupa bawa es krim juga.." sahut Liyas.
__ADS_1
Hingga suara ke empat manusia itu perlahan hilang dari pendengarannya, Calvin akhirnya bernafas lega. Ia tersenyum penuh kemenangan, puas telah membodohi Starla dan 3L.
[Tapi yang ku ucapkan tadi tidak ada yang salah...!]