
Seorang pria berjalan gonta masuk ke dalam sebuah lift, wajahnya begitu murung tak bersemangat. Setelah pintu lift terbuka ia keluar dan menyusuri lorong sebuah apartemen. Dari kejauhan ia dapat melihat dengan jelas siapa yang sedang bersandar di samping pintu apartemennya.
"Ngapain kesini Al?" Tanya pria itu yang tak lain adalah Romi.
"Kamu gak nyuruh aku masuk dulu? Kakiku udah pegel!" Pertanyaan Alan yang terkesan seperti memaksa.
Romi memutar bola matanya jengah. Setelah pintu terbuka Alan langsung menyelonong masuk langsung duduk di sofa dengan santainya tanpa menunggu pemilik rumah mempersilahkan terlebih dulu, seperti itulah dia karena memang Alan dan Romi sudah berteman sejak SMP. Apartemen milik Romi sangat sederhana, tepat tidur, dapur dan ruang tamu menjadi satu hanya di batasi partisi. Walaupun kecil tapi bersih dan nyaman.
"Ada apa tumben ke sini?......mau minum apa Al?" Romi melangkah menuju dapur mininya.
"Baru di tolak ya Rom?" Pertanyaan Alan membuat dia mengurungkan niatnya melangkah ke dapur, ia berbalik menatap Alan dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan.
"Maaf...ya Rom?"
BUG!
Satu pukulan mendarat di pipi Alan hingga dirinya hampir ambruk. Sudut bibirnya sedikit robek dan mengeluarkan darah yang langsung ia hapus dengan ibu jarinya. Masih terlihat wajah Romi yang geram, Tanpa mengatakan sepatah katapun Romi langsung pergi begitu saja.
Alan hanya bisa menghela nafas berat kemudian mengusab wajahnya gusar.
"Nih...!" Suara Romi membuat Alan mendongak, ia menatap tangan Romi yang menyodorkan kompres.
Ya begitulah mereka, walaupun bertengkar tapi masih ada rasa solidaritas. Wajah Romi sudah terlihat santai seperti tidak terjadi apa-apa, begitupun dengan Alan.
"Aku akan menceritakan sesuatu padamu, tapi kamu harus jawab dulu pertanyaanku?" Romi menatap penuh keseriusan. "Kamu tau siapa itu Aya?... Dan siapa itu Asher?"
Alan tersenyum tipis kemudian mengangguk, "Mereka orang yang sama."
Romi membalasnya dengan senyuman masam. "Memang hari ini aku ditolak, tapi bukan karena kamu, jangan ge'er dulu!"
Ucapan Romi membuat Alan mendongak dan menatap tajam ke arah Romi yang sedang menahan tawanya.
"Apa maksudmu?"
Romi mulai menceritakan pertemuannya dengan Aya di Cafe beberapa jam yang lalu. Karena setelah Alan berbicara dengan Aya dia langsung pergi begitu saja. Bahkan tidak sempat berpamitan dengan Romi.
****Flashback On****
"Aya, aku mau bilang sesuatu sama kamu...kalau aku sebenernya suka sama kamu... Kamu tidak harus menjawabnya sekarang, aku akan menunggu sampai kamu siap menjawabnya." Romi menatap Aya dengan lembut.
"Maaf Rom, aku tidak bisa....kamu bisa mendapatkan cewek yang lebih baik dari aku." Aya menarik tangannya dari genggaman Romi.
Romi tertawa sumbang, dan berhasil membuat Aya mengeryit. "Alasanmu sangat kuno Ay,... sekarang aku tanya, apa ini semua gara-gara Alan?"
Aya menautkan alisnya tidak mengerti, "Kenapa malah membicarakan orang lain, ini tidak ada hubungan dengannya."
"Maaf, tadi aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian di depan toilet."
Aya menghela nafas berat, "Bukan karena itu aku menolakmu, mau Alan datang atau tidak hari ini jawabanku tetap sama, menurutku perasaan memang tidak bisa dipaksakan Rom, aku tidak mau menjadikanmu sebagai pelarian, kamu pantas mendapatkan wanita yang Lebih baik dari aku, bagiku kau adalah teman yang baik."
"Jadi aku benar-benar tidak bisa lebih dari sekedar teman?"
Aya langsung mengaguk, dengan tatapan penuh penyesalan.
__ADS_1
****Flashback end****
"Apa alasanmu memukulku?!" Alan tampak tidak terima.
Romi malah tertawa terbahak-bahak, sama sekali tidak menyesal dengan apa yang baru saja ia perbuat. "Itu memang pantas untuk lelaki brengsek sepertimu!" Romi masih mencoba meredam tawanya.
"Apa maksudmu?!" Alan menatap tajam ke arah Romi. Bahkan tatapan dinginnya sudah kembali lagi.
Romi yang merasakan hal itu langsung terdiam seketika. "Kamu lupa? kamu itu pacaran sama teman Aya, tapi masih saja mendekati Aya."
Alan mengusap rambutnya frustasi, "Bantu aku Rom! Bagaimana caraku memutuskan ima tanpa membuat Aya marah?"
Romi langsung mengangkat kedua tangannya ke atas "Sorry...aku gak bisa bantu."
"Sialan kamu!... Sebenarnya apa alansan Aya menyamar sebagai laki-laki Rom?"
"Maaf sekali lagi Al,...aku sudah janji gak ngomong sama siapapun, kalau mau tau tanya aja langsung ke orangnya."
Alan semakin geram, ia langsung melemparkan bantal sofa ke arah Romi. "Bagaimana caranya aku membuatnya mengaku sendiri." Gumam Alan.
***
Kini Aya sedang bersembunyi di balik tembok, ia ingin ke kantin tapi masih sangat enggan bertemu dengan Romi setelah peristiwa penolakan itu. Tapi perutnya semakin berbunyi.
"Kemana Asher? Tumben belum kesini. Biasanya dia yang paling semangat kalau waktunya makan siang." Ujar Nando sambil memainkan ponselnya.
Alan menatap Romi kemudian menaikkan kedua alisnya seperti memberikan kode pada Romi. Dan langsung di pahami oleh yang bersangkutan. "Aku cabut dulu." Romi menepuk pundak Nando lalu pergi.
"Udah biarin, paling juga ada urusan." Sahut Alan cuek. Ternyata sedari tadi Alan menyadari keberadaan Aya yang sedang bersembunyi, hingga ia menyuruh Romi untuk pergi. Dan benar saja Aya langsung datang menghampiri mereka dan langsung saja duduk.
"Eh panjang umur, loe Sher." Sahut Nando.
Aya makan bakso dengan sangat lahabnya seperti orang yang kelaparan. Membuat Alan sampai menggeleng-geleng. "Al, kapan nie loe kenalin pacar lo, ma kita-kita."
"Iya Al kapan?" Sahut Nando menimpali.
Bukannya menjawab Alan malah langsung beranjak berdiri. "Aku cabut dulu, ada urusan."
Aya yang melihat itu hanya bisa mendengus kesal, pasti Alan sengaja ingin menghindar. Dan sejak itulah ia tidak pernah bertemu lagi dengan Alan, sudah dua minggu sosoknya seperti hilang di telan bumi. Saat ia tanya keberadaannya pada Nando ia hanya bilang Alan sering datang ke cafenya tapi memang saat di kampus dia jarang bertemu. Nando malah berasumsi sendiri kalau Alan baru putus dengan pacarnya, karena moodnya terlihat buruk.Tentu Aya tau kalau itu tidak mungkin karena tiap malam ima selalu menelfonnya menanyakan kabar Alan dan ia tau kalau belum ada kata putus di antara mereka. Sedangkan Romi ia hanya bilang kalau Alan sedang sibuk dengan perusahaannya. Tapi hati Aya menolak untuk percaya.
Aya masih berhutang janji dengan ima untuk membantu hubungannya dengan Alan. Disinilah yang membuat Aya tertekan. Sore itu saat akan pulang ia melihat Alan masuk ke dalam mobilnya, ia langsung berlari menyelonong masuk ke dalam mobil Alan.
Sontak Alan tersentak kaget, "Apa yang kau lakukan Sher? Cepat turun! Aku buru-buru!"
Aya sedikit terkejut dengan reaksi Alan, karena Minggu lalu sikap Alan begitu manis, tapi kenapa sekarang jadi berubah kembali ke sosok Alan yang dingin, sorot matanya pun berubah.
Entah kenapa Aya merasa sakit di ulu hatinya, matanyapun mulai berkaca-kaca tapi sebisa mungkin ia kendalikan. "Loe kok jadi jarang banget nongkrong sama kita-kita Al?....Dan inget loe masih punya hutang janji, buat ngenalin pacar loe ke kita-kita ya!"
Alan tergelak kemudian tertawa sumbang. "Kamu penasaran banget sama pacarku!... kenapa? Cemburu?!"
"Jijik banget! Gak mungkin lah!" Aya membuang muka setelah mengatakan itu.
"Kalau gitu, sekarang keluar!...Dan jangan pernah ngungkit lagi soal itu, mau pacarku siapa, udah putus atau belum...Bukan Urusanmu!" Alan menekankan pada kalimat terakhir.
__ADS_1
"Tentu itu urusaku.... karena dia__" tiba-tiba suara Aya tercekat, hampir saja ia membongkar rahasianya sendiri.
Alan yang awalnya akan tersenyum tipis langsung ia urungkan. "Dia kenapa?"
"Ya udah gue turun!" Aya membuka mobil Alan dan langsung berlenggang pergi.
"Aaaarrgghh!" Alan berteriak kemudian memukul kemudinya.
"Aya, asal kamu tahu saja, aku juga tersiksa harus menghindarimu, aku pikir dengan cara itu akan membuatmu menyadari perasaan mu padaku, aku tidak mungkin salah...aku yakin kamu mempunyai perasaan yang sama dengan ku." Gumam Alan menatap punggung Aya yang semakin menjauh.
***
"Eh... lusa acara tahun baru pada mau kemana?" Nando memandang Romi dan juga Asher. Kini mereka sedang duduk sambil menikmati makanan siangnya di kantin seperti biasa. "Gimana kalo kita barbeque di tempatnya pacar ku, sekalian aku kenalin sama kalian."
"Aku sih ngikut aja, orang jomblo mah gak punya acara apa-apa." Perkataan Romi entah kenapa seperti menyindir Aya, apalagi saat kata jomblo Romi ucapkan sambil menatap Aya.
"Kalo kamu gimana Sher?" Nando beralih menatap Aya.
"Sorry gue gak bisa, gue udah ada janji." Aya langsung teringat janjinya dengan ima, kalau mereka mau jalan bareng saat tahun baru seperti saat di Jakarta dulu.
"Oh...iya aku lupa, kamu pasti udah ada acara sama Lila ya...?" Goda Nando
Aya baru ingat kalau Lila sudah pulang dari tugasnya di luar kota.Ia pun Langsung bergegas pergi. "Gue ke Lila dulu!" Teriaknya sambil berjalan terburu-buru.
Sesampainya di ruangan Lila. "Kak Lila.... kangennnn!" Teriak Aya langsung menghambur memeluk Lila. Lila hanya bisa tersenyum membalas pelukan Aya.
"Aku juga udah kangen sama adik kecilku ini." Lila sudah menganggap Aya seperti adiknya sendiri menurut Lila lebih baik mempunyai adik seperti Aya daripada seperti Radit yang selalu minta uang padanya.
"Giman hubunganmu sama Alan?" Tanya Lila setelah mereka duduk.
"Gak tau deh Kak, maunya apa manusia salju yang satu itu selalu berubah-ubah, kadang bersikap manis, eh kemudian tiba-tiba dingin dan galak, kadang nempel seperti perangko eh tiba-tiba menghindar dan hilang gitu aja. Lama-lama aku ganti namanya jadi bunglon!" Aya ngedumel sambil mengerucutkan bibirnya.
Lila malah tertawa terbahak-bahak, mendengar celotehan Aya. "Biar mood kamu balik lagi bagaimana kalau kita jalan-jalan, kayaknya udah lama kita gak keluar bareng."
"Oke deh kak, sekalian kita shopping sepuasnya." Sahut Aya semangat. Lila beranjak berdiri ingin mengambil sesuatu di dalam tasnya.
"Seperti biasa ya kak!"
"Oke...aku sudah tau, tunggu di sini dulu aku mau ngambil bajunya di mobil." Lila keluar dari dalam ruang kesehatan.
Aya tengah bercermin perlahan ia melepaskan kumis palsunya sedikit meringis, ia bermaksud ingin mencuci muka dan touch up dulu. Saat terdengar suara pintu terbuka. "Kak Lila! cepetan banget baliknya?"
Tapi tidak terdengar suara sahutan, dan saat Aya menoleh, ia langsung terbelalak. Ia melihat Alan tepat di depan matanya.Lelaki itu terlihat melotot, badannya mematung.
"Al..?" Lirihnya.
Lelaki itu masih berdiri menatap Aya dengan ekspresi yang sulit untuk di jelaskan. Kini ia sudah tertangkap basah oleh Alan pikirnya.
"Al...gue bisa jelasin ini semua." Aya tampak panik, ia langsung memegang kedua tangan Alan, menatap pria itu penuh penyesalan.
Bersambung.....
Episode ini agak panjang ya, biasanya saya nulis 1500 kata, yang ini 1600 kata, cuma mau jelasin aja biasanya novel yang lainnya cuma 1000 kata lha saya agak beda, saya bikin 1500 kata, kenapa?? karena insyaallah novel saya episodenya gak sampe 100 episode, saya kurang suka episode yang terlalu panjang. jadi 2 episode saya sama dengan 3 episode novel lain. kira-kira kamu suka tipe yang mana? yang 100 kata/ 1500 kata?? komen di bawah👇👇
__ADS_1