Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Arem-arem I Love You


__ADS_3

"Ini Alan!"


Seketika mata Aya yang tadinya mengantuk langsung terbelalak, ia langsung melompat dari tempat tidur. Di lihatnya lagi nomor yang menelfonnya dan ternyata masih terhubung.


"Maaf bisa diulangi lagi?" Pinta Aya setelah mendekatkan telfon di telinganya ia berharap salah dengar.


"Ini Alan, apakah ini nomornya Asher?" Tanya Alan lagi dari seberang telepon.


Aya berjalan memutari kamar menggigit jari sambil melihat nomor yg menghubunginya itu memikirkan alasan yang tepat. Aya berhenti lalu memberanikan diri menjawabnya, "Halo....Iya, ini nomer Kak Asher sebentar saya panggilkan."


Aya menjauhkan telfonnya, seolah-olah memanggil seseorang, "Kak Asher ada telfon!" Aya sedikit berteriak.


"Iya sebentar...!" Teriak Aya lagi dengan suara berat ala cowok. "Aku kok kayak orang gila ya?" batinnya.


"Halo, ini gue Asher!" Jawab Aya yang sudah sepenuhnya menggunakan suara berat ala Asher KW.


"Kok belum dateng?"


Aya kemudian melihat jam, Disana sudah pukul 10.00 pagi, Aya melupakan janjinya sontak ia langsung menepuk jidatnya.


"Iya gue udah mau berangkat ni!" Jawab Asher sambil mengambil handuk.


"Yang tadi itu___" belum sempat Alan menyelesaikan kalimatnya telfon langsung di tutup,ia segera berlari menuju kamar mandi.


Sesampainya di gerbang kampus, Aya sangat enggan untuk masuk. Kampusnya tampak sepi, apa mungkin ada seminar begitu pikirnya.


"Ramai ataupun sepi sama saja lah!" Batinnya.


Sebelum masuk ia sempat mendapat pesan dari Alan.


Manusia salju: "Setelah sampai kamu langsung ke lapangan!"


Sesampainya di lapangan tampak Banyak mahasiswa yang berbaris membelakangi Aya. Dan terlihat Alan and the Genk, di barisan paling depan melihat ke arahnya.


"Ada acara apa ini?" gumam Aya.


"Tes! Tes!" Terdengar bunyi mikrofon.


Mikrofon itu di pegang oleh Alan. Tumben dia mau ngomong di depan umum pikir Aya. Karena setahu Aya selama masa Ospek Alan tidak pernah sekalipun berbicara secara langsung didepan umum, ia lebih sering menyuruh Nando untuk menjelaskan kegiatan Ospek. Kalau kata Citra dan Amanda Alan itu tidak suka jadi pusat perhatian.


"Selamat datang untuk Asher, silahkan maju ke depan!" Ujar Alan lewat mikrofon.


"Haduh,...jangan bilang kalau dia mau hukum aku lagi untuk terakhir kalinya," batin Aya.


Tanpa banyak berfikir Aya langsung maju. Kini ia sudah ada di samping Alan. Tiba-tiba Alan merangkul pundak Asher. Dan langsung membuat Aya sedikit terlonjak kaget. Tak hanya dia, para mahasiswa pun juga tampak terkejut.


"Saya ingin mengumumkan kalau Asher lulus." Ujar Alan.


Aya menoleh menatap Alan sambil mengerutkan kening, "Apaan... ujian aja belum ,udah bilang lulus Ini orang kayaknya salah minum obat," batinnya.


"Dia lulus menjadi anak buahku." Alan kemudian menatap Nando. "Nan bukankah kemarin kamu pengen nambah personil baru biar bisa jadi grub apaan kemarin?!"tanya Alan pada nando.


"F four!" Jawab Nando singkat.


"Iya itu..., selamat kamu udah lulus, kamu bisa melewati semua tantangan dari kami, kamu bahkan bisa membuat rektor bisa menghukumku, seorang anak buah Alan haruslah pintar, kuat dan mau mengakui kesalahannya." Alan menepuk punggung Aya.


Aya masih tampak bingung, "ini orang ngomong apa?" batinnya.

__ADS_1


"Dia sudah meminta maaf dan saya sudah memaafkannya, selamat bergabung di F four!" Dan kata terakhir Alan membuat semuanya bersorak dan bertepuk tangan.


Semua orang pun langsung mengerumuni Aya, mereka memberikan selamat dan meminta maaf padanya, Aya merasa terharu matanya sudah mulai berkaca-kaca.


Setelah selesai acara maaf-maafan Aya berpamitan ingin menelfon Asher, "gue mau telfon Kaka gue dulu!"


"Mau telfon Kak Nadia?" tanya Alan tiba-tiba, Aya mengerutkan kening kemudian mengangguk. Romi dan Nando secara bersamaan memandang Alan dengan tatapan heran.


"Sejak kapan mereka sedekat itu?"bisik Nando pada Romi, Romi hanya menaikkan bahunya.


Aya menelfon sedikit berbisik, ia berada di taman yang ada di kampus.


"Halo Sher?" Sapa Aya.


"Iya kenapa?... Udah gak sabar mau pulang?"tanya Asher.


"Ehmmm....aku gak jadi pulang," ucap Aya lirih hampir tidak terdengar.


"Iya"


"Kamu gak marah Sher?" Aya tampak terkejut.


"Gak!" Sahut Asher singkat.


"Makasih Sher, kamu emang saudara aku yang paling the best." Aya tersenyum senang.


"Ada imbalannya!" Sahut Asher.


"Apa?" Aya penasaran.


Dari seberang telepon, Asher sudah tidak bisa menahan tawanya."hahahaha, Aya.....Aya untung aku belum pesan tiket."


Ternyata Asher sudah tau kabar terbaru Aya, orang-orang suruhannya yang mengawasi Aya melaporkan kalau Aya bertemu dengan Alan saat mereka mau menolong Aya dari gerombolan Copet.


Aya tengah memandang handphone di tangannya "tumbenan nutup telfon duluan nie anak," gumam Aya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Saat dirinya mau kembali ke tempat teman-temannya sekilas ia melihat Dokter Lila lewat.


Aya langsung berlari mengikuti Lila hingga ia sampai di ruangan kesehatan.


"Aya, ada apa? "Tanya dokter Lila saat Aya sudah duduk di depannya.


"Katanya Kak Lila pindah tugas, apa benar itu?" tanya Aya.


"Gak kok, siapa yang bilang?"Lila mengerutkan keningnya.


Aya menghela nafas berat, "sepertinya dokter yang kemarin membohongiku!" batinnya. "Ya sudah, tidak usah di bahas Kak!"


"Bagaimana kabarmu?" tanya Lila.


"Aku baik, Kakak sudah makan siang? Aku punya sesuatu untuk Kakak, pasti kakak suka!" Aya mengeluarkan sesuatu dari ranselnya.


"Apa ini?" Tanya Lila setelah melihat kue yang dibungkus dengan daun pisang, mirip lontong tetapi lebih kecil.


"Ini namanya arem-arem Kak, isinya daging jadi rasanya gurih." Jelas Aya kemudian menyodorkannya pada Lila.


Saat mereka tengah mulai makan tiba-tiba Alan masuk dan langsung duduk di samping Aya. Lila menatap Alan dengan heran.

__ADS_1


"Kalian makan apa?" Tanya Alan saat melihat Aya dan Lila sedang mengunyah.


Aya menyodorkan Arem-arem pada Alan, "loe mau? ini namanya arem-arem."


Alan mengeryit saat melihat kue yang mirip lontong itu.


"Ah...iya, bapak presiden mana doyan makanan rakyat jelata." Sindir Aya masih mengunyah arem-arem.


"Alan itu lebih suka makanan yang manis-manis kayak cake atau biskuit gitu," jelas Lila, saat melihat Alan diam saja.


"Oh....tapi kok omongannya gak ada manis-manisnya, cenderung pahit!" ejek Aya yang langsung mendapat tonyoran Alan.


Lila hendak menegur tindakan Alan, tapi ia urungkan saat melihat Aya membalas Alan.


"Eitsss...gak kena!" Alan dengan sigap menghindar tonyoran Aya. Aya mendengus kesal dan meluapkan amarahnya dengan menggigit arem-arem dengan kuat. Alan yang melihat itu tertawa kemudian ikut mengambil arem-arem.


"Tunggu Al!" Lila menghentikan Alan yang nyaris melahap arem-arem.


"Sher ini ada bawang Bombaynya gak?" Tanya Lila.


"Menangnya kenapa Kak?" Aya merasa heran.


"Alan alergi sama bawang Bombay."


"Gak lah kak, arem-arem mana ada yang pake bawang Bombay." jelas Aya. Setelah mendapat penjelasan, Alan langsung melahapnya, ia tampak sangat menikmatinya hingga arem-arem yang ada di meja itu ludes tak tersisa. Aya yang melihat itu hanya bisa menelan Salivanya."ini orang doyan apa rakus?"batinnya.


"Ini pake daun pisang yang kemaren?" Tanya Alan yang langsung mendapat anggukan kepala Aya.


"Yang Ini juga kamu bikin sendiri Sher?" Tanya Lila. Aya langsung tersedak saat mendengar pertanyaan Lila.


"Gak lah, ini yang bikin nenek gue Kak!" Jawab Aya bohong sambil menepuk-nepuk dadanya. Lila yang mendengar penjelasan Aya hanya tersenyum tipis.


"Oh....disini kamu tinggal sama nenekmu?" Tanya Alan, dan Aya langsung mengiyakan.


Keheningan terjadi beberapa menit diantara mereka bertiga, Aya beranjak berdiri, "Kamu mau kemana?!" Alan dengan cepat menarik tangan Aya.


Aya sedikit melirik Lila yang tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah saat melihat Alan memegang tanganya, seketika Aya langsung menepis tangan Alan.


"Kak Lila, gue numpang tidur di sini bentaran ya? Tadi ni orang ganggu tidur gue" tunjuk Aya pada Alan. Ia tak menghiraukan pertanyaan Alan dan langsung merebahkan diri di ranjang ruang kesehatan yang sekelilingnya tertutup tirai putih.


Sepuluh menit berlalu, Lila dan Alan hanya diam satu sama lain.


"La aku mau minta maaf, kemarin-kemarin bersikap acuh padamu." Alan memecah keheningan.


"Gak papa Al, aku tau kamu pasti butuh waktu untuk berfikir."


"Tapi harusnya,aku bisa bersikap lebih dewasa!" Alan menatap Lila dengan intens.


"Aku ingin menyampaikan sesuatu yang penting, aku harap kamu mau menerimanya!" Alan memegang tangan Lila.


"Sebenarnya___"


"Aku menyukai arem-arem, arem-arem i love you?!" Sambar Aya yang sedari tadi menguping permbicaraan mereka, takut akan murka Alan dengan segera Aya beranjak dan berlari keluar.


Bersambung.....


terimakasih sudah membaca novel ku,jangan lupa tinggalkan like dan komen

__ADS_1


__ADS_2