Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Ungkapan Isi Hati


__ADS_3

Tiba-tiba Alan tersadar. Ia langsung turun dari atas tubuh Aya yang sudah setengah polos.


Aya mengeryit bingung. "Kenapa Al?"


"Ini salah Ay! yang kita lakukan ini salah!"


Aya langsung memeluk Alan dari belakang. Alan sempat tersentak tapi kemudian ia tidak menolak dan hanya diam saja.


"Tapi kita saling mencintai Al, mungkin dengan cara ini Papa mau merestui hubungan kita,....dengan cara aku hamil anak kamu...." Lirihnya masih dalam posisi memeluk punggung Alan, ada setetes air mata jatuh di pipinya.


Perlahan Alan melepaskan pelukan itu kemudian berbalik. Tangannya terulur menghapus air mata di pipi wanita yang sangat dicintainya.


"Tidak!... bukan begitu caranya. Aku bukan lelaki brengsek yang akan merusak hidup wanita yang sangat kucintai."


Setelahnya Alan memeluk Aya dengan erat. Walaupun ia harus menahan kejolak dalam dirinya saat kulitnya dan Aya menempel tanpa penghalang.


Kini mereka berada di ruang TV. Aya duduk bersandar di dada Alan sedangkan pria itu membelai rambut bergelombang milik Aya, sesekali mencium dan memainkannya. Tentu dengan pakaian yang sudah lengkap. Alan bahkan sudah mandi dan berganti pakaian. Itu juga yang menyebabkan Aya betah berlama-lama dalam rengkuhan dada bidang lelaki yang sangat ia rindukan.


"Al..?" Aya mendongak menatap wajah tampan Alan dari bawah. Lelaki itu sama sekali tidak berubah masih tampan dan mempesona batin Aya.


"Hmm... ada apa?" Alan menunduk lalu mencolek hidung mancung milik Aya, tak lupa menyematkan senyum tipisnya.


"Malam ini aku nginep disini ya?" Matanya mengerjab dengan raut wajah memohon yang malah terlihat menggemaskan.


Alan mengeryit, "Tapi Ay__"


"Aku masih kangen sama kamu, please!....aku janji gak bakal godain kamu kayak tadi, kalau perlu aku tidur di sofa kalau kamu tidak percaya." Potong Aya.


Alan mendengus pelan tapi tak ayal kemudian mengangguk, membuat wanita di sampingnya memekik senang sambil mengeratkan pelukannya.


"Ay?" Ada raut wajah tidak nyaman yang terpatri di wajah Alan. "Bagaimana dengan Ezra?"


Kini Aya menegakkan tubuhnya menatap Alan dengan serius. "Aku sudah memutuskan, aku akan memberitahukan semuanya pada Ezra!"


"Jadi?"


"Aku lebih memilih bersamamu. Sekarang besok dan selamanya." Aya kembali lagi memeluk tubuh Alan, menghirup aroma harum maskulin yang sangat memabukkan.


Tapi tiba-tiba Aya terkejut saat Alan malah melepaskan pelukannya dan menjauhkan tubuhnya. "Bukan seperti itu yang aku mau! Aku mau kamu tetap bersama Ezra, dia pria yang baik. Aku yakin dia bisa membahagiakanmu. Lagi pula kamu lebih lama bersama dengannya daripada bersamaku. Kalian sudah menjalin hubungan selama tiga tahun dan itu tidak sebentar. Sedangkan.....kau hanya bersamaku selama tiga bulan. Dan itupun sudah lama sekali." Alan menunduk, walaupun ia berat untuk mengatakannya tapi memang itu yang sebenarnya.


"Aku tidak mau egois." Sambungnya lagi.


"Kalau begitu biarkan aku yang egois!"


Alan mendongak menatap Aya. Terlihat sekali gadis itu mengatakannya dengan bersungguh-sungguh.


"Al, mungkin kamu lupa. Aku sudah sangat lama menyukaimu hampir setengah hidupku. Tapi takdir memang baru mempertemukan kita dan hanya tiga bulan kita bisa bersama. Dan yang perlu kamu tahu! Aku bisa bersama dengan Ezra itu karena desakan Papaku yang terus menerus menyudutkan diriku seolah aku mempunyai hutang budi pada Ezra." Aya mengucapkannya dengan nafas yang memburu seolah tidak terima.


"Aku tahu dia Lelaki yang baik, makanya aku menerimanya hanya karena merasa mempunyai sesuatu yang harus aku bayar. Tapi selama bersamanya bayangmu selalu ada bahkan obrolanku dengannya hanya sebatas membahas dirimu. Lelaki yang selalu hadir dalam mimpiku. Yang membuatku bahagia. Membuat jantungku berdetak lebih cepat. Membuat hatiku berbunga-bunga." Aya merasa Alan sangat tidak adil dengan menyuruhnya tetap bersama Ezra.


"Walaupun bayangan wajahmu selalu samar dalam mimpiku tapi hatiku tahu seberapa besar rasa cintaku padamu. Aku bahagia ketika bisa bertemu denganmu dalam mimpiku bahkan aku sempat berpikir untuk tidak mau bangun agar terus bisa bersamamu. Aku tidak bisa hidup__"


Ucapan Aya berhenti saat benda kenyal menyentuh bibirnya. Alan menciumnya Mel*m*tnya sebentar. Perlahan ibu jari Alan mengusab bibir pink merona milik Aya, rasanya masih sama begitu manis dan candu.


"Cukup...itu juga yang aku rasakan saat kau menyuruhku tetap bersama dengan Ima dulu."


Dooorrr


Skakmat. Aya serasa tertampar, apakah seperti ini yang dulu dirasakan Alan? Apakah ini karma yang dia dapatkan? Apakah benar Alan akan menyuruhnya untuk tetap bersama dengan Ezra? Pertanyaan itu terus ada di pikirannya.


"Tidak! aku tidak akan membiarkannya!" Batin Aya.


"Tidak Al, aku tidak mau! Lebih baik aku mati!" Aya tiba-tiba berteriak histeris. Trauma kecelakaan yang ia alami membutnya terkadang sulit untuk mengendalikan emosinya. Aya menjambak rambutnya sendiri.


Alan yang melihat itu sontak panik dan langsung mencegah tangan Aya. "Udah Ay! ..udah! Tenangkan dirimu dulu oke?" Alan memberikan air putih yang langsung diterima Aya.


"Aku tidak mau Al..., Aku tidak bisa lagi hidup tanpamu." Lirinya dengan nada mengiba.

__ADS_1


"Aku juga Ay, oke kamu tenang. Aku tidak akan memaksamu. Lagi pula aku juga tidak bisa hidup tanpamu." Alan mengulas senyum sambil mengelus rambut Aya penuh rasa sayang.


Malam itu mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama. Sekarang Aya tampak sibuk memasak di dapur. Karena Alan bilang kalau dia kangen masakan Aya.


Tiba-tiba Aya merasakan tangan kekar melingkari pinggangnya. Siapakah pelakunya kalau bukan si Alan. "Al, ngapain kamu di sini?"


Alan mengeratkan pelukannya, dagunya ia tumpukan di pundak Aya. "Pengen lihat kamu masak aja. Kamu masak apa?"


"Masak Ayam, kesukaan kita." Tangannya terulur menyentuh pipi Alan yang ada di samping kepalanya. "Tahu gak, ini pertama kalinya aku makan ayam semenjak kecelakaan."


"Kenapa? Apa makanan kesukaanmu sudah ganti?"


"Entah kenapa saat melihat ayam kepalaku tiba-tiba sakit. Mungkin dalam alam bawah sadar ku aku berusaha mengingatmu."


"Oh...jadi maksudmu aku mirip dengan Ayam begitu? Beraninya!" Alan langsung menggelitik pinggang Aya.


"Hahaha...udah Al, udah!...bukan begitu Maksudku... hahaha,..eh.eh, gosong nanti ayamnya!" Akhirnya Alan melepaskan Aya. Karena memang masakan Aya hampir saja gosong.


Memang Alan melepas Aya dari gelitikan tapi tidak dari pelukannya. Selama Aya memasak dan menyiapkan makanan Alan terus mengikuti Aya sambil memeluknya dari belakang.


"Al... lepasin dulu, nanti ini gak selesai-selesai loh."


"Biarin, siapa suruh masuk ke dalam hatiku dan menjadi orang yang berarti dalam hidupku."


Aya tersenyum mendengar ucapan Alan, ia menoleh sekilas.


Cup


Satu kecupan mendarat di pipi Alan. Membuat si empunya terdiam sesaat. "Udah berani sekarang. Sini aku kasih hadiah atas keberanianmu." Alan menaikkan turunkan alisnya sambil tersenyum menyeringai.


Melihat gelagat aneh Alan, Aya menjauhkan wajahnya mencoba melepaskan pelukan Alan walaupun tetap tidak berhasil.


Saat Alan akan mendekatkan wajahnya tiba-tiba suara telfon berbunyi. Dari saku Aya yang langsung diambilnya.


Aya mengeryit melihat nama yang tertera di sana. Alan jug bisa melihatnya. "Angkat saja, aku ke ruang tamu dulu." Alan melepaskan pelukannya tapi langsung di tahan Aya.


"Halo?...Iya ada apa Zra?"


"Kamu dimana? Aku ada di apartemenmu tapi kamu tidak ada. Aku ingin mengajakmu makan malam."


"Maaf, malam ini..." Aya menatap Alan yang menumpukan dagu di pundaknya. Ia sedang memejamkan matanya. "Malam ini aku menginap di rumah Jessica, jadi tidak bisa menemanimu makan malam."


"Oh tidak apa-apa, bagaimana kalau besok aku jemput pulang kuliah. Kamu besok masuk pagi kan?"


"Iya...aku mau bilang padamu Zra kalau ingatanku sudah kembali semuanya."


Alan yang terpejam langsung terbelalak. Dan menatap Aya tidak percaya gadisnya mengatakan pada Ezra secepat itu?


"Baguslah...itu juga yang aku harapkan. Dengan begitu kamu tidak akan mimpi buruk lagi dan Alan bisa tenang di sana."


Alan yang mendengar itu tentu saja tidak terima. Apalagi saat melihat Aya memandangnya sambil menahan tawa. Hingga membuat tangan Alan mengeratkan pelukannya.


"Awww..." Aya meringis merasan pelukan Alan yang mengerat.


"Eh kenapa Yaya?"


"Oh tidak apa-apa. Ini ada nyamuk nakal."


"Oh..aku nyamuk begitu?" Bisik Alan di telinga Aya sebelah kiri karena yang kanan sedang mendengarkan suara telfon dari orang di seberang sana.


Aya hanya bergidik geli merasakan nafas Alan di telinga dan ceruk lehernya. Membuat ia meremang.


"Zra aku ingin mengatakan satu lagi padamu. Aku ingin jujur padamu kalau__"


"Jangan sekarang, tunggu besok saja. Bilang langsung padanya." Bisik Alan memotong ucapan Aya. Sedangkan Aya malah menggeleng.


Alan di buat gemas dengan tingkah Aya. Bagaimana mungkin gadisnya itu memutuskan hubungan yang sudah terjalin selama tiga tahun hanya lewat telepon. Sungguh tidak sopan. Di gigitnya daun telinga Aya.

__ADS_1


Hal itu membuat si empunya bukannya mengaduh malah melenguh. Karena gigitan Alan tidak terlalu kuat dan malah terkesan menggoda hingga memercikkan gairah Aya.


"Auugghhh... "


Alan langsung menepuk jidatnya. Inginnya mengancam Aya eh malah kebalikannya.


"Eh... kenapa Yaya?..kamu ngomong apa barusan?"


"Hmm..emm...Gak papa....kamu salah dengar mungkin." Jawabnya sedikit gugub.


"Kamu mau bilang jujur apa tadi?"


"Jangan sekarang! Nanti Aku gigit lagi mau?" Bisik Alan mengancam.


"Eh..gak jadi besok saja gimana? Pulang kuliah."


Setelah mengucapkannya 'oke' Ezra menutup telfonnya.


"Kok aku ngerasa jadi selingkuhanmu ya?" Alan berjalan dan langsung duduk di meja makan. Tangannya menopang dagu dengan wajah yang ditekuk.


Melihat itu Aya gemas sekali. "Siapa bilang? di sini yang jadi selingkuhan ku malah Ezra bukan kamu."


"Kok bisa?"


"Coba kamu ingat-ingat! Emang ada kata putus di antara kita dulu?"


Alan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Iya juga ya?" Dan terbitlah senyum cerah di bibir Alan.


Mereka makan bersama di selingi canda tawa. Malam ini Aya benar-benar menginap di apartement Alan. Mereka sempat berdebat masalah tempat tidur. Alan menyuruh Aya tidur di ranjang dan dia akan tidur di sofa. Tapi Aya menolak keras dengan alasan Alan yang punya insomnia dan harusnya tidur di tempat yang nyaman. Alan juga bersikeras agar Aya tidur di ranjang. Mana bisa ia membiarkan perempuan tidur di sofa sedang ia tidur nyenyak di ranjang. Akhirnya keputusan final Aya dan Alan tidur di ranjang.


Tidur dalam arti sebenarnya ya? Aya memeluk erat tubuh Alan dan menelusup kan wajahnya di dada bidang milik Alan. Dengan penuh perasaan Alan membelai rambut Aya hingga dia tertidur. Setelahnya perlahan ia pindah tidur di sofa.


Tidak bisa dipungkiri alan itu lelaki normal, ia takut khilaf dan ber akhirnya bangun dengan polos tanpa busana.


Terdengar suara alarm dari handphone Alan, sekilas ia melihat jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Perlahan ia pindah tidur lagi di samping Aya.


Menatap wajah cantik Wanita yang tidur tentram di sampingnya. "Ay...bangun! sudah pagi." Ia menepuk pipi Aya.


"Emmmmhh... Aku masih ngantuk Al." Jawabnya lirih dengan suara serak.


"Cepat bangun! nanti ketahuan David. kalau pagi dia kadang suka kesini habis joging."


Aya langsung terduduk. Benar juga kemarin saja ia hampir ketahun David.


"Cepatan pulang! Ini sudah hampir jam tujuh. Kamu sih dibilangin gak usah masak ngeyel." Alan mendorong Aya ke pintu. Setelah Aya bangun dan membersihkan diri sebenarnya Alan menyuruh Aya langsung pulang tapi wanita itu bersikeras untuk memasak sarapan untuk mereka.


"Tega banget ngusir pacar sendiri." Gerutu Aya. Dengan menghentak-hentakkan kakinya Aya membuka pintu apartement tapi tiba-tiba tangannya di tarik Alan hingga tubuh Aya menubruk dada bidang pria di depannya.


"Maaf...bukan Maksudku begitu." Alan membelai lembut wajah Aya yang masih ditekuk bahkan bibirnya mengerucut dengan pipi menggembung.


Cup


Benda kenyal menempel sempurna di bibir Aya. Walaupun dalam mode terkejut tapi tak ayal Aya membalas l*ma*tan Alan. Hingga saat merasa oksigen yang mereka hirup mulai menipis baru ciuman itu terlepas.


"Morning Kiss."


Ucapan Alan membuat pipi Aya memerah. Dengan malu-malu ia mencubit perut Alan hingga membuat si empunya meringis.


"Buruan pulang!" Ujar Alan kemudian mencium kening Aya. Lain di mulut lain di hati. Mulut Alan mengusir Aya tapi hatinya seperti tidak rela wanita itu pergi dari hadapannya. Bisa di liat dari tingkahnya sekarang yang tidak kunjung menjauhkan bibirnya dari kening Aya.


"Kalian lagi ngapain?!"


Mereka sontak menoleh ke asal suara. "David!"


Bersambung....


maafkan saye karena lama gak upload. maklum sibuk di dunia nyata. aku janji deh mulai besok upload rutin.. sebagai gantinya aku up dua episode jadi satu ini... semoga bisa terobati. melihat ke uwuwwan Aya dan Alan. jangan lupa like, koment dan vote.... macacihhhhh

__ADS_1


__ADS_2