
Pagi ini Aya benar-benar sudah bertekad untuk menghindari Alan bagaimanapun caranya. Saat ia tengah sampai di parkiran, mobil Alan melewati Aya begitu saja, ada rasa sedikit kecewa di hatinya. Tapi langsung ia tepis, toh ini memang yang ia harapkan.
Saat jam makan siang ia bermaksud mengunjungi Lila, sudah beberapa hari ini ia tidak mengunjunginya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Romi menghampiri Aya.
"Aku mau ke ruang kesehatan, udah lama gak ketemu Kak Lila." Jawab Aya sambil berjalan.
Romi tiba-tiba menghentikan langkah Aya, "Dia lagi cuti, percuma saja kamu kesana... mendingan makan siang dikantin yuk!." Ajak Romi.
Aya menarik tangannya yang di pegang Romi, "Gak Rom, aku bawa bekal sendiri....kalau kamu mau ke kantin duluan aja." Tolak Aya.
Romi mengerutkan keningnya, "Oh.... jadi kamu tadi mau ke ruang kesehatan mau makan siang di sana ya?"
"Iya....aku bawa sandwich lumayan banyak mau?" Tawar Aya.
"Tentu saja, rejeki kok di tolak." Mereka tertawa bersama, kemudian berjalan menuju taman yang ada di kampus.
"Ini kamu sendiri yang bikin?" Tanya Romi sambil mengunyah sandwich yang ada di tangannya.
"Iya...enak gak?"
Romi memberikan dua jempolnya. "Enak banget, besok lagi ya?"
"Enak aja!" Perotes Aya. "Maunya yang gratisan, biar apa coba?"
"Biar uang sakuku utuh lah!" Kemudian mereka tertawa bersama, Romi tiba-tiba mengusap saus yang ada di bibir Aya membuatnya sedikit terlonjak.
"Kamu itu makannya kayak anak kecil belepotan!"
Aya hanya tersenyum cengengesan. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata menatap tajam ke arah mereka.
***
Beberapa menit sebelumnya di kantin.
"Nan mana Romi?" Tanya Alan saat Nando baru saja duduk.
"Tadi sih aku liat dia sama Asher jalan ke taman?" Jawab Nando.
Setelah mendengar jawaban Nando Alan langsung pergi meninggalkan Nando yang terbengong melihat kepergian Alan yang tiba-tiba.
Dan sekarang disinilah tempat Alan, ia sedang memperhatikan Romi dan Aya yang sedang makan sambil tertawa bersama. Entah kenapa darahnya seperti mendidih saat melihat Romi mengusap saus di bibir Aya. Ada perasaan tidak rela sesuatu yang disukainya di sentuh orang lain.
Alan membasuh wajahnya dengan air, setelah melihat pemandangan yang membuatnya gusar ia langsung masuk ke toilet. "Tenang Alan, kamu sudah memutuskan untuk menjauhinya!" Batinnya.
Keesokkan paginya, ia lagi-lagi tidak menjumpai Romi dikantin. Timbul rasa penasaran di benaknya ia mencoba mencarinya di tempat kemarin, benar saja ia sedang makan bersama Aya, tampak dua bekal makanan yang sama. Pemandangan yang tidak ia sukai terulang lagi tapi kali ini bukan acara mengusab bibir. Melainkan pemandangan saat Romi sedang memegang tangan Aya.
Dan entah kenapa Aya sama sekali tidak menolaknya. Berbeda saat ia yang memegang tangan Aya.
__ADS_1
"Katanya mau meramal garis tanganku, ayo cepetan Rom! Dari tadi tanganku cuma dibolak-balik!" Protes Aya saat Romi tak kunjung meramalnya.
"Sebentar, aku lihat dulu...wah ternyata benar jari kamu lentik banget..ini jari laki-laki atau perempuan?" Goda Romi.
Aya langsung mengepalkan tangannya seakan-akan mau memukul. Romi langsung tertawa, "iya...iya maaf, menurut garis tangan kamu ini, kisah cintamu akan banyak rintangan."
Aya mengerutkan keningnya, "Yang bener tu?"
"Dari buku yang aku baca sih begitu....kamu mau tau gak garis keturunan mu?" Aya langsung menggut-manggut seperti anak kecil yang ditawari permen.
Sebelum melanjutkan ramalannya Romi tertawa kecil melihat tingkah Aya yang begitu menggemaskan mungkin bila tanpa kumis. Romi sedikit meraba garis tangan Aya dengan telunjuknya. Tampak Aya menahan rasa gelinya, Romi melirik kemudian menaikkan satu sudut bibirnya, "Wah... sepertinya kelak kamu akan dikaruniai dua anak kembar."
"Yang benar kak?" Aya memastikan, matanya berkedip-kedip berbinar. Romi makin gemas dengan tingkat Aya, ia langsung mencubit hidung mancung itu.
Di sisi lain ada yang kepanasan dengan kedekatan mereka berdua, bagai kebakaran jenggot Alan mengacak-acak rambutnya. Beberapa orang yang lewat menatap aneh dengan tingkah Alan, bahkan ada berbisik-bisik sambil tertawa. Tidak mau jadi bahan omongan ia pun akhirnya pergi.
Sudah tiga hari ini Alan seperti menjadi penguntit. Contohnya siang ini ia rela melewatkan makan siangnya demi melihat interaksi Romi dan Aya saat makan siang di taman.
Kali ini Aya membawa bekal nasi komplit ayam dengan sayur, Alan hanya bisa menelan Salivanya melihat menu makanan favoritnya itu.
Ia melihat Romi dan Aya serius memakan makanan mereka, belum ada obrolan sama sekali. Saat sedang serius mengamati, Alan terlonjak kaget saat merasakan tepukan di pundaknya.
"Kamu lagi ngapain Al?" Tanya Nando yang tiba-tiba muncul dari belakang Alan.
"Kamu itu ngagetin aja!" Sentak Alan.
"Kamu ngapain di sini, udah kayak maling celana dalam kepergok warga!" Sahut Nando.
Saat Alan menoleh ke arah Romi dan Aya lagi, mereka sudah tidak ada. "Ini semua gara-gara kamu!" Alan langsung memukul kepala Nando.
Nando yang tidak tau apa-apa hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Alan berjalan sedikit lebih cepat, ia bermaksud mencari kebenaran Aya dan Romi, saat berada di salah satu Lorong ia dikejutkan dengan sebuah pemandangan. Kedua tangannya mengepal rahangnya mengeras, tampak kedua matanya memerah. Alan melihat Romi sedang mencium Aya.
Rasa-rasanya Alan kali ini begitu marah ia langsung pergi dengan tergesa-gesa.
"Gimana udah enakan?" Tanya Romi saat melepaskan tangannya dari salah satu bola mata Aya.
Aya mencoba mengerjapkan matanya, "Masih agak pedih sih, tapi udah lumayan."
"Jangan di kucek-kucek nanti iritasi!" Ujar Romi menasehati.
"Siap Bos!" Aya langsung memberikan hormat. Romi tertawa kemudian mengacak-acak rambut Aya, dan tentu langsung mendapat penolakan dari yang punya rambut.
Alan menatap pantulan wajahnya di cermin, tetesan air masih memenuhi wajahnya. Ia tampak sibuk dengan hati dan pikirannya.
Terdengar dari balik pintu toilet, suara yang sangat ia hafal sekali pemiliknya.
"Hay Cit....udah mau pulang? Tumben sendirian mana Amanda?"
__ADS_1
"Dia pulang duluan bareng pacar barunya." Jawab Citra dengan wajah cemberut.
"Mangkanya buruan cari gandengan, truk aja punya gandengan, masak Citra gak?" Goda Aya sambil tertawa.
"Kamu mau gak Sher jadi pacarku!" Tiba-tiba Citra memegang tangan Aya dengan raut muka memohon.
Aya hanya bisa menelan Salivanya. "Ini ceritanya aku ditembak?"
Sedangkan di dalam toilet Alan makin menempel telinganya pada pintu.
"Waduh.... sory Cit kamu udah telat, sayangnya aku udah punya gebetan, mendingan sama yang lain aja!" Tolak Aya. Mendengar itu Citra tampak kesal dan langsung berlenggang pergi.
"Huufff..... selamat." Gumam Aya. Saat ia akan beranjak pergi tiba-tiba tangannya di tarik seseorang untuk masuk kedalam toilet. Setelah hal itu terjadi terdengar juga suara kunci diputar.
Disinilah Aya berdiri bersandar di dinding diantara kedua tangan Alan yang mengapitnya. Aya memandang Alan sesaat ada rasa rindu dari sorot matanya, sudah tiga hari ini dia tidak bertemu dengannya. Walaupun sering menjengkelkan tapi tidak bisa dipungkiri rasa rindu itu mengalahkan semuanya.
Beberapa menit mereka tetap dengan posisi seperti itu, "Siapa yang kamu maksud gebetan?" Tanya Alan memecah kesunyian.
Aya mengerutkan keningnya, "ini orang kenapa?.... sekalinya ketemu malah nanya yang aneh-aneh." begitu pikir Aya.
"Cepat jawab!" Sentak Alan.
Aya memutar bola matanya, "Oh.... mungkin dia tadi dengerin obrolanku sama Citra kali." Batinnya. "Gak ada kok Al, loe tau sendiri pedoman hidup gue kan...kalau gue gak mau pacaran sebelum sukses, itu tadi cuma alasan gue nolak Citra." Aya berharap dengan penjelasan itu ia bisa lepas dari Alan.
Seakan-akan ada hawa dingin yang sedikit meredakan emosi Alan. Tanpa aba-aba ia langsung mencium bibir Aya, bibir yang ia sangat rindukan beberapa hari ini. Menikmati setiap incinya. Menggigit kecil bibir mungil itu.
Aya hampir saja terbuai saat Alan akan mulai memasukkan lidahnya Aya langsung mendorong tubuh Alan menjauh. "Apa yang kamu lakukan Al?" Entah kenapa saat suasana seperti ini rasanya lidah Aya tercekat sulit untuk menggunakan logat loe,gue miliknya yang biasa ia pakai.
Alan tersenyum, "Aku hanya ingin menghapus jejak seseorang dari sini" ujar Alan sambil mengusap bibir Aya dengan ibu jarinya.
"Sebenarnya apa yang dia fikirkan?... menghapus jejak apa maksudnya?" Batin Aya.
Alan merengkuh Wajah Aya kemudian menatapnya dengan penuh damba. "Aku mau kamu jauhi Romi, kamu adalah milikku!"
"Apa maksudnya.!" Aya membatin sambil mencerna setiap perkataan Alan. "Gue sama sekali gak faham maksud loe Al!"
Alan mendekatkan wajahnya ke telinga Aya. "Aku mencintaimu." Bisiknya.
Sontak bulu kuduk Aya meremang, "Tapi Al?"
"Huuussss.." Alan meletakkan telunjuknya di bibir Aya. "Aku tidak peduli! Mau kamu laki-laki atau bukan."
Alan merengkuh tubuh Aya memeluknya dengan erat. Ada perasaan bahagia mendengar ungkapan Cinta Alan padanya. Alan mencintainya dengan tulus tanpa memandang penampilan Aya. Tapi entah kenapa perkataan Alan tentang apa yang paling tidak disukainya terus menerus terngiang di telinganya.
Aya perlu waktu untuk memikirkannya lagi, pada akhirnya ia membalas pelukan Alan. Dari balik punggung Aya terlihat Senyum Alan yang begitu bahagia.
"Ya Tuhan aku tahu jalanku ini sungguh salah, tapi aku sangat yakin bersamaanya aku akan bahangia." Batin Alan kemudian memejamkan matanya.
Barsambung.....
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir ke Tulisan pertamaku...jangan lupa klik dan komen...boleh juga berikan kritik dan saran, vote juga boleh banget macacihhhhh