Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Alan Melamar


__ADS_3

"Ima?"


"Alan??"


Lelaki yang tak lain Alan itu tertawa sinis. "Maaf sepertinya aku salah alamat." Ia berbalik tapi langkahnya tertahan karena cekalan tangan dari belakang.


"Tunggu Al, aku mau ngomong!...aku juga mau minta maaf."


Alan menepis dengan kasar tangan Ima.


"Gak ada yang perlu di omongin!"


"Apa kamu tidak ingin tahu kabar Aya?" Ucapan Ima membuat Alan menghentikan langkahnya.


"Cepat katakan aku tidak punya banyak waktu!" Ujar Alan sesaat setelah dia duduk.


Ima menekan tombol interkom. "Susi bawakan minuman untuk__"


"Tidak usah, aku tadi sudah minum." Potong Alan. "Cepat katakan apa yang ingin kau sampaikan!"


"Aku benar-benar minta maaf Al, kalau saja aku tahu dari awal kalau kamu itu pangeran penolong yang sudah Aya cari selama ini. Aku gak mungkin melakukan itu semua." Ima menunduk tidak berani menatap Alan. Sedangkan Alan menatap Ima penuh selidik, mencari kebohongan di sana.


"Aya sudah tahu semuanya, kalau aku yang mencoba memisahkan kalian dan penyebab dia harus meninggalkanmu." Kini Ima mendongak memberanikan diri untuk menatap mata pria yang dulu sempat ada di hatinya.


Sebenarnya Alan sudah tahu kalau yang menyebabkan Aya di bawa orang tuanya pergi adalah Ima. "Bagaimana keadaannya sekarang?"


Ima menceritakan semua yang terjadi sesampainya Aya di rumah dari mulai hukuman di kurung dalam kamar, Aya yang mogok makan dan sekarang Aya yang sama sekali tidak mau menemui Ima bahkan untuk melihatnya sekalipun. Sosok Aya yang sekarang juga jauh berbeda. Aya yang ceria, suka bercanda dan manja bila bersama dengan keluarganya sudah hilang. Tergantikan dengan Aya yang pendiam dan sering melamun.


Ima juga menceritakan perihal Asher yang akhirnya benar-benar di kirim ke LA lagi, di masukkan ke dalam asrama dengan pengamanan super ketat. Asher sebenarnya menolak hal itu, entah kenapa keinginannya dulu untuk kuliah di luar negeri menguap begitu saja. Yang ia inginkan sekarang kembali ke kota J**** atau berada di dekat saudara kembarnya pun tak masalah. Tapi apa mau dikata, ia sama sekali tidak punya hak lagi untuk menolak.


"Jadi sekarang kamu gak nerusin kuliah? Dan malah kerja di sini?" Alan yang sedari tadi mendengarkan akhirnya bersuara setelah merasa sedikit yakin kalau Ima sudah menyesal.


"Mungkin aku disini untuk menebus rasa bersalahku. Sebagai salah satu cara agar aku bisa sedikit mengurai penyesalan dan membuktikan kesungguhanku."


Alan mengeryit merasa heran dengan ucapan Ima. "Apakah Cafe ini milik Aya?"


"Lebih tepatnya milik Asher dan Aya. Kau lihat nama yang tertulis di depan? Nama Cafe ini diambil dari Huruf depan nama mereka. Aya tidak bisa menjalankannya karena sekarang dirinya di kurung lagi di dalam rumah, aktifitasnya juga dibatasi kembali seperti dulu. Dan tentu saja Asher juga tidak bisa. Jadi aku yang menjalankan dan mengelolanya semampuku."


"Aku minta alamat rumah Aya."


"Kamu yakin Al?" Ima menatap Alan ragu.


"Sangat yakin, kau tidak mau memberikannya?" Alan menatap Ima penuh selidik.


"Tentu saja aku akan memberikannya. Tapi Om Jonathan..... maksudku Papanya Aya sudah terlanjur berfikir buruk tentangmu. Maaf itu semua karena aku." Ima menunduk merasakan penyesalan.


"Om Jonathan itu keras dan sedikit kejam Al. Mungkin setelah sampai di sana kamu tidak diijinkan untuk bertemu Aya. Apa kamu yakin?" Ima bertanya untuk kesekian kalinya guna melihat kesungguhan Alan.


"Aku yakin! Tidak ada salahnya untuk mencoba." Alan tampak bersungguh-sungguh.


Ima menuliskan alamat di secarik kertas kecil lalu menyodorkan pada Alan. "Ini alamat rumah Aya, dan dibaliknya ada nomor telfonku. Bila kau butuh bantuan kau bisa menghubungiku."


Setelah ima mengatakan itu Alan pergi begitu saja. "Semoga kalian bisa bersatu lagi, aku akan berusaha semampuku untuk membantu kalian." Gumam Ima, ia mengatakannya dengan tulus.


Alan sampai di depan gerbang besar. Bisa dipastikan sebesar dan semewah apa bangunan rumah yang ada dibaliknya.


"Anda mau cari siapa?" Tanya scurity yang berjaga di post penjagaan.


"Tolong sampaikan kepada Tuan Jonathan kalau Alan dari J**** datang menemuinya. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan."

__ADS_1


Lelaki itu tampak menghubungi seseorang lewat sambungan telepon yang ada di post.


"Tunggu lima belas menit lagi Tuan besar akan menemui Anda."


Sedangkan di sisi lain, "Kak Nadia kita mau kemana, tumben Papa ngizinin aku keluar?" Tanya Aya sesampainya di dalam mobil.


"Em.. Papa kasian sama kamu kayaknya kamu sering melamun. Jadi Papa mengizinkan kamu keluar, agar fikiranmu sedikit lebih fresh." Nadia memberikan alansan.


"Oh...kita mau kemana Kak?" Mobil mereka sudah melaju menuju gerbang belakang. "Kok tumben lewat gerbang belakang? Gak biasanya." Aya mulai curiga.


"Ke Mall bagaimana? Kamu kan sudah lama tidak belanja setelah itu kita ke Salon untuk perawatan. Lama Kakak gak nyalon, semenjak ada baby twins." Nadia mengalihkan perhatian Aya agar tidak lagi menanyakan perihal lewatnya mereka. Nadia di suruh ayahnya Jonathan untuk membawa Aya pergi. Sebelum dia menyelesaikan urusannya dengan Alan kekasih putrinya itu.


"Maaf Kak aku lagi males ke Mall ataupun ke Salon. Bagaimana kalau ke Cafe aja. Lama aku gak kesana."


"Ok." Jawab Nadia mantap.


Di sisi lain Alan yang sudah menunggu selama lima belas menit akhirnya diizinkan masuk.


Sambil melangkah dilihatnya bangunan megah yang berdiri di depannya tapi tidak sedikitpun mengurangi kepercayaan dirinya. Ia mencintai Aya dengan tulus. Tidak peduli seberapa kayanya ataupun miskinnya gadis yang dicintainya. Aya tetaplah seorang Aya, cahaya di hatinya.



Setelah dipersilahkan masuk. Kini Alan dihadapkan pada seorang pria paruh baya yang sudah duduk bertumpang kaki dengan angkuhnya.


"Silahkan duduk."


"Terima kasih." Akhirnya Alan menundukkan dirinya di sofa empuk kediaman keluarga Narendra.


"Ada perlu apa kau sampai jauh-jauh datang kesini? Aku cukup terkejut kau bisa menemukan kediamanmu. Pasti Ayahmu yang sudah memberitahukannya. Ternyata dia cukup berani." Jonathan tersenyum sinis.


"Ini tidak ada hubungannya dengan Ayah saya. Ini murni urusan saya pribadi. Saya mendapatkan alamat anda dengan usaha saya sendiri. Dan asal anda tahu, ayah saya bahkan tidak tahu saya datang ke kota ini."


"Saya ingin bertemu dengan putri anda Aya. Saya juga ingin menyampaikan keseriusan saya pada Anda pak Jonathan."


Jonathan tertawa untuk kesekian kalinya. "Apa yang kau miliki sampai berani-beraninya menjalin hubungan dengan putri kesayanganku?"


"Saya akan berusaha untuk membahagiakannya. Sebentar lagi saya menjadi sarjana lebih tepatnya besok lusa. Saya juga sudah mempunyai perusahaan kecil. Saya yakin kelak setelah menikah saya bisa membahagiakannya dan mencukupi semua kebutuhan Aya."


"Lancang sekali kau! Aku tidak percaya padamu. Apa yang bisa dibanggakan dari seorang anak yang Keluarganya saja berantakan sepertimu."


Alan langsung mendongak matanya terperangah. Dia tidak menyangka Jonathan begitu mengetahui semua asal usulnya.


"Jangan karena dulu kau menyelamatkan putriku hingga sekarang kau begitu berani melamar dan meminta putriku."


Satu tangan Jonathan menengadah dan ajudan yang ada di samping langsung memberikan amplop coklat yang begitu tebal. "Imbalan untukmu, kurasa ini sudah sangat cukup untuk membayar jasa-jasa mu dulu." Ia melemparkan amplop yang berisi uang itu ke hadapan Alan.


"Saya tidak perlu uang itu. Saya hanya ingin menemui putri Anda." Alan kekeh dengan keputusannya.


Jonathan tampak begitu geram dia langsung bangkit dari duduknya.


"Aku tidak akan pernah mengizinkannya!"


"Saya mohon Tuan, saya yakin pasti bisa membahagiakan putri Anda. Kami saling mencintai."


"Aku tidak percaya padamu! Aku yakin kau akan melakukan hal yang sama seperti yang ayahmu lakukan. Buah jatuh selalu tidak jauh dari pohonnya. Pasti kelak kau juga akan berselingkuh seperti yang ayahmu lakukan!"


"Anda tidak berhak menghina ayah saya! Anda tidak tahu yang sebenarnya terjadi." Alan juga ikut berdiri. Ia merasa tidak terima dengan ucapan Jonathan.


"Itu artinya kau membenarkan yang Ayahmu lakukan...Mike usir laki-laki ini!."

__ADS_1


Alan langsung di seret keluar. Tubuhnya didorong hingga terhuyung sesaat setelah sampai di pintu gerbang.


***


Entah kenapa Aya merasa tidak nyaman sesampainya di Cafe miliknya.


"Aya kau ada di sini?" Tanya Ima sedikit terkejut melihat keberadaan Aya.


"Tidak boleh?! Apa kau lupa kalau ini Cafeku?" Ucap Aya ketus. Dan langsung duduk di salah satu kursi. Kedatangannya langsung di sambut beberapa karyawan. Tidak perlu waktu lama minuman dan beberapa desert cake sudah tersaji di depannya.


"Bukan begitu Maksudku." Ujar Ima lirih sambil menunduk.


Nadia menyadari ada yang salah dengan dua orang yang sudah lama bersahabat itu akhirnya meminta izin untuk ke kamar kecil. Ia ingin meninggalkan mereka agar bisa bebas berbicara dan menyelesaikan masalah mereka.


"Ay, tadi Alan kesini."


Ucapan Ima sontak membuat Aya terperangah. Sudah lama Aya tidak mendengar nama itu.


"Benarkah? Kau tidak bohong kan?" Aya mengguncang bahu Ima.


"Benar, dia tadi menanyakan tempat tinggalmu. Aku juga sudah memberitahunya. Aku kira dia langsung mendatangimu."


Aya langsung tersadar dengan kejanggalan-kejanggalan yang terjadi beberapa menit yang lalu. Pantas saja Aya merasa ada yang salah. Tanpa mengatakan apapun Aya langsung pergi dari cafe itu begitu saja.


"Pak kembali ke rumah. Cepat pak!" Teriak Aya pada Supir keluarganya.


Aya tampak tidak tenang. Ia duduk dengan gelisah. Saat ia hampir sampai di kediamannya. Bersamaan dengan itu Alan juga dalam perjalanan pulang. Mobil Aya melewati taksi yang Alan naiki begitu saja.


Aya yang dilanda kegelisahan tentu tidak sempat menoleh.


"Bi mana Papa?" Tanya Aya dengan nafas sedikit ngos-ngosan.


"Tuan sedang ada di ruang kerjanya. Ada apa Nona Muda?" Tanya Tuti.


"Apa tadi ada tamu yang datang kerumah ini setelah aku pergi?" Tanya Aya menatap Tuti penuh selidik.


"Emm.... tidak..ada Nona." Tuti menunduk menyembunyikan kegugupannya.


Aya tahu kalau pelayan yang ada di hadapannya itu sedang berbohong. Tanpa sepatah katapun ia langsung pergi ke ruang kontrol CCTV yang ada di rumah itu.


Orang yang bertugas di sana tentu sangat kaget. "Kalian semua keluar dari ruangan ini."


Mereka langsung undur diri dan meninggalkan Aya sendirian. Aya langsung berkutik dengan layar-layar komputer yang ada di sana. Terlihat dengan jelas Alan sedang duduk dan berbicara dengan ayahnya. Obrolan mereka juga bisa di dengar dengan jelas olehnya.


Tangannya mengepal. Merasa marah dengan kata-kata yang ayahnya lontarkan.


"Oh... ternyata putriku sudah tahu ya?"


Aya berbalik melihat wajah datar ayahnya yang entah sejak kapan sudah berdiri di sana.


"Papa jahat! Aya tidak menyangka Papa bisa mengatakan hal yang sekejam itu!" Teriaknya diiringi luapan kemarahan melalui lelehan air mata.


"Ben!...Carlos!...bawa Aya kekamarnya dan jangan biarkan dia keluar!" Titah Jonathan yang langsung di laksanakan dua bodyguard Aya.


"Papa jahat! Aya benci Papa!" Teriak Aya terus meronta-ronta.


Bersambung.....


Maaf ya tadi malam mau up eh malah ketiduran.... terimakasih sudah setia menunggu dan membaca ceritaku. Seneng banget ternyata ceritaku selalu ditunggu-tunggu kelanjutannya oleh para reader. jangan lupa like, koment dan vote ya? semoga kalian para readers tercinta selalu diberikan kesehatan... Amin.

__ADS_1


__ADS_2