Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Pertemuan Keluarga Berujung Perjodohan


__ADS_3

"kamu ngundang dia sayang?" Alan berbisik pada Aya yang berdiri di sampingnya.


"Enggak! Papa mungkin."


Mereka menatap Lelaki yang tersenyum senang sambil memberi salam kepada semua orang. Tanpa rasa sungkan ia langsung menghampiri Suhendra dan Ela. Tak lupa melemparkan senyuman pada wanita cantik yang sedang menatapnya tajam.


"Hay Lila apa kabar? makin cantik aja." Tak lupa sambil mengedipkan matanya.


Alan dan Aya sampai tercengang. Seorang Ezra yang terkenal sopan dan kalem mendadak jadi genit bak seorang playboy.


Tidak lama muncul juga lelaki paru baya. Siapa lagi kalau bukan Kevin ayah Ezra yang turut hadir.


Jonathan tersenyum menghampiri sahabat baiknya.


"Hay sahabatku bagaimana kabarmu?" Ia merentangkan tangannya memasang senyum lebar. Tapi tiba-tiba wajahnya langsung pias tatkala Kevin melewatinya begitu saja dan malah langsung menyalami keluarga Alan.


"Sepertinya dia masih dendam padaku." Batin Jonathan sambil berdecak, tak lupa langsung merubah raut wajahnya datar untuk menutupi rasa malunya.


"Perkenalkan nama saya Kevin. Saya ayah dari Ezra sekaligus calon besan anda." Ucap Kevin begitu percaya diri. Tersenyum sambil menyalami Suhendra juga Ela.


Tentu saja ucapan Kevin mengagetkan keduanya.


"Maksud Anda apa? Bukankah yang akan menikah itu Alan dan Aya?" Tanya Suhendra.


"Tentu saja. Apakah putri anda Lila belum mengatakan pada Anda perihal lamaran anak saya, Ezra?" Sambil menoleh ke arah Ezra.


Suhendra langsung menatap putri tajam. "Lila! Bisa kau jelaskan?"


Lila hanya bisa menunduk, menahan kesal sekaligus takut. "Maaf Lila gak bilang Papa. Lila ingin mengenal dokter Ezra terlebih dulu baru akan memutuskan untuk menerimanya atau tidak."


"Anak anda seorang Dokter?" Tanggapan Suhendra justru mengejutkan Lila. Bukannya marah ia malah bertanya hal yang menurutnya tidak penting.


"Iya betul sekali. Putra saya seorang Dokter spesialis penyakit dalam. Dia praktek di rumah sakit Singapur. Tapi sepertinya sebentar lagi akan pindah ke rumah sakit milik keluarga yang ada di Jakarta. Itu semua berkat Putri anda. Tampaknya dia tidak ingin berjauhan dengan Lila." Kevin menjawabnya dengan panjang lebar diselingi tawa.


Dan benar saja ada binar kagum yang langsung tampak di mata Suhendra. "Wah hebat sekali anak anda. Sepertinya cocok sekali menjadi calon menantu saya."


"Paaa!" Lila langsung protes. Dia merasa papanya sangat matre, hanya karena Ezra seorang dokter dan anak yang punya rumah sakit lantas ayahnya mendadak Langsung setuju. Tanpa mengenal watak dan perilaku Ezra terlebih dahulu. Sangat berbeda dari biasanya. Suhendra terkenal sangat selektif dalam mencari pasangan hidup putrinya, itulah salah satu penyebab Lila masih belum menikah sampai sekarang, selain trauma cintanya yang dulu kandas karena hubungan darah.


"Udah, nurut aja Kak...bener itu kata papa, tumbenan loh. Papa langsung setuju. Dari pada jadi perawan tua! Hahaha..ha." Sahut radit dengan nada mengejek. Yang langsung mendapat injakan di kakinya. "Aww...sshh."

__ADS_1


"Diem kau! Anak kecil!"


"Wah gue tahu kenapa kak Lila gak mau. pasti Karena belum bisa move on dari Kak A...hmmmptt." Lila langsung membungkam mulut Radit yang memang sebelah dua belas dengan admin lambe turah.


"Memangnya kamu belum bisa move on dari siapa?" Tentu saja pernyataan Radit sedikit membuat Ezra pemasaran.


"Itu tidak benar! Radit aja yang mengada-ada. Jangan percaya dengannya!" Elak Lila.


"Kalau begitu buktikan dong Lil. Kalau Lu benar-benar udah move on dengan menerima Dokter Ezra." Tiba-tiba Arkhan suami Anisa yang sejak tadi menyimak ikut bersuara.


Lila merasa terpojok, ingin rasanya dia lari dari acara makan malam yang berubah jadi acara perjodohan.


Berbeda dengan yang Ezra rasakan. Matanya langsung berbinar saat satu lagi anggota keluarga Suhendra yang mendukungnya, yang ia tahu adalah adik ipar Alan yang beberapa hari lalu menikah.


"Terima kasih sudah mendukungku." Ucap Ezra tulus.


"Sama-sama. Jangan lupa jasa gue kalau kalian jadi menikah. Istri gue kasih diskon ya kalau melahirkan di rumah sakit lu." Bisik Arkhan.


Entah kenapa Ezra tiba-tiba menyesal mengucapkan terimakasih. Tampaknya keluarga Alan memang tidak ada yang beres.


"Gercep juga kau Bro. Gak jadi sama anak emas langsung dapat dokter cantik." Celetuk seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang. Yang membuatnya menoleh.


Ezra sempat kaget, ternyata Asher juga ada di sana. Tanpa tersinggung dengan ucapannya dia langsung merangkul Saudara kembar Aya itu.


"Permisi sepertinya wajahmu tidak asing bagiku?" Tanya Kevin pada wanita yang sejak tadi sudah mencuri perhatiannya.


"Kamu lupa sama dia Vin? Dia itu Veronica temenku waktu SMA dulu." Silvia angkat bicara.


Kevin tampak berfikir terlihat dari keningnya yang berkerut dalam dan jarinya yang mengusab sagu. "Oh... Aku ingat sekarang kamu Veronika yang tomboy itu kan? Yang dulu nolak Jonathan?" Kevin melirik Jonathan yang langsung membuang muka pura-pura tidak dengar.


Kevin dulu adalah murid pindahan. Tapi bisa langsung akrab dengan Jonathan, Kevin hanya mengenal Anita yang dulu bernama Veronika selama satu Minggu sebelum Anita pindah sekolah.


"Kalau boleh tahu kenapa kamu ada di sini? Apakah kamu salah satu keluarga Alan?"


"Aku Ibunya." Jawab Anita pendek.


"Wah kebetulan sekali....aku baru percaya sekarang kalau dunia tidak selebar daun singkong."


"Kelor Vin." Sahut Jonathan, yang ternyata sejak tadi mencuri dengar.

__ADS_1


"Barusan suara apa ya? Rumahmu sepertinya perlu diadakan pengajian Sil, banyak makhluk tak kasat mata." Sahut Kevin.


"Kurang ajar! Kau kira aku hantu?" Jonathan tidak terima.


"Oh...kau merasa tersindir?" Celetuk Kevin sambil terkekeh.


"Sudah-sudah! Kalian itu sudah tidak muda lagi. Ingat itu uban di rambut. Seperti anak kecil saja. Bertengkar gara-gara masalah sepele." Silvia berusaha menengahi.


"Kamu bilang sepele Sil? Dia udah doain aku cepat mati. Sahabat macam apa itu?"


"Aku kan sudah minta maaf Vin, kau ini Baper sekali kayak perempuan yang lagi PMS."


"Sudah-sudah! Sekarang kalian berbaikan! Lihatlah itu kerutan kalian makin bertambah gara-gara marah-marah."


Mau tak tau dua lelaki paruh baya yang tampak seperti anak kecil itu akhirnya saling berpelukan mirip Teletubbies. Tiba-tiba mereka tertawa bersama saat menyadari tingkat konyol yang baru saja mereka lakukan.


Kevin mulai mendekati Anita. Ia tahu dari Ezra kalau ibu Alan adalah seorang singel parents. Sepertinya pria paruh baya itu tertarik dengan janda dua anak yang masih terlihat aura kecantikannya.


"Ketika melihat anak-anak yang kita rawat sendiri sejak kecil sudah menemukan pendamping hidupnya rasanya sangat bahagia sekaligus terharu. Benarkan apa yang aku katakan?" Ucap Kevin sambil melihat putranya sedang menggoda Lila. Tatapannya beralih menatap Anita sambil melempar senyum termanisnya.


"Benar. Rasanya seperti beban di pundak yang selama ini ku bawa terangkat." Anita tersenyum membalas.


"Kini sudah saatnya kita mencari kebahagiaan sendiri. Dengan mencari mendamping hidup. Bukan begitu?"


Anita langsung mengeryit. "Maksudnya?"


Tanpa di duga Kevin meraih tangan Anita sambil menatap matanya dalam. Senyum di bibirnya tidak pernah surut. Bahkan semakin lebar. "Aku rasa Tuhan memang sudah merencanakan pertemuan kita sekarang. Agar kita saling mengisi dan melengkapi hidup kita yang kurang lengkap."


Anita langsung bisa menangkap maksud dari dokter paruh baya yang sedari tadi tersenyum menatapnya. Saat Anita mencoba melepaskan tangannya.


"Ma!...sepertinya sedari tadi Alan lihat Mama belum makan apapun. Ayo duduk dulu Alan ambilkan." Alan yang ternyata sejak tadi melihat Ibunya sedang didekati Kevin langsung merangkul Anita dan membawanya pergi.


Walaupun awalnya Alan hanya beralaskan tapi ia tetap melayani ibunya.


"Sayang tampaknya kamu tidak suka Om Kevin dekat dengan Mama Anita? Apa alasannya? Aku lihat mereka cocok. Lagi pula dulu mereka sempat berteman kan?" Bisik Aya kepo.


"Jelas Aku tidak suka! Bayangkan, bakal serumit apa hubungan mereka? Aku tidak mau kehidupanku seperti judul sinetron ikan terbang 'Ayah tiriku adalah mertua dari kakak perempuanku'. Coba kamu fikir?" Jawab Alan dengan berbisik juga.


Aya yang semula diam langsung menyemburkan tawanya. Bahkan orang-orang yang sedang sibuk makan sambil berbincang sontak menoleh dengan penuh tanda tanya. Mungkin mereka fikir calon pengantin perempuan itu menjadi aneh karena saking bahagianya.

__ADS_1


Bersambung......


Salam buat semuanya. maaf lama buanget gak up ya?? Pengen banget sebenarnya menyelesaikan novel ini. ini lagi usaha buat bangun cerita ini lagi. Alhamdulillah sakit kemaren ternyata pertanda adanya makhluk kecil di perut Author. dan sekarang sudah tinggal menunggu kelahirannya. bulan pertama sungguh berat karena morning sicknes.. jadi mood nulis juga hilang. setelahnya mulai nulis tapi sangat lamban. ini aja baru berani buat up. jadi mohon pengertiannya. dan minta Doanya agar saya dan baby sehat selamat sampai lahiran....


__ADS_2