Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Kencan bersama Alan


__ADS_3

Jam makan siang tentu membuat ramai kantin, seperti biasa Nando duduk di tempat nongkrong biasanya, tidak ada seorangpun yang berani duduk di situ kecuali Alan dan Genknya yang katanya sekarang berganti nama menjadi F4 itu.


"Loh tumben ke sini Rom Biasanya makan berdua sama Asher di taman?" Tanya Nando sesaat setelah Romi duduk di depannya.


"Sekarang gantian Alan yang makan di sana." Jawab Romi singkat.


"Wih, bisa gantian gitu? Berarti kapan nih giliranku? Lumayan makan gratis enak lagi." Sahut Nando sambil tertawa.


Belum sempat Romi menanggapi Sheila datang. "Hay guys, gimana kabarnya?Eh...mana Alan?" Tanya Sheila setelah menatap sekeliling dan tidak melihat keberadaan Alan.


"Kamu kemana aja Shei? Gak pernah nongol?" Tanya Romi.


"Biasa ke luar negeri shopping." Jawabnya setelah duduk di sebelah Romi. "Eh... kemana Alan?"


"Di taman makan siang sama Asher." Sahut Nando tiba-tiba yang langsung mendapat pelototan dari Romi.


Nando yang tidak paham arti pelototan Romi hanya mengerutkan keningnya. Sheila yang mendengar hal itu langsung beranjak pergi.


"Kamu tu ya!" Sentak Romi sambil memukul kepala Nando.


"Kenapa? emang Bener kan?" Nando menanggapi sambil mengusap kepalanya.


***


"Hey....kok lauk gue loe ambil sih?" Aya tampak tak terima saat melihat ayamnya yang sudah berpindah ke mulut Alan.


"Ini sebagai ganti karena tadi kamu udah bohongin aku." Alan dengan santainya menguyah Ayam yang ada di tangannya.


"Tapi masak gue makan sayur doang Al?"


"Itu biar kamu sehat, cowok kok badannya kurus krempeng, harusnya berotot ni kayak aku." Alan langsung menyibakkan lengan kaosnya dan menunjukkan otot di tangannya.


Aya langsung membuang muka dengan mulut yang komat kamit. "Hey...ngomong apa kamu?" Sahut Alan tiba-tiba.


Sontak Aya langsung menoleh menghadap Alan lagi, "gue? Gak... gue gak ngomong apa-apa?"


Setelah perdebatan kecil itu akhirnya mereka makan dalam diam,Aya melirik sekilas, Alan tampak sangat menikmati makanannya, ada rasa senang dan bangga dengan hal itu, seorang Alan bisa menikmati makanan buatannya. Entah bagaimana ia harus menggambarkan rasa yang tiba-tiba menyeruak di hatinya.


"Ngapain lihatin aku segitunya...Baru nyadar ya, kalau aku ini ganteng?" Alan tersenyum tipis sambil menatap Aya.


"Ih...pede amat loe, gue tu bukan ngeliat loe, tapi ngeliatin ayam goreng loe itu kelihatannya enak banget." Aya memberikan Alasan walaupun sikapnya sedikit gelagapan.


"Nih mau?" Alan menyodorkan ayam bekas gigitannya.


"Ogah, itu kan bekas loe,... sama kayak ciuman gak langsung dong gue?"


"Kita kan udah biasa kayak gitu, mau yang langsung? Ayok!" Alan langsung mencondongkan badannya.


"Eh.... ngapain loe?" Alan mengangkat kedua tangannya mencoba menghalangi wajah Alan yang mulai mendekat. Namun Alan langsung kembali ke tempatnya Kemi tertawa terbahak-bahak.


"Gitu aja kamu udah takut!" Ujarnya masih sambil tertawa.

__ADS_1


"Sialan! Kamu ya__"


Belum sempat Aya menyelesaikan kalimatnya, Sheila datang dan langsung duduk di samping Alan tidak lupa seperti biasa tangannya langsung melingkar di lengan Alan. Bergelayut manja di lengan kekar itu.


"Hallo Alan sayang, aku kangen banget sama kamu....kamu kangen gak sama aku?" Tanyanya dengan nada manja.


"Gak!" Jawab Alan ketus.


Bukannya marah Sheila malah makin mengeratkan rangkulannya. Aya yang melihat pemandangan itu hanya bisa mengerutkan keningnya, "Hay Shei, Lama gak nongol gimana kabar loe?"


"Baik!" Jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari Alan. Sekarang kepalanya sudah bersandar di pundak Alan.


"Shei kalau boleh gue kasih saran nie ya, lebih baik loe jangan kayak gitu sama Alan, loe tu jadi kelihatan kayak ulet bulu yang nempel di pohon." Alan langsung menatap tajam ke arah Aya, yang ditatap sama sekali tidak terpengaruh.


"Tau gak Shei Alan itu sama ulet bulu __" sontak Alan langsung membungkam mulut Aya dengan tangannya. Aya berusaha melepaskan bungkaman tangan di mulutnya. "Loe mau bunuh gue Al?" Ujarnya sambil mengatur nafas yang terengah-engah.


"Mana mungkin aku bunuh pacar sendiri." Bisik Alan yang langsung mampu membuat Aya mematung seketika. Sheila yang melihat itu hanya mengerutkan keningnya merasa heran dengan tingkah dua orang disampingnya.


"Al aku bawain sandwich buat kamu." Sheila mengeluarkan isi dari papper bag yang ia bawa.


"Wah.... sandwich, kesukaan gue tu, mau juga dong Shei!" Sahut Aya tiba-tiba.


"Enak aja, ini aku bikin sendiri khusus buat Alan."


Alan langsung menerima pemberian Sheila dan tentu berhasil membuat wanita itu merasa melayang karena untuk pertama kalinya Alan mau menerima pemberiannya. Tapi tiba-tiba raut wajah Sheila berubah tatkala melihat Alan yang memberikan sandwich itu kepada Aya. "Kenapa kamu kasih dia Al?"


"Terserah aku, tadi kan kamu berikan kepadaku, jadi terserah aku mau aku buang ataupun aku berikan padanya." Alan nampak bersikap acuh pada Sheila yang protes.


Tanpa merasa bersalah atau apapun itu, Aya langsung melahapnya.


"Loe punya toko roti ya Shei?" Mendengar pertanyaan Aya sontak Sheila langsung menoleh. "Ini bungkusnya ada label toko rotinya."


Alan langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Aya yang tampak polos itu, "kalau mau bohong itu, di rencanakan yang matang dulu Shei." Alan melepaskan rangkulan tangan Sheila dan melanjutkan makannya yang sempat tertunda.


Sheila menatap tajam ke arah Aya, ditambah lagi saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Alan mengusap saus yang ada di bibir Aya.


"Ada saus di bibir mu." Jelas Alan saat melihat Aya tampak kaget dengan perlakuannya. Aya pun langsung mengusap dengan punggung tangannya sendiri.


"Ini bukan saus, ini darah tau?" Aya menyodorkan punggung tangannya yang ada bekas saosnya. Mendengar itu Alan sedikit terlonjak kaget sambil menautkan alisnya.


Ingin mendapatkan perhatian yang sama Sheila langsung mengoleskan saus di bibirnya agak banyak. "Al di bibirku juga ada sausnya." Ia memperlihatkannya pada Alan.


Bukannya menanggapi Alan malah langsung berdiri dan menarik tangan Aya, mengajaknya untuk pergi. Melihat sikap tidak peduli dari Alan, wajah Sheila langsung memanas ... Tampak raut wajah marah yang teramat di matanya.


"Awas kamu Sher, tunggu pembalasanku!" Batinnya.


"Pak Udin! Motor saya mana ya?" Tanya Aya pada pak Udin satpam di kampusnya.


"Loh kan kemaren udah di ambil... Mas." Mendengar itu mata Aya langsung terbelalak. Belum sempat menanggapi perkataan pak udin tangannya sudah di tarik seseorang untuk masuk kedalam Sebuah mobil. Siapa lagi kalau bukan Alan.


"Motormu ada di rumahku." Dan ucapannya mengakhiri rasa penasaran Aya, sepanjang perjalanan hanya ada keheningan di antara mereka.

__ADS_1


"Loh kita mau kemana Al? Bukannya mau ngambil motor gue yang ada di rumah loe." Tanya Aya setelah dirinya turun dari dalam mobil Alan.


"Kita mau ke Timezona, bersenang-senang sambil kencan." Sahutnya sambil menarik tangan Aya.


Sepanjang sore itu Aya dan Alan bersenang-senang di area bermain anak tersebut, tentu Aya senang sekali berada di sana seumur hidupnya belum pernah sekalipun ia menginjakkan kakinya di tempat seperti itu. Seperti sudah tersihir dengan suasana dan kenyamana bersama Alan. Ia tidak sadar sepanjang perjalanan mereka menjelajahi arena permainan tangannya tak lepas dari pegangan tangan Alan. Tentu saja hal itu membuat Alan tersenyum senang.


"Makasih banget Al, kamu udah bikin senang aku hari ini." Sahutnya tanpa menyurutnya senyuman di bibirnya. Logat loe gue pun juga tanpa sadar ia tanggalkan.


"Aku juga senang banget, apalagi sekarang kamu udah panggil aku dengan sebutan kamu bukan loe lagi." Dan saat itulah Aya baru menyadari kesalahannya.


"Bukan gitu maksud gue Al." Aya sedikit gelagapan.


"Sudahlah....jangan bikin mood aku jelek mendengarkan logat loe gue mu lagi." Dan ucapan Alan langsung membuat Aya tak berani mengucapkan sepatah katapun sampai ia sampai ke pos penjagaan.


"Kok berhenti di sini Al? Gue kan.....eh maksudnya aku mau ngambil motor di rumah mu."


"Memangnya kenapa, biarkan saja motormu di rumahku, jadi kita bisa berangkat ke kampus bareng terus." Alan mencoba menjelaskan.


"Aku besok kalau mau keluar naik apa?"


"Biar aku anterin."


"Gak!" Tolak Aya. "Tau gak, dari kemaren aku diomelin nenekku terus gara-gara pulang gak bawa motor, dia kira motornya aku jual, bisa sakit kupingku kalau___." Sahut Aya berbohong.


Cup.


Tanpa aba-aba Alan langsung mengecup bibir Aya, dan mampu membuatnya berhenti bicara. "Ternyata pacarku ini cerewet juga." Ujarnya sambil tertawa.


Aya langsung duduk menghadap Alan dengan mata melotot, bukannya takut Alan malah melancarkan serangan keduanya yang mampu membuat sengatan listrik di antara keduanya. Alan mel*m*t ,meng*l*m dan menggigit kecil bibir mungil itu, lidahnya menelusup ke dalam rongga mulut Aya, lidah mereka saling bertautan. Aya membalas setiap perlakuan Alan. Beberapa saat ia terlena dengan buayan itu, hingga dirinya tersadar saat kumisnya terasa basah. Sontak Aya langsung menjauhkan kepalanya.


"Kenapa di lepas, aku belum puas sayang.... ," ucap Alan sedikit terengah-engah matanya begitu mendamba.


Mendengar itu, wajah Aya langsung memerah. Bahkan jantungnya terasa sudah benar-benar lepas, ia langsung membuang pandangannya ke arah jendela mobil. Dan mampu membuat Alan tersenyum tipis kemudian melanjutkan perjalanan mereka.


Sebelum pulang Alan mengajak Aya mampir ke restoran langganannya.


"Kita makan dulu." Ujarnya sambil membuka sabuk pengaman.


"Ini kan cafe tempat aku, kak Lila dan Romi bertemu kemarin." Gumamnya dalam hati, sambil mengikuti Alan dari belakang.


"Silangkan, mau pesan apa?" Tanya pelayan setelah menyodorkan buku menu kepada Aya dan Alan.


"Spring Chicken....!" Sahut Aya dan Alan serempak kemudian menoleh saling berpandangan. "Saya tanpa bawang Bombay ya mbak?" Sambung Alan.


"Minumnya?" Tanya pelayan lagi.


"Lemon Tea!" Sahut mereka bersamaan lagi. Kemudian mereka tertawa bersama.


"Ternyata selera kita sama ya?" Dan dijawab anggukan kepala oleh Aya sambil tersenyum.


Seharian ini mereka tampak sangat bahagia, bagaikan sepasang kekasih yang dimabuk cinta. Tanpa mereka sadari entah apa yang akan mereka hadapi esok.

__ADS_1


Bersambung.....


Terimakasih yang sudah setia membaca cerita saya, jangan lupa like dan koment ya? vote juga boleh agar saya makin semangat up...


__ADS_2