Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Tertangkap


__ADS_3

"Papa!" Pekik Aya tertahan. Rasanya dunianya seakan runtuh saat melihat Papanya tiba-tiba ada di depan wajahnya. Aya berharap ini hanya sebuah mimpi. Berulang kali ia mengucek mata tapi sosok itu tetap ada di depan wajahnya.


"Kenapa Putriku? kamu kaget karena Papa tahu kamu disini?" Jonathan yang tak lain Ayah dari Aya masuk ke dalam kamar super kecil itu menelisik semua isinya. Aya hanya bisa diam menunduk, ia tahu pasti kalau ayahnya akan marah, tapi ia masih berharap sang ayah tidak akan mengajaknya pulang.


Aya masih tidak bersuara. Jari tangannya kini sudah bertautan hatinya resah dan gelisah. Batinnya bertanya-tanya dari mana sang ayah tahu keberadaannya?


"Sudah cukup main-main di luarnya nak, kembalilah pulang, tempatmu bukan di sini." Jonathan mengambil bantal kemudian melemparnya seolah jijik.


"Aya tidak mau Pa. Biarkan Aya di sini, Aya senang di sini." Ucapnya lirih sedikit tertahan.


"Apa kau tidak dengar ucapan Papa! Apa harus Papa ulangi lagi?!" Suara Jonathan sudah naik satu oktaf.


Aya menggigit bibirnya bergetar. Bahkan ia tidak berani mengangkat wajahnya. Air matanya menetes jatuh ke lantai.


"Monic!... Jessie!... Cepat bereskan semua barang-barang Nona, jangan ada yang tertinggal!" Jonathan memerintahkan dua orang wanita yang terlihat sedikit tomboy. Mereka langsung masuk dan bergerak cepat memasukkan semua barang-barang Aya ke dalam koper.


Aya yang melihat itu langsung panik tanpa pikir panjang ia duduk bersimpuh di kaki ayahnya. "Pa.... Aya tidak mau, Aya tidak mau pulang, Aya mohon Pa... biarkan Aya di sini." Aya memohon dengan berderai air mata.


"Kamu sudah berani membohongi Papa dan keluarga! Masih berani kamu memohon untuk tetap di sini? Kamu harus di hukum karena tidak patuh dan menjadi anak pembangkang! Dan ini tidak seberapa di bandingkan apa yang Papa rasakan sekarang!" Sentaknya. Jonathan menatap dua pengawal wanita itu dan memerintahkannya untuk membawa putrinya.


Saat dua pengawal wanita itu hendak mencekal lengan Aya. Dengan gerakan cepat Aya memutar lengannya dan membanting pengawal itu hingga meringis kesakitan. "Jangan ada yang mendekat kalau kalian tidak mau terluka!" Ancam Aya yang kini sudah bersiap memasang kuda-kuda.


Jonathan tercengang, ia tidak pernah tahu kalau putrinya yang manja ternyata menguasai ilmu bela diri. Hingga entah kenapa membuatnya hatinya sakit. Betapa bodoh dan tidak tahunya dia, sebagai seorang ayah ia merasa gagal sampai tidak menyadari kepribadian putrinya yang sebenarnya.


"Cepat tangkap dia! Tidak perlu segan-segan untuk melukainya. Asalkan bisa membawanya hidup-hidup."


Ucapan sang ayah membuat hati aya mencelos. Apakah begitu marah dan bencinya Ayahnya pada dia sekarang.


Tak terelakkan lagi kini Aya bertarung melawan dua orang perempuan ditambah dua orang laki-laki berbadan gempal. Saat Aya tengah bertarung terlihat Jonathan berbisik pada salah satu pengawalnya.


Keributan yang terjadi di luar membuat dua penghuni kamar sebelah keluar. Cika dan Mita mematung saat melihat Aya yang sedang melawan empat orang, kini mereka percaya kalau memang benar Aya menyandang gelar sabuk hitam taekwondo.


Cika diam masih dalam keadaan terkejut dengan mulut yang menganga, Mita yang sadar lebih dulu langsung kembali ke kamarnya. Ia ingin menelfon seseorang untuk meminta bantuan tapi kegiatannya terhenti saat mendengar suara seseorang yang sangat ia kenal.


"Pa sudah Pa.... Cukup! Kasian Aya."


Mita terkejut melihat Asher tengah di seret oleh dua orang laki-laki. Wajahnya juga tampak babak belur. Dan apa yang barusan ia dengar. Papa? Apakah pria paruh baya yang sedari tadi menonton pertarungan Aya adalah Papanya.


Aya yang kaget melihat saudara kembarnya tengah di seret sedikit terlena hingga dirinya kini berhasil di ringkus dengan beberapa luka lebab. "Lepaskan aku! Lepaskan!" Aya terus saja memberontak.

__ADS_1


"Attaya Raisha Narendra!!" Sentak Jonathan yang langsung membuat Aya terdiam. Ia tahu kalau sampai Ayahnya memanggilnya dengan nama lengkap berarti dia sudah benar-benar murka.


"Jika kamu masih mau Ben dan Carlos tetap berkerja kamu turuti kemauan Papa."


Aya langsung terduduk di lantai, ia melirik dua pengawal kesayangannya itu sudah babak belur. Ayahnya sangat tahu kelemahannya, Aya tidak akan membiarkan orang terdekatnya menerima imbas dari ulahnya.


Cika dan Mita masih terdiam terpaku menonton kejadian yang terjadi di depan mata mereka. Mereka bingung mau melakukan apa, mau ikut campur tapi sepertinya ini adalah masalah keluarga. Yang pasti sekarang mereka tahu Aya dan Asher bukan orang biasa. Melihat seberapa berkuasanya sang ayah.


Aya kini pasrah saat di seret dua pengawal wanita. Bahkan untuk berpamitan saja ia tidak diizinkan. Aya hanya memandang berat ke arah dua sahabatnya. Mulutnya seolah terkatup sulit untuk mengucapkan perpisahan, hatinya seolah tidak menginginkannya.


"Raishaaa....kamu mau kemana?" Lirih Cika sambil menangis tersedu-sedu. Mita mencoba menguatkannya dengan merangkul bahu Cika. Sebenarnya tak jauh beda dengan Cika yang merasa kehilangan Aya. Mita juga merasakan hal yang sama. Bahkan ia juga kehilangan seseorang yang entah sejak kapan mulai mengisi hatinya yang sudah beku.


Mata Asher bersitatap dengan kedua manik mata Mita yang berkaca-kaca. "Pa, izinkan aku untuk mengucapkan terimakasih kepada mereka karena selama ini sudah menjaga Aya."


Jonathan menepuk pundak Asher. "Baiklah, beritahu juga pada mereka agar tutup mulut. Buat dirimu berguna kali ini. Papa beri waktu lima menit." Jonathan menyodorkan amplop coklat tebal tepat di dada Asher kemudian berlalu pergi.


Perlahan Asher mendekati dua gadis yang menunduk dalam kesedihan. "Tolong rahasiakan apa yang barusan kalian lihat, kalau kalian masih ingin hidup tenang." Asher memberikan amplop coklat itu ke tangan Cika, karena ia tahu pasti Mita tidak akan menerimanya.


Cika yang masih dalam keadaan sesenggukan menatap penasaran ke arah amplop coklat tebal itu kemudian menerimanya.


"Cika bisa tolong tinggalkan kita berdua!" Pinta Mita.


Kini tinggal Mita dan Asher berdiri berhadapan. Asher tertawa sumbang, "Mit sepertinya keinginanmu akan terkabul lebih awal, aku akan benar-benar hilang dari hidupmu.hahaha...belum genap satu Minggu, sepertinya aku yang lebih dulu menyerah."


Setelah mengucapkannya Asher nampak terkejut karena kini Mita memeluknya dengan erat. Ia bisa merasakan kaos bagian dadanya sedikit basah. Ia tahu pasti gadis itu sedang menangis walaupun tidak terdengar suaranya.


"Apakah kamu benar-benar sudah menyerah?.... itu bukan seperti Asher yang aku kenal." Mita kini menatap Asher sambil mengusap air matanya.


"Sekarang aku takut kalau usahaku akan sia-sia. Apalagi sekarang aku harus berjauhan denganmu. Aku takut__"


Belum juga menyelesaikan kalimatnya ia kini merasa sentuhan lembut di bibirnya. Mita menciumnya? Apakah ini artinya ia sudah berhasil membuat gadis itu jatuh cinta. Tapi kenapa ia mengetahuinya di saat seperti ini. Saat ia harus pulang ke tempat yang jauh dan mungkin akan lebih jauh lagi. Ia tak tahu bisa menemui gadis itu lagi atau tidak.


Ciuman itu tidak terlalu menuntut. Ia tahu gadis ini amatiran tapi ia sangat suka. Perlahan ia membalas pagutan lembut nan manis itu hingga suara seseorang membuatnya harus menghentikan aktivitas yang sangat Ia sukai.


"Tuan muda, anda sudah di tunggu Tuan besar." Salah satu bawahan ayahnya menyusul Asher.


"Sial!" Umpatnya. Mereka saling menatap kemudian tertawa kecil bersama.


Asher tersenyum sambil membelai wajah gadis manis dengan pipi bersemu merah yang sudah beberapa Minggu ini mewarnai hari-harinya.

__ADS_1


"Jaga dirimu! Aku janji suatu saat entah kapan. Aku akan kembali." Asher memaksa tersenyum. Saat hendak pergi tangan Mita meraih tangannya, Asher merasakan sesuatu terselip di antara genggaman tangan mereka. Dilihatnya ternyata sebuah flashdisk. Asher bertanya-tanya untuk apa Mita memberikan ini?


"Saat kamu bingung dan tidak tahu jawaban atas kebingunganmu mungkin ini bisa membantu." Mita tersenyum dan langsung dibalas anggukan kepala.


Tiga mobil mewah dengan sebelas penumpang itu meninggalkan halaman depan kost yang selama ini menjadi tempat tinggal sekaligus saksi bisu pertemuan Aya dan Alan sejak sebelas tahun lalu.


Asher menarik saudara kembarnya agar bersandar di pundaknya. Suara tangis kini terdengar lagi. Asher tahu bagaimana perasaan Aya sekarang. "Asher... bagaimana ini?"


"Tenang, kita akan cari jalan keluarnya." Hanya itu kata yang bisa Asher ucapakan. Karena ia juga merasakan sedih yang teramat. Di saat cinta mulai menghampiri tapi pahit kini yang harus dijalani. Asher tahu pasti, ayahnya sangat keras apalagi sejak ayah Ima yang adalah tangan kanan sekaligus orang kepercayaan ayahnya meninggal. Sekarang ayahnya menjadi sosok yang lebih keras lagi. Ia tidak akan mudah memaafkan sebuah kebohongan dan penghianatan. Entah hukuman apa yang akan menantinya di rumah.


Asher dan Aya hanya bisa saling menguatkan. Walaupun mereka sering bertengkar tapi mereka paling mengetahui isi hati masing-masing. Tidak ada yang tidak diketahui Asher tentang Aya, bahkan yang ibu dan ayahnya tidak tahu. Asher adalah orang pertama yang mengetahuinya begitupun sebaliknya.


Asher menatap pesawat jet pribadi ayahnya. Awalnya ia merasa sangat aneh karena orang-orang yang ia taruh di sekitar ayahnya tidak ada yang memberi informasi tentang kedatangan sang ayah. Sepertinya ada orang dalam yang sudah membocorkan rahasia mereka. Ia juga tahu pasti ayahnya bertolak langsung dari London ke sini.


Seperti teringat sesuatu, "Bagaimana dengan Ima Pa?" Tanyanya sedikit ragu.


"Dia sudah ada di dalam sana." Ucapan ayahnya membuatnya sedikit lega.


***


Seperti biasa Alan sudah rapi ia tersenyum melihat pantulan dirinya di kaca sepion. Di pandang arloji yang melingkar di tangannya, jam menunjukkan pukul delapan. Sepertinya sebentar lagi kekasih hatinya akan turun.


Setengah jam lebih berlalu dan ia masih menunggu. Padahal sebentar lagi dosennya akan masuk.


"Kamu lagi nungguin siapa nak?" Tanya Maria pemilik kos-kosan.


"Eh Bu Maria, nungguin Aya...eh maksudnya Raisha, tumben kok belum juga turun ya Buk?"


"Lho kamu gak tahu, Raisha kan udah pulang ke Jakarta, tadi pagi-pagi buta dia sudah di boyong sama Ayahnya di bawa pulang mungkin sekarang sudah di dalam pesawat."


"Apa? Ibuk tidak bercanda kan?" Alan memastikan.


"Buat apa ibuk bercanda, sepertinya dia sudah tidak akan balik ke sini lagi, soalnya barangnya sudah di bawa semuanya."


Penjelasan ibu kost membuat lututnya bergetar. Ia langsung mengambil ponsel dan mencoba menghubungi nomor Aya. Tapi hanya jawaban dari operator yang ia terima, "nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif__". Dia juga menghubung Asher jawabnya pun juga sama.


Bersambung.....


Maaf ya dua hari gak up... kmren pikiran buntu, benar-benar bingung mau nulis apa, ya mungkin perlu libur kayak anak sekolah gtu.... sekalian biar banyak yang komen soalnya kemaren cuma 4 orang... Alhamdulillah sekarang udah 13 orang gara-gara gak up... hehehe.makanya komen yang banyak..biar aku gak libur. pisssss

__ADS_1


__ADS_2