Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Brownis Kukus


__ADS_3

Aroma masakan Aya menyeruak keseluruhan ruangan.


"Wah enak sekali baunya," ujar Alan yang baru saja turun dari lantai atas, tentu saja sudah memakai pakaian lengkap.


"Ma aku tadi beli brownis tolong di potong sekali ya!" Pinta Alan pada Anita.


"Kamu gak mandi dulu Sher?"


"Nanti aja di rumah, males." Aya mencari alasan. Sesungguhnya ia sangat gerah dan sangat berkeringat apalagi setelah kegiatannya memasak, tapi tidak mungkin untuknya mandi di rumah Alan.


Mereka bertiga makan dalam diam, setelah makan. "Tumben masakan Mama enak banget?" komentar Alan setelah meneguk minumannya.


"Ini yang masak temen kamu Asher, dia pinter banget Al, andai perempuan udah Mama jadikan menantu." Celetuk Anita Dan seperti biasa jawaban itu membuat Asher langsung tersedak.


"Hati-hati makannya nak!" Anita menyodorkan minuman pada Aya sambil menepuk-nepuk punggungnya. Tak lupa Aya berterima kasih.


"Alan juga pernah bilang gitu Ma, reaksinya sama kayak sekarang.... Apa kamu punya kebiasaan tersedak tiap ada yang bicarain tentang pernikahan Sher?" Tanya Alan, sambil tersenyum masam. Yang ditanya tidak bersaksi sama sekali.


Setelah kegiatan makan selesai, "Tante permisi dulu, mau istirahat. Kamu ngobrol aja sama Alan, anggap rumah sendiri... nginep juga boleh."


"Ah....tidak usah repot-repot Tan, sebentar lagi saya juga pulang." Tolak Aya. Sambil tersenyum cengengesan.


Setelah kepergian Anita kini tinggal Aya dan Alan di meja makan, sudah terhidang teh dan Brownies sebagai pelengkap. "Loe tu suka banget sama brownis ya Al?" Tanya Aya setelah melihat Alan makan dengan begitu lahapnya.


"Iya, aku emang suka banget....ini enak lo, coba aja!" Alan menyodorkan sepotong brownies pada Aya.


Setelah Aya memakannya, "Biasa aja lebih enak brownis di Jakarta.!" Jawaban Aya membuat Alan mengerutkan keningnya.


"Yang benar? Ini tu Brownis yang paling enak di kota ini!" Protes Alan.


"Kapan-kapan kalau kamu ke Jakarta mampir aja ke AA Cake and Cafe Shop, di disitu Brownisenya enak banget, macaroon sama Cheese cake juga ada, lengkap deh pokoknya dari kue tradisional sampe modern juga ada, tempatnya juga instagramable, Untuk harga sesuai sama rasanya lah." Aya menjelaskan dengan begitu antusias.


"Kamu tu kayak orang promo... Emang itu cafe milikmu?" Alan menanggapi.


"Ya bukan lah!" Aya sedikit gelagapan. Ia melihat jam yg melingkar di tangannya. "Gue pulang dulu Al, loe taroh mana motor gue?"


Tiba-tiba Alan mengulurkan tangannya, "Salim dulu nanti aku kasih tau."


Aya langsung menyambut tangan Alan sekilas.


"Yang bener salimnya, seperti salim pas pamit kegiatan Mapala kemaren!" Alan menjelaskan.


Aya mengerutkan keningnya, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Salimnya pake cium tangan, gitu aja lupa!" Alan berdecak kesal.


"Ogah!" Tolak Aya.


"Ya udah motornya gak aku kembaliin." Alan tersenyum menyeringai.


"Ya udah sini!" Aya menarik tangan Alan kemudian mencium punggung tangannya saat mau mendongak kepalanya di tahan oleh Alan agar Aya sedikit lebih lama mencium tangannya.


"Apaan sih!", Aya langsung menepis tangan Alan yang bertengger di kepala.


Saat Aya hendak naik ke atas motor, "Tunggu Sher!" Teriak Alan, saat Aya menoleh tiba-tiba Alan meghambur memeluknya dan menepuk punggung Aya. "Hati-hati ya?" Kemudian melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Aya mengerutkan keningnya melihat perilaku Alan yang tak biasa, "ini anak kayaknya kerasukan, sebentar nyebelin sebentar perhatian." Batin Aya.


***


Saat Aya keluar dari kamar mandi, "Raisha ayo cepat ajarin aku!" Cika langsung menarik-narik tangan Aya.


"Iya bentar aku taruh handukku dulu." Jawab Aya lalu masuk ke dalam kamarnya.Saat keluar ia membawa selimut yang begitu lebar kemudian menggantungnya di jemuran.


"Itu buat apa Ra?" Tanya Cika heran saat Aya menjemur selimut yang menurutnya kering.


"Ini buat nutupin pandangan mata orang mesum!" Jawabnya singkat, dan Cika hanya menggeleng kepalanya.


Malam itu Aya kembali mengajari Cika dance untuk penampilan di kampusnya, Cika sudah banyak kemajuan dan tentu Aya berjanji akan datang melihat performa Cika diatas panggung.


***


Disisi lain.


"Ngapain malem-malem jemur selimut? Jadi gak kelihatan kan!" Alan berdecak kesal saat ia tidak bisa melihat apa-apa dari balik teropongnya.


Ia kembali ke kamarnya, saat melihat jaket yang tergantung di lemari entah kenapa ia jadi teringat dengan Aya. "Kira-kira lagi ngapain ya si kumis lele jam segini?" Alan mengambil ponsel kemudian mencoba menghubungi Aya, tapi tak juga di angkat sampai beberapa kali ia hubungi tapi tak kunjung di angkat juga.


"Awas kau besok? Beraninya mengabaikan telfonku" Alan langsung melemparkan ponselnya ke ranjang.


***


Pagi itu Aya sedang memarkirkan motornya saat Romi menghampirinya.


"Kemaren Alan gak ngapa-ngapain kamu kan?" Tanya Romi khawatir.


"Tenang aja, aku gak diapa-apain, malahan dia udah maafin aku." Jawab Aya. Mereka berjalan beriringan menuju gedung kampus.


"Apaan loe Al, geli kuping gue!" Protes Aya sambil mengusap-usap kupingnya.


Alan yang melihat reaksi Aya hanya tertawa kemudian merangkul leher Aya dan... mau tidak mau Aya harus mengikuti kemana arah Alan pergi, hingga meninggalkan Romi di belakang. "Kemaren kenapa telfonku gak kamu angkat?" Tanya Alan.


Tiba-tiba Aya teringat tadi malam. "Ra ada telfon ni!" Teriak Mita dari arah gazebo.


"Siap Kak?!" Teriak Aya juga masih sambil mengajari Cika.


"Manusia Salju!"


"Biarin aja Kak, gak penting!" Jawab Aya singkat.


"Hey? Ditanyain malah bengong!" Teriakan Alan membuat ia tersadar dari lamunannya. "Oh....tadi malam gue udah tidur dan ponsel juga gue silent."


Mereka terus jalan beriringan tetap dengan posisi tangan Alan yang merangkul leher Aya. "Ini bisa gak dilepasin, gue risih banget Al!"


"Gak bisa! Ini hukuman buat kamu yang udah mengabaikan telfonku." Alan makin mengeratkan rangkulannya membuat wajah Aya dan Alan semakin dekat.


"Masalahnya jantungku sudah mau lepas dari tempatnya, kalau wajah kamu sedekat itu, dasar Alan brengsek!" Umpatnya dalam hati.


Dan apa yang dikatakan Alan memang tidak bisa diremehkan, sepanjang ia di kampus lehernya seperti guling yang selalu Alan rangkul, kecuali saat jam masuk kuliah dan sekarang saat jam makan siang.


Aya mengetuk-ngetukkan jarinya di meja tidak sabar menunggu makanan pesanannya datang. Alan yang merasa tidak nyaman dengan tingkah Aya langsung memegang tangan Aya. Reflek Aya langsung menoleh menatap Alan.

__ADS_1


Alan memperhatikan jari Aya, "jari kamu lentik banget kayak perempuan."


Sontak Aya langsung menarik tangannya, tapi ditahan oleh Alan. "Lepasin Al!" Sentak Aya.


Bukannya melepaskannya Alan malah menggenggam erat tangan Aya, memainkan jari lentiknya, bahkan menggoda Aya saat ia pura-pura akan menggigitnya. Ekspresi wajah kesal Aya menjadi hiburan tersendiri untuknya, membuat seorang Alan yang jarang tersenyum bahkan bisa tertawa.


Nando yang melihat tingkah tidak biasa Alan akhinya bersuara, " kalian ini sedang ngapain? Tau gak aku liat Kalian ini jijik banget, tingkah kalian ini seperti sepasang kekasih yang lagi kasmaran...... Al sepertinya karena terlalu lama tidak tersentuh Wanita kamu jadi makin aneh! Jangan sampai kamu jadi belok ya?"


Romi langsung mengeplak kepala Nando, dan berhasil membuat Nando meringis kesakitan. "Bicara apa kau!" Sentak Nando.


"Kamu kenapa Rom? Kamu mendukung tingkah aneh mereka?" Protes Nando.


Perdebatan Romi dan Nando membuat Alan menghentikan kegiatannya. Akhirnya mereka makan dalam diam, Aya buru-buru memakan makanannya, kemudian langsung pamit kembali ke kelasnya dengan alasan dosennya sudah datang.


"Aduh kenapa ini motor, bannya pake kempes segala sih!" Gerutu Aya sambil menendang ban motornya. "Mana hampir telat!" Aya terlihat kebingungan, melihat jam ditangannya.


"Kenapa Sher?" Tanya Alan dari jendela mobilnya, saking fokusnya pada ban motor yang kempes Aya sampai tidak menyadari mobil Alan yang sedari tadi berhenti di sampingnya.


"Ban motor gue kempes, loe liat Romi gak Al?" Tanya Aya.


"Gak! Kenapa?" Alan mengerutkan keningnya.


"Gue mau nebeng dia, soalnya gue buru-buru banget... penting ini!"


Alan langsung turun dari mobil dan menarik tangan Aya, mendorongnya untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Loe mau ngapain Al?" Aya bingung dengan sikap Alan yang tiba-tiba memaksanya masuk ke dalam mobil.


"Kamu mau kemana biar aku anterin!"


"Gak usah Al, biar gue pesan taksi online aja." Kekeh Aya kemudian mencoba membuka pintu mobil tapi tidak bisa. Alan mendekati Aya bermaksud membantu memasangkan sabuk pengaman dan bersamaan dengan itu Aya juga menoleh.


Cup!


Bibir meraka bertabrakan, entah bisikan dari mana sehingga Alan seperti tidak ingin melepaskan bibir manis Aya. Ia langsung m*l*mat bibir ranum itu, Alan seperti tidak perduli dengan kumis yang ada di atas bibir Aya. Tangan Alan yang mulanya memegang sabuk pengaman berpindah ke tengkuk Aya.


Aya mencoba melepaskan ciuman Alan, tangannya mendorong dada Alan sekuat tenaga. "Al...hentikan!"


Akhirnya tautan bibir mereka terlepas, Alan masih mengatur nafasnya yang memburu mencoba meredakan nafsu yang sudah bergejolak. "Sekarang kita sudah impas!"


Perkataan Alan seperti sayatan benda tajam yang sudah melukai hatinya. "Teganya dia melakukan itu, hanya untuk membalas perbuatanku tempo hari, hampir saja aku terlena." Batin Aya.


Setelah kejadian itu tidak ada lagi suara di dalam mobil hanya suara deru mesin yang mendominasi, hingga sampai di tempat tujuan Aya yaitu kampus Cika, tanpa sepatah katapun ia langsung keluar meninggalkan Alan yang masih di dalam mobil.


"Dia ini kenapa? Bilangan terimakasih kek!" Alan berdecak kesal. Suara musik dan gaduh dalam Aula kampus menarik perhatian Alan.


Aya tampak kelimpungan, ia ingin mencari tempat untuk ia melepas atribut penyamarannya. Dan saat hendak melangkah, tangannya di tarik seseorang.


"Kenapa dia mengikutiku, Sialan bagaimana aku berganti penampilan kalau seperti ini." Gumamnya dalam hati sambil menatap tajam ke arah Alan.


Tak lama terdengar lagu Blackpink yang berjudul "How you like that" yang artinya tiba giliran Cika untuk tampil, "ya sudahlah begini saja!" batinnya, ia hanya perlu merekam penampilan Cika sebagai bukti kalau ia menontonnya, Aya bisa beralasan kalau gara-gara ramai penonton jadi dirinya tidak terlihat.


Akhirnya ia kembali ke keramaian bawah panggung meninggalkan Alan yang masih mematung di tempatnya tadi.


"Kenapa dia mendiamkan ku, apa dia marah?" Batin Alan.

__ADS_1


Bersambung.....


Terimakasih sudah membaca ceritaku....jangan lupa tinggalkan like dan komen dan Vote juga boleh agar aku makin semangat menulis... macacihhhhh...


__ADS_2