
Tiga hari berlalu, Alan sudah di perbolehkan pulang dua hari yang lalu tetapi tiap hari ia harus ke rumah sakit untuk terapi di kakinya gilpsnya pun sudah di lepas ia juga tidak menggunakan kursi roda lagi hanya tongkat kruk sebagai alat bantu berjalan. Biasanya Aya menemani Alan untuk terapi tapi entah kenapa hari ini Alan menolak untuk ditemani, katanya Aya hanya harus fokus untuk menyiapkan konsumsi untuk acara besok.
Aya membantu Alan turun dari mobil, ia berjalan dengan bantuan kruk. Seringkali Aya membantu Alan berjalan walaupun ia sering juga menolaknya, Alan merasa dirinya bisa melakukannya sendiri.
Ia mengajak Aya untuk makan siang di restoran. Alan bisa melihat dengan jelas tatapan orang-orang yang ada disana memandangnya penuh rasa kasihan. Tak jarang ada yang berbisik-bisik menyayangkan seorang gadis cantik seperti Aya bersanding dengan seorang pria yang pincang. Begitulah percakapan yang bisa ditangkap pendengaran Alan.
"Ay, kamu gak malu jalan sama aku?" Tanyanya setelah mendudukkan dirinya.
Aya mengeryit mendengar pertanyaan Alan kemudian Ia menghela nafas dan tersenyum. "Gak sama sekali, aku malah bangga pacarku sangat tampan dan tidak ada yang bisa menyaingi ketampanannya."
Alan tertawa, di cubitnya hidung mancung itu. "Sekarang kamu udah pinter gombal ya?"
Setelah pesanan mereka datang. Sesekali mereka saling menyuapi dan mengobrol. "Apa kata dokter? apakah kakimu sudah lebih baik?"
"Belum, sepertinya butuh waktu yang lebih lama lagi." Jawabnya datar.
Aya bisa menangkap kesedihan dari raut wajah Alan. Rasa penyesalan Aya makin tumbuh, ia merasa secara tidak langsung menjadi penyebab keadaan Alan sekarang.
"Kamu harus semangat! Aku akan selalu berada di dekatmu." Ia memegang tangan Alan.
"Bolehkah aku meminta satu permintaan?" Alan menatap intens.
"Boleh, tapi jangan yang aneh-aneh ya?" Aya menatap penuh curiga.
Alan terkekeh lalu mengacak-acak rambut Aya. "Gak....aku cuma pengen saat acara pensi kamu datang dengan penampilan yang seperti ini."
Seperti ini yang dimaksud Alan adalah penampilan aslinya. Aya masih diam tampak berfikir.
"Aku mohon sayang.." ucapnya lembut sambil mengelus tangan Aya.
Setelah menggela nafasnya, "Iya.. baiklah."
Seulas senyum terbit di bibir Alan. Diciumnya tangan gadis yang sangat dicintainya itu.
"Ih...malu Al, ini kan tempat umum." Ucap Aya sambil menarik tangannya.
"Gak usah malu, aku kan cium tangan pacarku bukan pacar orang lain."
__ADS_1
"Awas ya, kalau sampai berani!" Ancam Aya. Yang malah membuat Alan tertawa.
***
Persiapan acara pensi sudah hampir selesai semua tanggung jawab Alan serahkan pada Romi sebagai wakilnya dan juga atas bantuan dari Asher dan Mita persiapan menjadi semakin matang. Akhirnya Mita juga diberi tahu rahasia penyamaran Aya dan Mita sama sekali tidak marah ia memahami apapun alasannya.
"Eh...kok ada gadis pembawa sial di sini?" Ucap salah seorang mahasiswi saat melihat Mita tengah membantu persiapan di panggung.
Mita melirik sekilas, matanya tampak terbelalak melihat seorang wanita yang sangat ia kenal.
"Hey kenapa kau ada di sini? Ini bukan kampusmu kan...jangan sampai karena keberadaanmu membuat acara di kampus yang tersohor ini jadi hancur. Kau kan pembawa sial." Ucap gadis itu.
"Bagaimana kabarmu Bella....lama kita tidak bertemu." Mita berusaha bersikap tenang walaupun sebenarnya ada rasa sakit yang kini menghunus jantungnya.
Gadis itu tersenyum remeh, "Tidak usah sok akrab ya! Dulu aku bersahabat denganmu karena aku sedang khilaf tapi sekarang aku sudah sadar."
"Ada apa sayang?" Seorang pria tinggi dengan wajah sedikit manis menghampiri gadis yang bernama Bella. Ia juga sedikit terkejut saat melihat Mita ada di situ, mata mereka bertemu ada sedikit rasa rindu yang terpancar dari mata lelaki itu tapi buru-buru ia berpaling ke arah Bella sang kekasih.
"Kamu masih ingat gadis pembawa sial ini kan Sayang.... untuk apa dia di sini, aku takut dia akan membuat acara di kampus kita jadi hancur."
Gadis itu adalah Bella sahabat sedari kecil Mita. Dari awal sekolah dasar sampai sekolah menengah pertama. Tapi saat menginjak SMA persahabatan itu berubah tatkala mereka menyukai pria yang sama. Dan saat pria itu lebih memilih Mita hubungan persahabatan mereka hancur.
Mita yang dulu ceria dan ramah berubah mulai saat kejadian itu menjadi sosok yang berbeda menjadi Mita yang pendiam, sedikit bicara dengan raut wajah datar. Itulah penyebab Mita enggan untuk menjalin hubungan pertemanan. Tapi sejak bertemu dengan Cika juga Aya membuatnya sedikit membuka pintu yang dulunya tertutup rapat. Entah kenapa ada rasa hangat saat berada di dekat mereka.
"Lama tidak bertemu, kelihatannya kau masih saja sendirian seperti dulu." Ujar Diego masih menelisik penampilan Mita, tak bisa di pungkiri mantan kekasihnya kini menjadi sosok yang mempesona, terlihat dewasa dan sangat cantik sekaligus manis walaupun dengan penampilan sederhananya.
"Tentu saja sayang, memangnya siapa yang mau dengannya teman saja tidak punya apalagi pacar." Desis Bella sambung tersenyum mengejek.
Mita hanya terdiam mendengar semua caci maki yang ia dapatkan hingga rengkuhan tangan seseorang membuatnya menoleh.
"Kenapa sayang, apakah mereka sudah mengganggumu?" Mita mengeryit menatap Asher.
"Apa kamu tidak mau sedikit membalas mereka?" Bisiknya di telinga Mita.
Mita beralih menatap Bella dan Diego yang sekarang tampak terkejut saat melihat sosok tampan yang terlihat keren tengah merangkul Mita. "Tidak sayang, mereka hanya menyapaku saja, sudah lama tidak bertemu."
Asher tersenyum miring, "Oh... sepertinya kalian teman lama, perkenalkan saya Mirza pacar Mita sekaligus sponsor utama acara ini."
__ADS_1
Mendengar hal itu Mita memutar bola matanya jengah. Seperti biasa Asher selalu menyombongkan diri.
"Be-benarkah Mita kalau pria ini pacarmu? Aku tahu dari dulu kamu tidak bisa berbohong."
Mita menatap datar wajah gadis yang dulunya adalah sahabat baiknya itu sedikit mendengus, tampak sekali raut wajah antara terkejut dan tidak percaya. Sedangkan Diego menatapnya dengan raut wajah yang sulit untuk dijelaskan.
"Iya benar, dia adalah pacarku...aku tidak berbohong, bukankah kau sangat mengenalku." Wajah Mita masih saja datar tak terbaca.
Bella hampir saja limbung, ia sangat tahu pria yang memperkenalkan dirinya sebagai pacar Mita itu. Karena Asher sering datang untuk mengisi seminar yang membahas tentang pengusaha muda yang sukses. Tampilannya yang cool dengan mobil sport mewahnya selalu mengundang decak kagum para mahasiswi, banyak diantara mereka yang ingin menjadi pacar pria cool itu, Bella tidak menyangka Mita bisa mempunyai hubungan khusus dengan pria idaman para mahasiswi di kampusnya itu.
"Ayo sayang kita pulang...besok kita akan kesini lagi." Asher mempererat pelukannya, bahkan ia sekarang mencium pipi Mita. Asher tidak akan menyia-nyiakan kesempatan langka ini.
Sebisa mungkin Mita tetap memasang wajah datarnya walaupun sebenarnya hantinya sedikit bergejolak mendapatkan perlakuan itu dari Asher. Awas saja setelah ini Mita akan membuat perhitungan pada pria sok cool itu.
Tak lama Romi dan Nando datang menghampiri mereka. Membicarakan persiapan yang kurang untuk besok. Dua orang tadi di buat terkejut untuk kesekian kalinya melihat keakraban Mita dengan senior yang terkenal di kampus mereka.
"Tunggu, aku ingin berpamitan dengan dua teman lamaku dulu."
Sebelum Mita mendekati Bella dan Diego. Asher berbisik,"ingat sekarang kamu tidak sendirian lagi." ada rasa hangat yang kini menyelimuti hati Mita, ia pun langsung mengaguk.
"Bella aku cuma ingin menyampaikan sesuatu padamu, dari dulu aku ingin mengatakan ini tapi belum ada kesempatan. Kalau dulu aku disuruh memilih antara persahabatan dan cinta, aku pasti akan memilih persahabatan. Bila sejak awal aku tahu kamu menyukai Diego aku akan rela mengalah tanpa kamu harus bersusah payah menyebar fitnah yang malah akan menambah dosamu."
Mita beralih menatap Diego. "Dan untukmu Diego, aku tahu kamu Lelaki berpendidikan aku tidak percaya kamu percaya dengan semua fitnah yang tidak mendasar itu. Jodoh dan Maut sudah digariskan oleh tuhan. Tidak ada yang mampu menghindarinya. Aku berdoa untuk kalian semoga selalu di berikan kebahagiaan." Mita berbalik dan berjalan menghampiri Asher yang setia menunggunya.
Setelah kepergian mereka Bella langsung terduduk, air matanya mengalir. Tampak pundaknya bergetar hebat diterjang rasa penyesalan. Memang benar, dulu ia tidak pernah bilang pada Mita kalau dia juga menyukai Diego. Bella selalu iri dengan Mita yang selalu menjadi pusat perhatian dari semua orang. Mita seorang gadis ramah, supel juga pintar selalu membuat semua orang kagum.
Sebenarnya selama ini ia selalu dilanda kegelisahan dan tidak pernah bisa hidup tenang. Ia selalu saja was-was takut Diego meninggalkan dirinya karena ia mengambil Diego dengan cara licik. Tapi apa yang terjadi, Mita bahkan sama sekali tidak membencinya dan malah mendoakan kebahagiaannya. Membuatnya menyadari sejahat apa dirinya.
Sedangkan lelaki yang ada di sampingnya kini menunduk dalam, ia juga dilanda penyesalan. Merasa dirinya sangatlah bodoh. Bagaimanapun ia menyesali perbuatannya ia tidak akan bisa mendapatkan gadis sebaik Mita lagi.
Sesampainya Mita di dalam mobil ia langsung memelintir pinggang Asher sekuat tenaga. Hingga korbannya itu minta ampun.
"Gila!...sakit banget Mit." Keluh Asher sambil terus mengelus pinggangnya, mungkin sekarang pinggang sudah membiru.
"Itu buat kamu yang sudah berani menciumku...dan ingat sandiwara kita sudah selesai!" Mita mengingatkan.
"Sandiwara? Kapan kita bersandiwara...itu tadi kenyataan."
__ADS_1
Bersambung.....
Maaf ya upnya agak siangan, Memang tergantung mood, karena banyak yang keberatan jadi insyaallah tidak jadi up 2 hari sekali...hehehe