Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Pacar Baru Ima


__ADS_3

"Maaf ya Shei sebelumnya, tapi loe itu bukan tipe cewek kakak gue banget." Aya berusaha menolak permintaan Sheila.


"Emang tipe ceweknya yang kayak gimana?" Tanya Sheila penasaran.


"Dia tu suka sama cewek yang mandiri, gak manja, sederhana dan yang pasti jago berantem." Aya menyebutkan semua yang ada di diri Ima, dan tentu itu sama sekali tidak ada dalam diri Sheila.


Sheila mengerutkan keningnya, "Bohong kamu! mana ada cowok yang tipe ceweknya kayak gitu, bilang aja kamu gak mau bantuin aku buat bisa jadi pacarnya Kak Mirza!" Sheila sedikit membentak, dirinya merasa kesal dengan Aya.


Tanpa mereka sadari ternyata sedari tadi ada sepasang mata elang yang memperhatikan percakapan mereka.


"Ehemm!" Suara deheman dari belakang membuat dua gadis itu menoleh.


Aya langsung menatapnya dengan jengah, sedangkan ulat bulu yang berdiri di sampingnya sudah menggeliat kegirangan. "Eh... Kak Mirza, apa kabar kak?" Itulah suara ulat bulu yang adalah Sheila, Dia menyenggol lengan Aya.


"Tadi aku dengar ada yang ingin jadi pacarku, siapa memangnya Sher?" Asher pura-pura bertanya pada Aya sambil melirik ke arah Sheila.


"Aku yang ingin jadi pacarmu kak? Pertama kali kita bertemu aku sudah jatuh cinta padamu." Ujar Sheila dengan pedenya.


"Bukannya kamu pacar temennya Asher ya?" Asher menaikkan satu alisnya.


"Hmm..aku sudah putus kak, dia tiba-tiba putusin aku dengan alasan yang tidak jelas, padahal aku sudah setia dan ...selalu menuruti ....semua kemauannya...hiks..hiks," Sheila langsung mengeluarkan air mata buayanya. Aya meras mual dengan sikap Sheila.


Terlihat seringai licik di bibir Asher dan tentu Aya melihat itu dengan jelas, "Apa yang dia rencanakan?" batin Aya.


Asher melangkah mendekati Sheila dan membisikkan sesuatu, hingga membuat Sheila menegang dan berkeringat dingin.


***


Aya tengah merebahkan diri di atas ranjangnya, senyumnya terukir sedari tadi, ia mengingat kejadian sore tadi di kampus.


"Asher maafin aku,...aku melakukan semua itu karena aku cemburu sama kamu, Alan lebih perhatian sama kamu, padahal sejak SMP aku sudah mengejar-ngejar dia tapi dia sama sekali tidak menghiraukanku,....Sekarang aku sudah sadar, ternyata menjadi pacarnya tidak seindah yang aku bayangkan...aku benar-benar minta maaf Sher...hiks...hiks..," Sheila bersimpuh di kaki Aya, sebenarnya Aya sangat enggan dan sedikit Kasian melihat Sheila.


Sekarang mereka tengah berada di gudang sesuai dengan permintaan Sheila sebelumnya karena Ia sangat malu apabila ada yang melihatnya sedang meninta maaf itu akan sangat merendahkan martabatnya.


Setelah melakukan permintaan maaf ia langsung menghampiri Asher dengan senyum yang mengembang, "Jadi sekarang kita sudah resmi jadian?"


Asher tersenyum licik, ternyata maksud di balik bisikannya adalah ini, "Tadi kan aku bilang syarat kamu bisa jadi pacarku, tapi.....aku tidak janji kalau aku mau jadi pacarmu." Asher tertawa menang sambil melipat tangannya di dada.


"Dasar pembohong, kalian benar-benar licik!" Sheila berteriak dengan Amarah yang membuncang, ia merasa di permainkan.


"Beraninya kau berteriak padaku!" Bentak Asher sambil mencengkram dagu Sheila.


"Dengarkan aku baik-baik, kalau sampai kau berani mengusik Asher lagi, video dan foto-foto ini bakal tersebar di internet!" Asher memperlihatkan video saat Sheila berlutut di kaki Aya dan foto Sheila menggandeng Om-om yang tersimpan di ponsel Asher. Tenggorokan Sheila seperti tercekat ia sampai rasanya sulit untuk menelan Salivanya. Awalnya Asher hanya ingin menggunakan foto-foto itu untuk mengancam Sheila agar tidak menggangu Aya lagi, tapi melihat niat Sheila ingin menjadikannya sebagai pacar, ia mempunyai ide untuk sedikit mempermainkan wanita licik itu.


Lamunan Aya buyar saat terdengar suara telfon dari ponsel. "Hallo ada apa ma?"


"AYA....GUE UDAH JADIAN SAMA DIA!" Teriak ima dari seberang telfon.


Reflek Aya langsung menjauhkan ponselnya, "iya aku udah denger, gak usah teriak-teriak gitu, bisa jebol gendang telingaku." Aya menggerutu sambil mengusap-usap telinganya yang berdengung.

__ADS_1


"Cepet banget kamu jadian sama dia, perasaan baru tiga kali kalian bertemu, jangan-jangan dia cuma main-main sama kamu?" Sahut Aya lagi.


"Gak mungkin dia kayak gitu Ay, dia itu orangnya baik, lembut, perhatian, ganteng lagi, pokonya paket lengkap deh." Ujar ima dengan suara yang menggebu-gebu, terdengar suara ima yang begitu bahagia.


"Iya... iya, yang belain pacar barunya, tapi aku sih masih belum yakin kalau dia benar-benar tulus sama kamu, coba kamu tanya sama dia apa yang buat dia jatuh cinta sama kamu?" Aya beranjak duduk kemudian menopang dagunya.


"Aku udah tanyain kok Ay."


"Terus dia jawab apa?"


"Katanya dia suka sama nama aku, nama aku itu mengingatnya pada moments paling bahagia buat dia."


"Tu...kan, mana ada orang jatuh cinta gara-gara suka sama namanya, yang ada tu karena hatinya, wajahnya, perhatiannya gitu." Aya berusaha menasehati.


"Kayak kamu pernah jatuh cinta aja."


"Memang pernah sampai saat inipun aku masih mencintainya" batin Aya. "Tanya aja sama Mbah Google kalau gak percaya." kata itulah yang malah keluar dari mulut Aya.


"Iya ....percaya, tapi biarinlah Ay suka-suka dia, yang penting aku cinta sama dia." Ujar ima dengan berbunga-bunga.


"Ma.....jangan mencintainya terlalu dalam, aku takut kamu nanti sakit hati jika benar dia hanya mainin kamu." Tidak tau kenapa Aya meras khawatir dengan ima.


"Gak mungkin Ay, kata Nisa.... kakaknya itu gak pernah mainin cewek, dia orangnya setia, bahkan baru dua kali dia berpacaran dan akulah pacar ke duanya."


Aya menghela nafasnya dengan berat, entah kenapa firasatnya tidak baik. "Kenapa sih ma kamu buru-buru banget nerima dia, kan bisa kalian saling mengenal lebih dulu, baru berkomitmen."


"Kamu kok gak percaya sama pilihanku, ya sudah bagaimanan kalau weekend aku kenalin dia sama kamu, biar kamu sendiri yang menilainya."


"Oke kalau begitu." Jawab ima mantab.


Selepas ima menutup telfon Aya tidak langsung bisa tidur, ia jadi teringat saudara kembarnya. "Kasian sekali kamu Sher." Gumamnya.


***


Weekend tiba, Hari yang ditunggu-tunggu oleh ima, ia ingin membuktikan kalau lelaki pilihannya tidak salah.


"Aya, ini benar tempat kost temanmu?" Tanya seorang laki-laki saat memberhentikan mobilnya.


"Iya sayang, ini tempat kost temen aku, sebentar aku telfon dia dulu." Ujarnya membuka pintu mobil kemudian menghubungi seseorang lewat ponselnya.


Lelaki itu ikut turun bersama Ima, ia mengedarkan pandangannya melihat keadaan sekitar kost. Sesekali ia mendongak ke atas ingin melihat penghuni yang ada di lantai atas.


Ima merasakan tepukan di pundaknya langsung menoleh, "Aduh.... Ay, kamu ngagetin aku aja!" Ujar ima saat tiba-tiba Aya sudah ada di belakangnya. Aya mengerutkan keningnya saat melihat punggung seorang laki-laki yang membelakangi kemudian ia memajukan dagunya, seolah bertanya itu pacarmu? Dan ima langsung mengganguk.


"Sayang sini!....,kenalin teman baikku." Teriak ima. Dan saat laki-laki itu berbalik.


Aya langsung membelalakkan matanya, jantungnya terasa berhenti berdetak, badannya pun seperti mati rasa. Ia bagaikan mayat hidup tapi masih bisa bernafas.


"Kenalin Ay ini pacar aku ALAN." Kemudian lelaki itu mengulurkan tangannya. Tapi Aya tak kunjung meraihnya, hingga ima menyenggol bahunya.

__ADS_1


"Eh....iya maaf, a..aku Raisha temanya...Aya" ujarnya terbata-bata, entah kenapa lidahnya teras kaku, mendengar itu Ima menaikkan sudut bibirnya.


"Benerkan yang aku bilang kalau dia ganteng banget, buktinya kamu sampai gagap gitu," bisik ima sambil tertawa kecil.


Aya langsung menarik tangan Ima sedikit menjauh dari tempat Alan berdiri. "Ma, kamu belum cerita kan sama dia, masalah kita soal pertukaran identitas?"


"Belum Ay, rencananya sih baru akan aku kasih tau."


"Please jangan!"


"Kenapa?"ima merasa aneh dengan tingkah Aya yang seperti was-was.


Aya menghembuskan nafas perlahan, "Aku kenal sama dia, kita itu satu universitas."


"Bagus dong, jadi kamu bisa ngawasin dia buat aku."


"Bukan gitu,pokoknya kamu jangan pernah ungkit-ungkit soal Asher di depan dia dan panggil aku Raisha..ok?" Dan ima langsung mengangguk. Ketika mereka hendak menghampiri Alan, tiba-tiba terdengar suara teriakan.


"Aduh!" Teriak Alan.


Ima Langsung berlari menghampiri Alan "Kamu kenapa?" Tanyanya khawatir, ia melihat kaos Alan kotor terkena cipratan lumpur. Semalam memang turun hujan jadi bisa dipastikan kalau banyak genangan air.


Alan terkena cipratan air kotor saat sebuah motor melitas di depannya.


Aya yang melihat itu langsung merasa kasian, "Biar aku ambilkan kaos, untuk mengganti kaosmu yang kotor, kamu bisa membersihkan wajahmu di wastafel itu," Aya menunjuk wastafel yang ada di rumah ibu kostnya. Alan mengerutkan keningnya sekan bertanya kenapa tidak membersihkannya di kamar mandi kenapa harus di wastafel?


"Maaf karena ibu kost tidak ada di rumah, sedangkan kamar mandinya cuma ada di dalam, kamu juga tidak di perbolehkan untuk naik ke lantai atas." Penjelasan Aya langsung menjawab pertanyaan yang ada di kepala Alan.


Saat hendak melangkah pergi tangannya di tarik ima, "Memangnya kamu punya kaos se ukuran badan Alan?"


"Apa kamu lupa?" Jawab Aya.


Sontak ima langsung menepuk jidatnya, ia lupa kalau Aya di sana menyamar sebagai laki-laki tentunya mempunyai banyak kaos dan baju laki-laki, berbeda seratus delapan puluh derajat saat Aya tinggal di Jakarta yang kesemua bajunya adalah gaun dan dress mahal.


Aya membuka-buka kaos yang ada di almarinya mencari kaos yang sekiranya belum pernah ia pakai atau yang jarang Ia pakai, semua kaos dan pakaian itu ternyata adalah milik saudara kembarnya Asher, jadi tak heran jika semuanya adalah barang-barang branded, tiba-tiba Aya tertawa sendiri, membayangkan bagaimana kalau sampai Asher tau sebagian pakaiannya ia berikan kepada seseorang contohnya Jaket, topi dan sekarang kaosnya juga ia berikan pada Alan.


Saat ia turun ia tidak mendapati Ima di bawah sana, saat ia mengedarkan pandangannya m


terlihat punggung Alan, ia sedang membersihkan wajahnya yang juga terkena lumpur.


"Ini kaosnya." Aya menyerahkan kaos pada Alan dan langsung diterimanya. "Ima mana?"


"Tadi katanya beli minuman." jawab Alan singkat sambil melepaskan kaosnya, posisi Alan saat itu masih memunggungi Aya.


"Toko kan jauh dari sini, kalau dia nyasar bagaimana?" gumam Aya pelan, saat ia menoleh matanya tidak sengaja menangkap bekas luka di punggung Alan, entah kenapa perasaanya tidak enak, tapi ia harus memastikannya sendiri.


Bersambung.....


Maaf ya kemarin gak up, belum kelar nulis tapi matanya udah gak bisa dikondisikan ngantuk berat, jadi sebagai gantinya hari ini up dua... jangan lupa like dan koment, vote juga boleeehhh.. macacihhhhh..

__ADS_1


(aku kasih visualnya ima yaaa....)



__ADS_2