Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Truth or Dare?


__ADS_3

Alan hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat Aya yang lari terbirit-birit.


Saat dikiranya sudah jauh dari ruangan kesehatan Aya berhenti untuk mengatur nafasnya yang ngos-ngosan, "Rasain.... moment Romantisnya aku rusak! salah sendiri arem-aremku dia embat habis.. hahahaha." Aya tertawa puas.


"Aw....aw.... sakit!" Aya merasa ada yang sedang menarik telinganya dari belakang, saat dia menengok Alan sudah berdiri di belakangnya terseyum dan menaikkan kedua alisnya, "Mau kemana?"


Belum sempat Aya jawab, Alan menarik telinga Aya untuk mengikutinya.


"Ngapain kesini lagi?!" Tanya Aya saat sudah ada di ruangan kesehatan masih meringis menahan telinganya yang di jewer Alan.


Lila kaget melihat perlakuan Alan pada Aya. "Al, lepasin kasian dia!"


Alan terkejut mendengar perkataan Lila tapi ia abaikan karena ia masih kesal dengan Aya. "Aw... sakit, bisa putus telinga gue.. dasar manusia salju tidak punya perasaan!" Teriak Aya sambil meringis.


"Kau panggil aku apa?" Sahut Aya.


"Kenapa? emang pantas loe gue panggil manusia salju!"


"Dasar kumis lele Beraninya kau!" Alan yang tidak terima menjadi lebih kuat menarik telinga Aya.


Aya yang tidak mau kalah, langsung ikut menarik telinga Alan, terjadilah tarik menarik telinga di antara keduanya.


"Stoooop!!" Teriak Lila, Alan dan Aya langsung menghentikan perkelahian mereka. "Kalau kalian masih mau berkelahi keluar dari ruanganku!"


Kini Alan dan Aya duduk diam dengan menundukkan kepalanya mirip seperti anak yang sedang dihukum ibunya.


"Kamu tadi mau bilang apa Al?" Tanya Lila.


Aya langsung mendongak menatap Lila dan Alan bergantian, "maaf sebelumnya, boleh gue keluar dulu, gue gak mau ganggu suasana romantis kalian untuk yang kedua kalinya."


Alan yang mendengar ucapan Aya malah tertawa sinis, "kamu harus tetap disini,dengar sampe selesai!.... karena ini juga ada hubungannya denganmu!"


"Al... beneran gue gak ada hubungan apa-apa sama Kak Lila, dia udah gue anggap sebagai kakak gue, beneran gue gak bohong, tanya aja sama___" Alan langsung membekap mulut Aya.


"Cerewet banget nie anak kayak perempuan!" Bentak Alan, sontak Aya dan Lila terbelalak kaget.


"Jadi gini La, minggu depan rencananya akan diadakan kegiatan MAPALA, kamu mau kan ikut soalnya kita butuh tenaga kesehatan?" Ujar Alan masih sambil membekap mulut Aya.


Lila tidak terlalu mendengarkan Alan, ia lebih khawatir dengan Aya. "Al, udah lepasin tu, nanti gak bisa nafas!" Tunjuk Lila.


Aya yang berusaha melepaskan mulutnya dari bekapan Alan dan Akhirnya berhasil, "gila ....loe mau bunuh gue?" Sahutnya dengan nafas yang ngos-ngosan. Alan hanya melirik sekilas.


"Di mana kegiatannya?" Tanya Lila.


"Di hutan dekat wisata kalibiru."jawab Alan.


"Oh, jadi yang mau loe omongin itu soal ini?" Tanya Alan,dan hanya dijawab tatapan tajam Alan.


"Ikut aja Kak, dengar-dengar di sana tu bagus pemandangannya cocok lah buat pasangan yang sedang kasmaran." Goda Aya dengan menaikkan kedua alisnya.


"Kamu juga ikutan? "Tanya Lila pada Aya.


"Gak!" "Ya!",jawab Aya dan Alan bersamaan. Mereka langsung saling menatap.


"Siapa yang bilang mau ikut?, Gaaak! Gue gak mau ikut!" Ujar Aya dengan mantap.

__ADS_1


"Kamu harus ikut! sekarang kamu udah jadi anak buah Ku!" Kekeh Alan.


"Kalau begitu gue keluar!"


"Gak bisa! Yang berhak ngeluarin kamu cuma aku!" Teriak Alan.


"Tapi gue gak bisa masuk hutan,gue takut!....gue takut!" Aya sedikit histeris memegang kepalanya sambil memejamkan matanya, tangannya terus bergetar.


Lila yang sedari tadi mendengarkan mulai menyadari sesuatu, ia menyuruh Alan diam, Alanpun menurutinya ia juga tampak terkejut dengan reaksi Aya, Lila mencoba menenangkan Aya hingga tremor di tangannya mereda. "Ceritakan padaku, kejadian apa yang membuatmu takut masuk hutan?" Tanya Lila.


Aya akhinya menceritakan kalau dulu saat ia kecil sempat tersesat di hutan dan jatuh kejurang, dan saat malam baru ia ditemukan oleh warga.Lila menyimpulkan kalau Aya mengalami trauma.


Alan yang ikut mendengarkan hanya bisa menghela nafas, "aku bakal bantuin kamu!" Ucapan Alan sontak membuat Aya dan Lila kaget.


"Dulu aku juga pernah trauma pada sesuatu hingga rasanya hidupku sangat sulit, akhinya aku berusaha menghadapinya dan sekarang kamu lihat sendiri, aku tidak takut pada apapun." Jelas Alan sedikit sombong.


"Truama itu harus di hadapi bukan dihindari! Mungkin badan kamu disini tapi setengah jiwamu terperangkap di dalam hutan!" Sambung Alan lagi.


"Kamu yakin Al mau bantuin dia?" Tanya Lila, dan dijawab anggukkan kepala.


"Tapi kamu harus selalu mendampinginya saat di sana Al? Apa kamu siap?" Lila memastikan.


"Aku siap!"


"Oke, aku juga bakal bantuin kamu Sher!" Ujar Lila menatap Aya sambil tersenyum.


Aya yang mendengar ucapan dua orang di hadapannya hanya bisa menatap mereka, matanya sudah muncul berkaca-kaca.Saat ditanya Alan lagi apakah dia mau ikut, ia menganggukkan kepala.


***


Malam itu Aya sedang mengendarai motor menuju sebuah Cafe, rencananya malam itu akan diadakan pesta kecil-kecilan untuk menyambut anggota baru yaitu Aya.


"Ngapain tu si nenek sihir kemari?" Batinnya.


"Hey Bro...ini dia pemeran utamanya udah dateng," sambut Nando dan langsung menyalami Aya dengan salam tos ala cowok.


"Kok cafenya sepi?" Tanya Aya, setelah mengedarkan pandangan ke seluruh cafe yang sepi, hanya ada mereka dan para pegawai cafe.


"Sengaja malam ini aku tutup, khusus buat acara kita!" Jawab Nando, menuntun teman-temannya kemeja.


"Ini cafe loe Nan?...Wiiihhh keren!" Sahut Aya kagum.


"Yo'i" Nando menanggapi.


"Sayangnya jauh banget Nan? Gue sejam baru Sampek sini!" Aya masih terasa lelah naik motor sejauh itu.


Saat hendak duduk, Aya dengan cepat menyerobot tempat yang mau di duduki Sheila dan membuat Sheila mendengus kesal karena tidak bisa dekat dengan Alan. Mereka duduk melingkari meja bundar, dengan posisi Lila yang duduk di samping Alan lalu Aya,Nando,Romi kemudian Sheila.


"Emang rumahmu di mana Sher?" Tanya Nando yang sudah duduk.


"Deket perumahan Melati putih!"


"Deket dong sama rumahnya Alan!" Romi menimpali.


"Emang rumah loe di mana Al?" Tanya Aya menoleh pada Alan yang asik dengan handphonenya.

__ADS_1


"Perumahan Melati putih! Kamu tinggal di jalan apa?" Alan menghentikan kegiatannya lalu menatap Aya. Aya sedikit kelabakan langsung membuang mukanya.


"Oh...iya, Citra dan Amanda belum dateng ya?" Tanya Aya mengalihkan pembicaraan.


"Kamu ngundang mereka?" Tanya Nando sedikit terkejut.


"Yo'i...boleh kan?" Aya memastikan.


"Ya,boleh lah!" Nando sedikit kelabakan, karena grogi.


Aya yang melihat tingkah Nando jadi paham, kalau teman barunya itu menyukai salah satu dari teman ceweknya. Aya memang sangat peka akan perasaan seseorang, tapi kelemahannya ia kurang peka dengan perasaannya sendiri.


Tidak begitu lama akhirnya Citra dan Amanda sampai. Romi yang melihat itu langsung menyenggol Romi menyuruhnya pindah. "Duduk sini Cit!" Romi menepuk bangku di sebelahnya.


Aya yang melihat itu, langsung paham. Setelah mereka berkumpul merekapun memesan makanan, dan sesekali mengobrol.


Romi datang dengan membawa toples yang berisi gulungan kertas kecil dan botol kaca. "Yuk kita main game!" Ucapnya setelah meletakkan botol di tengah meja.


"Game apa Nan?" Tanya Aya penasaran.


"Game Truth or Dare, jadi nanti botol ini diputar saat kepala botol berhenti orang yang ditunjuk harus memilih jawab pertanyaan salah satu dari kita dengan jujur atau tantangan yang ada dikertas ini," tunjuk Romi pada toples.


Saat botol di putar, botol berhenti di Romi, Romi memilih Truth. Dan yang mengajukan pertanyaan adalah Aya, "Hal menyedihkan Yang pernah Kak Romi alami?"


"Sebentar....kok kamu manggil aku kakak? Sama Alan dan Nando gak?" Tanya Nando heran.


"Gimana ya kak, gue gak enak aja manggil nama langsung sama kak Nando, mukanya tu bikin segan, kelihatannya tuh umur kaka gak pantes dipanggil nama langsung!" Jelas aya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Seketika tawa Nando pecah, "hahaha....wah dibilang tua tu Rom, gak salah dia Rom, mukamu memang tidak bisa berbohong." Nando menanggapi akhinya ia menceritakan kalau Romi memang sempat break kuliah dua tahun, yang artinya umurnya memang jauh di atas Aya.


"Ya berarti bukan salah gue Kak.... gimana? kok pertanyaan Truth nya belum dijawab?." Tagih Aya.


Romi hanya bisa menghela nafas, "hal menyedihkan ya?...,...putus sama Yuli." Jawab Romi cepat.


Seketika, semuanya matanya terbelalak tak percaya kecuali Aya yang tidak tau kisah cinta mereka dan keheningan pun terjadi.


"Kayak Judul film lawas Romi dan Juli..,kalo sekarang judulnya ganti Romi putus cinta." Ujar Aya polos yang membuat wajah Romi yang tadinya sendu jadi tersenyum dan tertawa kecil.


Semu orang pun, jadi tertawa mendengar jawaban polos Aya. Botolpun di putar dan akhirnya berhenti di depan Sheila.


"Aku pilih truth!" Sheila langsung menatap Alan. "Kamu mau tanya Apa Al sama aku, kalau kamu mau tanya apakah aku mau jadi pacarmu, aku akan menjawabnya jujur...ya aku mau!" Sahut Sheila manja.


"Nie orang sepertinya urat malunya sudah putus!" Batin Aya, "Aku yang mau tanya!" Aya langsung mengangkat tangannya. Semua orang pun menyetujuinya, semunya setuju karena menurut mereka pertanyaan Aya selalu membuat kejutan. "Hal memalukan apa yang terakhir kali loe alami?" Tanya Aya.


"Aku pernah dipermalukan sama seorang Cewek, dia nabrak mobilku yang mahal dengan motor jeleknya tak kusangka dia mampu membayar biaya perbaikannya dengan cepat, dan dengan gampangnya dia bilang dia punya banyak mobil seperti itu di garasinya dan kalau dia bosan dia mau memberikannya untuk ku." Sheila menjelaskan dengan sedikit kesal.


"Salah kamu udah bersikap sombong!" Sahut Alan tiba-tiba. Semua orang menatap Alan.


"Kok kamu tau Al?" Tanya Romi.


"Kan aku yang nyetir mobilnya saat itu, dan kau tau Rom siap cewek itu?" Tanya Alan memberikan jeda. "Cewek bertopi."


"Wah udah empat kali berarti kamu ketemu dia, sepertinya kalian berjodoh," Romi menanggapi.


"Uhuk....uhuk.!" Aya yang tengah minum tiba-tiba tersedak. Lila langsung menatap Aya, sepertinya ia sangat paham. Nando yang sedari tadi menyimak jadi ikutan kepo dengan cerita cewek bertopi itu, tapi ia urungkan karena botol kembali di putar. Dan berhenti di depan Aya, ia menelan Salivanya dengan susah payah karena takut dengan pertanyaan yang akan di lontarkan salah satu temannya akhir ia memiliki Dare.

__ADS_1


Bersambung....


Terimakasih sudah mampir jangan lupa tinggalkan like dan komen


__ADS_2