Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Putra Mahkota Kampus


__ADS_3

Setelah berlalu meninggalkan Alan, Aya langsung duduk di kursinya dengan wajah yang cemberut. Menghela nafas kasar sambil meletakkan gelas kosongnya di meja.


"Kamu ngambil gelas kosong doang Ra? Gak jadi ambil minum?" Cika menatap gelas kosong yang baru saja di letakkan Aya.


"Ada apa Ra?" Tanya Mita.


"Aku baru aja ketemu Malaikat Maut."


"APA?!" Sahut Mita dan Cika bersamaan, mereka berdua langsung berdiri menatap sekeliling dengan ekspresi wajah antara terkejut dan takut.


"Yang benar Ra?....dosa aku masih banyak ini loh, aku belum sempat tobat ini bagaimana?" Tanya Cika panik.


"Jangan bercanda Ra, gak lucu!" Mita berusaha tidak percaya.


Rasa kesal Aya langsung sirna tatkala melihat ekspresi kedua temannya yang menurutnya sangat lucu.


"Hahaha.... maaf-maaf cuma bercanda." Aya mencoba meredam tawanya.


"Aku tadi baru aja nabrak orang Alhasil minuman kamu tumpah Cik, tapi yang bikin aku BT itu omongan cowok yang aku tabrak itu ngeselin banget."


"Yang mana cowoknya Ra?" Tanya Cika penasaran sambil mengedarkannya pandangan.


"Udah pergi! Kamu juga pernah ketemu."


"Kapan?"


"Tadi siang, Cowok yang di ATM itu."


Belum sempat Cika menanggapi Tiba-tiba datang seorang pemuda entah dari mana menghampiri meja Aya. "Hay cantik, boleh kenalan gak?" Dengan kurang ajarnya Pemuda itu hendak mencolek dagu Aya. Reflek tangan Aya menarik kemudian memelintir tangan pemuda itu ke belakang hingga kesakitan.


"Aww....sakit, Lepas!" Pemuda itu berteriak sambil meringis kesakitan.


Aya langsung mendorong pemuda itu dengan kasar dan melepaskanya. "Pergi sana! Dasar bocah. Berani kurang ajar lagi, gue patahin tu tangan!" Sentak Aya. Sedikit keributan itu mengundang perhatian orang-orang di sekitar tapi tidak bertahan lama karena perlahan orang-orang di sana melanjutkan aktivitasnya lagi.


"Hebat kamu Ra, belajar dari mana?" Tanya Mita penasaran.


"Iya bener...keren banget kamu tadi. Itu bocah kurang ajar sampai lari ketakutan. Memang nyebelin banget, masih bocah aja udah berlagak kayak fukboy. Gimana udah gedenya." Cika ikut bersuara.


"Hehehe,...cuma reflek." Aya beralasan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


***


Di tempat yang sama tidak jauh dari tempat Aya.


"Kenapa baju Lo Al? Habis main air dari mana?"


"Ini ulah cewek yang di ATM kemaren," jawab Alan setelah duduk di kursi depan Romi.


"Cewek yang pakai topi itu? Mana ceweknya?" Romi langsung mengedarkan pandangan mencari sosok yang dimaksud Alan. Senyumnya mengembang tatkala dia berhasil menemukannya. Tapi tiba-tiba ekspresinya berubah. Dan itu membuat Alan jadi ikutan menoleh.


Mereka bisa melihat ada pemuda yang mencoba mengganggu Aya dan teman-temannya. Entah kenapa Alan reflek langsung berdiri hendak menghampiri mereka. Tapi ia urungkan ketika melihat Aya berhasil melumpuhkan dan mengusir pemuda itu.


"Wah hebat tu cewek, dari caranya melawan tadi, gue yakin pasti do'i jago bela diri!" Romi menatap penuh kagum.


"Gue jadi ragu buat ngedeketin dia, bisa bonyok duluan gue!"


Alan terkekeh, entah kenapa dia merasa senang, apakah dia tertarik dengan cewek itu? Tapi Buru-buru Alan menggelengkan kepala dan melanjutkan makan yang sempat tertunda.


Alan segera merebahkan diri di ranjang setelah sampai di rumah, jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam, setelah selesai berganti pakaian ia mencoba memejamkan mata, tapi entah kenapa Alan merasa sulit tidur, tiap ia memejamkan mata yang terbayang adalah punggung putih bersih cewek yang ia lihat tadi pagi.

__ADS_1


"Sialan! ini semua gara-gara Romi!" Umpat Alan langsung masuk ke kamar mandi menenangkan sesuatu yang mengusik pikirannya, ia berharap setelah mengguyur kepalanya dengan air dingin bisa membuat pikiran jadi tenang dan tidak membayangkan hal-hal yang sempat meracuni pikirannya. Saat mengeringkan rambut menggunakan handuk matanya menangkap benda yang tadi siang ia hancurkan, Alan tersenyum tipis saat ingat betapa menyedihkannya wajah sahabatnya itu. Jadi Ia bermaksud mencoba memperbaikinya, dan seperti dugaannya kerusakannya memang tidak terlalu parah. Buktinya hanya beberapa menit Alan berhasil memperbaikinya.


Untuk mengetes apakah teropong Romi berfungsi dengan baik Alan keluar menuju balkon tampak dari dalam teropong rof top bagunan tinggi yang tadi pagi ia lihat, suasananya tampak berbeda dari pagi tadi, sekarang terpasang banyak lampu Tumbler menghiasi roftop bangunan itu, menjadikannya tampak indah di pandang apalagi saat malam hari.


"Kapan benda itu dipasang?" Gumam Alan.


***


Pagi ini Aya tampak sudah rapi memakai celana jeans longgar, jaket Hoodie, ransel juga sudah melekat di punggungnya tak ketinggalan topi Hitam. Hari ini Aya sudah mulai kuliah.


Sambil menunggu ojek online pesanannya, Aya lebih dulu masuk ke sebuah rumah kosong tak berpenghuni, setelah memastikan tidak ada orang di sana, Aya langsung memakai atribut penyamarannya, syukurlah sebelum berangkat tadi ia sudah membebat dadanya agar terlihat rata, tinggal memasang rambut palsu dan tak lupa kumis agar tampilannya makin meyakinkan.


"Perfect!"


Aya memandang pantulan wajahnya di cermin yang kebetulan ada di sana.


"Ternyata ganteng juga gue." gumamnya sambil terkekeh.


Dan sekarang sampailah Aya di depan gerbang kampus bertuliskan "Universitas Atmajaya" .


"Selamat datang kehidupan baru." Batinnya.


***


Disisi lain kampus


Tampak tiga pria berjalan di lorong kampus dengan kerennya bila di buat slow motion mungkin mirip seperti adegan di drama Korea goblin saat Kim Shin dan malaikat maut menyelamatkan Ji Eun Tak. Itulah Alan dan genknya. Tatapan kagum dari para mahasiswi kampus disertai pekikkan juga teriakan pujian tentang betapa sempurnanya salah satu ciptaan tuhan yang baru saja melewati mereka sudah menjadi hal biasa untuk Alan dan kedua temannya. Jadi sudah dipastikan setenar apa mereka.


"Jalannya jangan cepet-cepet ngapa Al?"" sahut Nando.


"Ngapa Lo Do?" Tanya Romi


"Gue mau ngecengin adek tinggat dulu bro, siapa tahu para dedek-dedek gemes ada yang kecantol pesona gue." Jawab Nando sambil mengerlingkan matanya ke para mahasiswi.


"Eh, gimana kalau kita nambah anggota satu lagi bro?"


"Kenapa, bukannya dari dulu kita bertiga fine-fine aja." Romi menimpali usulan Nando.


"Not fine, akhir-akhir ini gue itu ngerasa jadi anak tiri, Lo berdua kalau udah asik sendiri pasti gue dilupain. Setidaknya kalau nambah satu kan gue ada temennya."


"Bulshit!...bilang aja Lo mau cari temen buat partner ngecengin cewek-cewek kan?"


"Wah.... Lo tu kalau nuduh suka bener, heran gue."


"Otak Lo tu udah ketebak, pasti isinya gak jauh dari urusan cewek."


"Kayak Lo gak aja!"


"Gue mah beda, standar cewek gue itu tinggi___"


"Kalian bisa diam gak!" Potong Alan yang sudah berhenti sambil menatap tajam ke arah dua tersangka di belakangnya.


"Maafkan hamba putra mahkota," sahut Nando lebay sambil meletakkan satu tangannya di dada membungkuk. "Saya minta kemurahan hati Putra Mahkota kampus kita agar hamba tidak di penggal ."


Sontak Alan dan Romi mengeplak kepala Nando bersamaan.


"Lebay Lo!" Sahut Romi. Nando meringis kesakitan, disusul tawa Romi dan jangan tanya ekspresinya Alan yang tetap datar.


Alan, biasa dipanggil Al, pemuda tampan berumur 21 tahun, berkulit putih, hidung mancung dan rahang yang tegas. Seluruh kampus memberi julukan padanya "Putra Mahkota Kampus" bukan tanpa alasan karena tampangnya belum ada yang menandingi juga kecerdasannya dalam berbagai bidang, banyak prestasi yang ia raih di bidang akademik dan seni musik, tatapan matanya tajam membuat lawannya terintimidasi. Alan tak keberatan dengan julukan itu atau lebih tepatnya tidak peduli. Alan Lahir dari pasangan Suhendra dan Anita. Kedua orang tuanya sudah bercerai mungkin itu salah satu penyebab Alan tumbuh menjadi pria yang dingin, tertutup dan sulit didekati.

__ADS_1


Entah kenapa Tiba-tiba Alan menghentikan langkahnya dan menoleh.


"Siapa cowok yang kumis aneh itu?" Tunjuk Alan dengan dagunya.


"Sepertinya anak baru!" Romi menanggapi.


"Wah.... bibit-bibit Fuckboy baru," sahut Nando.


Di sana Aya mendekati beberapa mahasiswi bermaksud untuk bertanya dan mencoba mencari teman maupun kenalan karena jujur Aya merasa asing di kampus barunya, karena dasarnya Aya ramah jadi mudah baginya mencari teman. Tanpa ia sadari dengan tampilan barunya sebagai cowok dan sifat sok akrabnya pada beberapa mahasiswi mengundang kesalah fahaman bagi beberapa orang. Karena wajahnya yang lumayan tampan dan manis dengan kumis tipisnya membuat para cewek tentu tertarik. Aya lebih memilih teman cewek tentu karena ia kurang nyaman bila berteman dengan cowok, jujur ia belum pernah dekat dengan lawan jenis kecuali dengan keluarganya sendiri.


"Hay... boleh gabung gak?" Tanya Aya dengan suara bassnya.


"Oh..Bo..Boleh...." jawab salam satu mahasiswi sedikit kikuk.


"Kenalin.... nama gue Asher Mirza, panggil aja Asher," sahut Asher KW yang tidak lain adalah Aya Sembari mengulurkan tangannya.


"Nama yang bagus...aku Citra," jawab mahasiswi yang bernama Citra yang langsung menjabat tangan Aya.


"Amanda," sahut cewek yang satunya lagi.


***


"Hay Al..."Seorang gadis menyapa Alan dengan manja, mendekat dan langsung merangkul lengan Alan.


Alan langsung menarik tangannya, "Sorry gue buru-buru." Dan langsung beranjak pergi meninggalkan gadis yang masih berdiri dengan wajah cemberut.


"Yang sabar Sheila... Kita pergi rapat dulu ya?" Romi menepuk pundak Gadis yang bernama Sheila itu.


Ya, itulah Sheila gadis yang sejak SMP selalu mengejar-ngejar Alan, yang tidak pernah menyerah, bisa dibilang dengan tidak tau malunya selalu menempel seperti perangko pada Alan.


Siang itu Alan dan gengnya menghadiri rapat guna membahas rencana ospek untuk mahasiswa baru, Alan yang merupakan presiden BEM tentu harus ikut andil, dan seperti biasa otak cerdasnya selalu memberikan ide-ide cemerlang. Selepas rapat Alan dan teman-temannya duduk di kantin.


"Al, gimana kalau kita kerjain si anak baru itu?" Usul Nando.


"Anak yang mana Do?" tanya Romi penasaran.


"Yang kumisnya aneh itu, .... gimana menurut Lo?"


"Terserah kalian!"


"Terserah artinya iya," Nando langsung tersenyum menyeringai, "gue punya rencana bagusss."


Romi langsung mendekatkan telinganya ke Nando minta penjelasan tentang rencananya.


Alan dan gengnya, selain menjadi idola karena ketampanan mereka juga karena sifat kepedulian mereka yang kerap melindungi para mahasiswi dari ganguan mahasiswa hidung belang dan para playboy di kampus. Tentu bukan dengan kekerasan tapi dengan ide-ide brilian mereka. Hingga mampu membuat mereka jera.


"Lihat tu kelakuannya! Udah langsung aje gandeng dua cewek! Emang bener-bener perlu dikasih pelajaran tu anak!" Nando menatap Aya yang baru masuk ke dalam kantin dengan menggandeng Citra dan Amanda.


"Wah....kalah Lo Al sama cowok kumis aneh itu, sekali masuk kampus langsung dapet dua cewek, gak bisa dibiarin sih ini." Romi menanggapi.


Alan langsung melirik Romi dengan tajam


"Eh.... sorry gue cuma becanda," Romi langsung meralat takut Alan murka.


Alan menoleh memandang Aya dari kejauhan dengan tatapan tajam bak seekor elang yang akan memangsa.


Bersambung.....


**Terimakasih yang sudah mau membaca cerita pertama ku, hendaknya meninggalkan sedikit like dan komen biar aku tambah semangat belajar menulis. Mungkin ada yang mau kasih kritik dan saran

__ADS_1



ini Visual Alan si Putra Mahkota Kampus


__ADS_2