
Kini Alea sudah berada di rumah Sarila, tepatnya di kamar milik Alena. Sejak masuk Alea sudah memperhatikan setiap inci bangunan rumah tersebut yang amat kecil, sempit dan sederhana jika dibandingkan dengan tempat tinggalnya di pusat kota. Alea yang tadinya duduk di tepi ranjang kini beranjak menuju meja belajar. Alea duduk sambil menatap sebuah bingkai foto yang menampilkan seseorang yang mirip dengannya.
"Aku senang karena harapanku hingga saat ini terwujud. Kau masih hidup dan kembali... Walau kita harus berpisah lagi untuk sesaat, karena aku harus mengetahui bagaimana kehidupanmu selama ini. Menjalani hidup sebagai seorang Alena itu tidak masalah bagiku, walau seberat apapun hidupmu..." Ucap Alea lirih.
"Aku lebih dulu menghirup udara walau kita lahir di jam yang sama.., kau tidak perlu mengkwatirkan aku di sini..," Alea tertawa kecil mengutarakan kalimat pamungkas yang bisa membuat Alena terdiam kala mereka berdebat waktu kecil dulu.
"Aku pasti bisa menjalani hidupmu dan aku berjanji akan membalas orang- orang yang telah menyakitimu..," Air mata mengalir di pipi Alea kala mengingat bagaimana tubuh putih Adiknya di penuhi memar kebiruan. Hati kakak mana yang tidak sakit coba? Setelah terpisah begitu lama, sekalinya bertemu kondisi adiknya sangat mengenaskan.
Alea menghapus air matanya tidak ingin berlarut dalam kesedihan. Sekarang ia harus menjalankan perannya sebagai Alena. Alea mulai mengotak- atik kamar Alena muali dari kamar, buku- buku hingga ponsel Alena. Ia ingin mencari tahu bagaimana penampilan dan watak Alena selama ini. Banyak orang mengatakan, jika watak seseorang bisa di ketahui dari gaya berpakaiannya.
***
Di sisi lain, Alena membuka matanya, dengan kepala yang terbalut perban, samar- samar ia mendengar suara isakan tangis dari arah sampingnya. Ia menoleh ke arah samping dan melihat seorang wanita berumur 40 tahunan sedang menangis sambip memegangi tangannya. Alena mengerutkan keningnya karena tidak mengenali wanita itu, padahal wanita itu adalah Alessa ibu kandungnya.
Alessa yang merasakan ada pergerakan dari anaknya menoleh ke arah Alena. Alessa begitu senang melihat Alena yang ia kira Alea sudah sadar.
"Kamu sudah sadar, Nak!" Bukannya menjawab, Alena malah menatap Alessa dengan tatapan bingung, membuat Alessa pun bingung.
"Alea?" Panggil Alessa, namun anaknya itu tetap diam sambil menatapnya dengan tatapan yang semakin aneh. Merasa ada yang tidak beres dengan anaknya, Alessa segera berlari keluar dari ruangan anaknya untuk memanggil dokter yang menangani anaknya tadi. Meninggalkan Alena yang masih terdiam karena tidak mengetahui apa yang terjadi padanya. Siapa dirinya?, Siapa wanita tadi?, dan mengapa dirinya bisa berada di rumah sakit.
__ADS_1
Di luar ruangan...
"Bagaimana dengan anak saya dokter?.." Tanya Alessa tidak sabaram pada dokter yang baru saja memeriksa kondisi anaknya.
Dokter berjenis kelamin laki- laki itu menatap intens Alessa lalu menghela nafasnya, terlihat bahwa dokter itu sangat berat untuk mengatakan perihal kondisi Alena. "Begini Ibu Alessa.., dugaan awal saya setelah memeriksa kondisi anak Ibu.., anak Ibu sepertinya mengalami kehilangan ingatan. Benturan keras dikepala akibat kecelakaan yang di alaminya menjadi penyebab utama dari kehilangan ingatan yang di alami putri Ibu..,"
Mendengar penjelasan dari dokter, Alessa tak mampu membendung air matanya agar tumpah. Seakan tidak percaya bahwa hal itu menimpa putrinya, tapi kejadian itu sungguh nyata. Dimana kecelakaan itu terjadi tepat di depan matanya.
"Untuk mengetahui apakah kehilangan ingatan yang dialami putri Ibu bersifat sementara atau permanen, kami akan melakukan permeriksaan lanjutan. Saya harap Ibu tabah dan tegar apapun hasil pemeriksaan lanjutannya keluar..," Alessa mengangguk mengerti mendengar penjelasan dari dokter.
"Baik dokter! Terima kasih..,"
Alessa mendudukan tubuhnya di kursi tunggu depan ruangan di mana anaknya di rawat. Air mata kembali mengalir dari pipinya, ia tidak menyangka hal itu akan terjadi pada putrinya. Ia sudah kehilangan putri kedua dan kehilangan suaminya, ia tidak ingin kehilangan putri pertamanya juga. Apalagi putrinya kehilangan ingatan, tentu saja putrinya tidak dapat mengingatnya.
--
Setelah putrinya melakukan pemeriksaan lanjutan, Alessa bersyukur setelah mendapat kabar dari dokter mengenai kondisi anaknya. Dokter mengatakan jika kehilangan ingatan yang di alami Anaknya adalah kehilangan ingatan sementara yang artinya ingatannya akan kembali cepat atau lambat.
Alessa masuk kedalam ruang rawat Anaknya.
__ADS_1
"Alea!.," panggil Alessa mengejutkan Alena yang sedang duduk termenung dengan pikiran kosong, karena tidak mengingat apa- apa. Alessa duduk di kursi samping tempat tidur lalu meraih dan menggenggam tangan Alena. "Apa kau mengenaliku?..," Pertanyaan yang sudah Alessa tahu jawabannya, tapi ia tetap menanyakan itu berharap putrinya mengingatnya walau itu mustahil.
Alena menggeleng, ia benar- benar tidak tahu siapa wanita yang berbicara padanya sekarang. Walau tampak kecewa karena putrinya tidak mengenalinya, Alessa tetap tersenyum. Bukan mau putrinya untuk kehilangan ingatan seperti ini bukan?
"Kau ingin mengetahui siapa aku?" Alena mengangguk pelan. Alessa tersenyum melihat respon dari putrinya.
"Aku ibumu..," jawaban itu membuat Alena menatap intens Alessa. "Ibuku?..," Beo Alena.
Alessa mengangguk. "Iya.., aku Ibumu.., Dan namamu adalah Alea!.." Alessa mencium tangan Alena.
"Namaku Alea?..," Alessa kembali mengangguk. "Tapi kenapa aku tidak bisa mengingat apa- apa? Apa yang terjadi padaku?..," Alena menatap Alessa dengan tatapan meminta jawaban. Alessa menghela nafasnya panjang lalu memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya, walau putrinya itu belum tentu bisa mengingat semuanya.
"Kau kehilangan ingatan setelah mengalami kecelakaan ketika berjalan di pinggir jalan tadi..,"
"Aku kecelakaan?" Alessa lagi- lagi mengangguk membenarkan pertanyaan anaknya. Alena tampak berusaha mengingat- ingat apa yang sebenarnya terjadi padanya, apakah yang orang mengaku sebagai ibunya mengatakan hal yang sebenarnya? Pikir Alena. Namun, bukannya mendapat ingatan itu, kepala Alena malah terasa amat sakit hingga membuatnya memegangi kepala yang terbalut perban dan meringis kesakitan.
Alessa merasa khwatir melihat putrinya meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya. "Sebaiknya kau beristirahat saja sayang.., jangan terlalu memaksakan untuk mengingat semuanya ya..," Alena mengangguk lalu membaringkan tubuhnya di bantu oleh Alessa.
"Istirahat ya!..," Alessa mengecup kening putrinya. Alena mengangguk lalu mulai memejamkan matanya, mengikuti perintah Ibunya. Alena berharap ingatannya kembali secepatnya agar ia bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padanya. Walau ia percaya apa yang di katakan Alessa, tapi ia juga ingin mengetahui semuanya versi ingatannya.
__ADS_1