
Asher melihat ponsel Aya tergeletak di atas meja yang terus saja bergetar, di sana tertulis nama "Sheila", tanpa sepengetahuan pemilik ponsel ia langsung mematikan panggilan itu lalu menonaktifkannya.
Aya masih setia berdiri, matanya mengintip Alan yang tengah masuk kedalam mobil bersama Sheila, setelah ia sudah memastikan Alan benar-benar pergi dari sana lantas ia berjalan dan baru duduk bersama Asher dan yang lainnya.
"Ngapain kamu dari tadi berdiri di sana?" Tanya Asher sambil memainkan ponselnya.
"Nunggu waktu yang aman, aku gak mau Sheila atau Alan curiga saat melihat kita bersama." Aya menjelaskan kemudian ia mengantongi ponselnya.
Asher hanya mendengus, ekor matanya menatap ponsel yang Aya kantongi. Beberapa saat kemudian mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum memulai pembahasan.
"Ternyata aku sudah kecolongan, anak buahku juga payah mencari tau orang yang sudah mengambil foto ini saja mereka tidak becus!" Asher melemparkan beberapa foto di atas meja, itu adalah foto Aya dengan seorang laki-laki yang sudah beredar.
Aya memperhatikan foto-foto itu, "Ini fotoku bersama Alan saat jalan di Timezona dan saat di mobil, semua foto ini di ambil di hari yang sama." Semua orang menatap Aya dengan serius.
"Pasti orang yang melakukan ini ada dendam sama kamu Aya, mungkin dia tidak suka jika kamu deket-deket dengan Alan, tujuannya agar kalian berpisah." Lila memberikan pendapatnya. Semuanya mengangguk setuju.
"Aku sih ada satu nama yang aku curigai, tapi kita tidak punya bukti." Romi memijat pelipisnya, "Untuk memastikan bagaimana kalau kita minta bantuan pada ahlinya, aku punya kenalan seorang ahli IT ,tapi kita perlu uang yang banyak untuk bisa menyewa jasanya."
"Masalah uang biar aku yang urus, kamu tinggal hubungi teman kamu itu, aku sudah tidak sabar ingin memberikan pelajaran pada orang yang sudah berani-beraninya mengusikku." Asher tersenyum menyeringai.
"Tidak salah kau mengundang mereka semua." Asher tersenyum sambil menatap Aya.
"Tentu saja, aku ini kan pintar." Aya langsung berbangga hati.
"Pintar kau bilang! Semua ini terjadi karena siapa? karena kecerobohan mu!" Asher Langsung menjitak dahi Aya.
"Asheeeeerrrr! Sakit!" Teriaknya sedikit merengek sambil mengusap keningnya yang berdenyut.
Semuanya tertawa melihat Aya yang meringis sambil berusaha membalas Asher tapi tidak berhasil karena Asher yang terus menghindar. Tanpa ada yang menyadari ternyata Asher melirik Romi yang terus memandang Aya.
"Rom?" Asher menepuk punggung Romi saat mereka berdua sama-sama keluar dari Cafe, Aya dan Lila sudah jauh berjalan di depan. "Aku titip Aya, Dia itu memang terlihat kuat, tapi sebenarnya rapuh dan cengeng, bila sedang sedih dia akan mengurung diri di kamar sambil terus menangis, aku yakin kamu bisa menjaganya."
Romi tersenyum, lalu mengangguk-angukkan kepala.
***
Di waktu yang sama, Alan tengah mengendarai mobilnya, Sheila yang duduk di kursi penumpang seperti gelisah, ia terus saja menghubungi seseorang. "Sialan Asher... kenapa ponselnya di matikan!"
"Ada apa Shei?" Alan menoleh setelah memarkirkan mobilnya. Sheila hanya tersenyum kemudian menggeleng.
"Yuk turun!"
"Sayang, bikin Brownisenya kapan-kapan aja ya? Jangan hari ini." Sheila memasang wajah memelas.
Melihat sikap Sheila entah kenapa Alan malah merasa curiga, "Aku maunya kamu bikinin Brownisenya hari ini ayo!" Alan menarik Sheila memasuki toko roti.
Sheila bingung memilih bahan apa yang harus ia beli, seumur hidup ia belum pernah membuat kue apalagi membeli bahan-bahannya. Akhirnya ia asal saja membeli tepung, coklat dan beberapa bahan yang sebenarnya tidak perlu.
Sesampainya di rumah Alan, ia langsung ke dapur. Dia menyuruh Alan untuk pergi ke kamar untuk istirahat dan akan memanggilnya ketika sudah matang.
__ADS_1
"Sayang, Brownisenya sudah jadi!" Teriaknya, sambil membawa nampan yang berisi kue.
Alan tengah mencicipi kue buatan Sheila, dahinya sedikit mengkerut. "Rasanya kok beda Shei?"
"Tapi enak kan?"
Alan mengangguk sambil meneruskan makannya.Terdengar suara pintu terbuka, Anita muncul dari sana, "Sheila ada kurir di depan nyariin kamu, katanya mau kasih kembalian."
Sheila langsung berkeringat dingin, dengan buru-buru ia berlari keluar, "Ngapain mas masih di sini? Tadi kan sudah saya bilang kembaliannya buat mas." Ujar Sheila dengan berbisik tapi penuh dengan penekanan.
"Oh, maaf mbk tadi saya kurang dengar, kalau begitu saya permisi dulu." Sahut kurir melangkah pergi.
"Tunggu mas!" Suara dari belakang Sheila membuat kurir tersebut menjentikkan langkahnya.
"Mbak ini pesen apa tadi?" Tanya suara itu yang ternyata adalah Alan.
"Mbak ini tadi pesan brownies dari toko roti P bakery mas."
Dan sekarang Alan tengah menatap tajam ke arah Sheila, raut mukanya tampak begitu marah, tangannya di lipat di depan dada. "Ternyata kamu belum berubah juga Shei!" Ujarnya dengan nada sedikit meninggi.
"Maaf Al, cuma kali ini aja aku berbohong." Sheila mencoba memegang tangan Alan tapi dengan cepat ia menepisnya.
"Cuma kali ini saja kau bilang, cepat jelaskan bagaimana dengan kue ulang tahun ku waktu itu, kau juga membelinya kan?!" Alan masih mencoba menahan amarahnya, ia sangat tidak suka dibohongi.
Sheila diam saja, tangannya saling meremas, kepalanya menunduk tidak ingin menatap mata Alan yang begitu menakutkan.
"Jangan buat aku kehilangan kesabaran,.... Cepat jelaskan!" Sentak Alan yang sudah tidak bisa menahan emosinya.
Alan tertawa sinis kemudian mendengus kesal, "Sheila mulai hari ini kita Putus!" Alan langsung masuk kedalam rumah dan menutup pintu, meninggalkan Sheila yang masih mematung di teras.
***
Romi tengah duduk di kantin bersama Nando, "Gimana Rom, kamu sudah tau dalangnya?"
Romi mengangguk, "Seperti yang sudah kita duga selama ini."
"Trus gimana dengan Alan? Apa kita harus memberitahunya?" Nando menatap Romi dengan ekspresi sedih.
"Entahlah, aku ketoilet sebentar." Romi buru-buru berlari menuju toilet.
Selepas Romi pergi Alan datang dan langsung duduk di depan Nando, Alan memandang Nando yang senyum-senyum sendiri sambil mengutak-atik ponsel yang ternyata adalah milik Romi yang tertinggal saat ia buru-buru ke toilet.
"Ngapain kamu ngutak-atik ponsel Romi? Kalau sampai dia tau, habis kamu!" Alan memberi nasehat.
"Al, kamu mau tau gak gebetannya Romi, boleh juga ini anak cari cewek, walaupun fotonya cuma kelihatan setengahnya aja tapi aura kecantikannya sudah terpancar." Nando memandang foto Romi bersama Aya yang ada di ponsel Romi dengan ekspresi takjub hingga membuat Alan yang awalnya tidak peduli jadi ikut penasaran.
Di ambilnya Ponsel itu dari tangan Nando, ia melihat foto itu dengan seksama walaupun cuma setengah saja tapi ia sangat mengenal wajah itu, tentu saja karena malam sebelumnya ia sempat bertemu dengannya walaupun cuma sebentar.
__ADS_1
Romi yang baru saja datang melihat ponselnya yang dibawa Alan tentu langsung merampasnya. "Al, kenapa kamu jadi lancang begini sekarang!" Romi tampak sedikit kesal.
"Nando tuh." Alan menunjuk Nando dengan dagunya.
"Maaf Rom, aku penasaran sama gebetanmu....aku takut kalau kejadian kemaren terulang lagi, sebelum itu terjadi kan aku bisa meluruskan jalanmu." Nando sedikit melirik ke arah Alan. Mendengar itu Romi langsung memukul kepala Nando hingga ia sedikit meringis.
"Rom bukannya itu cewek yang ada di ATM dulu yang selalu pakai topi? Yang ternyata temen barunya Lila, kalau gak salah namanya Ra....Raisha kan?" Tanya Alan dengan terperinci.
"Kamu masih ingat ternyata?...iya, memang dia orangnya." Romi menjawabnya dengan nada datar.
"Kemaren malam aku sempat berpapasan dengannya di Cafe tempat kita gak sengaja ketemu, apa kalian bersamanya? Memangnya sejauh apa hubungan kalian?" Tiba-tiba Alan mencerca Romi dengan berbagai pertanyaan, sama sekali bukan gaya Alan.
"Bukan urusanmu!.....tumben kamu tertarik dengan urusan pribadi orang lain?"
Alan sendiri juga bingung kenapa tiba-tiba ia penasaran dengan hubungan Romi dan wanita bertopi misterius itu. Tapi ada perasaan lega juga karena ternyata Romi tidak menyukai Asher yang tidak lain adalah Aya.
"Lebih baik kau urus saja Sheila pacarmu itu, didik dia dengan benar!" Romi bersua kemudian menyeruput minumannya.
"Emangnya aku bapaknya, lagi pula aku sudah putus dengannya." Dan sontak jawaban Alan membuat Romi dan Nando menoleh dengan wajah terkejut.
"Yang benar saja Al, kalian belum genap tiga hari jadian sudah putus, gila kamu?" Nando hanya bisa menggelengkan kepala.
"Karena kamu ternyata sudah putus dari Sheila, sepertinya aku sudah tidak perlu menutupi ini lagi." Ucapan Romi membuat Alan mengerutkan keningnya. Dan akhinya Romi pun menceritakan kalau orang yang sudah menyebarkan foto dirinya dan Aya itu adalah Sheila.
"Dari mana kamu tahu?" Alan memandang Romi penuh selidik, Romi tau kalau Alan tidak akan mudah percaya sebelum ia menjelaskanya dengan terperinci.
"Oh....jadi begitu... Ini karena bantuan uang dari Kakak sepupunya Asher?" Dan di jawab anggukkan oleh Romi.
"Bukannya tarif Jasa dari Arkhan itu tidak murah?" Tanya Nando.
"Aku juga tidak habis pikir uang tiga puluh juta baginya seperti tengah membeli kuaci saja." Romi tertawa membayangkan berapa banyak kuaci yang ia dapat.
Alan malah terdiam, "Orang itu semakin misterius saja." Batin Alan
***
Sheila berlari menghampiri Aya yang sedang menunggu seseorang, "Asher, kenapa telfonku kemarin gak kamu angkat sih?"
"Maaf Shei, ponselku kemarin mati." Aya langsung teringat kalau seharian ponselnya dimatikan oleh seseorang, tentu Aya tau siapa yang selalu usil tak lain tak bukan pasti Asher.
"Gara-gara itu, aku jadi putus dari Alan." Mendengar perkataan Sheila membuat Aya langsung membelalakkan matanya.
"Dia marah karena aku bohong soal kue ulang tahunnya yang ternyata kamu yang bikin, konyol sekali alasannya." Aya masih diam tidak menanggapi, ia bingung harus senang atau sedih, entah kenapa ada rasa lega di hatinya.
"Tapi aku belum memaafkanmu, sebagai gantinya kamu harus nyomblangin aku sama kakaknya yang tajir itu, kak Mirza." Sheila berucap dengan pedenya.
"Apa kau bilang belum memaafkanku? Harusnya aku yang bilang begitu, gara-gara kamu aku dilempar telur busuk." Batin Aya dengan tangan yang mengepal.
Bersambung.....
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir jangan lupa like dan komentar, ini saya up dalam keadaan benar-benar ngantuk, jadi maaf kalau mungkin ada saya typo dalam penulisan,