Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
POV Alan Part 3


__ADS_3

Saat benar-benar ku perhatikan story Romi sekelebat kulihat wajah Asher di dalam mobil itu juga. Ku pikir ini waktu yang pas untuk mengorek informasi dari Asher, kalau di kampus pasti anak itu akan melarikan diri. Aku langsung bergegas mengambil tas dan memasukkan beberapa baju ganti lalu menghampiri Anisa di kamarnya.


"Yuk cepat siap-siap dek, katanya pengen diajak Liburan." Aku berdiri di ambang pintu kamar Anisa.


"Kemana kak?" Anisa mendongak, masih sambil membawa ponsel di tangannya.


"Kerumah Neneknya Romi."


"Ketemu Kak Romi dong?" Terlihat sekali ia sangat antusias.


"Iyalah masak ketemu Kakeknya." Aku berusaha menahan tawa, saat melihat ekspresi wajah adikku yang makin memerah.


"Ih... Kakak, kakeknya Kak Romi kan sudah meninggal." Anisa sedikit kesal karena sudah berhasil aku Goda, adikku ini memang dari dulu menyukai Romi, tapi sengaja aku larang karena dulu Romi masih berpacaran dengan Juli, aku tidak mau adikku menjadi perebut pacar orang. Apalagi Romi sudah berpacaran dengan Juli sekitar lima tahun. Karena mereka sudah putus jadi mungkin waktunya aku mendekatkan mereka, agar Romi tidak mendekati Ayaku tentunya.


Aku sampai di sana di waktu yang tepat, mereka tampak sedang makan siang kebetulan sekali aku tadi belum sempat sarapan karena terburu-buru.


Malamnya seperti acara sebelum-sebelumnya saat kami dulu pernah kesana, mbah Sumi nenek Romi selalu menggelar acara barbeque di depan rumahnya.


Aku merasa ada yang aneh dengan Asher ia tampak tidak suka aku di dekati Siti, salah satu tetangga Mbah Sumi. Lebih anehnya lagi Asher tau kalau aku baru berpacaran dengan Ima, saat aku ingin mempertanyakan Lebih lanjut, tampak sekali ia gelagapan dan melarikan diri dengan alasan mau buang air kecil, sungguh alasan yang mudah di tebak.


Dugaanku ternyata benar karena Asher tak kunjung kembali. Saat aku mencari keberadaannya ku liat ia sedang duduk menikmati keindahan kunang-kunang. Saat mata kami bersitatap entah kenapa sorot matanya seperti membuatku tersihir. Saat aku duduk di sebelahnya entah kenapa seperti Dejavu teringat moment bersama Aya want kecil dulu. Tak ku sangka Asher juga sangat menyukai kunang-kunang dan semakin membuatku penasaran dengan sosoknya. Saat aku ingin memulai pertanyaan, untuk kesekian kalinya aku gagal mengorek informasi dari Asher.


Paginya Asher tampak tidak begitu baik,iya terus-menerus bolak-balik kamar kecil, sepertinya anak itu sedang diare. Dan semuanya tampak tidak sabaran karena Nando dan Lila sedang terburu-buru. Aku akan memanfaatkan keadaan ini. Aku menyuruh mereka semua termasuk Adikku Anisa untuk pulang duluan. Romi tampak enggan meninggalkan Asher, tapi karena Anisa memaksa akhinya ia pun luluh. Aku sangat tau sifat Romi yang tidak tegaan, apalagi dengan Anisa yang katanya sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri, ia tak tau saja kalau Anisa menyukainya.


Sepanjang perjalanan Asher tampak diam saja dan acuh. Mungkin ia sedang marah karena di tinggal kekasih hatinya. Kira-kira Lila atau Romi...? tanpa sadar badanku bergidik merasa geli.


Kami berdebat cukup hebat di dalam mobil dan berakibat kecelakaan, mobilku menabrak Pohon itu masih mending kalau saja Asher tidak membanting setir waktu itu mungkin kami bukan berakhir di puskesmas tapi pemakaman.


Aku masih tidak habis pikir kenapa dia membahayakan keselamatannya untuk melindungiku, aku seperti berhutang nyawa padanya. Karena hari sudah malam Kami memutuskan untuk menginap di penginapan terdekat.


Malam itu kulihat ia pindah tidur di sofa, ia tampak bergerak-gerak seperti tidak nyaman, membuatku merasa tidak tega setelah ku pastikan ia sudah terlelap aku mengangkat badannya tak kusangka sungguh ringan tidak seperti lelaki pada umumnya.


"Ini orang apa gak pernah makan... enteng banget." Pelan-pelan ku rebahkan tubuhnya di ranjang kemudian aku juga juga menyusul.


Aku merasa tidurku malam ini sungguh sangat nyenyak dan nyaman tidak seperti biasanya. Saat aku membuka mata aku tersentak kaget wajah Asher tepat di depan wajahku, begitu dekat hingga nafasnya bisa ku rasakan. Kuliah tangaku memeluk tubuhnya, pantas saja tadi malam aku bermimpi memeluk guling yang nyaman, ternyata guling hidup. perlahan aku memindahkan tanganku, aku tidak mau kalau sampai dia bangun dan melihat apa yang aku lakukan, mau ditaruh mana mukaku. Sebelum aku bangkit semerbak aku mencium aroma yang sangat harum aku mulai mengendus mencari sumbernya. Ternyata itu berasal dari tubuh Asher. Semakin lama ku endus entah kenapa membuat tubuhku bergejolak. Tubuh bagian bawahku sudah menegang. "Apa aku sudah gila?! Sungguh tidak waras." Aku merancau.


Tidak ingin berlama-lama aku langsung masuk kedalam kamar mandi untuk mendinginkan otakku yang mulai tidak waras ini.


Selesai membersihkan tubuh, Aku melihat Asher terburu-buru langsung masuk ke dalam kamar mandi. Hari ini aku berencana mengambil mobil kemudian segera pulang, bila terlalu lama dekat dengan si kumis Lele bisa tambah gila aku, bisa-bisa aku belok lagi.


Buru-buru aku keluar dari kamar. Sesampainya di depan pintu penginapan aku baru ingat ponselku tertinggal di kamar, sekembalinya aku mengambil ponsel sayup-sayup kudengar Asher sedang bernyanyi di dalam kamar mandi, bisa-bisanya dia bernyanyi pakai improve suara perempuan, di dalam kamar mandi pula.

__ADS_1


Saat aku mau melangkah pergi ponselku berdering, aku langsung mengangkatnya.


"Hallo."


"Dengan mas Alan?"


Aku tidak terlalu mendengar suara dari balik telfon karena suara Asher makin keras.


Akhirnya aku pergi ke arah balkon, agar suaranya jelas.


"Apakah ini dengan mas Alan?"


"Iya dengan saya sendiri, ini siapa ya?"


"Saya orang dari bengkel... Mas tidak perlu kemari biar orang kami yang akan datang mengantarkan mobil mas ke penginapan."


"Oh...iya, terimakasih kalau begitu." Aku Sedikit merasa lega dengan begini aku tidak perlu repot-repot untuk datang ke bengkel yang jaraknya cukup jauh itu.


Saat aku mau melangkah menuju kamar, aku tersentak saat melihat punggung seorang perempuan, aku langsung mengurungkan niatku ,kini aku bersembunyi di balik tirai sambil mengintip sosok perempuan itu.


Ia hanya memakai handuk yang melilit tubuh indahnya, terpampang nyata di depan mataku. Aku hanya bisa menelan saliva dengan susah payah.


"Berarti yang ada di dalam kamar mandi tadi bukan Asher, melainkan gadis itu." batinku.


"Aku suka aroma tubuh Alan,.... enaknya!" Mendengar ia bilang begitu rasanya aku ingin tertawa, tapi sebisa mungkin aku tahan, bisa-bisa ia menyadari aku sedang bersembunyi di sini.


"Sadar Aya, lupakan dia, lupakan pangeran penolongmu itu, dia pacar ima,...tapi... kalau dia terus dekat denganku bagaimana aku melupakannya, baiklah mulai sekarang aku akan menjauhinya...itu lebih baik."


Aku langsung mengeryit, "Tidak boleh! Itu tidak boleh terjadi!" Batinku.


Saat aku ingin keluar dari persembunyianku, aku tersentak saat melihat ia melepas handuknya. Aku langsung memejamkan mata. "Ya Tuhan,kuatkan iman hambamu ini."


Lima menit sudah berlalu perlahan aku membuka mata ku lihat ia melilitkan dadanya dengan korset dengan begitu ketat. "Tidakkah ia merasa sesak". Aku meringis membayangkannya seolah aku merasakannya sendiri.


"Sebenarnya apa yang ia lakukan." Aku bergumam begitu lirih.


Aku terus memperhatikan semua gerak geriknya, ia memakai kemeja laki-laki dan setelah itu aku langsung terbelalak tak percaya dengan apa yang aku lihat. Ia sedang memakai rambut palsu kemudian memasang kumis.


Jadi Asher itu Aya? Rasanya aku masih belum bisa percaya.


Aku melihatnya pergi, barulah aku keluar dari persembunyian ku. Aku langsung membuka ranselnya. Aku keluarkan semua isinya. Ternyata dia benar-benar Aya. Kulihat ada pakaian dalam wanita di antara baju-baju pria dan sudah pasti itu baju Asher karena aku tau sebelumnya pernah ia pakai.

__ADS_1


Langsung aku mendudukkan tubuhku di ranjang. Aku bingung harus ber ekspresi seperti apa? Haruskah aku senang, marah atau sedih. Aku memijat pelipisku yang sedikit pusing sesaat aku berfikir. Menerka-nerka alasan apa hingga Aya melakukan itu. Apa tujuannya yang sebenarnya. Bila itu berhubungan denganku sepertinya tidak mungkin karena Aya sebelumnya menolakku.


Oke, akhinya aku memutuskan untuk mengikuti permainannya. Sejauh apa Aya akan melakukannya. Dan aku bertekad akan membuatnya mengaku sendiri. Aku tersenyum entah kenapa rasanya lega dan bahagia. Ternyata aku masih lelaki normal. Ya mungkin mataku sempat terkecoh dengan kebohongannya tapi tidak dengan hatiku, hatiku tau dimana menetapkannya.


Entah kenapa wajahku memanas, mengingat tadi malam aku tidur seranjang dengan Aya. Dan selama ini bibirku juga sudah menjamah bibirnya. Ah...bisa gila aku. Rasanya ingin merasakan rasa bibir yang manis itu lagi.


Sepanjang perjalanan senyumku tak pernah surut, ia memandangku dengan raut wajah yang aneh antara takut dan ngeri. Sebelum sampai kota Aku mengajaknya makan siang dulu.


"Kok berhenti Al?" Dia tampak kaget ketika aku menghentikan mobil di depan rumah makan.


"Kita makan siang dulu."


"Tapi gue gak laper." Ia sepertinya enggan untuk keluar dari mobil.


"Tapi aku laper, nyetir juga perlu tenaga." Aku keluar dari mobil.


"Biar gue aja yang nyetir!"


"Bukannya dulu kamu bilang gak bisa?"


"Oh iya gue lupa... ayo kalo gitu." Ia tampak gelagapan, dan Sekarang aku jadi tau tingkahnya ketika ia tengah berbohong.


"Ayam bakar dua sama lemon tea dua ya mbak." Tanpa membaca menu aku langsung memesan.


"Emang gue udah ada bilang mau pesen itu ke elo?" Ia tampak kesal, tapi itu malah membuat makin gemas.


"Udah itu aja, enak kok...aku tau kamu kan penyuka olahan ayam sepertiku."


"Sok tau!" Ia langsung membuang muka, sekilas aku melihat semburat merah di pipinya. Jadi makin semangat aku untuk menggodanya.


Ia tampak sangat menikmati makanannya. Sampai ia tidak menyadari bibirnya yang sudah belepotan dengan bumbu. Tanpa sadar tanganku bergerak mengusabnya lalu aku menjilat bekas itu.


"Al loe ngapain?" Ia terkejut.


"Aduh mati aku." ,gumamku lirih karena tanpa sadar kebiasaanku muncul lagi.


"Kamu...itu.. makannya belepotan...kayak anak kecil !" Aku sedikit gelagapan.


"Bukan itu, kok loe jilat bekas gue?" Dia menatapku dengan tajam.


"Oh...sayang banget bumbunya kalau kebuang, kan ini enak." Aku langsung mengambil ayam dan langsung menggigitnya sambil menunduk, aku takut ia menyadari kebohonganku.

__ADS_1


Bersambung.....


Maaf lama baru bisa up, sekalian aku izin mungkin sekitar 5 hari gak bisa update, mau refreshing dulu. Biar idenya makin lancar. jangan lupa like dan komen macacihhhhh....


__ADS_2