
Aya sudah berhasil di pindahkan ke ICU di rumah sakit besar itu. Beberapa alat baru kini terpasang di beberapa tubuhnya.
Wajah cantik yang pucat itu masih betah berdiam diri dan tidak bergerak. Selama satu Minggu secara bergantian para anggota keluarga seperti Jonathan, Silvia, Shakiel, Nadia bahkan si kembar Lulu, Lala mencoba berinteraksi dengan Aya walaupun hanya lewat obrolan ataupun beberapa cerita.
Dokter menyarankan untuk melakukan hal itu. Agar otak Aya sedikit terstimulasi. Walaupun dia tidak bisa bergerak tapi Aya masih bisa mendengar. Soal Asher, Jonathan sampai sekarang belum memberitahukan perihal yang terjadi pada saudara kembarnya.
"Pa tolong turunkan egomu, suruh Asher datang kesini. Mungkin dengan cara itu Aya bisa sadar."
"Buat apa dia kesini. Dia itu juga salah satu orang yang membuat Aya dalam keadaan seperti ini!" Kekeh Jonathan. Silvia sangat paham sifat suaminya. Yang egois dan selalu menyalahkan orang lain sebagai pelampiasan kemarahannya juga ketidak berdayaannya.
Silvia tidak pantang menyerah ia terus membujuk suaminya. Saat sedang berdebat suara langkah kaki cepat membuat mereka mau tidak mau menoleh.
"Asher!" Sahut Jonathan dan Silvia bersamaan.
"Bagaimana bisa kau berada di sini?" Tanya Jonathan yang tampak terkejut.
"Itu tidak penting Pa, mana Aya?"
"Jawab dulu pertanyaan Papa!! Bagaimana bisa kamu__!"
"Eh!... ada Dokter Ezra!" Silvia sengaja membesarkan suaranya agar suaminya mendengar. Ia tahu, kelemahan suaminya ada pada anak sahabatnya itu. Ya, Ezra adalah putra dari Dokter Kevin dokter keluarga sekaligus sahabat karib suaminya.
"Lho... Asher, kapan dateng?"
"Barusan, bisa kita bicara sebentar?" Asher langsung menghampiri Ezra, melewati ayahnya begitu saja.
"Ayo, mari keruangan ku...aku juga ingin banyak mengobrol denganmu. Lama kita tidak bertemu."
Asher cukup dekat dengan Ezra walaupun beda usia saat remaja Asher sering ikut Papanya bila mengunjungi rumah Kevin. Berbeda dengan Aya yang jarang bergaul dan lebih suka main kerumah Ima bila ada waktu senggang.
Di dalam ruangan Ezra menjelaskan semuanya bagaimana keadaan Aya. Asher hanya bisa menghela nafas berat. Dalam hati ia berharap saudaranya itu cepat sadar.
Saat keluar dari ruangan Ezra ayahnya sudah menunggu dengan tatapan tajam. Ditariknya putra keduanya ke tempat yang lebih jauh dari jangkauan Ezra maupun Silvia.
"Kamu belum jawab pertanyaan Papa!"
Asher hanya tersenyum sinis. "Apa Papa lupa, aku ini saudara kembar Aya. Jadi aku berhak tahu keadaanya. Kami pernah berbagi tempat di dalam perut Mama. Secara tidak langsung aku merasakan apa yang dia rasakan."
Memang benar, selama beberapa bulan di LA entah kenapa hati Asher selalu merasa tidak tenang seperti ada hal buruk yang terjadi pada Aya.
"Itu belum menjawab pertanyaan Papa Sher!!"
"Itu tidak penting, yang terpenting sekarang adalah Aya. Apakah Papa sudah tahu, siapa orang yang menabraknya?"
"Mike masih mencari tahu."
"High Corporation.... merekalah dalang di balik kecelakaan Aya. Saingan terbesar perusahaan Papa. Jadi jangan salahkan siapapun dalam hal ini." Setelah mengatakan itu Asher hendak melangkah pergi tapi tangannya di cekal Jonathan.
"Dari mana kau tahu?"
"Itu tidak penting!"
"Mau kemana kau?!"
"Aku mau menemui Aya. Mungkin saja setelah mendengar suaraku dia langsung bangun."
"Kalau hal itu tidak terjadi. Kamu harus kembali ke LA!"
"Baiklah, beri aku waktu satu Minggu. Aku pasti bisa membuat Aya bangun lagi." Setelah itu Asher benar-benar meninggalkan Jonathan yang masih mematung. Dia tidak habis pikir orang-orangnya saja belum berhasil mencari tersangka dibalik kejadian itu. Tapi putranya yang bahkan kuliah saja belum lulus dengan begitu cepat bisa menemukannya. Apakah selama ini dia terlalu meremehkan kemampuan putra keduanya itu??
Asher kini memandang wajah pucat perempuan yang mirip dengannya. "Ay....ini aku Asher, aku udah dateng. Kamu gak pengen bangun trus mukul aku karena baru bisa nengok kamu sekarang?" Asher membelai rambut saudaranya.
"Jangan tidur terus, nanti kamu tambah gendut, terus Alan gak mau lagi deh sama kamu. Pasti dia cari cewek lagi yang lebih cantik, lebih sexi dari pada kamu. Secara dia kan ganteng, pinter Udah gitu populer. Kamu bakal ditinggalin gitu aja." Asher terkekeh sendiri mendengar ucapannya. Baru pertama kali dirinya memuji seseorang apalagi Alan yang notabennya saingannya dalam hal ketampanan. Kalau Alan mendengarnya pasti dia langsung besar kepala.
Tiba-tiba Asher menangkap pergerakan dari telunjuk Aya. Walaupun samar tapi dia sangat yakin. Tanpa pikir panjang Asher memencet tombol darurat. Beberapa dokter termasuk Ezra masuk ke dalam ICU.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" Tanya Ezra tampak panik.
"Aku melihat jarinya bergerak." Setelah mengatakannya Ezra menyuruh Asher untuk keluar. Dia akan melakukan pengecekan.
"Apa yang kau lakukan pada adikmu Sher?!" Tanpa mendengar penjelasan, Jonathan langsung menarik kerah baju putranya.
Suara pintu terbuka membuat Jonathan melepaskan cengkeramannya. "Bagaimana keadaan Aya?"
Dokter yang lumayan tampan itu tersenyum. "Ada kabar baik, tampaknya Aya merespon ucapan Asher. Aku tidak tahu apa kau katakan. Tapi teruskan! Aku yakin sebentar lagi Aya akan bangun." Ezra menepuk pundak Asher sambil tersenyum memberikan harapan.
Kini Jonathan dan Silvia yang sempat putus asa seolah mendapatkan secercah harapan. Semoga apa yang dikatakan Ezra benar.
Tidak terasa Lima hari sudah berlalu. Setiap hari Asher datang mengunjunginya mengajaknya bicara bahkan kadang Asher membuat beberapa lelucon untuk Aya. Walaupun keadaan Aya semakin membaik tapi belum ada pergerakan. Pertama dan terakhir kalianya Aya menggerakkan jarinya adalah saat pertama kali Asher mengunjunginya.
"Ay, besok aku harus pulang. Kau tega membuatku di seret Papa? Cepatlah bangun! Aku berjanji akan selalu menemanimu. Dan berusaha membuatmu dan Alan bersama lagi." Rasanya Asher sudah putus asa. Bagaimana caranya membuat Aya bangun.
Suara pintu terbuka membuat Asher menoleh. "Bagaimana, masih belum ada pergerakan apapun Sher?" Tanya Ezra.
Tiba-tiba kepala Asher seperti ada bola lampu yang menyala. "Bisa pinjam handphone mu bentar?"
Ezra menaikkan sebelah alisnya merasa heran apakah Tuan muda Rajendra tidak punya ponsel atau tidak punya kuota sampai-sampai meminjam ponsel miliknya? Tapi tak ayal ia pun menyodorkannya.
"Jangan berfikir yang macam-macam. Aku dalam masa hukuman jadi tidak boleh menggunakan alat komunikasi dalam bentuk apapun. Jadi soal ini jangan bilang pada siap-siap terutama Papaku." Asher merebut ponsel itu kemudian menghubungi seseorang. Ia mengibaskan tangannya menyuruh Ezra keluar.
"Dihukum? Seperti anak kecil saja." Lelaki itu hanya menggelengkan kepalanya sambil menaikkan satu sudut bibirnya kemudian pergi.
"Semoga Mita sedang ada bersama Alan." Gumam Asher. Baru kali ini dia berdoa semoga kekasihnya itu sedang bersama seorang laki-laki.
"Hallo? Siapa ya?"
"Ini aku Asher."
"Asher?"
"Iya, Kebetulan aku sedang di Cafe Nando."
"Hallo Sher? Ada apa?"
"Begini Al__" Asher menjeda ucapannya. Melihat jam ditangannya, sebentar lagi waktu gilirannya menjenguk berakhir, kalau dia menjelaskan keadaan Aya pasti membutuhkan lebih waktu lama.
"Aya ingin mendengar suaramu. Biar aku rekam dan kirim padanya." Walaupun sedikit aneh hanya itu alansan yang terlintas di pikirannya.
"Bagaimana kabarnya Sher? Dia baik-baik saja kan? Aku khawatir karena terakhir kali kami janji bertemu tapi sampai aku berangkat ke bandara dia tidak datang. Entah kenapa perasaanku tidak enak."
"Cerewet!... tenang saja dia masih bernafas! Cepat aku tidak punya banyak waktu!" Asher keceplosan. Semoga saja Alan tidak curiga.
Dari balik telefon terdengar suara Alan terkekeh, Alan menganggap Asher sedang bercanda. Sedangkan Asher mulai mendekatkan benda pipih itu ke telinga Aya.
"Hay Aya sayang. Bagaimana kabarmu? aku harap kamu baik-baik saja di sana. Aku kangen sekali padamu. Aku tidak masalah waktu itu kamu tidak datang. Tolong jaga terus hatimu untukku__"
Asher melihat secara langsung tangan Aya mulai bergerak. Asher yakin dalam alam bawah sadar Aya sangat merindukan Alan. Dan hanya Alan yang bisa membuatnya bangun.
"Aku disini juga akan menjaga hatiku. Kau akan selalu menjadi cahaya hatiku Attaya Raisha. Aku titipkan peluk dan cium lewat cahaya kunang-kunang dan Bintang yang ada di langit. Sampai jumpa, aku tidak sabar menanti pertemuan kita."
Mata Aya tiba-tiba terbuka. Asher terkejut hingga mematung dengan mulut terbuka. Asher masih mencoba mengendalikan diri. Tubuh Aya mengejang beberapa kali hingga membuat Asher sadar sepenuhnya. Dengan penuh kepanikan Asher terus menerus memencet tombol darurat.
Ezra dan para perawat masuk dan langsung menyuruh Asher untuk keluar. Walaupun berat karena melihat saudaranya terus mengejang mau tidak mau Asher menurut.
Untuk kesekian kalinya Jonathan murka mendengar Aya yang tiba-tiba kejang, apalagi tadi ia sempat melihat sendiri saat akan masuk ICU tempat Aya di rawat. Dan sekarang ia melihat putranya keluar dengan membawa ponsel.
"Ponsel siapa ini!" Jonathan merebutnya.
Prraaang!
Ponsel itu terlempar dan menjadi beberapa bagian setelah dengan kekuatan penuh Jonathan membantingnya. Asher menganga melihat keadaan ponsel yang sudah tidak berbentuk.
__ADS_1
"Ada apa ini?" Bersamaan itu Ezra juga keluar.
"Sorry Zra Handphone mu hancur." Asher tampak menyesal.
"Eh?" Ezra ikut syok.
"Jadi itu ponsel kamu?" Jonathan juga ikut terkejut.
"Iya Om.... Gak apa-apa, Ezra bisa beli lagi." Dia tampak memaksakan senyuman, saat menatap ponsel penuh kenangan miliknya sudah menjadi rongsokan.
"Bagaimana keadaan Aya?" Asher yang sudah sadar langsung bertanya.
"Oh iya, ini kabar yang sangat baik Sher, Aya sudah benar-benar sadar. Kejang jadi hanya efek kesadarannya yang pulih. Sekarang dia tertidur dan akan dipindahkan ke ruang rawat. Setelah dia bangun baru kita cek keseluruhan apakah ada hal yang serius lagi atau tidak." Ezra mengatakan dengan semangat.
Semua orang yang ada di sana mengucap syukur. Setelah menunggu beberapa menit, Aya sudah benar-benar bangun bahkan dia sudah bisa tersenyum. Saat Jonathan juga yang lainnya menghampiri Aya ada sedikit rasa takut kalau-kalau yang dulu dikatakan dokter di Jakarta benar. Ternyata tidak, karena Aya mengenali semua keluarganya.
"Mereka siapa Ma? Lucu banget." Silvia sedikit terkejut saat Aya lupa dengan dua keponakannya.
"Mereka ini keponakan kamu sayang, Lulu dan Lala. Anaknya Shakiel dan Nadia. Masak kamu lupa?"
"Yang benar?! Bukannya kandungan Kak Nadia kemarin masih delapan bulan ya? Aku kan ikut saat pemeriksaan."
Kini semua orang tercengang saat mendengar ucapan Aya. Ezra juga langsung memeriksa lagi keadaan Aya.
"Sepertinya Aya mengalami Amnesia Retrograde. Keadaan dimana sebagian memorinya hilang. Dan sepertinya ia melupakan kejadian empat sampai lima bulan ke belakang mengingat ucapannya tadi. Bahkan dia lupa kejadian kecelakaan yang dia alami." Ezra menjelaskan di hadapan kedua orang tua Asher. Mereka kini berada di ruangan Ezra. Silvia tampak sedih. Sedangkan Jonathan seperti memikirkan sesuatu.
"Oh iya Om.... Alan itu Siapa? Sepertinya dia orang yang sangat penting untuk Aya. Sesaat setelah sadar Aya mengingau memanggil namanya."
Jonathan melebarkan matanya. Tapi dengan segera ia menguasai diri. Apakah Aya masih mengingat lelaki itu. Tapi kalau yang dikatakan Ezra benar bukankah Aya harusnya melupakannya. Ia mengingat-ingat lagi ekspresi putrinya saat bangun. Aya terlihat bahagia bahkan memeluknya, bukankah harusnya putrinya itu marah. Tapi Jonathan yakin putrinya sudah melupakan lelaki yang bernama Alan.
"Mungkin dengan bertemu orang yang bernama Alan itu, perlahan Aya bisa mengingat memorinya yang sempat hilang." Ezra menyambung perkataannya.
Saat Silvia akan berucap.
"Jangan Zra! Biarkan saja Aya seperti itu. Biarkan dia melupakan memori terburuknya." Silvia melebarkan matanya mendengar ucapan sang suami.
"Maksud Om?"
Kini Jonathan mengarang cerita. Dia bilang kalau Alan itu pacar Aya, dan dia meninggal saat terjadian kecelakaan yang mengakibatkan Aya koma. Dan menyuruh Ezra untuk membiarkan Aya melupakannya agar putrinya bisa menjalani hidup tanpa penyesalan. Ezra pun hanya bisa menyetujuinya. Menurutnya keputusan Jonathan sangat tepat.
Silvia pasrah saja dengan drama yang dibuat suaminya, walaupun dalam hati dirinya menolak. Tapi saat melihat senyum putrinya yang sempat hilang. Hatinya kembali goyang oleh keegoisan yang sama dengan sang suami.
"Kamu mau kuliah di LA She?"
"Iya Ay."
"Kalau Ima?"
"Dia kuliah di Akbid." Sahut Jonathan cepat sebelum putranya menjawab.
"Ih...Papa, aku kan tanya Asher." Semua orang tampak tertawa mendengar Aya kembali menjadi anak manja. Tentu saja kecuali Asher.
"Terus aku gimana? Aku kan juga ingin kuliah."
"Iya kamu juga akan kuliah, tapi setelah kondisimu sudah benar-benar pulih."
"Benarkah Pa? Papa memang paling baik." Aya merentangkan tangannya dan langsung disambut pelukan Jonathan.
"Kalau saja kamu ingat Ay, pasti kamu akan bilang Papa orang paling jahat." Batin Asher
Dan di hari kepergian Asher kembali ke LA. Ia hanya bisa berpamitan dengan cara seperti itu. Karena Jonathan yang terus memandangnya dengan penuh ancaman.
Bersambung.....
ini episode terpanjang ya? ini dua episode yang saya jadikan satu. jangan lupa like, koment dan vote biar aku tambah semangat.. macacihhhhh
__ADS_1