
Asher memasuki Cafe tempat ia janji temu dengan Ima, ia dapat melihat dengan jelas sosok gadis itu tengah duduk di meja bagian pojok.
Ia langsung menghampirinya di ikuti Mita di belakang.
"Hey... udah lama?" Asher langsung duduk di depan Ima yang sekarang tersenyum menatapnya tapi kemudian mengeryit saat melihat Mita yang sekarang juga duduk di sebelah Asher.
"Kamu bersama dia?" Tunjuknya pada Mita.
"Iya kenapa?" Mita yang malah bertanya.
"Kamu temen satu kostnya Raisha kan? bagaimana kabarnya?" Tanya ima basa-basi sambil terus memasang senyum palsu.
"Baik,... bukannya kamu sahabat dekatnya kenapa tidak tanya sendiri saja?"
Ima tampak sedikit gugup, "aku beberapa hari ini sibuk, jadi belum sempat menghubunginya."
"Oh, tapi kok kamu sempat menghubungi pacarku?"
"Maksudnya?" Ima mengeryit begitu juga dengan Asher. ia tidak menyangka kalau Mita berani secara terang-terangan mengakui statusnya yang hanya sementara. Apakah Mita sedang cemburu sekarang? Memikirkan itu tak terasa Asher tersenyum.
"Iya... Asher pacarku."
"Apakah itu benar Sher?" Tanya Ima sambil menatap Asher yang sedari tadi masih senyam-senyum sendiri.
"Oh...iya, aku dan Mita sekarang sudah berpacaran." Jawab Asher sambil melemparkan senyum pada gadis disampingnya kemudian merangkul pundaknya.
Mita membalasnya dengan senyum sedikit memaksa.
"Kamu masih saja seperti dulu ya Sher. Gak takut di marahi Raisha udah macarin temennya?" Ima tertawa kecil, tapi seperti dibuat-buat.
Asher menatap Ima sedikit menautkan alisnya, memang benar dulu semasa sekolah Asher sering gonta-ganti pacar sampai label playboy disematkan padanya. Tapi semenjak kuliah dia tidak melakukan itu lagi, jujur ia merasa sudah cukup untuk bermain-main dan sekarang ingin mencari pendamping hidup yang sesungguhnya. Ia sempat mempunyai niat mengungkapkan perasaannya pada Ima sepulang dari LA, tapi kemudian ia urungkan saat mengetahui Ima berpacaran dengan Alan. Dan inilah sekarang, ia malah menjalin hubungan dengan Mita.
"Kali ini aku serius ma, bukan main-main lagi seperti dulu." Asher memandang Mita yang sekarang wajahnya bersemu merah. Ima sedikit tercengang mendengar itu. Tiba-tiba suasana menjadi sedikit canggung.
"Ehemm... Sher bisa kita bicara berdua saja?" Ucap Ima lirih yang langsung mendapat anggukan kepala.
"Mita sayang, bisa kamu tunggu dulu di meja yang ada di luar, aku mau bicara empat mata sama ima...gak papa kan sayang?" Asher bicara dengan hati-hati, entah kenapa ia takut Mita akan marah.
Mita mengaguk, sebelum pergi ia menyempatkan diri untuk mengecup pipi Asher, "aku tunggu di luar jangan lama-lama."
Asher sedikit tercengang mendapat perlakuan itu dari Mita, betapa manisnya kekasihnya itu malam ini, ia tambah yakin kalau Mita sebenarnya sedang cemburu.
Sedangkan Mita yang sudah duduk di luar kini merutuki dirinya sendiri, "Bodoh!...bodoh!... sungguh memalukan! Apa yang baru saja aku lakukan?!" Ia langsung menjatuhkan kepalanya di meja.
"Kamu mau tanya apa ma?" Asher langsung to the poin sambil menyeruput minumannya.
"Hmm...kamu tahu gimana kabar Alan?"
"Aku tidak terlalu dekat dengannya, kenapa kamu gak tanya sama adiknya? Bukannya kamu temenan sama dia?" Asher sedikit merasa aneh dengan pertanyaan Ima.
Ima tersenyum canggung, "Aku masih gak enak menayangkan soal itu setelah kita putus."
Asher hanya ber 'oh' tanpa suara.
__ADS_1
"Aku dengar-dengar hari ini di kampus Aya ada acara Pensi ya?"
"Iya, aku baru aja dari sana sama Mita."
Ima langsung menajamkan pendengarannya, "Pasti Aya capek banget ya?... apalagi Alan, dia kan ketua BEM, pasti jadi ketua panitianya juga." Ima berusaha mengorek informasi dari Asher.
"Gak juga, Aya bagian konsumsi jadi kalau masalah masak-memasak gak bakalan capek dia. Kamu tahu sendiri kan dia itu gimana?" Asher tertawa kecil. "Kalau Alan dengar-dengar nyerahin jabatan ketua panitia ke Romi, dia sama sekali gak turut ikut campur masalah acara Pensi." Lanjutnya.
Asher tidak sepenuhnya berbohong karena itu memang kenyataannya, dia sudah berjanji akan merahasiakan hubungan Alan dan Aya. Jadi biarlah mereka sendiri yang menjelaskannya pada Ima.
Mata Ima langsung berbinar senang itu berarti Alan dan Aya belum berbaikan bahkan mungkin hubungan mereka makin memburuk, rasanya Ima senang sekali. Sebenarnya ia sangat penasaran karena dirinya tinggal di asrama jadi tidak bisa terlalu bebas untuk keluar dan mencari informasi, hari ini saja ia beralasan keluar sebentar untuk membeli keperluan pribadi. Sedangkan Anisa juga seolah bungkam bila ditanya tentang kakaknya, jawabnya selalu sama "Udah gak usah ngomongin Kak Al, aku males banget!" Akhirnya ia memutuskan untuk mencari tahu dari Asher. Ia masih enggan berhubungan dengan Aya rasa kesalnya masih teramat sangat.
"Kamu mau ngomongin apa?" Tanya Ima.
Asher langsung teringat tujuannya menemui Ima tadi. Tiba-tiba Asher menatap mata Ima sedikit lebih lama. Ia ingin memastikan perasaannya sekarang. Tidak terjadi apapun, ia merasa biasa-biasa saja, tidak ada rasa gugub bahkan jantungnya pun tidak berdetak lebih cepat. Diraihnya tangan Ima. Dia masih tidak merasakan apapun. Bahkan sengatan listrik seperti saat menyentuh tangan Mita pun tidak dirasakannya. Sekarang dia sudah benar-benar yakin akan perasaannya.
Ima yang ditatap seperti itu. Bahkan sekarang tangannya di pegang oleh Asher tiba-tiba salah tingkah. "Kenapa Sher?"
Pertanyaan Ima membuat Asher langsung tersadar, ia sampai hampir melupakan gadisnya, Mita. "Aku cuma mau bilang, jangan terus-terusan sedih...masih banyak Lelaki yang lebih baik di luar sana."
Setelah mengatakan itu Asher langsung pergi begitu saja. "Maaf Sher, aku tidak akan menyerah begitu saja...kali ini, aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan!" Batin Ima sambil tersenyum menyeringai.
"Bicara apa aja tadi? Lama banget!" Desis Mita setelah ia memasuki mobil Asher.
"Kamu cemburu ya?...uh lutunya kalau lagi cemburu." Asher mencubit pipi Mita gemas.
"Gak! Pede banget." Mita langsung membuang muka.
Akhirnya Asher menceritakan obrolannya dengan Ima tapi tanpa membahas soal cara dia memastikan perasaannya tadi lewat tatapan dan sentuhan yang ia lakukan.
Bom!... akhinya pertanyaan itu keluar dari mulut Mita juga, bagaimana Asher akan menjawabnya? Gak mungkin dia jujur, bisa-bisa Mita meragukan cintanya.
Hingga mobil berhenti di traffic light, Mita terus memandang Asher seperti tengah menunggu jawaban.
"Benar kan? Sudah aku duga, semua lelaki memang sama saja!" Mita mendengus kesal.
Tanpa aba-aba Asher langsung menarik tengkuk Mita dan mendaratkan ciuman di bibir merah nan ranum itu. Mita yang belum bersiap sama sekali hanya bisa terbelalak dan tertegun. Bibir Asher masih setia di posisinya m*l*m*t bibir yang terasa begitu manis itu, seumur-umur baru kali ini ia merasakannya padahal ini bukan kali pertamanya. Jantungnya pun berdetak sangat kencang hingga....
Tin!....Tin!...
Suara klakson mobil di belakangnya membuat ciuman itu mau tidak mau harus terlepas.
Mita masih diam mematung seakan Roh di tubuhnya belum kembali ke dalam raga hingga tepukan di pundak menyadarkannya. "Mit...kamu gak papa?"
Mita langsung tersadar seratus persen, "Kurang ajar!!.... beraninya kamu mengambil ciuman pertam__" Mita reflek menutup mulutnya, jangan sampai Asher tahu bisa-bisa ia diledek habis-habisan.
"Acieeee...cie, first Kissnya udah berhasil aku ambil." Asher langsung tergelak, walaupun kini tubuhnya mendapatkan banyak pukulan dari Mita tapi tawanya sama sekali tidak reda. Ia sangat senang menjahili gadis itu. Dan ia sudah sangat yakin hatinya sudah menjadi milik gadis manis super judes di sampingnya.
***
Pesta kecil-kecilan yang diadakan panitia Pensi sudah selesai, hingga satu persatu dari mereka undur diri untuk pulang dan istirahat. Kini tinggal Alan and the Genk serta dua perempuan yang masih setia berada di sana.
"Ra..dua cowok itu siapa? Dari tadi aku lihat ngintilin kamu terus." Tanya Cika saat melihat Ben dan Carlos yang sedari tadi berdiri di belakang Aya.
__ADS_1
Aya langsung berdiri di tengah-tengah dua cowok itu dengan kedua sikunya ia tumpukan di pundak bidang Ben dan Carlos. "Perkenalkan kita adalah Trio ABC... pahlawan pembela kebenaran dan kebajikan." Aya menyempatkan tertawa terlebih dahulu. "Aya...Ben dan Carlos, kita pasangan tak terpisahkan!" Aya tertawa lagi untuk kesekian kalinya, itulah cara memperkenalkan dua bodyguard setia Aya, dari dulu hingga sekarang gayanya tetep sama. Ben dan Carlos diam tak bergeming sudah biasa menghadapi majikannya kalau sudah kumat tingkah Absurdnya.
Alan yang melihat itu langsung menatap Aya tajam dan menyuruhnya untuk duduk kembali, Aya pun langsung menurut dan sekarang kembali bersikap manis dan anteng di samping Alan.
"Ada yang punya makanan gak?" Tanya Arkhan yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
"Hey, ngapain kau di sini?" Selidik Alan.
Bukannya menjawab Lelaki itu malah langsung duduk dan menyomot pizza yang tergeletak di meja dan langsung melahapnya dengan rakus.
"Dasar! Gak punya sopan santun!" Sentak Alan.
"Apaan lu....Su?" Arkhan malah nyolot.
"Apa barusan kau bilang?"
"Iya kan Lu anaknya Su... Suhendra." Jawab Arkhan
"Kau juga kan anaknya Su...Sulaiman!" Alan tidak mau kalah.
"Iya juga ya? lupa gue, berarti lu Su1 dan gue Su2... hehehe, enakan gue Su2 kan Susu." Ucapnya sambil terus memasukkan pizza di mulutnya. Perdebatan tidak penting itu pun terus berlangsung antara Alan dan Arkhan. Hingga membuat semua yang ada di sana geleng-geleng.
"Sejak kapan mereka jadi Rival Rom?" Tanya Aya pada Romi yang duduk di sebelahnya sedikit berbisik.
"Sejak sekolah dasar. Dulu mereka itu tetanggaan tapi tiap hari kerjaannya Arkhan cuma gangguin Anisa, selalu saja tiap hari bikin Nisa pulang nangis, sampai bikin Alan geram dan akhirnya ia ngajak Arkhan bertanding entah itu dalam hal olahraga, Nilai di kelas hingga masalah sepele mereka buat tanding. Imbalannya kalau Alan memang Arkhan gak bakalan bikin Anisa nangis lagi dan gak bakal muncul lagi depan mereka. Tapi tetep saja Alan yang kalah, hingga saat kelulusan Alan menang untuk pertama kalinya. Dan benar Arkhan tidak muncul lagi di depan mereka, lebih tepatnya mereka sekeluarga pindah ke Jakarta, Alan tahu kalau sebenarnya Arkha mengalah jadi bukannya bikin Alan senang ia malah makin benci sama tu anak." Romi tertawa mengingat masa kecil mereka. Dulu Romi memang belum dekat dengan Alan, tapi ia tahu ceritanya karena saking terkenalnya di masa itu.
"Berarti Arkhan kenal dong sama Anisa?" Celetuk Aya yang langsung di dengar Arkhan.
"Oh..iya gimana kabarnya si Pus? kuliah di mana dia?" Arkhan bertanya pada Alan yang sekarang malah membuang muka.
"Kok Pus?" Aya mengeryit.
"Iya kan namanya Anisa,Nis... sama Pus... kan sama aja"
"Emang mau manggil kucing?!" Aya tertawa di ikuti Yang lainnya tentu kecuali Alan.
"Dia sekarang kuliah di Akbid, tinggal di Asrama." Sahut Nando yang sedari tadi diam.
"Wih...mau jadi dukun beranak aja pake sekolah segala!"
"Hey...di amuk pacarnya baru tahu rasa!" Desis Nando.
"Pacar? Si Pus udah laku?" Rasanya Alan ingin mentonyor kepala bocah tengil itu. Kalau saja tidak mengingat jasanya yang mau mengiringi Alan bernyanyi.
"Tuh!" Tunjuk Nando pada Romi yang langsung salah tingkah. Memang sejak Alan tinggal di apartemennya Romi, ia jadi sering menghubungi Anisa menayangkan kabar ibunya Alan serta memberitahu kabar Alan yang baik-baik saja. Entah sejak kapan hubungan mereka berubah menjadi berpacaran Romi juga tidak tahu karena itu mengalir dan terjalin begitu saja.
Bersambung.....
Hay...Hay...Dibawah aku taruh Visual Asher dan Mita ya? Visual Asher ada pergantian. maaf part ini lebih banyak membahas hubungan orang lain, karena otakku hari ini nampung yang itu, besok baru beralih ke Aya dan Alan, tak lupa kawan-kawannya...jangan lupa like, koment dan vote yang buanyak... hehehe.
...Visual Asher...
__ADS_1
...Visual Mita...