
"Rom... jangan-jangan Raisha itu pacarnya Alan ya?" Bisik Nando.
Romi hanya mengedikkan bahu acuh, "udah gak usah ngurusin mereka." Ucap Romi datar, sebenarnya ia tengah menyembunyikan sakit hatinya, rasanya tidak rela melihat orang yang disukainya bisa tertawa dengan orang lain. Romi belum tau saja kalau Alan belum putus dengan Ima.
"Darling, aku mau juga dong digituin." Rengek Cika iri melihat kemesraan Aya dan Alan.
"Iya Honey, nanti ya?...malu kalo sekarang." Tawar Nando.
Sedangkan, Lisa dan Aris hanya bisa menatap kemesraan Aya dan Alan dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, rasanya mereka sudah kalah start untuk mendekati masing-masing dari mereka. Awalnya memang Aris ingin dekat dengan Aya tapi setelah mengetahui kalau Aya sudah bertunangan ia langsung mundur, Tapi ada yang membuatnya tercengang karena Alan bisa begitu mudahnya mendekati Aya.
Begitupun dengan Lisa awalnya ia juga ingin mendekati Alan, tapi karena Alan yang sangat cuek membuatnya jengah dan akhirnya menyerah, apalagi sekarang melihat pemandangan yang membuat jiwa jomblonya makin meronta-ronta rasanya keputusannya sudah tepat.
"Udah Al.... ampun, aku pusing banget!" Rengek Aya. Ia sudah berontak ingin turun.
Alan yang sudah puas menggoda Aya akhirnya menurunkannya, tapi masih memegang pinggang Aya Karena ia tau Aya pasti sempoyongan karena pusing.
Mereka semua sudah bersiap-siap untuk menyalakan kembang api, dihitungnya detik-detik pergantian tahun.
"Empat....tiga....dua....satu!" Serempak.
"Door!...Door!" Suara letusan kembang api membuat langit gelap menjadi bersinar dengan percikan yang begitu indah, semua yang memandang Tampak bahagia. Terompet pun mulai bersahutan-sahutan.
Alan memegang tangan Aya sambil menikmati Kembang api, terlihat saat gelang yang Aya pakai dan milik Alan bersentuhan memancarkan cahaya berwarna biru yang indah.
Menurut Aya, ini adalah tahun baru yang paling mengesankan seumur hidupnya, tanpa ia sadari kepalanya sudah bersandar di pundak Alan. Alan sejenak menoleh kemudian membelai lembut rambut Aya, genggam tangannya juga mengerat. Senyuman bahagia terbit di bibir keduanya.
***
Seseorang sedang menggeliat di dalam selimut. Suara deringan ponsel membuatnya terpaksa harus menyibakkan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Hallo?" Suara serak has bangun tidur.
"Aku udah di bawah, cepat turun!" Perintah seseorang, yang sangat ia kenal.
Aya menutup teleponnya, dilihatnya jam menunjukkan pukul delapan pagi, sebenarnya ia masih sangat mengantuk karena tadi malam ia baru tidur jam dua pagi.
Aya meregangkan otot tubuhnya sebelum ia beranjak mencuci muka terlebih dulu.
Sedangkan di lantai bawah Alan sedang bersandar di pintu mobil kepalanya mendongak berharap seseorang yang di lantai atas menampakkan dirinya.
"Nak Alan?... ngapain di sini?" Tanya seorang wanita paruh baya.
"Ibu kenal saya?" Alan mengeryit melihat ada seseorang yang mengenal dirinya.
"Tentu saja, nak Alan kan terkenal di sekitar sini, anak bu Anita yang paling ganteng satu komplek..... siapa yang gak kenal." Wanita paruh baya itu menjawil lengan Alan.
Alan menanggapinya dengan senyum yang dipaksakan, "Ibu tinggal di sini?"
"Ini kan kost milik saya... perkenalkan dulu nama saya Bu Maria." Ia mengulurkan tangannya dan tentu langsung di sambut Alan.
Tapi saat akan melepaskannya bu Maria masih menahannya, bahkan ia tersenyum manis sambil memandang Alan hingga membuat Alan tidak nyaman.
"Ehemm!" Suara seseorang dari belakang membuat Maria melepaskan tangannya.
"Kok kamu belum mandi, udah aku tungguin dari tadi." Alan akhirnya mengeluarkan suaranya.
"Oh.. nak Alan temennya Raisha ya?,..kalau begitu ibu permisi dulu." Akhirnya Bu Maria pergi dan Alan bisa bernafas lega.
"Ciee... yang paling ganteng satu komplek." Goda Aya, menaikkan turunkan alisnya.
Alan langsung menarik hidung Aya, hingga membuatnya mengaduh. "Cepetan mandi!...aku tunggu di sini." Alan mendorong tubuh Aya supaya lekas naik tangga.
__ADS_1
Aya menoleh ke kebelakang, "Memangnya mau kemana Al?... hari ini aku ingin tidur sepuasnya." Aya masih menahan tubuhnya dari dorongan Alan.
"Temenin aku beli kado tahun baru."
"Kenapa harus sama aku?...sama ima aja!"
"Kamu kan sahabatku, harus selalu ada saat aku butuhkan." Alan tersenyum menang. Dan mau tidak mau Aya terpaksa menurutinya.
"Ingat dandan yang cantik!..jangan pakai kumis!" Teriak Alan. Saat Aya sudah tidak Terlihat.
Aya membanting pintu mobil setelah ia memasukinya. "Yuk berangkat!"
Alan memicingkan mata, menilai penampilan Aya dari atas sampai ke bawah. Aya sekarang memakai celana jeans panjang, kaos putih di balut jaket parka warna cream tak lupa ia memakai topi.
"Kenapa?" Aya menoleh. Kemudian menatap dirinya sendiri. "Oh...gak suka sama penampilan ku?...ya udah aku gak jadi ikut!"
Aya akan beranjak membuka pintu tapi buru-buru di tahan Alan, ia juga langsung mengunci mobilnya otomatis agar Aya tidak kabur lagi. Aya hanya bisa memutar bola matanya jengah.
"Kamu cantik pake apa saja." Puji Alan setelah menjalankan mobilnya.
"Gombalanmu gak mempan sama aku!.... kalo sama ima mungkin." Dengus Aya.
Alan mengambil topi yang Aya pakai kemudian memakaikannya sendiri, "Kenapa selalu pakai topi?"
"Wajahku ini sangat mencolok,..... kalau keluar pasti jadi pusat perhatian, males banget aku." Jawab Aya sambil membuka paper bag yang ia bawa.
"Yang kemaren ketemu sama Romi gak pake!"
"Oh, kemaren kebetulan baru pulang nyalon...kalo pake rusak lah rambut baruku." Aya mengeluarkan sandwich yang ia bawa.
"Wah...mau ketemu Romi aja ke salon dulu, kalo sama aku boro-boro nyalon dandan aja gak!" Alan tampak sedikit kesal.
Aya langsung melirik, "Kamu cemburu?....jangan cemburu berat biar Dilan aja." Aya berusaha ngelawak tapi sepertinya tidak berhasil, karena Alan sama sekali tidak tertawa. Jadi ia memutuskan menggigit sandwich nya saja sekalin melampiaskan emosinya.
Aya sedikit terkejut hingga menghentikan kunyahannya tapi kemudian ia melanjutkannya lagi, berusaha bersikap masa bodoh, ia tidak mau kege'eran.
Alan sebenarnya melirik Aya, ia ingin melihat ekspresi dan tanggapannya. Tapi sepertinya ia kecewa karena tidak mendapatkan yang ia inginkan. "Aku gak ditawarin nih?"
"Emang kamu mau?" Aya mengeryit.
"Ya...mau lah kan aku juga belum sarapan."
Untung saja Aya membawa lumayan banyak, cukuplah untuk dua orang. Ia memanfaatkan daging ayam sisa tadi malam sebagai isi, ia hanya butuh memanaskannya saja. Sambil makan ia menyodorkan satu potong untuk Alan.
"Suapi!" Jawaban Alan membuatnya terbelalak.
"Gak liat aku lagi nyetir?" Suaranya sedikit meninggi.
Dan pada akhirnya Aya menyuapi Alan sambil memakan sandwich nya sendiri tak jarang ia salah menyuapi miliknya pada Alan atau sebaliknya karena tangan kirinya tengah sibuk berjelajah internet. Masa bodoh lah yang penting kenyang pikirannya.
Akhirnya mereka sampai di sebuah Mall besar di kota J**** . Sesaat setelah mereka keluar dari mobil Alan langsung merangkul pundak Aya.
Aya menoleh sambil mengeryit. "Lepas Al!.... risih!" Aya berusaha melepaskan rangkulannya.
"Gak papa!....kita kan sahabat." Aya mengabaikan Aya yang tampak tidak nyaman.
"Sahabat?..... rasanya mulai sekarang aku benci kata-kata itu!"
Sontak ucapan Aya membuat Alan tertawa, dicubitnya pipi bulat Aya. Hingga membuat cewek itu mengaduh.
"Sakit.... Bambang!" Aya meringis sambil mengusap-usap pipinya yang merah akibat cubitan Alan.
__ADS_1
"Habisnya pipi kamu lucu banget kayak squishy." Bukannya takut dengan tatapan maut gadis di sampingnya, ia malah menusuk-nusuk pipi Aya lagi.
Dengan sedikit kasar Aya melepaskan rangkulan Alan kemudian berjalan lebih dulu. Tentu saja Alan langsung mengejar Aya dan menggandeng tangannya walaupun Aya terus saja menolak tapi yang namanya Alan tidak akan menyerahkan sebelum keinginannya terpenuhi.
Mereka berkeliling menuju butik langganannya, Alan bermaksud ingin membelikan baju untuk ibu dan adiknya, ia meminta pendapat Aya dan pilihannya sungguh tepat sesuai selera dua wanita itu, sungguh memuaskan.
"Kamu bei'in apa buat ima Al?" Tanya Aya sesaat setelah keluar dari butik.
"Aku bingung,....besok aja lah." Ucap Alan cuek.
"Sekarang aja, bagaimana kalau kamu bei'in cincin atau kalung gitu." Aya berjalan sambil sesekali minum Coffee Latte kesukaannya yang baru saja ia beli.
"Emang mau tunangan apa?.... yaudah kita beli di sana aja." Tunjuk Alan pada outlet yang menjual aksesoris Wanita.
"Kenapa gak beli ni toko kamu aja?" Tanya Aya, setelah ia masuk dan melihat-lihat ke dalam. Matanya fokus melihat gelang-gelang yang berderet di etalase.
"Dari mana kamu tau aku punya toko?"
"Anisa yang bilang kemaren, waktu aku jenguk dia."
"Jadi kemaren kamu kesana?" Dan langsung di Jawab anggukan kepala.
Tanpa permisi Alan langsung menyeruput minuman yang mau masuk ke mulut Alan. "Alaaaan....!" Pekik Aya. Ia melayangkan pukulannya.
Alan terkiki, melihat tingkah Aya yang seperti anak kecil merajuk. "Minta dikit aja,...haus."
"Kenapa tadi gak beli sendiri!" Sentaknya, Aya tampak masih kesal, bahkan mulutnya sudah mengerucut.
"Gitu aja marah, iya nanti aku belikan!"
Aya yang masih merajuk pergi ke sisi lain, melihat barang-barang yang dijual di outlet itu.
"Cantik boleh kenalan gak?" Sapa seorang laki-laki yang menghampiri Aya.
Aya sedikit berjingkrak kaget, di tatapnya laki-laki berbadan gempal itu. Walaupun ia jago karate tapi kalau melawan pria di depannya itu pasti ia kalah. Sentuhan di pundaknya membuatnya menoleh, Ternyata Alan tengah merangkulnya.
"Alan?.....ini cewek mu?" Tanya pria itu sedikit terkejut.
"Iya..." Alan menatap pria itu kemudian beralih menatap Aya. "Sayang... apakah dia mengganggumu?"
Aya mengerjabkan matanya, "Sayang?" Batinnya. Karena masih terkejut ia hanya terbengong, tidak menanggapi pertanyaan Alan.
"Sorry aku gak tau... Al" ucap Lelaki itu tampak sungkan. Setelah itu muncul juga seorang gadis yang memanggil Lelaki itu dengan sebutan kakak.
"Lho.... ini Alan kan?" Tanya gadis itu.
"Ini pasti Ela....udah besar kamu." Alan mengacak-acak rambut gadis itu.
Dan entah kenapa membuat Aya kesal dengan perlakuan Alan pada gadis yang bernama Ela itu.
"Siapa ini Kak Al?" Ela beralih menatap Aya.
"Ini pacarnya Alan dek." Sahut pria berbadan gempal yang tadi memperkenalkan dirinya Bima.
"Ih...cocok banget, pasangan yang serasi...satu ganteng satu cantik. Nama Kaka siapa?" Ela mengulurkan tangannya.
"Aya." Sambutnya.
Ternyata dua orang itu adalah sepupu Alan, dari keluarga Ayahnya. Karena Ibu dan ayah Alan sudah berpisah otomatis mereka jadi jarang bertemu padahal sebelumnya mereka cukup dekat. Mereka memutuskan untuk makan siang bersama sambil mengobrol.
Bersambung.....
__ADS_1
Maafkan baru upload, biasa tadi malem ketiduran,... mungkin ada yang pengen request gitu pengen aku bikin story siapa mungkin Asher atau Ima gitu??...jangan lupa like, komentar dan vote yang banyak biar aku makin semangat.... macacihhhhh