
"Itu bekas luka apa di punggungmu?" Tanya Aya, ia berusaha tenang...dan sangat berharap Alan mau menjawab pertanyaannya.
"Oh....ini bekas luka yang aku dapat waktu kecil, saat aku mencoba menolong anak yang jatuh ke jurang." Entah kenapa Alan merasa nyaman dengan Aya, tanpa banyak berfikir ia langsung menjawab pertanyaannya, padahal jarang sekali ia mau menceritakan masa lalunya pada seseorang, membuatnya menyunggingkan senyuman.
Tanpa ia sadari wanita yang ada di balik punggungnya sudah berkeringat dingin. Badannya terasa kaku. "Kalau boleh tau siapa nama lengkapmu?" Aya berusaha setenang mungkin walaupun sebenarnya ia sangat berharap semoga jawaban Alan tidak seperti yang ia harapkan.
"Tumben ada yang bertanya nama lengkapku, tapi karena kamu teman baik Aya kurasa tidak masalah, aku akan menjawabnya." Alan masih sibuk membersihkan kaos yang sudah ia lepas menggunakan air di wastafel. "Dan karena kamu dekat dengan Romi." Sambung Alan dalam batin.
"Alan Nathaniel Suhendra...itu nama lengkapku."
Bagaikan di sambar petir di siang bolong, kaki Aya terasa lemas ia langsung bersandar di tembok yang ada di sampingnya, dadanya begitu sakit mengetahui lelaki yang selama ini ada didekatnya bahkan pernah menciumnya saat berpenampilan sebagai Asher adalah lelaki yang selama ini ia cari, cinta pertamanya , pangeran penolongnya. Harusnya saat ini ia merasa senang karena akhinya bisa menemukannya. Tapi tidak, karena sekarang ia sudah menjadi milik sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri.
Ia tidak setega itu, merebut kekasih sahabatnya, biarlah.....ia akan merelakannya, sekuat tenaga ia mencengkram dadanya, berharap bisa sedikit membuat rasa sakitnya berkurang. Ia harus segera membuat Alan pergi dari sini.
"Tidak sebaiknya kamu cari Aya dulu, karena toko dari sini itu jauh, aku takut dia tersesat." Aya mencoba menahan air mata yang sedari tadi sudah terbendung.
Sedangkan lelaki itu masih saja sibuk mencuci kaosnya di wastafel. "Iya sebentar lagi setelah menyelesaikan ini." Tangannya sibuk mengucek.
"Sepertinya kaosmu itu lebih penting dari pada pacarmu!" Sentak Aya, ia merasa batinya antara sedih dan juga sebal. Ia langsung menyambar Kaos yang ada di tangan Alan. "Biar aku yang cuci! sekarang kamu cari ima kalau kamu memang pacar yang baik!" Aya langsung berbalik dan sedikit berlari naik ke lantai atas.
Alan hanya bisa melihat punggung Aya yang semakin lama semakin tidak terlihat. "Kenapa dia tiba-tiba marah...memang apa salahku, apa ada kata-kataku yang menyinggungnya." Gumamnya.
Sesampainya di lantai atas Aya melemparkan kaos itu ke lantai kemudian menutup pintu kamar. Ia menangis sejadi-jadinya meluapkan semua kesedihannya, kenapa hidupnya harus seperti ini, sejak kecil dirinya selalu di kekang, dia bisa bebas tapi dengan cara menyamar dan sekarang di saat dia sudah menemukan pangeran penolongnya yang sudah ia tunggu-tunggu tapi ia harus menelan kepahitan kalau dia pacar sahabatnya. Aya sungguh merasa dunia sangat tidak adil.
Ketokan di pintu membuat Aya menghentikan tangisnya. "Ay.... kamu kenapa, kata Alan tiba-tiba kamu marah-marah." Ujar ima dari balik pintu.
"Sampaikan maafku pada pacarmu ya? Mungkin bawaan cewek yang lagi PMS." Jawab Aya berbohong. Aya buru-buru mengusab air mata yang tersisa di pelupuk matanya. Sebelum membuka pintu kamar ia mengatur nafasnya terlebih dahulu.
"Lho Ay kenapa matamu merah? Kamu habis nangis?" Ujar Ima saat pintu kamar terbuka,ia melihat Aya dengan intens ada kekhawatiran yang terlihat.
Aya langsung berpura-pura menguap, lalu mengerjab-ngerjabkan matanya, "Oh... mungkin gara-gara mengantuk ma."
"Ayo cepat siap-siap kita jalan-jalan, mumpung weekend udah lama kita gak ngumpul." Ima memeluk Aya dengan erat.
"Pacarmu?"
"Dia juga ikut ,kita jalan bertiga." Jelas ima dengan mata yang berbinar-binar.
Aya hanya bisa menghela nafas, "Jadi kamu mau aku jadi obat nyamuk?"
"Bukan gitu Ay, aku grogi banget ini kencan pertamaku... please temenin aku ya?" Ima langsung memasang wajah memelas.
Tentu saja itu langsung membuat Aya tidak bisa untuk menolaknya. "Ya udah, kamu turun dulu, tuh...temenin pacarmu. Aku mau siap-siap." Ima langsung mengangguk senang.
Aya sedang memilah-milah baju yang mau ia pakai, ia bertekat akan berpenampilan biasa saja, kalau perlu paling buruk, agar ima tetap terlihat paling cantik, ia mengingat masa-masa saat di Jakarta kerap kali banyak orang yang tidak menghiraukan ima saat melihat Aya disampingnya, semua perhatian orang hanya tertuju padanya. Ia tidak mau hal itu terjadi lagi, apalagi saat kencan pertama Ima.
__ADS_1
"Yuk berangkat!" Ujar Aya setelah turun dari tangga.
Ima memandang Aya dari atas sampai bawah, Aya memakai celana jeans gombrong, jaket Hoodie warna putih tak lupa topi jeans yang warnanya senada dengan celana, tas selempang besar dengan gantungan kunci boneka beruang, rambutnya ia biarkan terurai. Ia hanya memoleskan lipstik di bibirnya agar tidak terlihat pucat. "Aku gak salah liat kan Ay? Tumben penampilan kamu seperti ini.... seperti bukan kamu yang biasanya."
"Kamu lupa, kalau di sini penampilan ku ya seperti ini." Sahut Aya kemudian membuka pintu mobil, ia duduk di kursi belakang. Mobil Alan mulai berjalan meninggalkan kost Aya.
"Aku dari tadi dengar, kamu manggil teman kamu itu dengan sebutan Ay, bukannya namanya Raisha?" Tanya Alan sambil menyetir.
Saat ima mau membuka mulutnya ingin menjawab pertanyaan Alan.
"Ay...itu nama julukan ku saat kecil," Aya langsung menjawab duluan.
"Aku tidak bertanya padamu?" Sahut Alan sedikit sinis, ima menoleh pada Aya yang duduk di belakang, Aya langsung melotot dan meletakkan telunjuknya di bibirnya, seakan menyuruh ima untuk diam dan tidak menjawab pertanyaan Alan.
Saat Alan melirik dari kaca sepion, Aya langsung bergegas pura-pura membuang muka dan melihat ke arah jendela.
"Iya sayang, seperti yang Raisha katakan tadi." Jawab ima. Beberapa menit hanya terdengar deru mesin mobil yang mendominasi.
Mobii berhenti di sebuah Cafe, ya itu adalah Cafe Langganan Alan. "Kita makan siang dulu."
Aya hanya bisa menghela nafas, berharap semoga tidak bertemu dengan Romi ataupun Lila.
Setelah semuanya duduk, Alan pamit ke toilet. Tiba-tiba ponsel ima pun berdering karena Suasana Cafe begitu ramai jadi dia tidak terlalu mendengar suara dari telfon. "Ay aku keluar sebentar ya? Mau angkat telfon di sini gak kedengaran." Ima beranjak.
Bersamaan itu juga pelayan datang memberikan menu. "Eh...ini kamu mau pesen apa?!" Aya sedikit berteriak.
Aya hanya bisa menghela nafasnya kemudian menggeleng, "Pesan kwetiaw satu, jus avocad satu, lemon tea dua sama spring Chicken dua yang satu tanpa bawang Bombay ya mbk?" Aya mengembalikan buku menu pada pelayanan.
Saat tengah menunggu ima dan Alan kembali, Aya merasa ada seseorang yang duduk di sampingnya. "Astaga! Asher ngagetin aja kamu!" Pekik Aya. Asher hanya tertawa terbahak-bahak.
"Ngapain kamu disini?"
"Aku disuruh Ima kesini, mana imanya?" Asher mengedarkan pandangannya menyapu seluruh Cafe mencari keberadaan ima.
"Sher, lebih baik kamu pergi dari sini, daripada kamu patah hati." Aya langsung memasang wajah sedih tapi terlihat dibuat-buat.
Asher langsung mengeplak kepala Aya, "Aku sudah tau semuanya, tidak usah memasang wajah menyebalkanmu itu!"
Aya mengerutkan keningnya,"kamu sudah tau kalau ima punya pacar?"
"Ya."
"Kamu tau siapa pacarnya?"
"Ya."
__ADS_1
"Daebak!" Aya menggelengkan kepalanya sambil bertepuk tangan merasa bangga sekaligus terkejut.
Ima dan Alan sudah kembali duduk di meja mereka, "kamu Kakak sepupunya Asher kan?" Tanya Alan memandang Asher penuh selidik.
"Iya kenapa?" Asher menjawabnya dengan senyum meledek.
Ima mengerjapkan matanya, tidak mengerti akan situasi yang terjadi, Aya memberikan tanda agar ima diam saja, Ima pun mengangguk.
"Sepertinya kamu sangat mengenal Aya dan Raisha ya? Betapa kecilnya dunia ini." Alan menanggapi dengan suara yang dingin.
"Ya begitulah, Ima...eh maaf, maksudku Aya itu sahabatku, dan gadis di sampingku ini saudara kembarku." Asher langsung merangkul pundak Aya dengan gemas, Senyum yang menyebalkan itu tersungging lagi. Aya membalas senyuman Asher dengan terpaksa.
"Kamu sudah pesan Ay?" Tanya Ima, membuat suasana mencair.
"Raisha...Aya!" Aya memberikan contoh kepada Ima cara memanggilnya.
"Iya maaf,..... sudah kebiasaan." Ima tersenyum cengengesan.
"Sudah,... itu." tunjuk Aya menunjukkan dengan ekor matanya pelayanan yang sedang membawa pesanan mereka.
"Yang gak pakai bawang Bombay mana mbak?" Tanya Aya pada pelayanan, dan Aya langsung menyodorkan piring itu kepada Alan.
"Darimana kamu tau aku alergi bawang Bombay?" Alan menatap Aya penuh selidik.
Aya langsung gelagapan, sedangkan Asher menahan tawanya, yang sebentar lagi akan pecah. "A...aku....tau dari Romi." Aya menjawabnya dengan cepat walaupun terbata.
"Oh iya,...itu minuman dan makanan kalian kok bisa samaan, janjina ya?" Asher sedikit memancing. Dan langsung mendapat cubitan di pinggangnya dari Aya.
Ima dan Alan baru menyadarinya. "Aduh mati, bodohnya aku... kenapa aku memesan semua ini, apa tadi otakku sempat jatuh." Batin Aya, dia sudah berkeringat dingin.
"Ima mau tukeran gak?....aku tadi cuma asal pesan." Aya mencoba mencairkan suasana, yang mulai canggung.
"Gak Ra, kamu tau sendiri kan aku tidak terlalu suka ayam dan juga minuman yang asam, menu yang kamu pilihkan untukku ini sudah sesuai dengan seleraku." Ima menatap kwetiaw dan jus avocad yang ingin rasanya segera ia lahab.
Meraka makan dengan diam, sesekali ima menyuapi Alan dan Alan membalasnya dengan senyuman.
"Sher yang sabar ya? Belum juga kamu memperjuangkan, hatimu sudah dipatahkan." Bisik Aya sambil menepuk punggung Asher seolah memberi dukungan.
"Apa kau bilang? bukanya kamu yang harusnya lebih sabar, pangeran penolong yang dari kecil kamu idamkan itu sekarang bersanding dengan sahabatmu sendiri." Bisik Asher dengan seringai licik.
"Jadi kamu sudah tau tentang itu?! Sejak kapan?!" Walaupun berbisik Aya sedikit menekankan pada setiap kalimatnya.
"Sejak kapan ya? Mungkin sejak Kamu dipukul dia? ...iya sejak itu, aku menyelidiki asal usulnya." Asher masih berbisik di telinga Aya. Tanpa mereka sadari tadi Alan melirik ke arah mereka.
Bersambung....
__ADS_1
Alhamdulillah, hutang upload hari ini sudah selesai... sekarang muter ide lagi buat Next episode buat besok.... jangan lupa like dan koment ya.. vote.vote... macacihhhhh