Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Is this The End of My Story?


__ADS_3

"Ima tolong bantu Tante membujuk Aya? Dia dari kemarin tidak mau makan. Tante takut dia sakit lagi." Silvia tampak khawatir.


"Akan saya coba Tante. Sekarang Aya dimana Tan?"


"Di kamarnya."


Silvia menggiring ima menuju kamar Aya. "Tan... bisa saya temui Aya sendirian saja?"


Silvia mengangguk setuju. Kemudian Ima mulai mengetuk, setelah mendapatkan sahutan dari dalam ia pun masuk.


"Ngapai kamu kesini? Mau ngetawain aku?" Aya sedang berdiri di balkon. Ia tadi sempat melirik kedatangan Ima.


"Sama sekali tidak Ay, aku kesini cuma mau bantuin kamu."


"Gak salah?" Aya tertawa sinis.


Ima mulai mendekati Aya kemudian menyodorkan ponselnya. Aya melihat itu hanya mengerutkan keningnya.


Ima tersenyum masih terus menyodorkan ponsel dengan bunyi Tut....tut...., Tanda sedang menghubungi seseorang.


Dengan malas Aya menerimanya. Tapi saat melihat nama kontak yang tertera di layar ponsel ekspresi wajah berubah.


"Hallo." Sahutan dari seberang telepon.


"Ha...hal..lo." jawabnya dengan suara bergetar.


"Aya? cahaya hatiku?" Terdengar suara terkejut dari seberang sana.


"Iya ini aku, pangeran penolongku..aku kangen kamu Al." Ujarnya sambil menangis.


"Sssstt...udah jangan nangis, nanti cantiknya hilang."


"Alan ihh."


Alan tertawa dari balik telefon, sungguh ia sangat merindukan suara gadisnya itu.


"Maafin Papaku ya Al...., gak seharusnya Papaku menghinamu seperti itu."


"Gak apa-apa, aku tahu maksud Papamu. Pasti dia mau yang terbaik untuk anaknya. Akupun bila punya anak perempuan yang cantik seperti kamu pasti bakal ngelakuin hal yang sama."


"Tapi Papa udah sangat keterlaluan Al."


"Sudahlah, yang penting sekarang kita berjuang sama-sama, agar hubungan kita direstui sama Papa kamu."


"Caranya?"


"Disana kamu jadilah anak baik dan penurut. Sedangkan aku disini akan berusaha memantaskan diri untuk kamu."


"Alaannnn.."


"Kenapa?"


"Kamu sampai kapan di Jakarta?"


"Oh iya aku lupa bilang, nanti sore aku mau balik ke J**** , besok aku mau wisuda."

__ADS_1


"Ha... secepat itu?"


"Iya, aku kan udah bilang akan berusaha memantaskan diri buat kamu. Ini salah satu caranya. Setelah lulus aku akan membuat perusahaan kecilku menjadi sangat besar kemudian aku akan datang lagi untuk melamarmu. Jadi di sana kamu jangan nakal ya? Tunggulah aku."


Mendengar itu tanpa sadar air mata Aya menetes begitu saja. "Bisakah kita bertemu sebelum kamu pergi?"


"Memangnya boleh sama Papa kamu?"


"Akan aku coba."


"Kalau gak bisa tidak usah dipaksain Ay."


"Please Al, aku pengen ngisi amunisi buat aku sebelum jauh dari kamu."


Dari balik telfon Alan terkekeh mendengar permintaan aneh Aya. Alan pun menyetujuinya, sebenarnya ia pun juga kangen dan ingin bertemu dengan kekasih hatinya.


Aya meminta bantuan Ima untuk menolongnya bertemu dengan Alan. Mereka berjanji bertemu di taman kota. Syukurlah Silvia mengizinkannya dengan alasan Aya yang ingin makan di luar karena bosan dengan suasana makan di rumah. Silvia juga mempercayai Ima jadi menurutnya tidak masalah, toh Jonathan sedang ada bisnis di luar kota.


Mereka sudah sampai di dekat taman kota. "Makasih ya ma, sekarang aku percaya kalau kamu sudah menyesal. Maafin aku juga karena kemaren udah marah sama kamu."


"Gak apa-apa Ay, kamu pantas marah sama aku. Memang aku yang sudah keterlaluan." Mereka keluar dari dalam mobil.


Mereka berhasil mengelabui para bodyguard Aya hingga dia bisa bebas untuk bertemu dengan Alan.


"Perlu aku temenin Ay?" Ima berdiri di samping Aya.


"Gak usah, kamu tunggu aku di sini aja." Aya bisa melihat punggung Alan, walaupun cukup jauh dia sangat mengenal punggung kekasihnya itu. Tinggal menyeberang jalan dia sudah dapat menghambur memeluk Lelaki yang dicintainya.


Aya menoleh ke kanan-kiri memastikan laju kendaraan yang berlalu lalang. Dengan tidak sabar ia berlari.


"Awaaasss Ay!"


Bruukkk!


Sudah terlambat, tubuh Aya terpental hingga jauh terkapar. Darah segar langsung mengalir di beberapa bagian. Aya tidak bisa melakukan apapun selain menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya. Matanya masih terbuka menatap punggung Alan dari kejauhan, tanganya terulur ingin menggapai punggung lelaki yang masih sabar menunggu.


"AYA!!" panggil Ima sambil berlari dan merengkuh tubuh itu.


Aya meneteskan air matanya tanpa suara. Ia mulai merasakan sesak nafas. Ia juga merasakan darah mengalir dari hidungnya. Seluruh tubuhnya seperti sulit untuk di gerakkan. Rasa takutnya mengalahkan rasa sakit yang luar biasa.


Bagaimana sedihnya Mama dan Papanya. Bahkan dia masih belum berbaikan dengan sang Papa. Terlebih Ima bagaimana nasibnya setelah ini, pasti dia akan mendapatkan murka dari semua keluarganya terutama sang Papa kalau hal buruk terjadi padanya. Asher saudara kembarnya, bahkan dia belum sempat memanggilnya kakak, seperti yang selalu Asher idamkan. Bagaimana dengan Alan kalau sampai dia tahu hal ini pasti dia menyalahkan dirinya sendiri. Mereka bahkan sudah berjanji untuk berjuang bersama demi hubungan mereka. Bagaimana dengan, Mita, Cika dan teman-teman yang lain. Aya belum sempat berpamitan dengan mereka semua. Apakah perjalanan hidupnya hanya sampai disini. Padahal masih banyak yang ingin dia lakukan.


"I...Maa."


"Jangan banyak bicara Ay." Ujar Ima dengan terisak.


Ima mengusab air mata Aya. "Tahan sebentar lagi Ay. Kita kerumah sakit. Tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi padamu."


Mobil yang menabrak Aya sudah melarikan diri entah kemana. Bersamaan dengan itu Ben dan Carlos datang, walaupun mereka dalam keadaan syok tapi dengan sigab mereka langsung membawa Aya ke rumah sakit terdekat. Karena kondisi Aya sudah gawat dan harus segera ditangani.


Di dalam dalam perjalanan Ima terus menghubungi Alan tapi nomernya tidak aktif. Tampaknya lelaki itu sudah naik pesawat.


Sesampainya di rumah sakit Aya langsung masuk ruang UGD. Tidak berselang lama Silvia, Nadia juga Shakiel datang.


"Apa yang kau lakukan pada Aya?! Bagaimana ini bisa terjadi?!" Silvia mengguncang pundak Ima dengan berderai air mata. Badannya hampir limbung kalau saja Sakhiel tidak menahannya.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang terjadi ma? Kenapa bisa seperti ini? Bukannya kalian tadi pamit makan di restoran kenapa sampai Taman kota?" Tanya Shakiel menahan amarahnya.


Ima hanya bisa menunduk menyesal. Pada akhirnya ia menceritakan semuanya, tentang janji temunya dengan Alan beserta kecelakaan yang menimpa Aya.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini sekarang! Beruntung Papa belum sampai ke sini. Kalau bisa pergi jauh-jauh dari kota ini. Aku tidak bisa menjamin kelangsungan hidup mu dan keluargamu setelah ini. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Aya."


"Tapi...Kak Shakiel? Bagaimana dengan Aya, aku ingin tahu keadaanya."


"Aya biar kami yang urus. Lebih baik urus dirimu sendiri!" Setelah mengatakan itu Shakiel menyuruh anak buahnya membawa pergi Ima sebelum ayahnya datang.


Untung saja rumah sakit tempat Aya di rawat termasuk rumah sakit besar jadi Aya tidak perlu dipindahkan lagi untuk mendapatkan perawatan yang terbaik. Sudah satu jam operasi Aya berlangsung.


Kata dokter Aya mengalami patah tulang kaki tapi cedera di otaknya Cukup serius hingga mengharuskan untuk tindakan operasi yang memakan waktu lama.


Saat Jonathan sampai dia langsung murka. Dia melampiaskan amarahnya pada Ben dan Carlos.


"Menjaga satu orang saja tidak becus!" Teriaknya. Memukul dan menendang dua pengawal setia Aya. Mereka hanya diam tak bergeming menerima semua pukul Tuan besar yang sudah mempekerjakannya. Mereka mengakui kesalahan yang mereka lakukan.


"Pa sudahlah. Tidak ada gunanya menyalahkan mereka. Yang harus kita pikirkan adalah Aya." Shakiel berusaha meredamkan amarah sang Papa.


Tidak lama dokter dan perawat keluar memindahkan Aya ke ruang ICU.


"Bagaimana keadaan putri saya dok?" Tanya Jonathan tidak sabar. Silvia juga menatap dokter dengan wajah cemas.


"Bisa kita bicara di ruangan saya."


Silvia sebenernya ingin ikut tapi di cegah suaminya. Jonathan mengikuti Dokter itu ke ruangannya. Shakiel yang penasaran juga ikut masuk.


"Jadi bagaimana sebenarnya keadaan putri saya dok?"


"Begini Tuan, Putri anda mengalami cidera otak dan terjadi penyumbatan dibeberapa bagian. Tapi syukurlah kami sudah bisa menanganinya. Kita tinggal menunggu masa kritisnya lewat. Dan akan memeriksa dan mengambil tindakan selanjutnya. Kemungkinan putri anda akan mengalami amnesia karena ada sedikit kerusakan di bagian Hipokampus itu salah satu bagian otak yang berperan penting dalam pembentukan dan penyimpanan memori. Tapi itu belum bisa dipastikan hingga dia kembali siuman."


Jonathan dan Shakil hanya bisa menghela nafas berat sambil menunduk. Sekarang semua tidak penting bagi mereka, yang terpenting Aya bisa selamat.


Jonathan belum memberi tahu keadaan Aya pada istrinya. Kini tinggal Jonathan dan Shakil yang menunggu. Jonathan menyuruh Silvia dan Nadia untuk pulang. Karena melihat mereka yang kelelahan.


Pukul sepuluh malam masa kritis Aya telah terlewat. Tapi kini keluarga dihadapkan oleh berita kalau Aya mengalami koma.


Sudah satu bulan berlalu tapi keadaan Aya masih sama. Tergeletak tak berdaya bagaikan mayat hidup dengan berbagai alat yang menempel di tubuhnya. Silvia yang setiap hari menangis kini air matanya pun sepertinya telah kering.


Beberapa waktu lalu dokter menyarankan untuk memindahkan Aya ke Singapura untuk mendapatkan pengobatan yang lebih canggih. Dan hari ini persiapannya sudah selesai.


Setelah menempuh penerbangan selama dua jam lebih akhirnya rombongan Aya sampai di salah satu rumah sakit terbesar di Singapura.


Seorang dokter tampan menyambut mereka. "Bagaimana perjalanannya Om?"


"Lancar, bagaimana kabarmu Zra?"


"Baik Om."


Ya, dokter muda itu adalah Ezra, lelaki yang sempat akan dijodohkan dengan Aya tapi Aya tolak.


Bersambung.....


Maaf ya baru bisa up, kemaren dapat inspirasi bikin novel baru udah dapat empat episode tapi aku taruh di aplikasi orange..alias di watpad.. yang udah punya aplikasinya bisa di tengok judulnya Sister in Love. kisahnya Enzi dan Aqila. Rencananya kalau udah banyak baru aku pindah ke sini....jangan bosen sama ceritaku ya. jangan lupa tinggalkan like, koment dan Vote macacihhhhh.

__ADS_1


__ADS_2