
Anisa sedang tengkurap sambil melihat ponsel dengan posisi miring, sesekali ia tertawa. "Bisa romantis juga ni orang." Kemudian ia tertawa lagi.
"Lagi liatin apa Nis, kayak asik banget?"
Anisa tersentak reflek ia langsung menyembunyikan ponselnya dan beranjak duduk. "Eh kamu ma, ngagetin aja!"
Sejak kejadian itu Anisa mulai memanggil mantan kekasih kakaknya itu dengan panggilan Ima, alasannya biar samaan sama Ibunya.
"Coba lihat? itu apa yang kamu sembunyikan?" Ima langsung mengambil ponsel yang ada di bawah bantal kemudian membukanya.
"Itu video acara pensi di kampus Kak Alan." Sahut Anisa. Akhirnya mereka berdua melihat Video Alan saat menyanyikan lagu 'Kumau Dia'.
"Kaki kakakmu kenapa Nis?" Tanya Ima saat melihat Alan berdiri menggunakan Kruk.
"Cuma kecelakaan kecil, tapi udah sembuh kok."
Ima mengeryit saat videonya cuma sampai Alan turun panggung, "Kok videonya cuma sampai sini, kayak kepotong?"
Anisa tiba-tiba terlihat gugub, "eh..em..emm, aku gak tau! Beneran sumpah! Mungkin memang sampai situ aja."
Ima mengerutkan keningnya dalam, sikap Anisa yang tiba-tiba gugub sungguh sangat mencurigakan ia seperti tengah menyembunyikan sesuatu. "Besok kan libur, yuk ke rumahmu Nis, aku kangen sama Tante Anita."
"Eh... sorry banget ma, besok aku mau jalan sama Kak Romi, lain kali aja ya?"
"Berdua?"
"Iyalah,kencan masak rame-rame." Anisa tergelak mendengar pertanyaan Ima
"Ya mungkin aja, biasanya kan kalian suka kumpul-kumpul bareng."
Anisa tidak menanggapi ucapan Ima, ia hanya tersenyum kemudian segera bersiap untuk tidur.
***
Hari minggu yang cerah di tengah-tengah kota. Secerah hati Aya hari ini, ia baru saja mendapatkan pesan kalau hari ini Alan ingin merayakan hari jadian mereka. Karena Alan yang tidak mau merayakannya dalam keadaan pincang jadi sengaja ia tunda.
Acara sederhana, Alan ingin mentraktir makan para sahabatnya di Cafe milik Nando. Sekalian sebagai ucapan terimakasih dan permintaan maaf karena sudah menyusahkan Nando selama ia galau kemaren-kemaren.
Sesampainya di sana ternyata sudah ada Cika, Mita, Asher dan tentu saja Nando karena tadi mereka berangkat duluan.
"Akhirnya Couple goals kita sudah sampai." Nando sang pemilik Cafe menyambut Alan dan Aya.
Alan mengeryit saat melihat seseorang yang sangat tidak dia harapkan. "Bocah tengil ngapain kau disini? Aku merasa tidak mengundangmu."
"Hey Tuan sok, gue disini karena si Bos! Bukan karena lu." Sahut orang yang tak lain adalah Arkhan. "Hey cantik, boleh akang duduk sini." Tunjuknya di kursi sebelah Aya.
Belum sempat Arkhan duduk, kursi di tarik Alan hingga Arkhan langsung terjerembab ke belakang. "Aduhhh.... Kurang ajar lu!" Arkhan meringis sambil mengelus pantatnya.
"Kursi ini sudah ada yang pesan, sono lu jauhan!" Logat Arkhan sampai menular ke Alan.
Mau tidak mau Arkhan menurut, ia duduk di sebelah orang yang ia panggil Bos. Tidak lama pasangan terakhir pun datang.
Arkhan yang melihat seorang gadis cantik masuk seolah tersihir dengan pesonanya hingga mulutnya tanpa sadar menganga. Gadis itu langsung duduk di kursi yang tadinya mau ia duduki.
Hingga tangan sang Bos mendarat di mulutnya. "Tutup mulutmu! aku kasihan sama lalat yang masuk, bisa langsung tercemar tu lalat dengan omongan-omonganmu."
"Aiiisss...si Bos ganggu aja, gue lagi mengagumi ciptaan Tuhan." Matanya tak lekat terus memandang gadis itu.
"Kamu gak tau siapa dia?" Tanya Asher.
__ADS_1
"Emang siapa Bos?"
Asher tidak menjawab ia hanya mengedikkan bahu sambil menarik satu sudut bibirnya.
"Kangen Kak!" Ucap Gadis itu manja menghampiri Alan kemudian memeluknya.
"Mana Romi dek?"
"Lagi parkir mobil." Gadis yang tidak lain adalah Anisa beralih menghampiri Aya kemudian memeluknya. "Gimana kabarnya Aya?"
"Baik...kamu sendiri gimana? Tau-tau udah jadian aja." Aya menggoda Anisa.
Anisa hanya tersenyum sambil tersipu malu. Alan yang melihat interaksi antara kedua gadis itu tersenyum. Syukurlah sang adik tampaknya sudah tidak mempermasalahkan bila Alan berpacaran dengan Aya.
Sedangkan di sisi lain lagi-lagi mulut Arkhan menganga untuk kesekian kalinya, tapi ini bukan karena terpesona tapi lebih ke terkejut.
"Puss?"
Mendengar itu semuanya menunduk kebawah seperti mencari sesuatu, "Mana kucingnya?" Sahut Cika.
"Mana Honey? Repot nanti kalau berhasil nyolong makanan di Cafeku." Sahut Nando juga.
"Pus...pus.." kini giliran Aya menunduk sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Masa kucing bisa masuk Cafe?" Mita ikut mencari di kolong meja.
"Lu si Pus kan? Gue kok gak percaya ya!...Lu dulu kan gendut, sekarang kok cantik?" Suara dalang di balik keributan terdengar lagi. Ia menunjuk Anisa yang juga sedang menatapnya heran.
"Siapa dia Kak?" Anisa bertanya pada Alan.
Yang lainnya sudah kembali duduk tegak karena menyadari yang mereka kira kucing ternyata adalah nama panggilan untuk Anisa.
"Gue King Sulaiman? lu lupa Pus?" Arkhan sekali lagi mengingatkan Anisa yang sekarang tampak sedikit terkejut. Memang saat kecil Arkhan selalu memperkenalkan dirinya sebagai King Sulaiman, ia jarang mau dipanggil dengan panggilan Arkhan.
"Ih...Sok kenal banget dia." Anisa tampak acuh kemudian menjatuhkan dirinya di kursi, sebenarnya ia ingat tapi terlalu malas untuk menanggapi cowok masa lalunya itu, lebih tepatnya cowok masa kecil yang selalu menyebalkan dan selalu memanggilnya dengan sebutan Pus.
"Dasar dukun beranak!"
"Bilang apa barusan? Hei inget ya...kalau gak ada orang kayak aku, kamu juga gak bakalan bisa lahir ke dunia!" Anisa membela diri.
"Idih...gue tu hacker terkenal tau? gak level lahirannya di bidan. Di rumah sakit."
"Heleh bo'ong....kata Tante Rosa kamu kan lahirannya di bidan." Sahut Anisa cepat.
"Udah inget sekarang?" Arkhan menarik turunkan alisnya. Haduh! Anisa merasa kena jebakan Batman. "Masih suka nangis gak lu? Kok tiba-tiba gue sekarang pengen banget bikin lu nangis ya?"
"Dasar kang jemuran!" Celetuk Anisa.
"Maksud lu?"
"Kamu yang biasa di gantung di tali jemuran kan?"
"Itu Hanger Nisa?!" Ujar semuanya serempak sambil tertawa.
"Ada Apa ini kok rame-rame?" Romi yang baru masuk terlihat penasaran dengan suara tawa semu orang.
"Sayang....dia gangguin aku, cepet usir dia!" Anisa langsung merengek manja. Arkhan yang melihat itu rasanya ingin muntah saja.
Tiba-tiba Arkhan seperti tersadar, "kok gue ngerasa jadi obat nyamuk ya?"
__ADS_1
"Kan aku udah bilang, aku gak ngundang lu jomblo abadi! undangannya khusus untuk yang ada pasangannya...ngenes kan lu sekarang?" Alan bersua.
"Tenang aja, bentar lagi kamu ada pasangannya kok." Sahut Aya hingga membuat Alan mengerutkan keningnya.
Tidak berselang lama Lila pun datang. Dan acara makan-makan berlangsung dengan lima pasang sejoli yang sedang dimabuk cinta kecuali pasangan Arkhan dan Lila yang memang baru berkenalan.
"Yuk kita foto bersama!" Aya mengambil kamera polaroid dari tasnya dan meminta satu pegawai Nando untuk memfoto mereka.
Cekrek!
Senyum dan tawa mengiringi perkumpulan pasangan sejoli dalam sebuah ikatan persahabatan dan cinta. Selalu ada tawa diantara mereka.
Bergantian Aya memfoto satu persatu pasangan.
"Darling, pulang dari sini anterin ke salon ya?".........."Oke Honey, apapun akan aku lakukan hanya untukmu." Pasangan kocak nan lebaya Cika dan Nando.
"Apa kau lihat-lihat?"........"Aku cuma sedang memandang ciptaan tuhan yang begitu indah di depan mataku." Pasangan Mita dan Asher, yang terlihat seperti Masya and the bear. Satu cuek dan yang satu terus mengejar.
"Pulang dari sini mampir ke Mall dulu ya kak?"......."Iya" pasangan yang bagaikan adik dan kakak, Anisa dan Romi.
"Oh....lu kerja di rumah sakit ya?"......"Gak tentu kadang di rumah sakit kadang juga jaga di ruang kesehatan yang ada di kampus." Pasangan yang baru saja berkenalan. Arkhan dan Lila.
"Beruntung banget gue bisa kenalan sama Dokter cantik.....gak jadi sama dukun beranak." Celetuk Arkhan yang langsung mendapat jambakan di rambutnya.
"Apa Lu kang jemuran? Siapa juga yang mau sama lu!...Amit...Amit...!"
"Awww....sakit beg*!....amit-amit apa amin-amin...?" Bukannya terlepas jambakan di rambutnya malah semakin keras.
Aya tertawa melihat semua tingkah mereka. Tak lupa ia mengabadikan setiap momen semua pasangan sahabatnya itu sambil tersenyum.
"Sekarang giliran kita." Alan mengambil alih kamera, mengarahkannya ke wajah mereka. Aya langsung bersiap memasang senyum manis.
Cup!
Cekrek!
Foto langsung keluar dan menampakkan Alan yang sedang mencium pipi Aya dengan Aya yang menunjukkan ekspresi lucu karena terkejut.
"Ih Alan ih...." Aya memukul lengan pelaku yang menyebabkan dirinya kesal.
Alan malah makin gencar menggoda Aya, menarik hidungnya kemudian mengacak-acak rambutnya. Ia berharap semoga kemesraan mereka tidak akan pernah berlalu. Eh kok kayak judul lagu....??
Dari kejauhan tampak sepasang mata yang menatap tajam ke arah mereka. "Kurang ajar! Mereka semua bersenang-senang di atas penderitaanku. Tunggu balasanku Aya, aku tidak akan menyerah begitu saja." Desis sosok itu.
"Kita mau ke mana Al?" Tanya Aya sepulang dari Cafe Nando. Tampaknya Alan mengajak Aya ke sebuah bukit, karena kini jalannya mulai menanjak.
Alan memacu kendaraannya dengan hati-hati karena hari sudah malam. Sesampainya di bukit, ia langsung menarik tangan Aya di ajaknya duduk di bawah pohon yang ada di pinggir lereng.
"Oh my God....bagus banget Al!" Aya tampak terkejut hingga menutup mulutnya saat melihat pemandangan dari sana. Di bawah terlihat pemandangan lampu kota dan diatasnya langit dengan bertabur bintang-bintang, sungguh pemandangan yang indah dan luar biasa yang belum pernah Aya lihat seumur hidupnya.
Aya langsung menghambur memeluk Alan dengan erat. Air mata bahagia luluh untuk kesekian kalinya. "Terimakasih untuk semuanya, hari ini begitu banyak kejutan yang sudah kamu berikan untuk ku. Aku tidak bisa membalasnya."
"Aku tidak butuh apa-apa, aku hanya butuh cintamu dan juga hatimu hanya untukku." Ucap Alan sambil tersenyum memandang wajah cantik yang ada di depannya.
Tiba-tiba Aya langsung menyambar bibir Alan hingga membuat Alan terbelalak. Baru pertama kalinya gadisnya ini berinisiatif menciumnya lebih dulu. Jadi Alan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Di l*m*tnya bibir manis nan ranum itu secara bergantian. Aya membalasnya tak kalah lembutnya. Kini lidah Alan menyusup ke dalam rongga mulut Aya mengambil manisannya madu yang ada di sana. Mereka saling mengecap hingga bertukar Saliva. Ciuman yang penuh dengan cinta di bawah langit dengan bertabur bintang-bintang. Tanpa mereka tahu satu persatu bintang jatuh mengiringi ciuman yang seolah tidak ada habisnya.
Bersambung....
Kemaren sempet tiba-tiba buntu, bingung mau nulis apa. Rencananya mau up lusa aja. eh pas bangun subuh pegang hape tiba-tiba ide mengalir begitu aja. emang bener ya klo bangun pagi fikiran suka fress..udah dulu curcol author, jangan lupa komentarnya, biar aku makin semangat...,kok komentarnya dikit sih kemaren??... hehehe
__ADS_1