Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Kisah Papa


__ADS_3

Aya berdecak kesal, ia berdiri di samping jendela sambil membuka pesan di ponselnya yang saat ini sedang diisi daya.



Aya melihat ada puluhan panggilan tidak terjawab dari Alan, tanpa pikir panjang dia langsung memblokir nomor itu. Setelahnya ia mengirim pesan pada Mita, meminta tolong untuk membawakannya baju ganti, Aya bermaksud akan tinggal di apartemen Asher sedikit lebih Lama.


Ia perlu waktu untuk berfikir sebelum memutuskan apa yang harus ia lakukan kedepannya termasuk hubungannya dengan Alan. Apakah setelah Alan puas mempermainkannya lelaki itu akan membongkar rahasianya? Pertanyaan itu Terus berputar di kepalanya. Tapi entah kenapa tak bisa di pungkiri hatinya menolak percaya. Hingga membuatnya dilema.


Asher memicingkan matanya, "Itu kan Kaos kesayangan ku!... berani-beraninya kau pakai! apa kamu tidak tau__"


"Yaelah....pinjem bentar pelit amat!...aku gak punya baju ganti. ini juga aku chart Kak Mita buat bawain baju." Potong Aya sambil mengerucutkan bibirnya.


Lagi-lagi mata Asher berbinar senang, "Oh iya silahkan pinjem aja, kamu pilih yang mana saja terserah...nanti biar Mita aku sendiri yang nganter ke sini, tenang saja." Asher mengucapkannya dengan begitu manis. Membuat Aya sampai melongo.


Ada apa dengan saudara kembarnya itu, kenapa sikapnya jadi berubah plin-plan.


***


Alan menatap gedung kampus yang alamatnya di kirimkan Nando.


Buru-buru ia masuk dan menghiraukan tatapan beberapa mahasiswi yang memandangnya kagum. Alan sudah terbiasa dengan tatapan itu, sama seperti tatapan mahasiswi yang ada di kampusnya. Mungkin bedanya tatapan itu mengandung pertanyaan, siapakah dia dan untuk apa dia kesini?


"Permisi, bisa tunjukkan ruangan Asisten dosen?... namanya Mirza?" Alan bertanya pada salah satu mahasiswi yang tengah duduk berkumpul di meja taman. Gadis itu tampak termangu antara kaget dan bengong.


"Permisi....kamu mendengarku?" Alan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah gadis yang masih terbengong itu.


Gadis itu langsung tersadar, "eh...ma maaf, di..sin ni tidak ada Asisten dosen yang bernama Mirza.!" Jawabnya terbata.


Alan tampak berfikir, "apakah dia menggunakan nama lain atau nama aslinya?" Batin Alan.


"Kalau Asher...Ada?" Ulang Alan.


"Oh....Kak Asher? Iya saya tahu." Setelah itu, mahasiswi yang entah siapa namanya itu menunjukkan ruangan Asher.


Sayup-sayup Alan mendengar obrolan mereka setelah ia pergi, "Ganteng banget gila!.... Emang ya, Cogan temenannya juga sama Cogan." Alan hanya menggeleng mendengarnya.


Alan mengetuk beberapa kali ruangan yang katanya ruang Asher hingga seorang mahasiswi menghampirinya, "Permisi.... apakah Anda mencari Kak Asher? hari ini beliau tidak masuk."


Alan tampak kecewa mendengar penuturan mahasiswi itu, setelah berterima kasih ia langsung pergi begitu saja.


"Bagaimana dia sudah pergi?" Pertanyaan lelaki yang tak lain adalah Asher membuat gadis yang melamun itu tersadar.

__ADS_1


"Iya sudah Kak!"


"Terima kasih." Asher tersenyum lalu menepuk pundak gadis yang terlihat tersenyum malu-malu.


Mimpi apa dia semalam sampai bisa berinteraksi langsung dengan dua lelaki super tampan, begitulah isi pikirannya.


Ternyata sedari tadi Asher ada di dalam ruangan, ia sengaja menyuruh salah satu mahasiswinya untuk berbohong pada Alan, ia masih enggan bertemu dengan Lelaki yang sudah membuat saudaranya itu menangis.


Alan menuju gerbang dengan langkah gontai, tadi ia sempat menghubungi Aya tapi ternyata nomornya sudah di blokir. Hingga tepukan di pundaknya membuat ia menoleh.


"Alan?.... ngapain disini?" Tanya seorang gadis yang ternyata Mita. Dia mengajak Alan duduk sebentar.


"Aku mencari Asher, tapi katanya hari ini dia tidak masuk!"


Mita mengeryit, tidak masuk? Padahal baru saja dia bertemu dengannya untuk menerima titipan Aya.


"Apakah hari ini Aya sudah menghubungimu?" Alan menatap Mita penuh harap.


Mita mengaguk, "Iya, tapi maaf aku tidak bisa memberi tahumu dimana dia."


Alan menunduk dalam, hari ini sudah banyak hal yang ia lalui, harapannya hanya ingin melihat sekali saja gadis yang dicintainya, tapi itupun tidak bisa.


"Kamu sudah makan?" Tanya Mita, karena ia bisa melihat dengan jelas wajah Alan yang lemas dan pucat seperti tidak ada tenaga.


Mita menyodorkan kotak makan yang ia ambil dari tas pada Alan. Alan mendongak sambil mengerutkan kening.


"Ini masakan Aya, aku tahu kamu lebih memerlukannya." Ucapnya lirih. Sebelum pergi ia sempatkan menepuk pundak Alan.


Alan tersenyum miris memandang isi kotak makan itu, ada juga kue brownies di sana. Menu Ayam lengkap dengan sayuran dan buah sebagai pencuci mulut. Makanan yang sangat Alan sukai.


Perlahan ia menyendok lalu memasukkannya ke dalam mulut. Di kunyahannya perlahan. Memang benar ini adalah masakan Aya, Alan sangat yakin sekali. Tak terasa air matanya luluh begitu saja. Ia menyendokkannya lagi dengan penuh semangat tak peduli tatapan heran para mahasiswa yang ada di sekitar sana. Yang ia rasakan sekarang adalah bahagia karena bisa merasakan masakan Aya. Sampai-sampai ia merasa seolah melihat gadis itu sedang duduk di manis di depannya sambil tersenyum menumpu dagu dengan tangannya.


Alan menghapus air matanya setelah menghabiskan makananya, ia beralih mengambil kue kemudian menggigitnya. Air matanya luluh untuk kesekian kalinya. Dia tertawa miris sambil memandang Brownise coklat kesukaannya itu.


Alan pulang naik angkutan umum karena memang mobilnya masih berada di Cafe Nando. Pandangannya kosong, sekarang tidak ada lagi Alan yang dingin dan cuek. Tidak ada lagi Alan yang jail dan sombong saat berhadapan dengan Aya. Yang ada hanya Alan yang tanpa semangat hidup, seolah hidupnya hampa.



Sudah tiga hari ini Alan tidak kuliah, dan tiga hari ini juga Alan pulang ke apartemen Romi dalam keadaan mabuk. Dua sahabatnya itu sudah sangat kewalahan. Bagaimana tidak tiap hari Romi harus rela baju dan mobilnya terkena muntahan Alan belum lagi ia harus susah payah membopong tubuh Alan, begitu juga dengan Nando Cafenya jadi sepi karena ulah Alan yang sering mabuk di sana. Badan Alan juga makin kurus karena jarang makan, ia hanya mau makan bila diberikan bekal makanan yang di bawa Mita, karena dia tahu itu adalah makanan buatan Aya.


"Rom, Alan tidak bisa begini terus...aku khawatir dengan kesehatannya." Nando menatap Alan yang sudah terkapar di sofa apartemen Romi.

__ADS_1


"Aku juga bingung, kamu tahu sendiri dia tidak mau mendengarkan ku, menurutmu siapa kira-kira yang bisa?"


Tiba-tiba Romi dan Nando saling pandang, seperti mempunyai pikiran yang sama.


Seperti hari-hari sebelumnya, Alan datang ke Cafe Nando dengan menenteng tas kresek. Nando tahu pasti apa isinya.


Saat akan meneguk minumannya, tangannya di tahan oleh seseorang. Alan menatapnya sedikit terkejut kemudian mendengus kesal.


"Untuk apa Anda ke sini?... saya tidak butuh dikasihani." Alan menarik tangannya, gelas yang tadi ia genggam kini sudah berpindah tangan.


"Seharusnya kamu berbahagia...bukan malah terpuruk seperti ini." Ujar seorang pria paruh baya.


"Anda tidak tahu apa-apa, lebih baik anda diam saja!"


Pria itu tertawa, "Aku sudah tahu semuanya, Papa bangga padamu, karena kamu mau memperjuangkan cintamu."


Alan mengerutkan keningnya, Pria itu adalah Suhendra ayah Alan. Saat melihat Suhendra hendak meminum minumannya Alan segera mencegahnya, "Anda sudah tua tidak baik minun minuman seperti ini!"


Suhendra tertawa pelan, "Kamu mau mendengar satu kisah, lebih tepatnya kisah cinta pria tua ini."


Alan diam saja, tapi kemudian dia meletakkan minumannya dan merebahkan diri di sofa.


Suhendra tersenyum, ternyata putranya belum berubah, selalu mencari posisi nyaman saat akan mendengarkan ceritanya, persis saat ia masih kecil.


"Cepat!... sebelum aku berubah pikiran." Suhendra tertawa mendengar penuturan putranya.


"Dulu Papa pernah berada di posisi mu seperti sekarang, harus memilih keluarga atau cinta pertama Papa, tapi bedanya Papa dulu begitu pengecut ,Papa takut miskin hingga meninggalkan cinta pertama Papa, Ela Ibunya Lila. Akhirnya Papa dijodohkan dengan ibumu, Papa mencoba melupakan Ela dan menerima ibumu sepenuhnya, entah kenapa Papa merasa Tuhan sedang menghukum Papa mungkin karena sudah mencampakkan Ela, karena saat kami sangat menginginkan keturunan, Tuhan tidak kunjung memberikannya."


"Sampai suatu hari Papa bertemu dengan Ela lagi, ternyata Ela adalah sahabat baik ibumu.... Papa sempat terkejut, apalagi saat mengetahui Ela akan menikah, di hari pernikahannya ibumu tidak bisa hadir karena sakit jadi Papa yang datang untuk mewakilinya, tapi bukan pesta pernikahan yang terjadi saat itu tapi malah pemakaman, Ayah Ela meninggal karena serangan jantung saat mengetahui calon menantunya kecelakaan dan meninggal, Ela begitu terpuruk karena di tinggal oleh orang tua satu-satunya, karena tidak mau hidup sebatang kara ia mencoba mengakhiri hidupnya, Papa kasihan sekali melihatnya hingga Papa memutuskan untuk menikahinya."


Alan terkejut mendengar kisah ibu tirinya yang begitu tragis, Suhendra melanjutkan ceritanya. "Satu bulan pernikahan Ela mengandung Lila kakakmu, Papa sangat bahagia waktu itu apalagi saat mendengar beberapa bulan setelahnya Ibumu juga hamil, mengandung kamu yang sudah kami tunggu-tunggu, Papa merasa Tuhan sudah memaafkan Papa jadi sebisa mungkin Papa berusaha menjadi Ayah dan suami yang baik, bersikap adil kepada kalian semua, hingga ibumu mengetahui hubungan Papa dengan Ela, dari awal Ela sudah menerima menjadi istri kedua tapi tidak dengan ibumu, dia meminta cerai pada Papa...... maaf dulu Papa bersikap keras padamu, Papa hanya ingin kamu tumbuh menjadi Laki-laki yang kuat tidak seperti Papa." Suhendra tersenyum miris.


"Berjanjilah jangan menjadi pengecut seperti Papa, apapun yang terjadi perjuangkan cintamu... Papa yakin dengan Gadis pilihanmu.....jadi sekarang bangkitlah, jangan jadi pemalas seperti ini."


Alan tersenyum menatap ayahnya, ternyata selama ini ia sudah salah menilainya, ia kira ayahnya sengaja meninggalkannya.


"Maafkan Alan Pa."


Suhendra tersentak setelah sekian lama Akhirnya putra kesayangannya itu memanggilnya Papa lagi, "Iya...kamu mau kan tinggal di rumah Papa, Nathan?"


Alan tersenyum, sepertinya sudah lama sekali ia tidak mendengar nama itu lagi, mereka berpelukan menumpahkan semua kerinduan, Suhendra sampai menitihkan air mata bahagia, ternyata di balik musibah ada hikmah yang bisa di ambil, seperti sekarang ia jadi bisa berbaikan dengan Papanya.

__ADS_1


Bersambung.....


Di episode ini saya akan meluruskan kesalahpahaman antara Alan dengan Ayahnya, mungkin masalah ini terjadi karena karma yang didapat Alan yang sudah membenci ayahnya begitu lama. intinya setiap masalah pasti ada hikmah yang dapat di ambil, jadi jangan pernah bosen untuk like, koment dan vote ya?....pisssss


__ADS_2