
Hingga suatu saat aku terjebak di keadaan yang membuatku harus bekerja sama dengan dia melawan gerombolan Copet yang merampas tas ibuku.
Entah kenapa saat mengetahui seberapa jago dia beladiri, membuatku semakin muak. Kenapa dia tidak melawan ku saat dulu aku pukul. Apakah dia sengaja agar aku yang disalahkan. Aku mengacuhkannya saat ia mencoba minta maaf.
Entah sihir apa yang dia pakai hingga bisa membuat ibuku iba melihat penyesalan di wajahnya.
"Al, gak ada salahnya kamu memaafkannya, ibu lihat dia anak yang baik." Itulah pesan ibu sesaat sebelum ibu pergi bersama temannya.
Saat menemuinya lagi, aku tercengang melihatnya membeli daun pisang dari seorang nenek-nenek. Tatapan matanya sungguh tulus. "Apakah aku sudah salah menilainya?"
Setelah cukup lama mengobrol ternyata dia tidak seburuk yang aku pikirkan benar katanya, mungkin karena dia terlalu sering bergaul dengan perempuan hingga aku berfikir kalau dia salah satu badboy. Aku mulai tertarik berteman dengannya karena pedoman hidup kita yang sama. Tidak mau berpacaran sebelum lulus dan sukses.
Satu hal yang membuatku ingin dia tetap kuliah di tepat yang sama denganku adalah nama saudara kembarannya "Aya" nama gadis kecil yang sangat kurindukan. Apakah benar dia? Entahlah aku ingin lebih dekat si kumis lele dan mencari tahu sendiri.
Setelah aku berhasil mengembalikan nama baiknya,kami pun menjadi lebih dekat tentu saja karena dia sudah aku jadikan sebagai anak buahku. Semua kendali ada di tanganku. Aku sedikit heran saat mengetahui kalau dia punya trauma pada hutan. Hampir sama dengan trauma yang aku alami dulu.
Entah kenapa ada rasa takut yang amat sangat saat melihat dia terbujur kaku, sesaat setelah aku menariknya dari dasar danau. Dengan usaha yang keras akhinya dia bisa bernafas lagi. Dan sejak itulah rasa aneh terus-terusan merasuk kedalam jiwa dan tubuhku. Ada semacam sengatan listrik ketika aku memeluk tubuhnya. Dan bibir itu, bibir yang bagian atasnya di tumbuhi sedikit bulu halus serasa begitu candu. Ingin rasanya mengecap manisnya lagi dan lagi. Hingga aku lupa alasan awalku mendekatinya.
Dan terjadilah hubungan terlarang itu, pacaran sesama jenis antara aku dan Asher dan tentu membuahkan sebuah kegegeran di seluruh area kampus. Di saat aku sangat menghawatirkan keadaannya aku malah dihadapkan kenyataan cinta bertepuk sebelah tangan dan tidak hanya itu, pesan yang berisikan hinaan itu sontak membuatku begitu geram. Seolah rasa sayang dan cinta yang sudah aku tunjukkan padanya hanya kegilaanku semata.
"Omong kosong macam apa ini!" Batinku saat mengetahui Dia berpacaran dengan Lila, atau sebenarnya sejak awal itulah tujuannya.
Entah kenapa sekeras apapun aku mencoba membenci dan mengacuhkannya dari lubuk hatiku yang terdalam masih ada rasa sayang terbukti ketika aku mau menerima hadiah topi darinya. Bukan karena harganya ataupun karena di perebutkan dua kawan sialanku ini. Tapi karena itu adalah benda kesukaannya. Sebagai pelampiasan kekecewaanku padanya aku menerima Sheila sebagai pacarku. Atau sebenarnya upaya balas dendam ku padanya ingin menunjukkan kalau aku baik-baik saja tanpamu Asher.
Seberapa aku mencoba mencinta dan menerima Sheila tetap saja tidak bisa kulakukan. Tingkahnya yang manja dan genit,juga yang selalu menempel padaku membuatku muak. Pantas saja Asher memberikan julukan padanya Ulat bulu tingkahnya memang sama persis seperti itu.
Rasa tidak sukaku saat melihat Asher dirangkul oleh sepupunya membuat perasaanku tidak enak. Bersamaan dengan itu aku menemukan fakta kebohongan Sheila padaku. Tentu aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Sheila mulai hari ini kita putus!" Seraya aku berbalik dan menutup pintu dengan keras. Aku masih mendengar teriakan-teriakannya memanggil namaku dari balik pintu. Aku tersenyum lebar, setelah berhasil menyingkirkan ulat bulu itu tanpa harus bersusah payah. Memang memilihnya sebagai pacar adalah keputusan yang salah.
__ADS_1
***
Keesokan paginya, aku mengunjungi adik kesayanganku Anisa. Rasanya kangen sekali dengan gadis itu sepertinya belum lama aku datang ke sekolahnya untuk mengambil rapot, dan sekarang ia sudah dewasa, mungkin sebentar lagi akan menikah. Rasanya tidak akan rela untuk melepaskanya.
"Kak kenali ini Aya teman sekamarku, dari dulu pengen aku kenalin ke kakak tapi kakak selalu buru-buru pulang." Aku langsung terlonjak kaget merasa Sangat kenal dengan naman itu.
Aku langsung menyalaminya, dia tersenyum malu sambil menatap ku. Senyumannya manis, aku terus menatapnya, melihat apakah dia Aya bocah kecil yang dulu pernah aku selamatkan. Atau cuma namanya saja yang sama.
Anisa tiba-tiba mendekat dan membisikkan sesuatu padaku. "Kak udah liatin kak Aya nya, nanti wajahnya makin merah." Aku hanya mengerutkan kening. "Dia dari dulu suka sama kakak." Anisa masih berbisik di telingaku.
"Ehemm... Kak Al, aku tinggal ke Asrama sebentar ya? Kalian ngobrol aja dulu." Kebiasaan anak itu selalu saja menjodoh-jodohkan aku dengan teman-temannya.
"Aku boleh tanya sesuatu?" Aku langsung to the poin, tidak ingin membuang-buang waktu.
"Iya boleh kak." Dia menjawabnya dengan sedikit menunduk, sepertinya gadis ini memang Pemalu berbeda dengan teman-teman Anisa yang bisanya cenderung keganjenan.
"Panggil saja Alan." Aku mencoba membuatnya senyaman mungkin. "Kamu pernah liburan ke kebun teh M***ng?"
Aku mencoba mengajaknya banyak mengobrol menanyak hobi dan segala kegiatannya. Ia tampak tidak malu lagi, senyuman dan tawa kecil mengiringi obrolan kita.
"Aya....mungkin ini sedikit terlalu cepat, kamu bisa memikirkannya dulu. Kamu juga bisa menolaknya." Aku menarik nafas "Maukah kamu menjadi pacarku?" Aku langsung mengungkapkan perasaan yang sedari tadi aku tahan ketika mengetahui fakta kalau gadis kecil yang sedari dulu aku rindukan ada di hadapanku. Mungkin dia sudah lupa toh itu kejadian buruk yang tidak perlu untuk diingat.
"Iya aku mau!" Dia menjawabnya dengan mantap, sontak aku Langsung memeluknya dengan erat. Tidak ada getaran apapun saat aku memeluk Aya. Sudahlah pasti karena baru bertemu dengannya setelah sekian lama, mungkin lama-lama juga akan timbul rasa itu.
Tiba-tiba weekend Aya mengajakku bertemu, berkencan katanya, alasan yang begitu manis.
"Kenapa Aya membawaku ke tempat ini?" Batinku, Aya mengajak temannya untuk berkencan bersama kami Sangat lucu. Dan justru berhasil membuatku terkejut saat mengetahui tempat kost temannya itu adalah sebuah bangunan yang aku Sangat kenal, bagunan yang penghuni lantai atasnya sering aku intip menggunakan teropong dari balkon kamarku.
Tidak sampai di situ saja rasa terkejutku karena gadis yang selalu aku intip tak lain tak bukan adalah gadis bertopi misterius yang sekaligus adalah gebetannya Romi.
__ADS_1
Aku mencoba bersikap biasa saja tak lupa juga untuk bersikap ramah pada gadis yang memperkenalkan dirinya sebagai Raisha itu, namanya seperti nama penyanyi wanita yang terkenal. Apakah dia juga bisa bernyanyi? entahlah. Aku menjawab setiap pertanyaan, karena tampaknya dia juga berbaik hati sudah mau meminjamkan bajunya padaku. Kaosnya Sangat pas dan nyaman. "Apakah seleranya baju-baju pria?"
Tapi tiba-tiba Gadis itu secara terang-terangan menunjukkan ketidak sukaannya padaku, tapi entah kenapa membuatnya kesal malah suatu kesenangan tersendiri untukku, seolah-olah acara kencan bukan hal yang utama sekarang.
Sesampainya di tempat makan aku langsung menuju ke kamar mandi. Sudah sedari tadi aku menahan kencing. Rasanya sungguh lega setelah mengeluarkannya. Saat aku akan kembali ke tempat duduk, aku melihat pria yang kuyakini sepupu Asher yang bernama Mirza. Mereka tampak sangat akrab. Bahkan Pria itu merangkul pundak Raisha dengan erat. Aku jadi merasa kasian dengan Romi karena sudah dipastikan dia akan patah hati. Aku menunggu hingga Aya kembali baru aku menghampiri mereka, tentu saja aku tidak mau menjadi obat nyamuk. Dan ternyata dugaanku salah dia kembaran cowok yang bernama Mirza itu.
Aku makin merasa ada yang aneh, saat Raisha mengetahui alergiku, dan makanan kesukaanku. Dia berkata kalau Romi yang mengatakannya, apakah Romi sepeduli itu hingga harus mengatakan tentang diriku pada gebetannya.
Entah kenapa mataku ini tidak bisa berhenti mencuri pandang melihat setiap perubahan wajah Raisha. Yang tampak tidak nyaman dan kadang tampak menahan sesuatu dari dalam dirinya. Tapi sebisa mungkin aku tetap memperhatikan Aya yang sedari tadi mengajakku mengobrol.
"Sejak kapan kamu berpacaran dengan ima?" Mirza bertanya padaku sesaat setelah sampai di taman hiburan.
"Aya maksudnya?" Aku memastikan pertanyaannya, tapi dia malah tertawa yang terdengar seperti tawa mengejek.
"Mau tau rahasia gak?"
Aku menoleh masih sambil berjalan menunggu kelanjutan Kalimantnya.
"Nama mereka sama, yang satu Attaya Raisha dan satunya Attaya Rahima, kalau di rumah Raisha biasa di panggil Aya dan pacarmu itu dipanggil ima...adikku itu sangat menyukai kunang-kunang gara-gara kamu Dan satu lagi adikku itu dari dulu mengagumi mu, katanya suatu saat dia akan menemukan pangeran penolongnya."
Mirza menepuk pundakku kemudian meninggalkan aku yang terdiam mematung di tempat. Memori berkelebat di kepalaku. Ingatan saat Raisha yang ternyata adalah Aya. Ia bertanya padaku tentang luka yang ada di punggungku. Kemudian tiba-tiba berlari dan marah-marah padaku tanpa sebab. Ucapan tegasnya saat menyuruh ima memangilnya Raisha. Tentu saja dia berusaha menyembunyikan fakta dialah Aya yang selama ini aku rindukan. Aya gadis manja dan cengeng.
Kulihat ia sangat menyayangi Ima, mungkin itu alasannya berusaha menyembunyikan perasaannya padaku. Aku begitu benci dengan kebodohanku ini.Aku masih terus menggoda Aya berharap bisa menarik perhatiannya meskipun sedikit.
Selepas aku mengantarnya pulang, aku tak lantas pergi, aku kembali lagi ke kosan Aya ingin memastikan sesuatu, untung Ima tidak curiga dengan alasan mengambil Kaos yang ketinggalan. Tapi aku malah dihadapkan kenyataan perih saat perasaanku di tolak olehnya. Memang semuanya salahku.
Saat pikiranku berkecamuk, aku dihadapkan lagi dengan serangkaian kejanggalan tentang Asher. Bagaimana bisa Jaketku ada di tangan Aya padahal aku memberikannya pada Asher, dan fakta-fakta lainnya. Seperti bagaimana Mirza tahu kalau aku yang sudah menolong Aya. Satu kesimpulan yang dapat aku tarik adalah Asher adalah orang suruhan Mirza dan Aya. Tapi kalau hanya itu saja harusnya tidak perlu harus memacari Lila, pasti ada maksud terselubung lagi.
Aku bertekad untuk menanyakan langsung pada yang bersangkutan, tapi saat aku mencoba menghubunginya telfonnya malah tidak aktif. Saat iseng-iseng membuka Instagram aku melihat story Nando. "Wah mereka jalan-jalan gak ngajak aku." Gumamku kesal.
__ADS_1
Bersambung....
Maaf agak telat buat up, alih-alih aku nulis buat nerusin episode ini aku malah nulis novel baru, dengan karakter yang baru juga. Mungkin pengalihan rasa bosan dengan karakter yang ini, dan setelah itu berhasil membuatku kembali menulis ini lagi. sekian curcol. jangan lupa like dan komen macacihhhhh....