Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Kekecewaan


__ADS_3

Saat Asher masuk ke dapur sontak membuat semua pelayan yang bertugas di sana mematung karena terkejut. Tak biasanya putra ke dua keluarga Narendra itu masuk ke area dapur. Seumur-umur mereka bekerja di sana tidak sekalipun Tuan mudah ke dua menginjakkan kaki di dapur.


"Em...maaf Tuan Muda, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Tuti selaku kepala pelayan di sana.


"Tidak usah, aku hanya ingin mengambil minum." Asher membuka pintu kulkas. Walaupun dia baru pertama menginjak dapur tapi ia tahu di mana letaknya karena dia yang biasanya ikut mengecek semua keamanan dan CCTV di rumah itu.


"Emm..maaf Tuan Muda, anda tidak perlu repot-repot ke sini, saya bisa mengambilkannya untuk Tuan." Ucap Tuti lagi, tidak bisa dipungkirinya ia sedikit takut karena tumben Tuan mudanya itu melakukan sesuatu di luar kebiasaannya.


"Tidak usah Bi, aku bisa mengambilnya sendiri. Lagipula bibi kan sudah Tua, jangan terlalu capek." Asher menepuk perlahan pundak Tuti kemudian meminun air mineral kemasan botol yang ada di tangannya.


Tuti tercengang sampai mulutnya terbuka. Entah kenapa Tuti merasa tersentuh dengan ucapan Asher. Seumur hidup baru kali ini dia mendapatkan perhatian dari salah satu anak majikannya yang sudah ia asuh dan anggap sebagai anaknya sendiri. Tuti jadi tidak yakin dengan ucapan Jonathan saat mengatakan Teman-teman baru Tuan mudanya memberikan pengaruh buruk. Menurut Tuti malah sebaliknya kini Asher menjadi lebih manusiawi dan lebih baik dari sebelumnya.


"Eh...kamu ada di sini Sher? Tadi aku cariin kamu ke mana-mana, tumben kamu mau ke dapur, sepertinya kamu sekarang sudah banyak berubah ya? Tapi aku suka dengan perubahanmu." Ujar Ima yang tiba-tiba datang entah dari mana. Ia tersenyum manis ke arah Asher yang kini merubah raut wajah jadi datar.


Asher mengibaskan tangannya, menyuruh semua pelayan yang ada di sana untuk keluar.


Dia tertawa sinis sambil menatap Ima. "Kamu juga banyak berubah. Atau mungkin kamu memang seperti itu dari dulu? Dan hanya berpura-pura. Sungguh pintar sekali kamu menyembunyikannya? Patut sekali kamu di acungi jempol."


Ima mengeryit, "Aku minta maaf Sher karena aku tidak tahu perasaanmu padaku. Aya sudah memberi tahuku semuanya. Sesungguhnya aku pun menyukaimu dari dulu. Tapi aku begitu pengecut hingga tidak berani mengungkapkannya padamu. Aku ingin menebusnya sekarang. Maukah kamu menerimaku, menerima cintaku?" Ima menunduk sambil memejamkan matanya. Ia sungguh malu mengungkapkan cintanya lebih dulu pada seorang laki-laki bahkan secara terang-terangan. Tapi ia yakin Asher akan menerimanya. Ima kira Asher hanya marah karena dia yang telat menyadari perasaannya.


"Kamu itu ngomong apa?....oh aku paham, kalau masalah itu lupakan saja! Semua itu sudah terlambat lagi pula aku bersyukur karena perasaan ku padamu sudah lama hilang saat aku sudah menemukan cinta sejatiku dan menyadari kalau aku dulu salah telah mencintai wanita munafik sepertimu."


Untuk kesekian kalinya Ima terkejut, hingga mengerutkan keningnya dalam. "Apa maksudmu Sher aku gak ngerti?"


"Oke akan aku beri tahu apa yang aku maksud padamu!" Dengan cepat Asher menarik tangan Ima untuk naik ke lantai atas menuju kamar Aya.


"Sher kamu menyakitiku!" Ima mencoba melepaskan cengkraman tangan Asher yang semakin kuat hingga tanganya merah.


Asher melepaskan tangannya dengan sedikit mendorong tubuh Ima saat sampai di kamar Aya.


"Eh... kenapa Sher? Ada apa ini?" Aya yang sedang merebahkan dirinya di ranjang sampai bangkit saat melihat saudaranya tampak marah.


"Kamu tunggu di sini!" Bukannya menjawab pertanyaan Aya, Asher malah keluar lagi.


Perlahan-lahan Aya bangun sambil mendorong tiang infus ia bermaksud mendekat ke arah Ima yang terlihat menangis. Baru saja mendekat suara pintu terbuka kembali terdengar.


Asher tiba-tiba menyalakan televisi. Aya dapat melihat dengan jelas Asher menyambungkan flashdisk ke layar pipih besar itu. Sebelum menyalakan Asher mengingat saat dirinya kemarin membuka Flashdisk yang diberikan Mita padanya. Dan setelah mengetahui isinya dia begitu marah.


"Aku akan menunjukkan siapa sebenarnya dirimu!" Asher langsung membuka sebuah file video.


Tampak Alan dan Ima di sebuah ruangan. Terjadi Adu mulut di antara mereka. Ima kaget karena rekaman yang begitu jelas jadi sudah dipastikan bukan dari CCTV, tapi bagaimana bisa Asher mendapatkannya, tampaknya Aya begitu tercengang apalagi saat Ima yang ada di video itu mengatakan satu hal.


"Hanya karena orang tua Aya yang sudah banyak membantu keluargaku.... Apa kamu tahu, sebenarnya aku Muak berteman dengannya…...….…....Aku benci Aya!...aku benci!"


Kata-kata yang terucap dari mulut Ima saat itu kini terpatri di ingatan Aya. Air matanya pun lolos begitu saja. Betapa sakitnya hati Aya, ia merasa di bohongi dan di hianati. Ternyata yang pernah Alan tuduhkan pada Ima saat itu adalah benar adanya. Lututnya kini serasa lemas, dirinya hampir roboh kalau saja Asher tidak sigab untuk menangkapnya.


Perlahan Asher menggiring Aya untuk duduk di ranjang. Sebenarnya Asher tidak tega pada adiknya itu. Di saat tubuh Aya lemah dia juga harus dihadapkan kenyataan atas penghianatan sahabatnya.


Ima mendekat dan memegang tangan Aya, "Ay....aku bisa menjelaskan ini." Lirinya.


"Sher apakah dia juga yang sudah memberi tahu Papa?" Aya menghiraukan Ima dan bertanya pada Asher.

__ADS_1


"Sepertinya iya, aku sangat yakin itu. Bukan begitu ma?" Asher menatap sinis Ima.


Ima melepaskan genggaman tangannya. Menatap tajam Asher. "Iya memangnya kenapa? Aku hanya ingin mengambil cintaku mengambil milikku yang sudah Aya rebut!"


"Apa kau bilang barusan, Aya merebut cintamu? apa gak kebalik? Kamu yang merebut cintanya, lelaki yang sudah sebelas tahun Aya tunggu." Ima mengerut kening tidak mengerti.


"Udah Sher!" Aya memperingatkan.


"Biarin Ay, biar dia tahu yang sebenernya. Kalau Alan itu Nathaniel. Cowok yang udah nolongin kamu waktu kecil."


"Bohong! Kamu pasti bohong!" Ima menggeleng tidak percaya.


"Nama lengkapnya Alan Nathaniel Suhendra. Apa kamu tidak tahu? Dia salah mengira kamu itu Aya." Ima masih saja menggeleng tidak percaya saat mendengar ucapan Asher.


"Kau memang tidak tahu Terima kasih! sebenarnya Aya merelakan dia untuk mu! Mengubur perasaannya sendiri. Dan asal kamu tahu sebenarnya Aya memohon pada Papa dan Mama untuk kuliah di Akbid bukan tanpa alasan. Itu semua demi kamu. Dia menggunakan alasan bertukar identitas demi kepentingan kamu dan aku. Agar kita bisa kuliah sesuai dengan keinginan kita. Dia rela berpenampilan laki-laki, dibully dan di tindas." Asher menatap iba Aya yang kini menyembunyikan wajahnya di atas lutut yang ia lipat. Pundaknya bergetar menandakan dirinya yang sedang menangis.


Inilah sebenarnya alasan Asher kembali ke tanah air dan berada di sekitar Aya. Karena dia merasa sangat bersalah, Merasa tidak adil. Ketika dia kuliah di negara orang dengan tenang guna menggapai cita-citanya. Sedangkan Aya harus berjuang menutupi identitasnya dan berpenampilan laki-laki hidupnya pun selalu diliputi rasa was-was.


"Kenapa Ay, kenapa kau selalu mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentinganmu sendiri. Sekarang kamu lihat sahabat yang selalu kamu banggakan dan kamu anggap saudara menghianatimu, menusukmu dari belakang." Asher menunduk menyembunyikan sudut matanya yang sudah berair. Segera ia menghapusnya.


Mendengar semua yang dikatakan Asher lutut Ima melemas ia terduduk di lantai dengan rasa penyesalan. Ia menangis sejadi-jadinya.


"Sher aku mau istirahat." Ujar Aya dengan suara bergetar lalu merebahkan dirinya dengan posisi miring.


Asher langsung beranjak menarik lengan Ima untuk berdiri tapi gadis itu berontak berlari menghampiri Aya.


"Ay, maafin aku....aku tidak tahu,aku sangat menyesal." Ima bersimpuh sambil memegang tangan Aya.


Sekali lagi Asher menarik paksa Ima menuju pintu keluar.


"Ay... dengerin aku dulu." Ima meronta-ronta.


"Please Ay."


"Aya..!"


Perlahan suara itu menghilang seiring suara pintu yang tertutup. Aya langsung menangis sejadi-jadinya. Merutuki kebodohan. Merutuki sikap naifnya.


Asher menarik Ima hingga ke pintu keluar. "Jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi di rumah ini!"


Brak!


Suara pintu tertutup dengan sangat keras. Dengan derai air mata Ima melangkahkan kakinya pergi sambil memandang pintu rumah yang hampir setiap hari ia kunjungi. Ia meninggalkan kenang indah serta penyesalan yang teramat kepada sahabat yang sedari kecil selalu bersamanya. Hanya karena dibutakan oleh cinta, ia menjadi sosok yang berbeda. Mungkin kata maaf tidak akan sanggup membayar dan menembus semua dosanya.


***


Satu bulan kemudian.


Tampak seorang lelaki tampan keluar dari taksi memandang bangunan Cafe yang ada di depannya. Membacanya secara perlahan.


"AA Cake and Cafe shop." Ucapannya.

__ADS_1


Perlahan ia membuka pintu hingga terdengar sura lonceng yang menandakan ada pelanggan baru yang masuk.



Suara itu juga mengundang beberapa pelanggan untuk ikut menoleh. Tapi tidak seperti biasanya yang akan membuat pelanggan kembali ke aktifitasnya lagi. Sekarang justru pandangan semua orang tidak ada yang mau teralihkan dari orang itu.


"Selamat dat__"ucapan kasir terpotong karena pesona seorang pria yang ada di depannya.


"Permisi mbak..bisa pesan?" Lelaki itu mengibas-ngibaskan tangannya di wajah kasir yang tampak melamun.


"Oh..maaf mas, iya silahkan." Pelayan itu langsung tersadar dan tampak gugub. Di langsung menunjuk papa menu yang ada di bagian atas berderet berbagai pilihan minuman dan makanan ringan. Kemudian menunjukkan beberapa desert yang terpajang di etalase.


Lelaki itu menyebutkan minuman yang ia pesan dan menunjukkan desert cake dengan jari telunjuknya kemudian membayar dan langsung duduk di salah satu kursi.


"Ya Tuhan ganteng banget tu cowok." Bisik salah satu pelayan menghampiri penjaga kasir.


"Eh... beneran, jantungku hampir aja copot tadi." Ucap kasir.


"Biar aku aja yang bawa pesanannya."


"Ih... siapa juga yang gak mau, aku mau juga kali, tapi sayang hari ini aku jadwal jaga kasir." Pelayan kasir itu tampak sedih.


Beberapa menit pesanan datang. Lelaki itu tampak mengucapkan terima kasih dipandangnya Cake kesukaannya dan minuman yang entah kenapa mengingatkannya pada seseorang.



Dipotongnya cake itu dan memasukkannya ke dalam mulut. Tiba-tiba alisnya bertautan dengan wajah terkejut. Tangannya melambai untuk memanggil salah satu pelayan.


"Permisi....bisa saya bertemu dengan manager Cafe ini?" Pinta Lelaki itu.


"Maaf ada perlu apa ya mas? Apakah ada yang salah dengan pesanan Anda?" Pelayan wanita itu tampak khawatir.


"Oh tidak, saya hanya ingin bekerja sama dengan Cafe ini." Lelaki itu menyodorkan kartu namanya yang bertuliskan 'A Light Incorporated' perusahaan yang bergerak di bidang makanan.


"Tapi managernya sedang tidak ada di tempat. Adanya wakil manager."


"Tidak apa-apa."


Pelayan itu mengambil kartu nama dan pergi ke sebuah ruangan. Lima menit kemudian dia kembali lagi.


"Silahkan mas, Wakil manager ingin menemui anda." Pelayan itu menuntunnya kesebuah ruangan. Sesekali pelayan wanita itu melirik lelaki tampan yang berjalan di sampingnya.


Di ruangan itu terlihat seorang wanita yang sedang duduk menghadap ke arah lain. Lelaki itu hanya bisa melihat punggungnya saja.


"Permisi... apakah anda wakil manager di cafe ini, saya sangat tertarik dengan Cake yang di jual di sini, kalau boleh saya mau mengajukan kerjasama." Lelaki itu mulai melakukan penawaran. Saat kursi itu berputar wajah Lelaki itu langsung berubah.


"Ima?"


"Alan?"


Bersambung.....

__ADS_1


Maaf ya baru bisa up.... Kadang jiwa malesnya timbul begitu saja. apalagi cuaca hujan gini, maunya rebahan sambil tidur... tapi jangan lupa lika, koment dan vote ya?? diusahakan up tiap hari.. macacihhhhh


__ADS_2