
Reflek Aya langsung membungkam mulut Lila, "Kak kecilkan suaramu nanti ada yang dengar!" Kemudian Aya melepaskan tangannya.
Lila menatap wajah Aya yang memerah. "Kenapa Kaka memandangku begitu? Aku melakukannya karena terpaksa!"
"Yang benar? tapi kenapa mukamu memerah? trus kenapa bibir kalian bisa sampai terluka coba kau jelaskan?" Lila menatap Lila penuh selidik.
Aya menghela nafas panjang, "Sudahlah Kak tidak usah di bahas, nanti aku makin kesal.... Sudah dua kali aku berciuman dengan manusia salju sialan itu, sebenarnya aku melakukannya hanya untuk bisa lepas dari pukulannya, tapi dia malah membalasnya, bahkan menikmatinya." Tiba-tiba ingatan liar kejadian ciuman panas itu berkelebat di kepalanya.
Aya menggelengkan kepalanya mencoba menyadarkan pikiran kotornya. "Dasar manusia Sialan! Bibirku sudah terkontaminasi dengan bibir kotornya!" Aya terus mengumpat.
"Bibir kotor? Maksudnya?" Lila masih mencerna kalimat Aya.
"Kan bibirnya sudah banyak menjamak bibir banyak wanita." Ujarnya dengan raut wajah kesal.
Lila tertawa kecil, "Kau fikir begitu.....? Menurutku mungkin saja itu juga pengalaman pertamanya, karena selama bersamaku dulu, dia tidak pernah menciumku dan setelah kita berpisah setahuku dia tidak pernah dekat dengan wanita manapun." Jelas Lila.
Mendengar itu entah kenapa hati Aya tiba-tiba berbunga-bunga. Tak terasa bibirnya tersenyum.
"Hey, kau sudah mulai jatuh cinta padanya ya?" Goda Lila saat melihat senyum di bibir Aya.
"Eng...egak!" Aya mengelak membuang muka.
Suara langkah kaki membuat Lila dan Aya menoleh ke asal suara.
"Eh... Ra kamu sudah pulang siapa ini?" Tanya Cika yang baru saja datang bersama Mita.
"Temen ku Cik!" Jawab Aya kemudian berdiri.
"Halo.. kakak cantik sekali,tapi masih lebih cantik aku," ujar Cika sambutan terkekeh. Dan Mita langsung memukul kepala Cika, hingga dia meringis kesakitan.
"Tidak usah di dengarkan omongan petasan banting ini!" Sahut Mita.
"Aku Mita, aku duluan ya? Permisi." Ujar Mita singkat lalu berjalan ke kamarnya.
"Iiiihhh..kak Mita selalu saja mengataiku!... cantik-cantik gini kok di bilang petasan banting!" Gerutu Cika, "Kak biarkan saja itu Manusia pelit omongan, kenalin nama ku Dewi Citra Karina Nadila Ernesta Baharudin panggil saja Cika." Cika mengulurkan tangannya.
"Lila," menyambut uluran tangan Cika sembari tersenyum.
"Kakak satu jurusan sama Raisha? Tapi dari pandangan mataku yang jeli ini kok kayaknya kakak ini seniornya ya? Biasanya pandangan mata ku ini tidak pernah salah." Cika menjelaskan sambil menatap serius ke arah Lila.
"Cika sayang...sana mandi dulu, badanmu bau tauk!" Aya mendorong Cika menyuruhnya untuk pergi, kupingnya sudah panas mendengar ocehan Cika.
"Iya...iya, jangan lupa nanti malam ajari aku dance lagi ya? Karena lusa aku mau tampilan."
"Iya...iya beres."
Sepeninggal Cika.
"Dari tadi aku ingin bertanya kenapa kamu dipanggil Raisha? Kamu juga memperkenalkan diri sebagai Raisha pada Alan tadi di kampus."
Dan akhirnya Aya juga menceritakan soal Ima yang menggantikan dirinya kuliah di Akbid. Lila yang mendengar hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Rumit sekali kehidupanmu itu, saling bertukar identitas."
Aya hanya tersenyum menanggapi perkataan Lila.
***
"Alan.... kamu sudah pulang nak?" Tanya Anita melihat putranya masuk ke dapur.
__ADS_1
"Mama lagi masak apa?" Tanya Alan setelah mengambil air mineral dari dalam kulkas.
Anita menoleh mengerutkan keningnya, "Al itu kenapa bibir kamu?" Anita memegang dagu putranya ingin melihat dengan seksama luka yang ada di bibir Alan.
Alan menepis perlahan tangan ibunya. "Biasalah Ma anak cowok."
Anita memegang pundak putranya menatap intens di kedua bola matanya, "Al Mama gak mau kamu kembali seperti dulu."
Alan mengambil tangan ibunya dari pundak, "Gak akan Ma, tenang aja hanya pertengkaran kecil antara teman."
"Siapa Romi atau Nando?"
"Bukan keduanya," Alan memandang ke arah lain, mengingat kegiatan ciuman panasnya dengan Aya di gudang. Tidak sadar ia tersenyum kemudian tertawa kecil.
Anita ikut tersenyum melihat tingkah putranya yang tidak biasa, "Putra Mama tumben kelihatan seneng banget, ada kejadian apa?"
Alan yang tersadar dari kelakuan tidak biasanya kemudian memasang wajah datar. "Gak Ma, eh.... Mama masih inget Pemuda yang nolongin Mama dari Copet dulu?"
Anita memutar bola matanya mencoba mengingat-ingat, "Ow anak yang kumisnya lucu itu? Yang namanya Asher kan?"
"Iya, anak itu benar-benar selalu bikin kesel Alan Ma!"
"Kesel? Tapi yang Mama lihat justru kamu terlihat bahagia, Memang apa yang sudah dia dilakukan?"
Akhirnya Alan menceritakan peristiwa terkuncinya dia dan Lila yang semuanya ulah dari Asher.
"Hahahaha.... ada-ada saja anak itu," Anita mencoba meredakan tawanya.
"Bukannya marah, Mama kenapa malah tertawa?" Alan berdecak kesal.
"Sebenarnya niat dia baik Al sama kamu, kesalahannya cuma karena dia tidak tau kalau Lila itu saudara mu, kapan-kapan ajak dia main ke sini, Mama pengen lebih mengenal temen kamu yang unik itu." Anita menepuk pundak putranya.
"Sepertinya aku harus berterima kasih pada anak itu, untuk pertama kalinya putraku bisa lebih terbuka." Batinnya.
***
Siang ini Aya tengah duduk disebuah cafe dengan penampilan aslinya tidak lupa topi yang selalu ia pakai, hari ini weekend ia membuat janji temu dengan Lila.
"Apa aku datangnya terlalu awal?" gumamnya, ia menunggu di bangku bagian teras cafe sinar mentari yang mulai memanas membuat Aya sedikit berkeringat ia melepaskan topinya kemudian menguncir rambutnya ke atas, ia membiarkan angin menerpa wajahnya membuat keringatnya sedikit mengering.
Ia mulai jenuh menunggu Lila yang tak kunjung datang, akhir ia memutuskan menunggu sambil menonton drama Korea Lewat ponsel dengan headset di telinganya.
Karena saking asiknya sampai-sampai ia tidak menyadari dua orang yang sudah duduk bersamanya bahkan Ia sampai tertawa cekikikan saat melihat adegan di dalam drama yang ia tonton.
"Apa yang kamu tonton?" Suara seorang pria mengagetkan Aya dan membuatnya langsung menoleh.
"Kak Romi?"! Pekik Aya kaget menelan Salivanya dengan susah, Ia juga menatap Lila yang duduk di hadapannya dengan senyum manis tersungging di bibirnya.
"Maaf mengganggu saya mau permisi dulu?" Dengan gugub Aya beranjak dari duduknya, Karena saking kagetnya ia sudah bingung apa yang harus ia katakan, lebih baik kabur begitu pikirnya.
Tapi tangannya ditarik Romi menyuruhnya untuk duduk kembali, "Aku tidak akan mengatakan pada siapapun, asal kamu tetap disini."
Kini Aya menundukkan wajahnya, bingung dengan situasi yang ia hadapi sekarang. Ia sedang berkutik dengan pikirannya, mungkinkah Kak Lila yang sudah memberitahukan rahasia pada Romi? Sebuah tanda tanya besar yang ada di kepalanya.
"Aya... kamu tidak berfikir kalau aku yang memberitahukan Romi kan?" Tanya Lila. Aya langsung mengalihkan pandangannya, tampak raut wajah kecewa di wajahnya.
"Rom, ceritakan padanya bagaimana kamu bisa tahu semuanya! Aku tidak mau dia salah paham." Pinta Lila.
__ADS_1
Akhirnya Romi angkat bicara, "Aku melihatmu saat mandi di sungai waktu itu, aku sedikit terkejut saat Lila ternyata juga ada di sana, tapi aku juga senang ternyata wanita yang beberapa kali aku lihat tanpa sempat aku sapa, ternyata berada dekat dengan ku." Jelas Romi.
Aya memandang Romi sambil mengerutkan keningnya, "kamu cewek yang bertopi yang beberapa kali cekcok dengan Alan kan?" Dan hanya dijawab anggukan kepala.
"Apa dia juga.....?" Tanya Aya
"Tidak dia tidak tau, aku tidak memberi tahunya aku yakin kamu punya alasan kenapa bisa berbuat nekat seperti ini, dan ternyata dugaanku benar.... Setelah kemarin aku melihatmu pulang bersama Lila baru aku berani mendatangi Lila untuk meminta penjelasan, ia sungguh setia kawan sulit sekali membuat ia membuka mulut." Romi memandang Lila kemudian menarik sudut bibirnya.
"Kak Romi tolong berjanjilah, jangan mengatakan semua ini pada siapapun termasuk Alan!" Pinta Aya sambil memegang tangan Romi.
Romi sedikit terkejut melihat tangannya di pegang, ia kemudian membalas memegang tangan Aya juga. "Tenang saja rahasimu aman dengan ku!"
"Ehemm..." Lila berdehem.
Dengan gelagapan Aya langsung melepas pegangan tangannya lalu ganti memandang Lila, "Maaf kak tadi aku sempat meragukan Kaka."
"Iya...tidak apa-apa."jawab Lila
"Aku punya syarat untukmu Aya!," sahut Romi tiba-tiba. Aya mengerutkan keningnya, "apa kak?"
"Kamu harus jadi pacarku," Jawaban Romi membuat Aya dan Lila terbelalak.
"Aku cuma bercanda..." Sambungnya sambil tertawa, "kamu harus memberikan aku Jaket seperti Alan."
"Ok...itu mah gampang Kak, kalau perlu aku belikan sepuluh khusus untuk Kakak." Jawab Aya sambil tersenyum.
"Tidak perlu....satu saja, tapi kalau bisa yang lebih mahal darinya." Romi menanggapi, Aya menjawab dengan mengacungkan jempolnya.
"Dan satu lagi jangan pernah memanggilku kakak, aku tidak setua itu!" Romi protes.
Aya dan Lila tertawa melihat ekspresi sebal Romi, mereka pun makan siang bersama sambil mengobrol dan di selani canda gurau.
***
Aya berdiri di gerbang universitas, beberapa kali ia menghela nafas. Seperti berusaha mengumpulkan keberanian.
"Kenapa Aya? Grogi banget kaya mau ketemu Calon pacar." Sahut Romi tiba-tiba dari belakang.
"Aduh Kak Romi ngagetin aja!" Aya sedikit tersentak.
"Siapa??"
"Eh...iya lupa Romi maksudku," Ralat Aya
"Calon pacar siapa memangnya?"
"Alan." Jawab Romi singkat.
"Manusia salju sialan itu, amit-amit!"Aya mengetuk-ngetuk kepalanya." "Romi....jangan panggil Aya kalau di sini, panggil gue Asher." Bisik Aya.Romi tertawa kemudian mengacak-acak rambut Aya.
"Iiisshh...nanti Rambut palsu gue copot!." Aya menepis tangan Romi.
"Eh...maaf lupa." Romi menyatukan kedua tangannya di dada.
Mereka masuk gedung kampus sambil tertawa bersama. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang tidak suka dengan kedekatan mereka berdua.
Bersambung.....
Terimakasih yang sudah setia dengan cerita ku jangan lupa like dan komentar ya
__ADS_1