Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
2. ALENA


__ADS_3

Jauh dari tempat Alea tinggal. Para pelajar SMA silih berganti memasuki sebuah gerbang sekolah. Sebuah sekolah yang bisa di katakan mewah dan besar, namun tidak sebesar sekolah tempat Alea.


Di sisi lain. Seorang gadis SMA berjalan memasuki gerbang sekolah itu dengan menunduk dan wajahnya sedikit pucat. Ia terus berjalan memasuki area sekolah, hingga sampai di sebuah koridor menuju kelasnya beberapa pelajar lainnya menatap ke arahnya lalu berbisik- bisik pada temannya.


Mereka sedang membicarakan penampilan gadis yang bernama Alena tersebut yang terkesan culun. Rambutnya hanya di ikat kuncir kuda dan wajah pucatnya tanpa polesan make up yang membuatnya selalu di bully oleh siswa para siswa perempuan maupun laki- laki. Apalagi siswa yang menjadi Primadona di sekolah tersebut. Mereka menjadikan Alena bahan untuk bersenang- senang.


Saat memasuki ruang kelasnya, Alena sudah di hujani tatapan menghujam dari Sang Primadona sekolah. Pearlly dan Ricard. Entah karena apes atau memang takdir yang membuatnya berada dalam satu kelas dengan kedua Primadona di sekolanya.


Alena menuju tempat duduknya, dan seperti biasa. Mejanya sudah penuh tulisan kalimat cacian dan umpatan. Sakit? Tentu! Siapa yang tidak sakit jika di caci maki? Alena sudah terbiasa dengan ini. Alena menyimpan tasnya di atas meja, menutupi tulisan yang sangat menyakitkan hati dan langsung duduk di kursi miliknya.


Pearlly, Ricard dan beberapa siswa lainnya sedari tadi menatap Alena dengan tatapan mengejak dan merendahkan. Pearlly bangkit dari duduknya lalu menghampiri Alena. Pearlly mencengkram dagu Alena lalu mengangkat wajah Alena yang sedari tadi menunduk agar menatapnya.


"Selamat pagi, Alena. Sepertinya kau sangat suka denganku, karena hari ini kau datang lagi.. tapi kau tenang saja, aku akan membuatmu membenciku dan keluar dari sekolah ini... karena kau tidak pantas berada di sini! "


Pearlly tersenyum mengerikan lalu menghempaskan wajah Alena. Ia kembali ke tempat duduknya karena bel tanda proses mengajar belajar akan segera di mulai.


Alena menatap pearlly yang duduk di jauh di depannya dengan tatapan kosong. Ia tidak mau berada di dalam situasi ini, tapi apa boleh buat. Ia hanya siswa yang dapat masuk ke sekolah favorit di kotanya karena beasiswa yang di berikan oleh sekolah yang artinya sama dengan bantuan sosial. Bantuan itu di berikan kepada siswa yang berprestasi namun ekonomi keluarganya bisa di bilang tidak mampu atau kelas bawah. Sehingga membuat mereka tidak bisa bersekolah di sekolah favorit dengan fasilitas pendidikan yang memadai karena terhalang biaya.


Hanya ada sekitar sepuluh siswa yang mendapat bantuan itu setiap tahunnya. Itu artinya Alena tidak sendiri. Dan benar, semua siswa yang mendapat bantuan itu semuanya mengalami nasib sama seperti Alena. Di bully dengan cacian dan makian tidak pantas bahkan tidak sedikit dari mereka mendapat kekerasan fisik dari siswa kelas ekonomi atas.


Itu semua di akibatkan oleh adanya perbedaan ekonomi yang mencolok antara keduanya. Membuat siswa kelas atas menganggap mereka yang mendapat bantuan sosial tidak pantas berada di sekolah favorit termahal di kota tersebut.

__ADS_1


Tidak berselang lam seorang guru masuk ke dalam kelas dan memulai mengajar. Semua siswa yang ada di kelas itu menyimak setiap kata yang keluar dari Sang Guru. Begitupun dengan Alena, walaupun ia termasuk dalam kelas ekonomi bawah tapi dalam soal ilmu, ia tidak kalah dengan kelas ekonomi atas. Bahkan ia masuk ke dalam sepuluh besar nilai ujian paling tinggi seangkatan. Mungkin hal itu juga yang membuat Alena mendapatkan perlakuan paling kasar dan paling kejam, dibandingkan dengan siswa penerima bantuan sosial lainnya.


-


Jam istirahat di belakang gedung sekolah....


Brusshh!


Alena terduduk di tanah dengan tubuh basah kuyup, baju seragam yang ia kenakan sudah kucel dan kotor di penuhi tepung terigu, telur bahkan lumpur yang berasal dari selokan air. Itu semua perbuatan dari Pearlly, Ricard dan teman- temannya. Setiap hari Alena selalu mendapatkan perlakuan seperti ini tapi tetap saja rasanya sakit.


"Bagaimana? Menakjubkan bukan? Itu hadiah dari ku, Alena! Ha.. ha.. ha.." Pearlly tertawa puas di ikuti teman- teman lainnya. Ada lima orang yang menindas Alena kali ini. Dua pria dan tiga wanita, termasuk Pearlly dan Ricard.


Ricard menghentikan tawanya lalu mengambil satu ember tersisa yang berisi air dari selokan. Ricard lalu mengarahkan ember itu ke atas kepala Alena.


Setelah air dari ember itu habis, Ricard membanting ember itu lalu berjongkok de depan Alena, ia mencengkram dagu Alena agar menatapnya dengan sangat kuat hingga membuat Alena meringis di sela tangisnya. "Kenapa? Kau menangis?.." Tanya Ricard mengejek di sambut gelak tawa dari teman- temannya.


"Itu akibatnya jika kau berani menolakku!.." Ricard menghempaskan Alena dengan kasar lalu berjalan meninggalkan Alena di ikuti yang lainnya. Sebelum pergi meninggalkan Alena, Pearlly menendang sebuah ember ke arah Alena sehingga mengenai wajahnya yang mengakibatkan dahinya terluka.


Alena sudah tidak merasakan sakit yang melanda dahinya. Rasa sakit di hatinya lebih perih saat ini. Ia menangis terisak sendirian di belakang sekolah, karena hanya itu yang bisa ia lakukan. Ada secercah keinginan ingin lepas dan membalas perlakuan mereka, tapi bagaimana caranya? Alena benar- benar tidak tahu apa yang ia lakukan sekarang.


"Lena!.." Panggil Fernand berlari menghampiri Alena. Lena merupakan nama panggilan Fernand untuk Alena. Alena yang melihat kedatangan Fernand sahabat satu sekolah saat SMP dulu menghapus air matanya lalu menatap Fernand yang tampak khawatir.

__ADS_1


"Maaf! Aku tidak bisa membantumu..." Fernand berjongkok dihadapan Alena dan melihat jelas dahi Alena yang terluka. Ada perasaan bersalah di hatinya, bersalah karena tidak bisa membela Alena saat di tindas oleh Pearlly dan Ricard.


Alena tersenyum. "Kau tidak perlu meminta maaf, aku tahu posisimu..." Ya! Fernand bernasib sama seperti Alena, mereka berdua sama- sama siswa penerima beasiswa bantuan sosial.


Tidak jarang juga Fernand di tindas oleh Pearlly, Ricard dan siswa dari kelas ekonomi atas. Tapi tidak separah Alena. Kebetulan Fernand satu kelas juga dengan Alena, jadi Alena tahu apa yang akan terjadi pada Fernand jika berani membantunya. Dan sama seperti Alena, Fernand tidak bisa melaporkan tindakan Pearlly dan kawan- kawannya ke guru maupun kepala sekolah, karena semua pasti akan memihak Pearlly, secara ayah dari Pearlly adalah pemilik dari sekolah swasta tersebut.


"Apa yang bisa ku bantu untukmu sekarang? .." Tanya Fernand. Kini mereka sudah berdiri tegak. Alena meliahat kondisianya, tidak mungkin ia bisa melanjutkan kelasnya dengan kondisi seperti itu.


"Kau bisa mengambilkan tasku?" Fernand mengerti keinginan Alena mengangguk setuju. "Aku akan mengatakan pada guru, bahwa kau sedang sakit dan terpaksa harus pulang..." Alena tersenyum pada Fernand. "Terima kasih!"


"Tidak perlu berterima kasih, Lena. Aku senang membantumu.." ucapnya lalu berlari menuju kelasnya untuk mengambil tas Alena. Untung saja saat mengambil tas milik Alena keadaan kelas sedang kosong, jadi tidak ada yang melihatnya sedang membantu Alena.


*


Kini Alena berada di sebuah pantai. Setiap ia merasa sedih dan lelah ia memilih ke pantai ini untuk menenangkan dirinya. Karena saat ini tidak memunkinkan juga untuk pulang kerumahnya, pasti ibunya khawatir dan bertanya- tanya kenapa ia pulang cepat.


Alena menatap hamparan laut luas yang membentang di hadapannya, dengan air mata yang mengalir di pipinya. Ia benar- benar lelah dengan kehidupannya. Akankah ia menyerah sekarang. Perlahan- lahan, kaki Alena melangkah menghampiri lautan luas itu. Air itu seolah- olah menarik dirinya untuk masuk dan menyelaminya. Secara perlahan sebagiantubuh Alena sudah memasuki air. Kepingan kejadian saat ia tenggelam terseret ombakpun mulai berputar- putar di kepalanya.


Hingga tiba- tiba tangan Alena di tarik dengan kasar oleh seseorang.


"Apa yang kau lakukan bodoh! Apa kau ingin mati?.." suara familiar itu membuat Alena tersadar dan langsung menatap Si Pemilik suara. Ia begitu terkejut saat melihat rupa Si pemilik suara keras yang baru saja membentaknya.

__ADS_1


"Kau..." Alena kehilangan kata- kata dan akhirnya jatuh pingsan.


__ADS_2