Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Dikurung dalam Kamar


__ADS_3

Jakarta


Aya masih menangis sesenggukan saat memasuki kediaman Keluarga besar Narendra. Halaman rumah yang begitu luas dengan air mancur besar di tengahnya. Sebelum masuk akan disuguhkan gerbang yang menjulang tinggi dengan keamanan super ketat. Itulah sangkar emas yang Aya maksud, sebuah rumah yang mengungkung kebebasannya.


Saat turun dari mobil ia sudah disambut seluruh anggota keluarganya dan para pelayan. Silvia langsung menghambur memeluk putri yang sangat ia dirindukan.


"Sayang ibu kangen sekali, kenapa kamu gak pernah berkunjung ke rumah?" Mata Silvia sudah berkaca-kaca merasakan rindu yang teramat. Perlahan ia melepaskan pelukannya dari sang putri dan memandang wajahnya. Saat ia membelai wajah cantik putrinya, sontak ia kaget. "Ada apa dengan wajahmu nak?" Tanya Silvia khawatir sambil memegang sudut bibir Aya yang lebam.


Ia beralih melihat putranya ia pun juga kaget saat mendapati putranya yang tampan jadi babak belur. Ia bergantian menghampiri Asher. Memeluk dan membelai pipinya yang terdapat banyak lebam bekas pukulan. "Pa apa yang kamu perbuat pada anak-anak kita?"


"Nanti aku ceritakan." Jonathan beralih menatap anak buahnya dan seolah memberikan kode. "Kalian bawa mereka dan kurung di kamar. Jangan ada yang berani menemui mereka. Ambil semua alat komunikasi yang biasa mereka gunakan."


Silvia hanya bisa menatap wajah putra dan putrinya saat di bawa masuk ke dalam rumah.


"Apa yang sebenarnya terjadi Pa? Kenapa Papa sampai melakukan itu pada anak-anak? Dan tega sekali Papa sampai mukul Aya, anak kesayangan Papa." Tanya Silvia sesaat setelah mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu.


"Iya Pa? Sebenarnya apa yang terjadi?" Sakhiel ikut menimpali.


Di ruangan itu juga ada Nadia istri Shakiel yang sedang menemani ke dua putrinya Lulu dan Lala bermain. Ia diam menyimak tidak berani ikut bertanya walaupun sebenarnya ia juga penasaran.


Sebelum mulai bercerita Jonathan menghembuskan nafasnya terlebih dahulu. Perlahan Jonathan menceritakan tentang kebohongan yang putri dan putranya lakukan. Mereka bertukar identitas dan kuliah di tempat yang mereka mau. Aya menyamar sebagai laki-laki menggantikan Asher yang kuliah di LA dan Ima menggantikan Aya kuliah di Akbid. Semuanya Jonathan ceritakan tidak ada yang terlewat termasuk hubungan putrinya dengan anak dari rektor di kampusnya. Termasuk kejadian perkelahian yang mengharuskan dirinya sampai melukai Aya.


Saking terkejutnya Silvia hingga menutup mulutnya yang terbuka. "Kamu tidak bohong kan Pa? Gak mungkin Aya melakukan itu?"


Tidak hanya Silvia, Shakiel dan Nadia juga tampak tidak percaya. Jonathan melemparkan foto yang dia temukan di koper Aya juga foto yang dia ambil di ponsel milik Aya.


Jonathan merasa aneh karena orang-orangnya yang dia taruh di sekitar Aya tidak pernah melaporkan apapun padanya, jadi hanya bukti itu yang dia temukan dan keterangan dari orang yang sudah melaporkan semuanya.


Silvia memperhatikan semua foto itu, ada foto Aya dan Asher bersama banyak orang seumuran mereka dengan senyum merekah mungkin mereka teman-temannya begitu pikir Silvia. Beberapa foto Selvi Aya. Aya yang tampak berambut pendek seperti menggunakan rambut palsu. Juga foto beberapa pasang kekasih yang semuanya adalah teman-teman putra-putrinya. Ada dua foto yang mengejutkan Silvia. Di dalam foto itu tampak ekspresi Aya yang lucu saat pipinya dicium oleh lelaki tampan. Satu lagi Putranya Asher yang tampak mengobrol dengan gadis manis.


"Wah... ini pacar Putri kita Pa? Tampan sekali, gak salah pilih dia...Mama aja mau kalau masih muda." Ekspresi yang ditunjukkan Silvia di luar ekspetasi Jonathan, bukannya marah ia malah terlihat senang.


"Ini Pacar Asher ya Pa?..ini juga manis dan terlihat polos, beda dengan pacar-pacar Asher yang dulu-dulu, Mama setuju aja sama pilihan mereka."


Jonathan hanya bisa menepuk jidatnya. Sedangkan Shakiel dan Nadia geleng-geleng kepala sambil menahan tawa. Ibunya memang kadang aneh bin ajaib.


"Mama ngomong apa sih? Papa gak setuju mereka berhubungan dengan orang-orang itu. Pasangan untuk Aya dan Asher haruslah bagus bibit, bebet dan bobotnya. Papa sudah memilihkan untuk mereka lagipula orang-orang itu hanya memberikan pengaruh buruk untuk Aya dan Asher. Apalagi Aya, Papa sekarang seperti tidak mengenalinya." Ada raut marah dan kecewa terlihat jelas di wajah Jonathan.


"Papa tahu dari mana? memang sudah menyelidikinya?" Tanya putra pertamanya Shakiel.


"Papa sudah menyuruh Mike untuk mencari tahu." Orang kepercayaan Jonathan.


"Itu artinya belum tentu juga ucapan Papa itu benar." Silvia ngotot.


"Papa yakin! Karena sudah mendengar penjelasan dari orang yang bisa di percaya." Ucap Jonathan mantap


Sudah selama tiga hari ini Aya dan Asher di kurung di dalam kamar dan selama itulah Aya mogok makan, semua makanan yang di antar ke kamarnya dia tolak. Aya hanya merebahkan dirinya di ranjang, terkadang tiap malam dia menangis sambil memanggil nama Alan. Bagaimanapun ia belum sempat berpamitan bahkan melihat sekilas pun ia tidak sempat. Itulah yang membuat Aya bertambah sedih. Badan yang sudah kurus kini semakin kurus.


Ceklek!

__ADS_1


Suara pintu kamar terbuka. "Nona? Bangun Non! Waktunya makan. Saya mohon Nona mau makan ya? Nanti Non Aya sakit." Seorang pelayan mencoba membangunkan Aya. Tapi sama sekali tidak ada pergerakan. Pelayanan yang bernama Tuti itu memberanikan diri untuk menggoyang-goyangkan pundak Aya secara berulang kali.


"Tuan besar!... Nyonya besar!" Teriak Tuti sambil menuruni anak tangga.


"Kenapa kamu teriak-teriak Tuti?" Tanya Silvia dari ruang tamu.


"Nona muda...Nyonya." jawab Tuti sambil tersengal-sengal.


"Kenapa dengan Aya?"


"Sepertinya Nona tidak sadarkan diri." Jawaban Tuti membuat gempar seisih rumah.


Buru-buru Silvia menghubungi Dokter tidak lupa menghubungi suaminya juga.


"Pokoknya kalau sampai terjadi apa-apa dengan Aya, itu semua salah Papa!" Silvia tampak begitu kesal dan marah.


"Lha kok Papa yang disalahkan?" Jonathan mengeryit.


"Iyalah, siapa yang mengurung Aya dan sampai membuat dia seperti ini kalau bukan Papa?! Jadi Mama minta akhiri hukuman Sialan ini!"


Akhirnya Jonathan mengalah ia juga sangat bersalah karena mengakibatkan Aya sampai tidak sadarkan diri.


"Bagaimana keadaan putri saya dokter? Apakah ada hal yang serius? Cepat katakan Dok?" Silvia memberondong banyak pertanyaan pada Dokter yang baru selesai memeriksa Aya.


"Tenang Nyonya, Nona mudah tidak apa-apa. Dia hanya mengalami dehidrasi dan kelelahan. Hanya butuh istirahat dan memberikan asupan makanan yang bergizi juga istirah yang cukup. Sudah saya pasang infus agar Nona sedikit bertenaga. Saya sarankan jangan membuat dia tertekan." Jelas dokter keluarga yang bernama Ivan itu.


"Terima kasih Dok."


Bila mereka sedikit memaksa, Aya akan mengancam untuk mencabut selang infus.


"Ayolah Pa...coba Papa bujuk Aya, siapa tahu kalau Papanya yang menyuapi, dia mau makan."


Walaupun sedikit enggan karena Jonathan masih marah dengan perbuatan putrinya. Ia akhirnya melakukannya karena dia juga sebenarnya sayang dengan putri semata wayangnya itu. "Ayo Nak makan, nanti kamu gak sembuh-sembuh. Mau Papa masukin kamu ke rumah sakit?"


Silvia hanya bisa gelang-gelang kepala. Suaminya memang tidak pernah berubah selalu menyelipkan kata-kata ancaman agar seseorang mau menurutinya. Bahkan pada anaknya yang sekarang sedang sakit.


Aya malah membuang muka seolah tidak perduli dengan Ayahnya. Jonathan merasa sedih ketika putrinya menolaknya Secara terang-terangan.


Shakiel yang sedari tadi hanya melihat perlahan mendekat dan membisikkan sesuatu pada ibunya. Tiba-tiba mata Silvia langsung berbinar.


"Pa, ada seorang lagi yang belum mencoba Pa... please, boleh ya?"


Jonathan berdecak kesal. "Baiklah tapi kalau dia tidak berhasil membujuk Aya. Dia akan Papa kurung lagi di kamarnya."


Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu terbuka dan sosok yang mirip dengan Aya masuk. Ia sudah mendengar penjelasan dari kakaknya jadi dia langsung mendekati Aya.


"Ay, makan ya?" Suara panggilan Asher membuat Aya menoleh dan menatapnya. Tiba-tiba Aya merasa ingin menangis ketika mendengar nama panggilan yang sama persis yang sering Alan ucapkan.


Tidak mendapatkan respon yang ia harapkan Asher mendekati telinga Aya kemudian membisikkan sesuatu. Sontak membuat Aya langsung menerima suapan dari Asher.

__ADS_1


"Apa yang kamu katanya pada Aya hingga dia mau makan?" Tanya Jonathan to the poin.


"Aku hanya bilang, Kalau dia mau makan maka aku juga akan dibebaskan. Itu artinya Aya tidak mau kakaknya yang paling tampan ini dihukum." Ucapnya congkak sambil terus menyuapi Aya.


Aya memutar bola matanya jengah. Menanggapi kebohongan yang saudara kembarnya ucapkan.


Jonathan dan yang lainnya akhinya bisa bernafas lega. Mereka memutuskan untuk keluar kamar.


"Kalau butuh apa-apa panggilan ibuk atau pelayan ya Nak?" Aya menjawab pertanyaan ibunya dengan mengangguk.


"Sher kamu sudah tahu siapa yang membocorkan rahasia kita?" Tanya Aya setelah memastikan semua anggota keluarganya keluar meninggalkan mereka berdua.


"Sudah!" Ucapnya singkat kemudian menyodorkan mangkok bubur yang ia bawa. "Nih!....makan sendiri!.. punya tangan kan?"


"Yaelah Sher nanggung kali tinggal satu suap doang." Tapi tak elak juga ia terima.


Asher pindah menuju balkon kamar memandang taman bunga yang begitu indah tapi tidak menurut Asher. Hanya wajah dari seseorang yang ia rindukan saja yang menurutnya indah bila dipandang.


Suara ketukan pintu terdengar. Hingga membuat Asher tersadar dari lamunan dan beranjak membuka pintu.


Asher mematung dengan aura yang dingin dan gelap saat melihat orang yang saat ini berdiri di balik pintu. "Buat apa kau kesini? Pergi kau!"


Suara bentakan Asher membuat Aya penasaran. Tidak mungkin kalau salah satu anggota keluarganya. Mana berani Asher membentak bisa-bisa ia di kurung lagi. Aya sedikit menggeser posisi duduknya agar ia bisa melihat orang itu.


"Lho Ima?.... kenapa Ima kamu bentak-bentak gitu Sher? Masuk ma!...Maafin Asher ya? Mungkin dia lagi PMS." Aya melambaikan tangan. Hingga mau tak mau Asher memberikan jalan.


Ima yang sedikit syok akhirnya masuk dan langsung duduk di depan Aya. Seperti biasa Ima menanyakan hal basa-basi yang entah kenapa membuatnya Asher muak dan lebih memilih pergi.


"Maafin sikap Asher ya ma, gak tau tu anak kok tiba-tiba berubah gitu." Aya tampak menyesali sikap Asher pada Ima yang tidak biasa.


"Apa mungkin gara-gara dia harus berpisah dengan pacarnya ya Ay?" Raut wajah Ima terlihat sedih karena sikap Asher yang benar-benar berubah.


"Menurutku sih gak, dia kan emang cuma pacaran sementara sama Kak Mita."


"Maksudnya??" Ima mengeryit.


Akhirnya Aya menceritakan kesepakatan yang di buat Mita dan Asher. Ima tampak terkejut mendengar itu. "Aku kira Asher serius sama temen kamu itu, soalnya dia bilang sendiri."


Entah kenapa Aya merasa Ima sedang cemburu, sambil menahan senyum Aya berucap, "Kamu mau aku kasih tahu sebuah rahasia? Sini aku bisikin."


Ima mendengar dengan seksama apa yang Aya ucapkan. Tiba-tiba pipi Ima langsung merah merona. "Yang bener Ay? Kamu gak sedang ngeprank aku kan?"


"Beneran gak bohong, kamu aja yang gak peka, udah dari dulu dia suka sama kamu. Tanya aja sendiri kalau gak percaya."


Ima langsung keluar dari kamar Aya, ingin memperjelas apa yang baru saja Aya katakan.


"Semoga dengan ini Asher bisa bahagia dengan Ima. Tidak seperti aku." Gumam Aya lirih, sambil menghapus air matanya yang jatuh.


Bersambung.....

__ADS_1


Maaf ya reader baru bisa up....Saye agak sibuk belakangan ini, jadi nulisnya nyempet-nyempetin. Doain semoga idenya lancar selacar jalan tooll...jang lupa like, koment dan Vote, karena episode ini hampir sama panjangnya dari episode kemaren


__ADS_2