Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Anisa Kecelakaan


__ADS_3

Alan masih mematung tidak bergerak. Perlahan tangannya melepaskan genggaman tangan Aya, tangan itu terulur ke atas dengan perlahan menarik rambut palsu yang Aya pakai, rambut panjang aslinya langsung jatuh terurai.


Ekspresi Alan masih belum bisa ditebak. Aya hanya bisa diam memandang Alan, matanya mulai berkabut, entah kenapa tiba-tiba suaranya tercekat di tenggorokan.


"Al..." Lirihnya. "Aku...bisa jelasin semuanya..."


Belum sempat menyelesaikan kalimatnya Tiba-tiba ponsel Alan berdering. Alan sedikit menjauh kemudian mengangkatnya, dan tanpa sepatah katapun, Alan langsung berlari keluar.


"Aya, Alan kenapa?" Ujar Lila setelah ia masuk, ternyata sebelumnya ia berpapasan dengan Alan di koridor.


Aya menjatuhkan dirinya di ranjang, kepalanya menunduk air mata yang sedari tadi terbendung akhinya jatuh. Kemudian terdengar suara isakan. Lila yang melihat itu, langsung memahami apa yang sudah terjadi.


"Sudahlah Aya,.... pasti dia mengerti!" Lila memeluk Aya sambil mengusap punggungnya,mencoba untuk menenangkan.


"Tapi dia diam aja Kak, ...dia langsung pergi, ini yang aku takutkan.... pasti dia bakal benci banget sama aku." Aya masih terus terisak.


"Bukannya kamu ingin Alan menjauhimu agar ia bisa dekat dengan temanmu itu. Ini kesempatan yang bagus."


"Iya,...Aku ingin dia bisa bahagia dengan ima, tapi tidak dengan dia membenciku." Aya menghapus air matanya dengan kasar. "Setidaknya aku masih bisa dekat dengannya sebagai Asher, kak..!" Aya mendongak menatap Lila.


Hancur sudah acara jalan-jalan dan shopping yang direncanakan Aya, yang ia inginkan sekarang hanya segera pulang dan istirahat, rasanya tenaganya sudah habis untuk menangis tadi. Bagaimana besok ia akan menghadapi Alan, entahlah rasanya kepalanya pusing menghadapi semua permasalahan.


"Hey.... Ay, gak usah nangis, tambah jelek!" Asher melirik Aya yang sedang memandang jalanan lewat jendela mobil. Setelah pulang kampus tadi Aya memutuskan menghubungi Asher dan minta untuk di antar pulang, ia sudah malas sekali kalau harus pulang naik motor.


"Diem Lo!"


"Udahlah Ay, ikhlasin aja Alan buat ima, masih banyak laki-laki di luar sana,......lihat aku nie udah move on." Asher berbangga hati.


"Jangan sok so'an..emang kak Mita mau sama cowok modelan kek kamu?"


"Jangan menghina ya! Siapa cewek yang gak suka sama Asher Mirza Narendra."


Aya langsung menghadap Asher menatapnya dengan tajam, "Belum pernah masuk rumah sakit ya?" Aya langsung menggulung lengan bajunya, tangannya sudah terkepal siap memukul.


Asher langsung melirik Aya, ternyata dirinya sudah salah karena menggangu singa yang lagi galau, "Heh... jangan macam-macam. Aku lempar dari mobil ya?"


"Sebelum kamu melemparkku, kamu sudah aku tendang!"


Pertengkaran sengit itu akhirnya selesai begitu saja. "Memangnya kamu gak malu pacaran sama cewek yang lebih tua dari kamu?" Aya membuka obrolan.


"Halah tua setahun aja, gak masalah."


"Sebenarnya yang kamu suka dari Kak Mita itu apa sih Sher? Bukannya tipe kamu tuh kayak Ima, yang manis, polos dan mandiri gitu?" Entah kenapa rasa sedihnya tiba-tiba hilang saat berdebat dengan saudara kembarnya itu.


"Bukan urusanmu!...udah sana ngelamun lagi aja, daripada cerewet.... kupingku panas."


"Sher kamu kok gak balik-balik sih?"


"Entar kamu kangen!"

__ADS_1


Aya tiba-tiba ingin muntah. "Bukannya cita-citamu pengen kuliah di luar negeri, kalau di sini terus....kapan kecapainya?"


Asher berdecak kesal. "Aku hampir ketahuan Om Bram." Aya mengerutkan keningnya, "Jadi untuk sementara waktu aku di sini dulu, kalau udah aman, baru aku balik ke sana."


"Oh.... kirain."


Asher tertawa, "Sekalian juga sih....sambil menyelam minum air."


Aya langsung memukul pundak Asher, "Dasar!,....Jadi Asdos jangan galak-galak, kasian Kak Mita, tau gak tiap pulang mukanya selalu kucel, sebenarnya kamu apain aja sih?"


"Ada deh!" Aya hanya bisa memutar bola matanya jengah.


***


Alan berlari di koridor sebuah rumah sakit, setelah mendapat kabar dari Ibunya kalau Anisa kecelakaan.


"Gimana keadaan Anisa Ma?" Alan bertanya pada ibunya, nafasnya masih ngos-ngosan.


"Alhamdulillah, tidak ada luka serius Al... untung ada nak Aya ini." Anita mengelus pundak gadis yang duduk di samping yang ternyata adalah Ima.


Alan memandang sebentar ke arah Ima. "Makasih." Dan dijawab anggukkan kepala. Setelah itu Ima menceritakan kronologi terjadi kecelakaan, ternyata Anisa terserempet motor saat akan menyeberang jalan, ima yang kebetulan ada di sana akhinya membawa Anisa yang sudah tidak sadarkan diri ke rumah sakit.


"Gimana dok?" Tanya Alan. Setelah seorang dokter keluar dari ruang rawat.


"Tidak ada yang serius, cuma patah tulang ringan, hanya butuh waktu beberapa hari untuk istirahat." Dokter itu tersenyum kemudian pamit Pergi.


Alan menghampiri adiknya kemudian langsung memencet hidung Anisa. "Kakak!"


"Biarin, tapi ada baiknya aku masuk rumah sakit, jadi Kakak mau ketemu Aya." Setelah mengucapkan itu Anisa langsung membuang muka, mulutnya sudah mengerucut.


Mendengar itu Ima sempat kaget, ia hanya bisa menunduk, tanganya meremas ujung rok yang ia pakai. Sedangkan Anita memandang ima dan putranya bergantian, ia langsung paham apa yang terjadi dengan mereka. "Sudah malam, antar Aya pulang Al.....biar mama yang menemani Anisa."


Sepanjang perjalanan di dalam mobil tidak ada yang bersuara. "Maaf.." Ima akhinya memecah keheningan.


"Maaf...Untuk apa?" Tanya Alan, pandangannya masih menghadap ke jalan di depannya.


"Maaf, .... karena sikapku yang manja membuatmu risih..."


Alan melirik sebentar menunggu ima melanjutkan kalimatnya. "Pasti itu yang membuat kamu menghindar dan menjauh dariku...aku berjanji akan berubah, tapi aku mohon jangan seperti itu." Setelah mendengar cerita Anisa tentang Alan yang cuek dan dingin, ia menyimpulkan sendiri kalau Alan menjauhinya karena sikapnya yang manja saat kencan kemarin.


"Bolehkah aku memanggilmu Ima saja?"


Ima mengeryit, tapi kemudian tersenyum. "Tentu kamu boleh memanggilku apa saja, aku memang lebih nyaman dipanggil Ima." Senyum ima makin mengembang, ia sudah senang karena Alan mau berbicara lagi padanya.


"Kamu juga bisa memanggilku seperti panggilan Anisa padaku." Alan masih menatap lurus, tanpa ekspresi.


Ima mengerutkan keningnya dalam. "Kak Alan...?" Tanyanya. Ima melihat Alan mengaguk.


"Apakah kita masih pacaran...Kak?" Tanya Ima memastikan, mereka sudah berhenti di depan asrama.

__ADS_1


Alan mengaguk, "Terserah padamu."


Ima keluar dari mobil dengan perasaan bahagia, ia sudah banyak mendengar tentang Alan dari Anisa, Mungkin karena sifatnya yang cuek dan dingin Alan bersikap seperti itu dan ima berusaha memakluminya. Ia berharap perlahan Alan berubah setelah lebih lama mengenal dirinya.


Sedangkan orang yang tengah ia fikirkan kini melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Wajahnya tampak sangat gusar.


Ciiiiitttt!


Hampir saja Alan menabrak jok mobil orang yang berhenti di depannya. "Shit!"


Alan merasa kacau, bingung sekaligus pusing, Sebenarnya ia ingin memutuskan Ima, rasanya ia sudah tidak peduli dengan janjinya dengan Aya, tapi karena jasa ima yang sudah menyelamatkan adiknya Anisa rasanya sungguh kejam bila ia melakukan itu, dan Juga Karena Alan merasa berhutang budi padanya. Dan ia paling tidak suka yang namanya hutang budi. Mendingan berhutang pada Nando.


***


Aya yang sedang di kamar kost kini sedang mondar-mandir sambil menggigit jari jempolnya. Ia bingung menerima panggilan Ima atau tidak?... mungkinkah Alan tadi berlari ingin menemui Ima untuk menanyakan perihal dirinya pada Ima? Sambil mengatur nafas ia memberanikan diri untuk mengangkatnya.


"Hallo...ma...?" Sapa Aya sedikit ragu.


"Ayaaaaa! Aku seneng banget hari ini, akhinya Alan mau ngomong sama aku, bahkan sekarang kita punya panggilan sayang khusus." Teriak Ima terdengar bahagia.


Aya mengeryit, masih mencoba memahami situasi. Tampaknya Ima senang, itu artinya Alan tidak mengatakan apa-apa tentang dirinya. mungkin saja karena Alan sekarang sudah menyadari kalau Ima lebih baik dari dirinya.


"Syukurlah, terus-terus gimana kok bisa?" Aya berusaha bertanya sewajar mungkin walaupun sebenarnya hatinya merasa sedikit sakit.


Akhirnya Ima menceritakan soal kecelakaan yang dialami Anisa tadi sore. Aya jadi bisa menarik kesimpulan kalau Alan berlari tadi karena mendapat kabar kalau Anisa kecelakaan dan kemungkinan besar bukan karena marah pada dirinya. Jadi ia memiliki kesempatan untuk menjelaskan dan meminta maaf pada Alan.


"Terus apa tuh panggilan sayangnya,..?. pasti Honey, atau Darling ...Apa mungkin Mama Papa?" Aya mencoba menggoda Ima.


"Idih kayak anak ABG, sekarang dia memanggilku Ima dan aku memanggilnya Kak Alan."


Aya merasa aneh, kenapa terkesan seperti bukan panggilan sayang, malah tampak seperti panggilan antara Kakak laki-laki dan adik perempuannya. Tapi Aya tidak mengatakan pikirannya itu pada Ima, ia tidak ingin merusak kebahagiaannya.


***


Sudah dua hari sejak kejadian di ruang kesehatan Aya tidak lagi bertemu dengan Alan, bukan Alan yang menghindarinya tapi sebaliknya ia yang menghindari Alan, otomatis ia juga tidak berkumpul lagi dengan Romi dan Nando. Ia memilih membawa bekal sendiri. Rasanya ia belum siap kalau harus bertemu dan menjelaskan semuanya pada Alan, ia takut dengan reaksi yang akan ia dapatkan, biarlah dia di sebut pecundang.


Syukurlah Alan juga tidak mencarinya sepertinya Alan sedang sangat sibuk karena tampak ia langsung buru-buru pulang setelah kuliah selesai. Kadang sampai bolos mata kuliah. Pasti Alan sedang sibuk mengurus Anisa di rumah sakit.


"Hallo ma ada apa?" Aya menerima panggilan Ima setelah ia duduk di bangku kelas.


"Sorry sepertinya acara tahun baru kita besok batal Ay, sorry banget ya?"


Aya tampak berfikir, "iya, gak papa lah.... pasti mo kencan ma kakak tersayang ya?" Goda Aya.


"Ih enggak....orang malah aku di suruh jagain Anisa karena katanya Kak Alan mo ada acara ma teman-temannya,..lha emang kamu gak di ajak Ay?"


Aya langsung teringat rencana Nando kemaren yang mengajaknya ke tempat pacarnya untuk acara barbeque. "Diajakin sih tapi aku gak mau....eh gimana kalau aku ke sana, nemenin kamu sekalian jenguk Anisa?" Tiba-tiba Aya menemukan ide. Dan terdengar suara oke dari seberang telfon.


Bersambung.....

__ADS_1


Maafkan aku reader, kemaren-kemaren otakku ngebleng tiba-tiba buntu mau nerusinnya gimana... kemaren habis selesai nulis sebenarnya mau update tadi malam eh ketiduran jadilan hari ini... insyaallah diusahakan up tiap hari lagi...doakan otakku gak heng lagi, jangan lupa like, komen dan Vote ya....gara-gara gak up jadi gak masuk rank padahal udah Seneng tuh kmren masuk walaupun rank terakhir.heheh macacihhhhh


__ADS_2