
Mendengar komentar Aya, Alan hanya diam saja.
"Alan itu punya kebiasaan, sesuatu yang sudah menjadi hak miliknya, bakal ditandai, contohnya seperti buku itu" Romi yang bersuara.
"Untung cuma barang, kalau orang gimana ya cara nandainya?" Aya tertawa mendengar ucapannya sendiri.
Dua orang di depannya tampak serius, memandang Aya yang cekikikan. Aya jadi merasa kikuk diapun menghentikan tawanya. Nando dan Romi tiba-tiba memperlihatkan gelang berwarna hitam berbahan kulit dengan sentuhan steel yang sama-sama mereka kenakan di tangan kiri masing-masing, melihat itu Aya langsung bergidik ngeri.
"Oh....iya, kamu belum aku tandai ya?" Ujar Alan menatap Aya sambil tersenyum menyeringai.
Aya berdiri menenteng tas ranselnya kemudian langsung melarikan diri.
Alan yang melihat itu hanya menggelengkan kepala, "tenang saja, kamu belum aku tandai, karena aku belum mengenalmu lebih jauh, dan entah kenapa aku merasa kamu punya begitu banyak rahasia, aku berjanji akan membukanya satu persatu tanpa kamu sadari." Batin Alan dalam hati.
"Gila tu orang, kayak psikopat aja... Orang kok pake ditandai hak miliknya, disamain sama barang kali." Gumamnya sambil berjalan.
Tiba-tiba Aya menaikkan satu sudut bibirnya, "aku punya ide, dengan cara ini sekali mendayung dua tiga pulau bisa kulampaui." batinnya
Semua mata kuliah Aya sore itu sudah selesai, bukannya pulang Aya malah bersembunyi di balik tembok kelas sambil membawa air mineral di tangannya. Sesekali kepalanya melongok menengok ke kanan dan ke kiri seperti tengah mencari target. "Itu dia!" Gumamnya.
Aya membuka botol air mineral di tangannya lalu berlenggang pergi, ia berjalan sambil minum air yang sudah tinggal setengah sedari tadi.
Ia menoleh sambil tersenyum menyeringai pada orang yang berjalan di sampingnya, sudah ia duga kalau Alan akan menyambar botol minum yang ia bawa.
Buuurrrrr!!
Air menyembur dari mulut Alan, "Sialan! Air apa ini? asin sekali!" Alan menoleh mencari keberadaan Aya disampingnya yang ternyata sudah menghilang.
"Kau memberiku air apa?!" Teriaknya, Saat melihat Aya yang sudah berlari menjauh.
"Air laut!...selamat menikmati!" Aya berteriak sambil berlari menoleh menjulurkan lidahnya.
Melihat itu Alan naik pitam ia langsung berlari mengejar Aya, "Sialan sini kau!" Teriaknya sampai menggema diseluruh koridor kampus.
Aya kini sudah bersembunyi di suatu tempat. Ia mengambil ponsel lalu mengetik sesuatu.
Ting!
Suara ponsel Alan menghentikan langkahnya mencari Aya. Ia membukanya lalu tersenyum licik.
Aya yang sedang bersembunyi tertawa cekikikan masih sambil memegang ponsel di tangannya.
CEKLEK!
Alan membuka pintu ruangan yang begitu pengap banyak debu dan kursi yang sudah rusak, rungan mirip gudang atau mungkin memang gudang.
"Hey kumis lele dimana kau?!" Teriaknya menggema di ruangan, sambil mencari sosok yang ia panggil.
"Alan?.... Kenapa kau ada disini?" Tanya seorang wanita yang ternyata adalah Lila.
Alan mengerutkan keningnya, "kamu sendiri kenapa ada di sini?"
"Tadi Asher mengirim pesan, katanya dia ada di gudang dan kakinya terkilir jadi aku kesini,....kamu sendiri?" Tanya Lila
"Sialan! dia sudah berani menipuku!" Gumamnya lirih. Alan mengingat pesan yang ia kira Aya salah mengirimkan padanya.
Kumis Lele: Kak Lila, kalau Alan mecariku jangan bilang aku sembunyi digudang.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian.
Ting! Ting!
Suara pesan masuk dari ponsel Alan dan Lila mereka langsung membukanya.
Ternyata mereka mendapatkan pesan dari Aya yang berisi:
Maaf, aku terpaksa ngelakuin ini ke kalian, aku tau kalian saling menyukai tapi sulit untuk mengungkapkannya, silahkan ungkapkan perasaan kalian masing-masing di dalam sana dijamin tidak ada yang mengganggu ,Jadi aku harap saat keluar status kalian sudah berpacaran. (Emoticon kerlingan mata).
Lila yang membaca itu hanya tersenyum. Tiba-tiba "Brak!" Suara pintu tertutup.
"Buka Sialan!" Alan berteriak sambil menggedor-gedor pintu. "Kalau tidak akan aku dobrakan!"
"Jangan sia-siakan tenagamu, dari balik pintu ini sudah aku taruh almari jadi percuma saja," ucap Aya dari balik pintu, sebenarnya ia berbohong, ia hanya menaruh meja yang disenderkannya ke pintu.
Ting!
Kumis lele: tenang saja, kalau sudah pada pulang semua, pintu bakal gue bukain. Selamat bersenang-senang.
Alan membalas pesan Aya
AWAS KAU BESOK! TUNGGU PEMBALASANKU!
Aya yang sudah berjalan ke parkiran membuka pesan dari Alan, ia menyipitkan matanya, "widih pake Capslock semua!", Gumamnya sambil berjalan.
"kenapa tiba-tiba aku jadi melow gini ya? Huufff ... Aya Misimu untuk menyatukan mereka sudah berhasil harusnya kau senang," batinnya.
Di dalam gudang.
"Al, jangan marah padanya...dia bermaksud baik, dia tidak tau seperti apa hubungan kita," ujar Lila mencoba menenangkan Alan yang dari tadi mengeratkan giginya.
"Al, aku mohon jangan sakiti dia...demi aku," Lila memohon dengan mata mengiba.
Alan hanya melirik Lila kemudian tersenyum menyeringai, "Apa kau benar-benar menyukainya?"
"Bukan begitu, dia sudah seperti adikku...,aku menyayanginya sama seperti menyayangimu," Lila menanggapi.
Alan hanya tersenyum malas, suara putaran kunci membuat Alan dan Lila beranjak dari duduknya. Akhirnya pintu itu terbuka, Alan langsung berlari menuju pintu keluar. Ternyata dia salah mengira yang membuka pintu gudang itu ternyata Romi.
"Dimana orang Sialan itu?" Tanya Alan sambil mengedarkan pandangannya.
"Siapa yang kau maksud?"
"Siapa lagi yang selalu bikin aku kesel kalau bukan Kumis lele sialan itu!"
"Oh Asher ...dia udah pulang, dia yang nyuruh aku bukain pintu ini," Romi menjelaskan.
"Awas kau besok!" Gumam Alan.
Romi menatap Alan ia samgat tau kalau sahabatnya ini sedang sangat marah, "Al aku ingetin, yang lebih dulu selalu gangguin dia kan kamu sendiri, jadi jangan salahkan dia kalau dia balas perlakuan mu, niat dia baik pada kalian cuma caranya yang salah." Ucap Romi sambil berjalan mengiringi langkah Alan.
"Kalian berdua ini kenapa? Aku itu sahabat kalian bertahun-tahun, kalian malah membela orang yang jelas-jelas baru kalian kenal!" Alan menanggapi sambil berjalan lebih cepat meninggalkan Romi dan Lila di belakang.
Romi dan Lila saling pandang, lalu menghembuskan nafas bersamaan menatap punggung Alan yang mulai menjauh. "Kuharap kau tidak akan menyesal Al," batin Lila.
***
__ADS_1
Keesokkan harinya, Aya sedang bersembunyi di balik tembok kepalanya menyembul sambil celingak-celinguk, ia ingin menghindari amukan Alan.
"Bantengnya belum muncul, sepertinya aman," Aya menghela nafas lega.
Saat ia melangkah entah kenapa langkahnya seperti melayang tidak juga mau maju. Dengan perlahan dirinya menoleh. Sebuah senyuman yang sangat tidak ia harapkan menyambutnya.
"Al...turune gue Al!" Teriak Aya ketika Alan membopong badannya sepertinya mengangkat sekarung beras.
"Diem!" Sentak Alan.
"Kalo loe gak mau turunin gue, gue bakal teriak, biar seluruh kampus liat kelakuan loe!" Aya terus meronta-ronta.
"Teriak aja, kalau kamu ingin aku telanjangi dan aku karak keliling kampuns!" Ancamnya.
Ancaman Alan berhasil membuat Aya diam tak bergerak. Melihat itu Alan tersenyum menyeringai.
Alan menurunkan Aya setelah mengunci pintu gudang tempat kemarin ia dan Lila terkunci.
Alan menatap tajam ke arah Aya, "Mari kita berkelahi satu lawan satu!" Alan memberikan jeda. "Siapa yang menang, dia yang akan keluar dari sini dengan selamat."
"Gue gak bisa Al!" Tolak Aya.
"Kenapa? Bukannya kamu pandai berkelahi." Alan menaikkan sudut bibirnya.
Memang Aya sangat pandai berkelahi, saat Ia masih kecil ia kerap ikut Ima belajar taekwondo dari ayahnya. Tentu tanpa sepengetahuan Papa dan Mamanya.
"Gue gak mau berkelahi dengan sahabat gue sendiri." Tolak Aya lagi.
"Sahabat kau bilang?" Alan memberikan jeda lalu mendengus. "Seorang Sahabat gak mungkin ngunciin sahabatnya sendiri di gudang!" Sentaknya.
"Gue gak ada maksud jelek Al, gue udah kasih tau kemarin kan alasannya, harusnya loe itu terimakasih ke gue karena gue udah bikin loe bersatu dengan Kak Lila."
Alan malah tertawa sumbang, "terimakasih kau bilang?.... Kau itu tidak tau apa-apa, jangan sok Pintar!" Teriaknya lalu mendorong pundak Aya sampai membentuk ke tembok.
"Aduh!!... sakit Al!" Pekik Aya kesakitan. Ia sudah sangat kebingungan, ia belum pernah sekalipun melihat ekspresi Alan yang begitu menakutkan seperti sekarang. "Apa yang harus kulakukan? Bantu aku ya Tuhan," batinnya.
"Ayo lawan aku, kalau kau gak mau biar aku yang mulai." Alan sudah mau melayangkannya tinjunya.
Cup!
Aya langsung mencium bibir Alan dengan mata tertutup. Beberapa detik ia tidak merasakan pukulan yang di layangkan Alan di pipinya.Ternyata caranya berhasil begitu pikirnya. Saat ia akan menjauhkan wajahnya untuk mengakhiri ciuman itu. Alan malah mendekap erat kepala Aya dengan kedua tangannya.
Alan membalas ciuman yang dilayangkan oleh Aya, ia bahkan m*l*m*t bibir Aya dengan rakusnya, seperti seseorang yang sudah lama menahan hasrat, dan sekarang saatnya mengeluarkan semuanya lidah Alan mulai memasuki rongga mulut Aya dan menari-nari di dalamnya.
Seperti kehilangan akal Aya pun membalas semua yang dilakukan Alan kepadanya sesekali mereka mengatur nafas lalu melanjutkannya lagi. Hampir seperempat jam berlalu, Aya langsung tersadar ia takut kumis yang Ia pakai akan terlepas. Aya mencoba mendorong dada Alan dari tubuhnya tapi tak berhasil. Ia menggigit bibir Alan dengan sangat kuat tapi bukannya terlepas Alan malah membalas gigitannya tanpa melepas tautan bibir mereka. Aya hanya bisa meringis dalam batin. Dan tinggal satu cara terakhir yang Ada dalam benaknya.
Bukk!
Aya menendang milik Alan yang berharga dengan lututnya sekuat tenaga. Dan berhasil Alan langsung jatuh tersungkur di lantai. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ia langsung kabur.
Benar saja dugaan Aya kumis yang ia pakai sudah bergeser malah hampir terlepas, untung saat ia berlari keluar ia menutupi bagian hidungnya.
"Kak Lila, pinjem masker!" Ujar Aya cepat setelah ia sampai di ruang kesehatan.
"Loh Aya, itu kemana kumis kamu dan bibir kamu kenapa berdarah?" Tanya Lila heran saat melihat Aya masuk tanpa kumis yang biasa ia pakai dengan tampilan sedikit acak-acakan.
"Nanti aja ceritanya, cepetan Kak nanti Alan keburu dateng," ucap Aya terburu-buru. Sayup-sayup Aya mendengar derap langkah kaki sedikit berlari.
__ADS_1
Bersambung....
Terimakasih yang sudah setia dengan tulisanku... jangan lupa tinggalkan like dan komen.. macacihhhhh