
Setelah mandi Alan memutuskan mencari udara segar kini dirinya berdiri di balkon sambil menatap bintang. Ada satu bintang yang mencuri perhatiannya. Bintang yang paling terang di antara yang lain. Tangannya terangkat seolah ingin menggapai bintang itu.
"Bintang itu seperti kamu Ay, indah dan bercahaya tapi tidak bisa aku gapai."
Suara telfon membuat Alan menghentikan aktivitasnya. Ia mengerutkan keningnya saat melihat nama si penelfon.
"Hallo ada apaan?!"
"Idih...gitu amat sama gue Bro! Gue mau kasih kabar bagus ni buat lu."
"Apaan? Cepetan! Aku lagi sibuk."
"Sok sibuk lu palingan juga rebahan kalo gak ngelamun."
"APA KABAR BAIKNYA!" teriak Alan.
Terdengar suara umpat dari balik telefon. "Slow bro!...gue udah berhasil melacak keberadaan Aya. Dia Sekarang ada di Singapur negara yang sama denganmu."
"Udah tau!"
"Apa?! Lu gak ngibul kan?"
"Tadi barusan ketemu."
"Wiiihh... seneng dong, terus-terus gimana? Udah kangen-kangenan?"
"Kangen-kangenan gundulmu!...tugasmu sekarang menyampaikan pesan pada Mamaku bilang kalau seminggu lagi aku pulang."
"Beneran? gak boong kan lu? keknya udah mau lamar do'i nih ceritanya?"
"Gak! Bilang ke Mama siapin calon istri buatku. Terserah mau siapapun aku bakal terima."
"Lu serius bro? Tapikan lu udah ketemu sama do'i." terdengar suara ketidak setujuan.
"Dia udah bahagia sama orang lain itu udah cukup buatku. Lembaranku bersamanya memang harus benar-benar aku tutup."
"Baiklah, semoga lu udah yakin dengan keputusan yang lu ambil."
Alan merebahkan diri sambil menatap langit-langit kamarnya, ia mencoba tersenyum mengiklaskan semuanya. Cinta pertamanya, mimpi yang sempat ia bangun bersama Aya. Perlahan matanya tertutup. Untuk pertama kalinya ia merasakan kantuk dan terlelap dalam tidurnya.
Cahaya yang masuk di salah satu gorden kamar menandakan hari sudah pagi.
Ting!...Tong!...Ting!...Tong!
"Siapa sih pagi-pagi bertamu? Mengganggu orang tidur saja." Gumam parau seseorang yang terpaksa harus terbangun dari tidur lelapnya.
"Pasti ini si playboy cap kapak." Dengan hanya menggunakan boxer Alan berjalan menuju pintu keluar.
"Hoy David! ngapain pagi-pagi__" ucapannya terputus saat melihat sosok wanita cantik yang sudah berdiri di depan pintu apartemennya. Buru-buru ia menutup pintunya tapi wanita itu mencegahnya tak kalah cepat. Malah sekarang wanita itu berhasil menyelonong masuk.
"Ay__Aya? Ngapain kamu disini? Dimana Ezra?" Tanya Alan antara terkejut dan was-was. Tapi kemudian tersadar kalau dirinya dalam keadaan bertelanjang dada. Saat Alan hendak masuk ke dalam kamarnya Aya langsung memeluknya dari belakang. Hingga membuat Alan mematung.
Flashback
__ADS_1
"Hallo Jess bisa kita bertemu?" Aya berjalan terburu-buru keluar dari lorong rumah sakit sambil menelfon Jessica.
"Ini masih jam enam Ay kamu gak lagi ngigau kan? Lagipula aku dengar bukannya kamu lagi di rawat ya?"
"Aku udah boleh pulang, ini sekarang aku udah ada di jalan. Please bisa kan?? Ini penting!" Aya sudah mengendarai mobilnya sambil tetep menelfon tentunya menggunakan headset.
"Oke, kau bisa langsung ke rumahku. Ada yang ingin aku sampaikan juga."
Aya mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Entah apa yang ia pikirkan sekarang tidak ada yang tahu.
Sesampainya di rumah keluarga Jessica Aya disambut seorang pembantu yang langsung mempersilahkan dirinya masuk. Di sana hanya tinggal Jessica, Ibunya juga para pembantu. Ayah Jessica jarang ada di rumah karena mengurus bisnis yang ada di Jakarta. Sedangkan kakaknya David lebih memilih tinggal di apartement. Karena merasa lebih bebas untuk membawa para pacarnya ke sana. Berbeda jika ia membawanya ke rumah. Bisa di sunat dua kali oleh ibu dan ayahnya kalau sampai tahu kelakuan bejatnya.
"Masuk Ay. Mau makan apa?"
"Tahu aja kalau aku laper."
"Iyalah, orang bertamu pagi buta pasti tujuannya minta makan."
"Bisa aja lu." Mereka terkekeh bersamaan.
Akhirnya Aya dan Jessica sarapan bersama. Kebetulan ibunya Jessica sedang menginap di rumah saudaranya.
"Kamu ketemu aku pengen ngomong apa Ay?" Tanya Jessica setelah menyelesaikan makanya.
"Hmmm... gimana ya? Tapi kamu jangan salah paham dulu ya? Aku cuma ingin memastikan sesuatu."
"Apa? Jangan bikin aku tambah penasaran!"
"Ini soal...Niel." Ucap Aya ragu.
Aya langsung terkejut saat mendengar ucapan Jessica. "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Maaf Ay, awalnya aku ingin langsung memberitahumu tapi aku masih ragu. Sejak aku melihat gelang yang kau pakai dan yang Alan pakai menyala bersama waktu selesai seminar aku mulai mencari tahu. Aku bertanya pada Kak David tentang Niel yang ternyata nama lengkapnya Alan Nathaniel. Dan kisah cintanya sama persis denganmu baru aku yakin kalau dia Alan. Pacarmu dulu. Dia belum meninggal Ay, dia masih hidup bahkan dia terus mencarimu. Aku dengar dari Kak David orang tua kekasih Alan tidak menyetujui hubungan mereka. Itu artinya Om Jonathan yang tidak setuju, jadi kesimpulan yang dapat aku ambil, Om Jonathan sengaja membohongimu dan mengatakan kalau Alan sudah meninggal. Sebenarnya aku ingin memberitahumu tapi Aku mengurungkan niatku karena aku dengar kamu akan di lamar. Aku tidak mau merusak hubunganmu dengan Dokter Ezra. Tapi aku sadar sepahit apapun aku harus memberitahukan padamu. Aku berharap kamu bisa mengingat semuanya. Aku tahu sesakit dan seberat apa hidup yang kamu alami selama ini. Kamu sering pingsan dan mimpi buruk dan bangun dengan keadaan linglung. Maaf Ay." Jessica langsung memeluk Aya yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Tidak apa-apa Jess, kamu tidak salah. Tidak perlu minta maaf. Lagipula aku sudah mengingat semuanya."
"Yang benar?" Jessica langsung melepaskan pelukannya dan beralih menatap Aya penuh selidik. Aya yang ditatap seperti itu langsung mengangguk.
"Sejak kapan?"
"Tadi malam, untuk pertama kalinya aku melihat wajah Alan lagi dan aku langsung mengingat semuanya Jess."
"Kurang ajar! Kenapa tidak bilang dari tadi! Mulutku udah berbusa njelasin semua yang aku tahu padamu. Dan dengan entengnya kamu bilang sudah tahu." Jessica memukul Aya gemas.
"Haduh! Duh!...sakit Jess. Bisa-bisa aku masuk rumah sakit lagi nanti."
Jessica tiba-tiba menghentikan aksinya memukul Aya. "Eh sebentar.. jangan-jangan alansan kamu masuk rumah sakit gara-gara ingatan kamu itu?" Aya langsung mengaguk.
"Terus rencana kamu gimana sekarang?"
"Aku ingin menemui Alan. Apa kamu tahu alamat tempat tinggalnya?"
"Tentu saja, dia tinggal di apartement tepat di sebelah apartemen milik Kak David."
__ADS_1
"Terimakasih Jess. Tapi apakah kamu tidak apa-apa?"
"It's ok, lagi pula aku hanya kagum padanya. Perasaanku belum terlalu dalam. Sepertinya aku sama sepertimu masih menyimpan rasa pada cinta pertamaku."
Aya membalasnya dengan senyuman. "Semoga kamu bisa bertemu lagi dengannya. Ok, aku pergi dulu." Aya berdiri.
"Mau aku temenin?"
"Gak usah."
"Acciie..cie, mau berduaan ini ceritanya. Ingat sama tunangan Ay." Goda Jessica.
"Aku belum sempat menerima lamarannya Jess."
"Lha kok?"
"Aku keburu pingsan waktu itu.Tapi aku bersyukur sekali karena kejadian itu."
"Cepat putuskan siapa yang kamu pilih, aku siap menampung salah satunya." Jessica mengedipkan satu matanya.
"Dasar!" Aya memukul pundak Jessica pelan sebelum dia benar-benar pergi.
Setelah meninggal kediaman keluarga Jessica. Aya langsung melesat menuju apartement Alan. Kini dirinya sudah berdiri di depan pintu.
"Eh Ayank...Ngapain di sini? Kamu mau ketemu Niel ya? Hayo... aku aduin pak Dokter nanti."
Aya langsung tersentak dan langsung gugub. Ia merasa seperti seseorang yang ketahuan selingkuh. "Eh.. gak... kok Kak David! Tadinya aku mau mampir ke apartement temanku. Tapi sepertinya aku salah lantai. Kalau begitu aku permisi dulu Kak." Aya langsung lari ngibrit meninggal David yang mengerutkan keningnya bingung.
Aya mengintip dari dalam lift memastikan David sudah masuk apartemennya baru ia keluar lagi.
Flashback end
"Alan apakah aku masih menjadi cahaya hatimu?"
Tubuh Alan semakin mematung mendengar pertanyaan Aya. Apakah sekarang Aya sudah mengingat semuanya? Perlahan Alan berbalik kemudian menghapus air mata di pipi wanita yang sangat ia rindukan itu.
"Tentu saja, kamu akan terus menjadi cahaya di hatiku Aya."
Mereka saling berpelukan erat menumpahkan semua kerinduan selama empat tahun lebih. Kini Alan juga tidak perduli akan penampilannya yang hanya menggunakan boxer. Rasa rindunya mengalahkan semuanya. Hampir setengah jam mereka dalam posisi seperti itu hingga....
"Al..?"
"Hmm kenapa?" Alan melepaskan pelukannya. Menatap wajah cantik Aya yang sudah memerah. "Wajahmu kenapa membb__" belum sempat menyelesaikan kalimatnya Aya langsung menyergap bibir Alan. Ciuman yang sangat menuntut Alan yang semula diam saja karena kaget perlahan membalas ciuman itu. Ciuman yang sangat menggebu penuh emosi antara rindu dan nafsu. Bibir mereka saling m*l*mat ,meng*l*m bergantian dari bibir atas berpindah ke bawah. Lidah Alan maupun Aya sudah menelusup masuk. Saling bertautan mengecap rasa manisnya madu yang sudah lama tidak mereka rasakan.
Ciuman itu berhenti saat merasakan nafas mereka yang hampir habis tapi itu tidak berlangsung lama bibir itu kembali bertautan suara kecapan kembali bersahut-sahutan. Entah dorongan dari mana antar sadar dan tidak mereka berjalan menuju kamar Alan dan sekarang posisi Aya terlentang di atas ranjang di bawah kungkung Alan.
Mereka saling memandang. Ada pancaran kabut gairah dari sorotan mata Alan. Kening mereka saling bersentuhan setelan itu hidung Alan mengendus ceruk leher Aya menghirup wangi vanilla yang sudah dirindukannya. Bibirnya mulai bermain nakal menjelajahi lalu menggigit kecil hingga meninggalkan beberapa jejak merah di sana.
"Aahh.. Al....eugh... Alan." suara Aya terdengar sexi di telinga Alan.
Mendengar itu nafas Alan semakin memburu. Entah sejak kapan Aya sudah melepaskan atasannya hingga menyisakan dalaman yang membungkus dua gundukan di dadanya.
Alan hanya bisa menelan salivanya kasar saat melihat keindahan yang tersaji di depan matanya. Pandangannya beralih menatap Aya yang masih setia terbaring di bawahnya. Bukannya menolak atau apapun dia malah tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
Bersambung.....
Hayo pada penasaran gak kira-kira Alan sama Aya mau ngapain. mau kerokan kali ya?... hehehe, jangan lupa like, koment dan vote macacihhhhh