Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Hadiah Tahun Baru


__ADS_3

"Kenapa jauh-jauh ke sini hanya karena ingin jadi Asdos? ... bukannya lebih enak tinggal di luar negeri?" Dan untuk pertama kalinya sepanjang jalan kenangan Mita bersua.


Bibir Asher membentuk senyuman, "Aku di sini bukan karena ingin jadi Asdos."


"Lalu?"


"Aku di sini karena ada Tuan Putri yang bersinar bagaikan Berlian." Asher tersenyum manis menatap Mita.


Minta memutar bola matanya jengah. "Tidak ada berlian di sini yang ada batu kerikil, kamu salah tempat....kalau mau cari berlian aku sarankan kau lebih baik kembali ke habitatmu."


Kini perasaan Asher ada di antara senang dan kesal. Senang karena untuk pertama kalinya Mita berbicara panjang padanya tapi juga kesal karena dia merasa di samakan sebagai hewan.


"Maksudmu apa?" Asher menahan kekesalannya.


"Aku pikir di LA pasti lebih banyak wanita yang bisa membuatmu tertarik yang bagaikan berlian seperti yang kau katakan."


"Pada dasarnya semua wanita itu berlian apalagi bagi keluarganya, tidak ada kerikil yang seperti kau katakan!... menurutku kamu itu sebuah berlian yang murni belum di asah sama sekali, hingga orang tidak tau seberharga dan seindah apa dirimu."


Entah kenapa perkataan Asher membuatnya tersentuh. Hingga tanpa ia sadari bibirnya melengkung dan itu tidak luput dari perhatian Asher.


Tiba-tiba mobil yang dikendarai Asher di kerubungi beberapa anak-anak. Mereka menggedor-gedor hingga membuat Asher tersentak. Perlahan tapi pasti Asher menambah kecepatannya hingga anak-anak itu tertinggal di belakang Asher langsung menggela nafas lega.


"Yang seperti itu sudah biasa di sini.... pasti kau terkejut sekaligus takut mobil mahalmu akan lecet ya kan?." Mita melirik Asher.


"Tentu saja tidak, aku biasa saja." Ujar Asher bohong.


"Nanti berhenti di depan rumah yang ada pohon nangkanya itu." Tunjuk Mita pada rumah kecil nan sederhana.


Kini mereka turun dari mobil. Mita langsung berjalan menghampiri Asher yang baru saja menutup pintu mobilnya.


"Terimakasih sudah mengantarku, kau bisa pulang sekarang!" Ada nada paksaan dari ucapan Mita.


"Apa!.... please berikan aku segelas air dulu, aku sangat haus.... bagaimana kalau nanti aku dehidrasi dan pingsan sebelum sampai di rumah." Asher memasang wajah memelas.


"Ya sudah! tapi janji hanya minum saja."


Mita menggiring Asher untuk duduk di kursi depan teras. Sambil menunggu Mita Asher berjalan kembali ke mobilnya dan berjongkok, entah apa yang ia lakukan.


Terlihat seorang nenek-nenek terseok-seok berjalan sambil menggendong keranjang berisi botol-botol jamu di balik punggungnya. Ia tampak terkejut melihat mobil sport mewah terparkir di halaman rumahnya.


"Maaf anak ini siapa?" Tanya nenek itu saat berdiri di depan Asher kemudian menurunkan keranjang gendongannya.


Belum sempat Asher menjawab terdengar suara keras dari arah belakangnya.


"Nenek...!!, Mita kangen nek." Mita langsung menghambur memeluk Neneknya.


Nenek itu bukannya membalas pelukan Mita ia malah memukul punggung Mita berulang kali dengan jariknya.


"Cucu kurang ajar!... selalu ngagetin Nenek, mau pulang gak ngabarin dulu!" Nenek ijah mengomel sambil terus memukuli Mita.


"Sakiiiit!....Neekk!." Mita merengek sedikit manja pada Neneknya sambil menghalau pukulan yang dilayangkan Neneknya.


Mata Asher mengerjapkan beberapa kali, apakah benar gadis yang berdiri di depannya itu benar-benar Mita, gadis yang biasanya irit bicara, cuek dan judes.


"Ini siapa nduk?" Nek ijah menunjuk Asher dengan tatapnya.


Mita menoleh kemudian tersentak kaget. "Lho kau masih di sini?...dari kapan?" Mita tampak antara gugub dan terkejut.

__ADS_1


Bukannya menjawab pertanyaan Mita, Asher malah Mengulurkan tangannya pada Nek ijah. "Perkenalkan saya Asher Nek, saya yang baru saja mengantar Mita ke sini."


Senyuman terbit di bibir nek ijah. "Pasti ini calon cucu menantu Nenek."


Asher tersenyum senang mendengar penuturan Nek ijah, sedangkan Mita terlihat tidak terima. "Nenek!....bukan nek, dia hanya orang yang kebetulan nganterin aku, dia bukan siapa-siapa!" Protes Mita tidak terima.


"Yuk!...masuk dulu Nak." Nek ijah mempersilahkan Asher masuk.


Tentu saja itu yang dari tadi di harapkan Asher. Belum juga kakinya menginjak masuk rumah, Mita buru-buru menarik tangan Asher menuju pintu mobil.


"Silahkan kamu pulang sekarang!" Setelah mengatakan itu buru-buru Mita berbalik meninggalkan Asher.


"Ya Tuhan Ban mobilku kenapa ini?.... bagaimana caraku pulang?!" Teriak Asher.


Mita yang mendengar itu pun penasaran membuat ia mengurungkan niatnya masuk rumah. Ternyata mobil Asher bannya kempis dan itu ulahnya sendiri. Melihat itu Nek ijah menyarankan Asher untuk menginap di rumahnya malam ini karena memang matahari sudah mulai terbenam. Tentu itu yang memang di harapkan oleh Asher. Mita yang sebenarnya tidak setuju tentu tidak bisa menolak permintaan nenek tersayangnya. Dan dari situlah Asher tau kalau Mita tumbuh besar di dalam asuhan Nek ijah, ibu Mita meninggal setelah melahirkannya sedangkan ayahnya tak tau keberadaannya kemana sejak Mita masih dalam kandungan.


***


Alan menahan tangan Aya yang hendak keluar dari mobil.


"Apa lagi Al?" Aya menatap Alan malas, rasanya hari ini ia sudah sangat capek.


"Aku cuma pengen mengingatkan kamu saja kalau Cintaku padamu tak kan pernah berubah."


Aya tertawa sumbang "Kayak lirik lagu aja, udah ah....jangan bercanda." Aya menarik tangannya.


"Aku gak bercanda kalau itu menyangkut hati....dari dulu, sekarang atau nanti yang ada di hatiku cuma kamu." Alan mengucapkannya dengan serius.


Aya langsung mengalihkan pandangannya untuk menutupi rasa gugupnya. "Udah....ah, kalau mau gombal sama pacar kamu sana!"


Aya menarik tangannya cepat kemudian berlari menaiki tangga. Ia takut hatinya kebali goyang mendengar ungkapan cinta Alan, karena ia sudah bertekad ingin mengubur rasa cintanya. Dan sepertinya jalan untuk menjadi sahabat Alan adalah salah bukannya membantu malah memperumit dan kian memupuk rasa cintanya.


"Bibirmu kenapa Ra, habis botox ya?" Cika memperhatikan bibir Aya yang sedikit bengkak dan merah.


"Gak lah buat apa, bibirku udah bagus kok!" Aya membanggakan diri.


"Ini gara-gara mimpi waktu aku ketiduran di mobil tadi." Lanjutnya.


"Mimpi apa?....trus kamu tadi bilang tidur? Tidur dimobil siapa?" Cika mengerutkan keningnya.


"Mobil Alan,...eh kamu pernah gak mimpi ciuman terus efeknya sampe dunia nyata kayak gini?" Aya menunjukkan bibirnya kemudian langsung beranjak duduk menatapnya Cika dengan serius.


"Kamu mimpi ciuman sama siapa?... Lee min hoo atau Kim so Hyun?" Cika terlihat antuasias.


Aya memutar bola matanya jengah, "Gak sama mereka lah!...emm..sama yang punya mobil." Lirihnya.


"Daebak!....aku yakin itu bukan mimpi tapi kenyataan!" Cika mengatakannya dengan mantap.


"Maksudmu?"


"Mungkin dia cium kamu saat kamu tidur, terkadang sesuatu yang terjadi dalam kenyataan bisa masuk alam bawah sadar."


"Tidak mungkin!"


"Aku kasih contoh ya, misal saat kita mimpi buar air ke kamar mandi, kenyataannya kita ngompol kan." Cika menjelaskannya dengan serius dengan jarinya ia letakkan di dagu.


Jawaban Cika sontak membuat tangannya reflek mentonyor kepalanya. "Sembarang!... Gak ada hubungannya oon!..udah ah gak usah di bahas, buang-buang waktu aja ngomong sama kamu!" Aya langsung beranjak berdiri sambil menenteng papper bag miliknya.

__ADS_1


"Eh...kamu baru shopping? Kok gak ngajak-ngajak?" Cika tampak cemberut.


"Gak!...ini di kasih!" Teriak Aya. Tadi Alan sempat membelikannya baju katanya sebagai imbalan karena sudah membantunya sekaligus untuk hadiah tahun baru.


Aya tampak berfikir setelah merebahkan dirinya, apakah benar yang dikatakan Cika kalau Alan menciumnya saat ia tidur, memang setelah ia bangun tadi Alan tampak sedikit aneh, sepanjang perjalanan Alan hanya diam dan seperti enggan untuk memandang wajahnya. Aya menggelengkan kepalanya menepis semua pikiran yang bersarang di kepalanya, karena akan membuatnya makin berharap pada Alan, dan menurutnya itu tidak boleh.


***


Di tempat lain, Alan yang baru pulang membawa tentengan belanjaan dengan senyum yang terus mengembang.


"Anak Mama kayaknya sedang di mabuk cinta." Anita yang sedang duduk di ruang tengah menatap Alan yang sedari tadi menyunggingkan senyuman.


"Mama tau aja." Alan menjatuhkan dirinya di sofa.


"Mama suka sama Aya, dia anak yang manis,baik juga sopan...Mama setuju banget kamu pacaran sama dia." Anita menepuk pundak Alan.


"Makasih Ma?" Alan tersenyum.


Eh tunggu? Alan mengerutkan keningnya dalam, Bukankah Ibunya belum pernah bertemu dengan Aya versi perempuan, terus Aya siapa yang dibicarakan Ibunya sekarang.


"Maksud Mama Aya yang mana?"


"Aya mana lagi, ya pacar kamu lah...kamu pasti seneng gara-gara Aya nginep di sini kan?" Anita tersenyum menggoda menatap anak Sulungnya.


"Jadi sekarang Ima.... maksud Alan, Aya ada di sini?" Alan tiba-tiba merasa tidak nyaman.


"Iya, dia ada disini....diajak nginep sama adekmu, sekarang dia ada di kamar Anisa...gih samperin Nak!"


Alan sedikit menjamak rambutnya, merasa pusing, Alan masih mencari cara untuk bisa putus dengan ima, tapi sekarang malah tiba-tiba ibunya memberikan restu.


"Ini apa Al?" Anita membuka papper bag yang Alan bawa tadi. Ia mengeluarkan baju yang Alan beli Tanpa perlu menjelaskan Anita sudah tau kalau putranya membeli hadiah tahun baru karena sudah menjadi kebiasaan putranya.


Anita memanggil Putrinya dan juga Ima yang sedang di kamar untuk sama-sama membuka belanjaan yang Alan bawa. Anita tampak menyukai baju yang putranya belikan begitupun juga adiknya Anisa.


"Hadiah untuk Aya mana Kak?" Anisa menatap tajam ke arah Alan yang sedari ia turun hanya sibuk dengan gadget.


Alan mengeluarkan kotak kecil yang sedari tadi tersisihkan. Lalu menyodorkan pada ima.


"Ini buat kamu." Ucapnya datar.


Dibukanya kotak itu, berisi gelang tali berwana hitam ada inisial "i" di bagian tengahnya.


"Kok inisialnya i bukan A?" Anisa tampak tidak terima.


"Nisa!... sebenarnya nama panggilan ku dirumah itu ima, dan sekarang Kak Alan juga memanggilku ima bukan Aya." Ima menjelaskannya agar Anisa tidak marah lagi pada Alan.


Anisa hanya bisa menghela nafasnya kasar sambil menatap Alan yang kembali sibuk dengan ponselnya.


"Terus...kenapa juga ini bukan beli dari toko Kakak sendiri?!" Anisa masih belum terima.


"Cerewet!...sama aja!" Alan langsung beranjak pergi menaikkan tangga menuju kamarnya.


"Kak mau kemana?!.... jelasin dulu!" Teriak Anisa.


"Aku capek!....mau tidur!" Alan membalas pertanyaan adiknya dengan teriakan juga.


Anita yang sedari tadi mendengarkan perdebatan kedua anaknya mengeryit, ia merasa aneh dengan perubahan sikap Alan secara tiba-tiba.

__ADS_1


Bersambung.....


Maafkan lama gak up, saya di dunia nyata itu kang kue, kebetulan kemarin banyak pesenan jadi belum bisa up, nyicil nulis cuma dapet setengah...harap maklum ya? hehehe...jangan lupa klik like, koment dan Vote yang banyak biar idenya ngalir..


__ADS_2