Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Laki-laki Berwajah Buram


__ADS_3

Empat tahun kemudian


Seorang pria tampan nampak sedang menuntun wanita yang matanya sedang ditutup kain. Di dudukkan lah wanita cantik itu di salah satu kursi. Perlahan penutup matanya dibuka.


Wanita itu begitu takjub dengan senyum merekah di bibirnya saat melihat meja di hadapannya sudah tertata begitu romantis.



"Ezra?....ini semua kamu yang menyiapkannya? Indah sekali." Mata wanita itu berbinar-binar.


"Iya...ini semua untuk merayakan anniversary ke tiga tahun hubungan kita."


"Terima kasih kamu baik banget. Aku beruntung bisa mendapatkanmu." Wanita ini memegang tangan sang kekasih yang kini sudah duduk di hadapannya.


"Aku yang sudah beruntung bisa mendapatkanmu Yaya." Lelaki itu mencium tangan wanita yang ia panggil Yaya.


"Ih, selalu saja nama itu, dari kecil hingga sekarang tidak berubah." Wanita itu langsung menarik tangan kesal.


"Aku lebih suka memanggilmu seperti itu dari pada Aya, terlalu mainstream. Semua orang memanggilmu seperti itu. Tidak ada yang spesial."


Ya! Wanita cantik itu adalah Aya. Ia tersenyum mendengar ucapan lelaki yang sudah tiga tahun bersamanya. Setelah dirinya pulih dari koma empat tahun lalu, Jonathan sengaja mendekatkan Aya dengan Ezra. Ia tidak langsung mengungkapkan keinginannya untuk menjodohkan mereka berdua. Dia tidak mau Aya memberontak lagi karena paksaaanya. Baru setelah kedekatan mereka selama satu tahun Aya membuka hatinya dan menjalin hubungan dengan Ezra.


Mereka kini menyantap makan yang baru saja dihidangkan pelayan.


"Bagaimana rencanamu? Mau melanjutkan S2 di sini apa di Jakarta?" Ezra bertanya di sela-sela kegiatan makan mereka.


"Aku melanjutkannya di sini saja, kalau di sini aku bisa lebih bebas karena ada kamu. Kalau di sana aku gak kebayang pasti bakal di jaga ketat sama Ben dan Carlos. Walaupun jujur sih aku sebenarnya kangen sama mereka. Kangen sama Ima juga Asher."


Aya tidak tahu saja kalau dua pengawalnya itu sudah tidak bekerja lagi dengannya. Karena sejak kejadian kecelakaan mereka semua di pecat.


"Ngomong-ngomong tentang Asher sebelum pergi dia sempat menitipkan sesuatu untukmu." Ezra merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak. Sebenarnya malam ini dia juga ingin memberikannya. Ezra berusaha berdamai dengan masa lalu Aya. Ia ingin Aya mengingat masa lalunya perlahan-lahan. Karena kini ada dirinya jadi Ezra yakin Aya bisa melewati masa sulitnya.


"Apa ini?" Tanya Aya saat memegang kotak berwarna biru toska.


"Bukalah! mungkin itu bisa mengingatkanmu pada suatu hal."


Perlahan Aya membuka kotak itu. Tangannya terangkat untuk menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut. Ada kalung berbandul kunang-kunang dan gelang tali berwana hitam di sana.


"Kalung dan gelang ini sama persis dengan yang ada di mimpiku Zra." Aya masih diliputi keterkejutan.


"Apakah mimpimu masih sama?"


"Tidak selalu sama. Tapi aku lebih sering bermimpi saat berada bersama seorang laki-laki bernama Alan. Tapi sayangnya wajahnya buram."


"Jangan terlalu memaksa untuk mengingatnya. Dia sudah tenang di alam sana."


Aya hanya tahu dari yang diceritakan sang Papa kalau lelaki yang bernama Alan adalah kekasihnya dulu dan mereka mengalami kecelakaan yang merenggut nyawa Alan dan membuat Aya mengalami hilang ingatan.


Aya meminta bantuan Ezra untuk memakaikan kalungnya. Matanya masih setia menatap kalung di lehernya. Ia ingat pertama kali mendapatkan kalung itu saat berada di depan panggung hiburan. Dan seorang lelaki yang turun dari panggung dengan sedikit kesusahan berjalan mendekatinya dan memasangkan kalung itu. Aya tidak menampik saat merasakan momen itu sungguh dirinya sangat bahagia. Walaupun wajahnya buram tapi ia tahu saat itu dirinya sungguh mencintai lelaki itu.


Suara deringan ponsel membuat Aya kembali tersadar. Ternyata suara dari ponsel Ezra.


"Hallo? Iya, ada apa Niel?" Ezra berdiri dan berjalan sedikit menjauh. Itu salah satu yang Aya tidak suka dari Ezra. Lelaki itu selalu menjauh kalau sedang menerima telfon. Walaupun setelahnya ia akan menjelaskan perihal siapa yang menelfonnya. Tapi Aya belum puas kalau tidak mendengar dan melihat secara langsung.


"Telfon dari pasienku." Ezra kembali duduk setelah menutup telfonnya.


"Laki-laki atau Perempuan?"


"Laki-laki sayang. Namanya aja Niel."


"Kan bisa saja Niel itu perempuan!" Sahut Aya ketus.


"Namanya Nathaniel. Dia salah satu pasien sekaligus temanku. Kasian sekali dia. Dia itu tampan masih muda juga sukses. Tapi kisah cintanya begitu tragis, dia kehilangan kekasihnya. Hingga membuat dia mengalami insomnia yang lumayan berat."


"Nathaniel? Nama yang tidak asing. Kasian sekali dia."


"Kalau ada waktu akan ku kenalkan. Tapi jangan sampai kau jatuh cinta padanya. Ingat!" Ezra mengacungkan jari telunjuknya.


"Aku jadi penasaran, seberapa tampannya dia sampai bisa membuat Dokter tampan di depanku ini jadi minder."


Ezra tertawa kecil. Kemudian dia memanggil pelayan untuk membereskan makanannya.

__ADS_1


"Apakah kita akan langsung pulang?" Tanya Aya setelah mejanya tampak bersih.


"Sebentar aku jngin memberikan kamu satu kejutan lagi." Ezra menepuk tangannya dua kali hingga dua orang menghampiri mereka. Satu orang tampak membawa gitar.


Mereka mulai memetik gitarnya dan yang satu lagi mulai bernyanyi.


"Maaf sebenernya aku ingin menyanyikan lagu ini sendiri untukmu tapi apalah daya suaraku yang hanya pas-pasan." Ezra tertawa kecil sambil menatap Aya penuh cinta.


Tapi berbeda dengan yang terjadi pada Aya. Ia sedang memegang kalung di lehernya tak terasa keningnya mulai berkeringat dingin apalagi setelah mendengar lagu yang dibawakan penyanyi penghibur.


Kumau dia, 'tak mau yang lain


Hanya dia yang s'lalu ada kala susah dan senangku


Kumau dia, walau banyak perbedaan


Kuingin dia bahagia hanyalah denganku.....dst.


Lagu Kumau dia by Adnmesh Kamelang. Itu adalah lagu yang sempat Alan persembahan untuk Aya.


Aya mulai merasa pusing, kepalanya berkunang-kunang. Bahkan telinganya sudah tidak bisa mendengar suara lagu itu lagi. Suara Ezra yang sekarang tampak berlutut dengan satu kakinya sambil membuka kotak cincin di hadapannya tidak terdengar sama sekali.


Kepalanya berputar-putar, pandangannya mulai menggelap dan akhirnya.....


Bruk!


"Yaya!"


***


Seorang lelaki tampan berkulit putih. Tampak berjalan terburu-buru memasuki lift.


"Hey mau kemana Bro buru-buru amat?"


Tanya lelaki yang tiba-tiba masuk dan merangkulnya.


"Aku mau ke rumah sakit."


"Apa?"


Lelaki itu mendekatkan bibirnya kemudian membisikkan sesuatu.


"Gila kau?! gak! Aku gak mau!"


"Ayolah Niel, lo itu cupu banget. Hidup itu harus dinikmati. Jangan bilang kalau loe belum pernah melakukannya."


"Aku akan melakukannya kelak bersama istriku."


"Ciiih...."


"Jodoh itu cerminan dari diri kita. Kau gak takut dapat istri bekas pakai?"


"Niel....jangan nakut-nakutin!"


Lelaki yang dipanggil Niel itu hanya mengedikkan bahu. Dirinya sudah hampir sampai basement apartemennya.


"David! Bisa gak panggil aku jangan Niel mulai sekarang! Gara-gara kau semua orang memanggilku Niel. Memangnya aku sungai terpanjang di dunia?"


David tertawa, "Came on Bro. Nama lo itu gak keren. Al? Apaan....Aladin?"


Niel yang tak lain adalah Alan itu membuka pintu mobilnya tapi ditahan David.


"Niel..... Mau ya kencan sama adek gue. Dia suka banget sama Lo."


"Gak! Apa kau lupa? Aku berada di sini sekarang itu karena menghindari perjodohan konyol yang dibuat kedua orang tuaku. Dan sekarang kau juga melakukannya."


David mutar bola matanya jengah. Sebenarnya ia tahu sahabatnya itu pindah ke negara ini selain melanjutkan S3 dia ingin menghindari perjodohan yang dilakukan ke dua orang tuanya.


"Ayolah Niel! Cinta pertama itu selalu gagal. Kau tidak bisa mengelak."


"Itu hanya mitos. Buktinya Papa dan Bundaku bisa bersama." Alan masuk dan langsung menutup pintunya.

__ADS_1


Mobil itu melaju meninggalkan David yang masih berteriak memanggilnya.


***


"Maaf ya sayang. Gara-gara aku kamu pingsan." Ezra menatap Aya yang kini tergeletak di brangkar rumah sakit.


"Gak apa-apa Zra, Itu bukan salahmu. Entah kenapa lagu dan kalung yang aku pakai ini seperti terhubung dengan masa laluku." Aya memandang sambil memegang kalung berbandul kunang-kunang di lehernya.


"Rencananya aku mau melamar kamu tadi malam. Tapi malah menjadi seperti ini." Ezra memegang tangan Aya. Ia masih merasa menyesal karena tidak tahu kalau lagu yang sengaja mengiringinya saat mau melamar Aya malah mengingatkan Aya pada masa lalunya.


"Mana cincinnya biar aku pakai."


"Jangan! Nanti saja, aku akan menyiapkan moments romantis lagi untuk melamarmu. Aku tidak akan mengacaukannya lagi. Aku berjanji!"


Aya hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Ezra.


Di sisi lain Alan yang baru saja sampai rumah sakit langsung berjalan cepat menuju salah satu ruangan dokter. Karena memang dia sudah membuat janji terlebih dulu. Tapi setelah ia masuk ruang itu kosong. Alan memutuskan untuk keluar lagi dan mencari sahabat sekaligus dokter pribadinya.


"Eh...Tuan Niel, ada yang bisa saya bantu?" Tanya salah satu suster yang kebetulan lewat.


"Aku mencari Dokter Ezra. Dia ada di mana ya sus? Aku sudah buat janji, tapi dia tidak ada di ruangannya."


"Oh... Dokter Ezra? dia sedang memeriksa kekasihnya. Kebetulan ruangannya di sebelah sana." Suster itu menunjukkan ruangan yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Anda bisa tunggu di sini, biar saya panggilkan." Suster itu tersenyum manis. beberapa kali dia melirik Alan. sungguh dia terpesona dengan ketampanan lelaki di hadapannya.


Alan menunggu di kursi yang ada di depan ruangan di mana Ezra berada.


Tok!..Tok!...Tok!


"Permisi Dokter Ezra. Tuan Niel sudah menunggu anda di luar."


"Iya sebentar." Ezra membuka pintu kemudian menutupnya sedikit.


"Sudah lama?" Tanya Ezra sambil tersenyum memandang Alan yang langsung berdiri.


"Belum. Kenapa kekasihmu? Apakah dia sudah hamil anakmu?" Alan tersenyum mengejek.


"Enak saja kau bilang! Aku tidak serendah itu ya!" Kemudian mereka tertawa. ia tahu Alan hanya bercanda. Ia langsung mengajaknya ke ruangannya.


Samar-samar Aya bisa mendengar suara lelaki yang menunggu Ezra di luar karena pintunya yang tidak tertutup sempurna. Ia seperti sangat mengenal suara itu. Tapi setelah mendengar ucapannya yang bilang Aya sedang hamil anak Ezra ia langsung murka.


"Enak saja dia bilang aku hamil. Awas saja kalau bertemu akan aku beri pelajaran." Tangannya terangkat sambil terkepal. Ia langsung terkejut saat mendapati gelang yang ia pakai berkedip-kedip cahayanya begitu indah. Tapi lama-kelamaan meredub bersamaan dengan suara percakapan Ezra dan pasiennya menghilang.


"Kau masih susah tidur?" Tanya Ezra setelah selesai memeriksa Alan.


"Kau orang kedua yang menanyakan itu padaku hari ini." Alan duduk kemudian memijat pelipisnya.


"Cari lah pacar baru. Dan lupakan cinta pertamamu itu."


"Kau juga orang ke dua yang bilang itu padaku. Tampaknya aku harus ganti dokter pribadiku." Alan melipat kedua tangannya di dada.


"Eh...kau jangan seperti itu. Aku saja tidak marah padamu. Tapi kau begitu saja sudah marah."


"Apa maksudmu? Memang salahku apa padamu?" Alan mengerutkan keningnya.


"Tentu saja kesalahanmu sangat besar. Kekasihku pingsan dan masuk rumah sakit gara-gara kau."


"Kok bisa? Ketemu aja belum pernah." Alan menatap Ezra penuh selidik.


"Kau yang memberikan saran untuk melamarnya menggunakan lagu itu. Dan ternyata dia punya kenangan buruk dengan lagu itu."


"Oh....kenangan bersama pacarnya yang sudah almarhum itu?" Alan tidak tahu saja yang ia sebut almarhum adalah dirinya sendiri.


"Iya! Eh...? dia itu punya nama. Dan karena dia sudah meninggal dia bukan pacar Yaya lagi. Camkan itu!"


"Sorry.... Sorry Bro, jangan marah. Memang siapa namanya?" Alan mengangkat kedua tangan ke depan.


"Namanya Al___"


Bersambung.....

__ADS_1


Aku sempat bimbang mau up sekarang apa besok pagi saja. akhirnya Up sekarang aja. biar kalian gak penasaran dan menebak-nebak hubungan Aya dan Ezra kedepannya. jangan lupa like, koment dan Vote ya??


__ADS_2