Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Cerita Masa Lalu


__ADS_3

Tawa semuanya mengiringi suasana pesta yang diadakan di Cafe milik Romi itu, yang diundang tidak terlalu banyak hanya beberapa orang kenalan Nando dan Cika. Aya bahkan tidak kenal orang-orang yang ada di sana, cuma beberapa orang yang pernah ia lihat wajahnya di sekitar kampus. Jadi ia memilih gabung dengan orang yang sangat ia kenal bahkan tau rahasianya seperti Romi, Alan dan Ima. Satu lagi hampir ketinggalan saudara kembarnya sendiri Asher, yang dari tadi seperti pura-pura tidak kenal padanya. Rasanya ia ingin menampol saja wajah jaimnya itu.


"Bisa aja lu Ra, kirain kalo cewek cantik selalu jaga image ternyata kagak jauh beda. kalo saja si kumis Lele bisa dateng pasti langsung klop." Ujar Nando masih sambil tertawa. Sedangkan Aya hanya bisa menelan Salivanya dengan susah sambil tersenyum canggung.


"Kumis Lele siapa Darling?" Tanya Cika manja


Sebelum Nando mengeluarkan suara Aya langsung menyela. "Mana jamuan makannya? ...udah laper nih!"


"lha iya...si Nando gimana sih kebiasaan!" Romi menimpali sambil geleng-geleng.


"Pake acara potong kue gak?" Aya menambahkan.


"Kayak anak SD aja pake potong kue." Nando mengeryit.


"Syukurlah Kalau gitu, padahal tadi niatnya mau aku bawa'in kue lho." Canda Aya.


"Buat aku aja kalau gitu." Alan yang sedari tadi diam jadi ikut bicara.


Aya memutar bola matanya jengah, "Wani Piro?"


"Kowe njalok Piro tak sanggupi, njalok tresno ku tak iyani, njalok bondoku tak ke'i." Alan meladeni candaan Aya dengan menjawabnya menggunakan bahasa Jawa sambil menahan senyum.


Aya yang memang hanya mengerti bahasa Jawanya 'Wani Piro' tentu tidak mengerti apa yang dikatakan Alan, ia hanya bisa memasang wajah cengo.


Yang lainnya yang memang mengerti bahasa jawa kecuali Ima dan Asher tentunya langsung tertawa terbahak-bahak, melihat wajah Aya yang sangat lucu. Alan saja tidak tahan melihatnya. Ingin rasanya ia mencium pipi yang sedikit menggembung itu dengan gemas.


"Wah ternyata selain pinter masak, kamu juga pinter bikin kue Ra?" Anisa tampak kagum.


"Asal kamu tahu, di Jakarta itu Raisha punya__"


Dug!


"Aduh!" Pekik Alan.


Aya mengerjab beberapa kali, Ternyata ia salah sasaran, niat hati ingin menendang kaki Ima, malah kaki Alan yang kena.


"Kenapa Kak?" Ima langsung panik.


"Gak papa, tadi cuma lupa gak kasih kabar ke Mama kalau mau kesini." Alan memberikan Alasan. Ia langsung melirik Aya. Yang dilirik melemparkan pandangan ke arah lain, seakan tidak punya dosa.


"Iya loh, Raisha tu kalau di tempat kost sering bikin kue, apalagi kalau lagi galau.... dulu waktu pertama masuk kuliah aku masih inget banget, dia bikin kue padahal matanya sembab, untung dia gak ingusan bisa-bisa kuenya jadi asin." Cika tertawa diiringi yang lainnya. Yang diomongin mulutnya langsung menyun ke depan.


"Kamu nangis kenapa Ra?" Ima menatap Aya intens.


"Katanya kangen sama ortunya, tapi sih aku gak percaya.... palingan di bully, pada iri mungkin sama kecantikan do'i." Bukan Aya tapi Cika yang menjawab.


"Resiko itu mah." Aya menanggapinya santai.


Alan yang mendengar itu, merasa sangat bersalah. Ternyata perlakuannya dulu sampai membuat Aya begitu sedih dan terpuruk. Iya berjanji tidak akan membuat Aya meneteskan air matanya lagi.


Nando memanggil pelayan cafenya untuk membawakan buku menu, ia meminta semua teman-temannya untuk memilih menu yang mereka sukai, bebas asalkan tidak memesan untuk di bawa pulang, bisa rugi dia. Sambil menunggu pesanan mereka melanjutkan obrolan yang tertunda.


"Eh....satu lagi, aku inget waktu dia pulang kuliah, pipinya lebab bibirnya juga sampai robek, alasannya kepentok pintu, aku yakin sebenarnya dia kena tonjok itu." Cika kembali berujar.


"Masak sih?...dia itu sabuk hitam taekwondo lho." Ima menimpali.


"Yang benar?" Semuanya serempak bertanya, kecuali Alan yang memang menjadi dalang dibalik pipi lebam yang Aya dapatkan.


Anggukan Ima menjadi jawaban atas pertanyaan sekaligus keterkejutan mereka. Sedangkan Aya hanya tersenyum cengengesan.


"Daebak!....kamu itu wanita serba bisa ya?...apa yang gak bisa kamu lakuin coba?" Cika bertepuk tangan sambil menggelengkan kepala.


"Oh...iya ada, dia itu gak bisa berenang sama takut kalau masuk hutan." Ima tersenyum sambil memandang Aya, mengingat masa kecil mereka.


"Kenapa takut masuk hutan?" Giliran Anisa yang bertanya.

__ADS_1


"Saat umurnya delapan tahun, dia sempat tersesat dan jatuh ke jurang....waktu itu aku pergi bersama Asher, aku nyesel banget gak nemenin dia ke kebun teh....coba saja waktu itu__" Ima seperti sulit mengungkapkannya, ia masih diselubungi rasa penyesalan.


"Sudah gak usah diingat-ingat, aku sekarang udah gak takut lagi kok masuk hutan." Aya tersenyum sambil menarik tangan Ima untuk dia genggam.


"Beneran?...kok bisa?"


"Ada seseorang yang sudah membantuku, mengatasi ketakutan itu." Aya sedikit melirik Alan yang duduk di antara mereka, Alan menatap Aya dengan sorot mata teduh, Aya merasa aneh sekaligus lega. Sedangkan Asher juga ikut tersenyum merasa lega, sebenarnya ia juga merasa bersalah yang teramat karena tidak bisa melindungi adiknya.


"Kak Alan dulu juga pernah Lho, waktu masih kecil sekitar umur sepuluh tahunan kalau gak salah, dia masuk jurang sampai koma satu minggu karena luka di punggungnya... setelah itu masih harus terapi karena trauma, tiap lihat dahan pohon dia tiba-tiba aja ketakutan... tapi syukurlah dia sudah sembuh sekarang." Anisa tidak menyadari saat ia mengatakan itu semua Alan menatapnya tajam. Barulah ia selesai bicara Anisa langsung bungkam tapi tentu sudah terlambat.


Aya tampak terkejut, ia tidak pernah menyangka, penderita Alan ternyata begitu besar. Andaikan ia tahu lebih awal mungkin ia akan menggantikan penderitaan itu dengan cinta dan kebahagiaan yang akan ia berikan. Tapi sekarang sudah terlambat, untuk memegang tangannya saja ia tidak bisa.


Ia hanya bisa melihat ima yang sekarang sedang memegang tangan Alan. Ia sedikit tersentak saat tangannya yang ada di pangkuan di genggaman seseorang. Itu adalah tangan Alan sebelah kanan, sedang tangan kirinya yang ada di meja di genggam Ima. Rasanya Aya ingin menyayikan lagu 'Triad yang berjudul Madu tiga'... Senangnya dalam hati kalau beristri dua, seperti dunia Alan yang punya... begitulah lirik lagunya.


"Tapi syukurlah dulu, ada yang nolongin Raisha waktu itu... siapa ya namanya aku kok lupa." Ima berusaha mengingat.


"Kudanil!" Sahut Asher cepat yang langsung mendapat pelototan dari Alan, Asher membalasnya dengan senyuman yang begitu menjengkelkan.


"Lha...itu kan hewan, bukan orang." Nando ikut menimpali.


Aya berusaha menahan tawanya karena wajah Alan yang sudah semakin kelam, genggaman tangannya juga semakin erat sampai Aya meringis. Dilepaskannya tangan itu dengan sedikit kasar.


"Ya pokonya dialah, aku lupa namanya....alasan Raisha gak punya pacar selama ini ya cowok itu,.... katanya dia sedang menunggunya, yang kadang dia disebut pangeran penolong...aku sampai heran jangan-jangan dia gak bakalan nikah kalau gak ketemu tu cowok." Sontak penjelasan Ima membuat wajah Aya memerah, ia sudah tidak berani melihat wajah Alan, melirik sekalipun tidak. Pasti laki-laki itu sudah besar kepala sekarang pikirnya.


"Oh...iya aku baru ingat, dulu waktu pertama kali ketemu Alan di ATM, wajah Alan kan ganteng banget tuh....tapi waktu itu sebelum aku bertemu my darling, kalau Sekarang my darling yang paling ganteng." Rasanya Aya ingin muntah saja mendengar gombalan Cika. Yang dipuji tentu langsung tersenyum bangga.


"Katanya masih kalah ganteng pangeran penolongnya,..... sombong dia, padahal ternyata sampai sekarang belum ketemu, kalau orangnya sudah mati bagaimana?" Sambung Cika.


"Hey....jangan bicara sembarangan!" Sahut Alan melayangkan protes. Dan Tiba-tiba suasana menjadi hening.


"Iya....nih, Cika jangan bicara sembarangan!... makasih udah di belain ya Al?" Aya mencoba mencairkan suasana. Bersamaan dengan itu pesanan mereka akhirnya datang.


Setelah acara makan-makan yang disponsori oleh Cafe Nando usai Cika segera menarik tangan Aya di ikuti Mita dari belakang menuju meja yang sedikit menjauh dari yang lain.


"Ra... sumpah yakin banget aku, Alan tuh sebenernya sukanya sama kamu bukan sama pacarnya...liat aja dari tadi nyuri pandang sama kamu, pacarnya aja di kacangin." Cika langsung nyerocos setelah menduduki kursinya.


"Udah biarin lah." Aya tak mau ambil pusing.


"Emang kamu beneran gak punya perasaan apa-apa sama Alan?...dari sudut pandang aku ya Ra, kalian itu sebenarnya saling mencintai....,udah lupain aja tu pangeran mu yang gak jelas itu." Cika menatap Aya penuh selidik.


"Terus aku harus ngerebut pacar sahabatku sendiri gitu maksud kamu?!" Ujar Aya sambil melotot matanya pada Cika.


"Bener juga ya?... Tapi setidaknya kamu udah ungkapin perasaan kamu ke dia dengan gitu kamu jadi lebih bisa ikhlas nglepasin dia...ya gak?"


Aya dan Mita langsung menatap Cika heran. "Tumben kamu pinter?" Sahut Mita.


"Cika gitu looohh." Cika membanggakan diri.


Mita dan Aya memutar bola matanya jengah. "Caranya gimana?...kalo aku langsung bilang 'Al aku cinta sama kamu' trus kalo dia mutusin pacarnya gimana? Sama aja aku ngerebut pacar sahabatku sendiri juga kan?" Aya membuang nafasnya kasar.


Cika tampak berfikir keras, "Aku ada ide, sini aku bisikkan!" Cika membisikkan rencananya pada Aya dan Mita ikutan menguping.


"Gila!...gak mau gue!" Tolak Aya menggeleng cepat seraya mengibaskan tangannya.


"Memang kamu punya cara lain?" Tantang Cika memojokkan Aya.


"Udahlah, maju sana!" Mita ikut memojokkan. Aya menghela nafas perlahan mengumpulkan keberaniannya.


"Tuh... cewek-cewek ngapain pada ngumpul di sana?" Alan bertanya pada Nando menunjuk dengan dagunya.


"Biasa palingan ngerumpi'in baju diskonan kalo gak ya Drakor yang baru aja tayang,...oh iya sampe lupa mau ngasih tahu Drakor baru sama my honey."


Yang ditanya malah sibuk menggerutu dengan dirinya sendiri. Alan hanya bisa berdecak kesal.


"Tes!..Tes!...satu, dua,tiga, empat,...Tarik sis... Semongko."

__ADS_1


Suara mikrofon yang sontak membuat semua tamu menoleh termasuk gerombolan Alan dan kawan-kawannya.


Aya yang sedang memegang mikrofon sambil menahan tawa menyadari ulahnya yang konyol langsung mendapatkan pelototan dari Cika karena tidak serius.


"Perhatian semuanya, disini saya mau nyanyi bukan mau stand up komedi, karena kalau tidak lucu saya takut kena timpuk jeruk Bali." Celoteh Aya yang menimbulkan gelak tawa.


"Ya gak mungkin lah neng, cantik gitu kok... mending saya lamar jadi istri." Sahut salah satu tamu. Aya menanggapinya dengan senyum tipis.


"Ngapain sih dia di sana!...pasti mau tebar pesona!" Batin Alan sambil mengepalkan tangannya yang ada di atas meja. Gelagat Alan membuat Ima memfokuskan perhatian padanya. Ia merasa dari tadi Alan bersikap aneh.


"Semoga suara saya bisa menghibur kalian semua, apalagi buat__" ucapan Aya terpotong karena pelototan mata Cika yang sudah mau lepas dari tempatnya. "Ya sudah kita langsung saja." Sambungnya.


Aya mulai memetik gitar yang ia pangku, Aya kini sudah duduk tenang sambil menyesuaikan kunci gitarnya.


Mendengar nada awal Alan langsung tau lagu apa yang akan Aya bawakan, bibir itu melengkung dengan sempurna.


Terakhir......


Kutatap mata indahmu/Di bawah bintang-bintang


Terbelah hatiku/Antara cinta dan rahasia


Kucinta padamu/Namun kau milik sahabatku


Saat menyanyikan bait ini ia sangat malu sekali, ingin rasanya menenggelamkan diri ke lubang sumur saja. Tapi ia juga penasaran bagaimana ekspresi Alan saat mendengarnya.


Sontak mata Aya dan Alan bertemu. selagi ia terus bernyanyi mata itu terus saja memandangnya dengan senyum tulus, mata mereka seperti tengah sama-sama mengungkap cinta. Aya tau itu, tapi entah kenapa hatinya benar-benar menolak untuk mempercayainya, semakin ia percaya hatinya akan semakin sakit.


Lebih baik cinta bertepuk sebelah tangan Daripada saling mencintai tapi tidak bisa saling memiliki. Jadi ia memilih percaya pada option pertamanya.


Dilema.... hatiku....


Andai ku bisa/Berkata sejujurnya


**


Jangan kau pilih AKU/Pilihlah DIA


Yang mampu mencintamu/Lebih dari AKU


"Woy....salah itu liriknya....!" Teriak para penonton melayangkan protes.


Aya berhenti sejenak, "Sorry... Sorry, kurang konsen." Kemudian ia melanjutkannya lagi.


Bukan kuingin merebutmu/Dari sahabatku


Namun kau tahu.....


Cinta tak bisa/Tak bisa kau salahkan


Semua penonton tampak sangat menikmati suara yang Aya sajikan, semuanya tampak mengangkat tangan melambai-lambai tangannya sesuai nada yang dimainkan.


Kucinta padamu/Namun kau milik sahabatku


Dilema ....hatiku....


Andai ku bisa/Berkata sejujurnya


Jangan kau pilih dia/Pilihlah aku


Yang mampu mencintamu/Lebih dari dia


......dst.


Bersambung.....

__ADS_1


aku tadi sempat galau pas nulis ini karena kepanjangan akhirnya aku jadikan dua episode... satunya buat besok pagi ya, ini tulisanku yang paling panjang hampir 2000 kata jadi jangan lupa, like, komentar dan Votenya...


__ADS_2