Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Alea part 3


__ADS_3

Jam Istirahat...


Suasana di kantin sekolah Alena begitu ramai. Ada yang duduk di meja makan kantin menikmati makanan yang disediakan pihak sekolah sambil bercengkrama dengan teman- temannya. Ada juga yang baru mengambil hindangan di meja saji. Hingga suasana berubah mencekam saat salah seorang siswi tidak sengaja menyenggol Pearly yang sama- sama membawa wadah berisi makanan di tangannya.


Brukk!


Makanan jatuh berhamburan ke lantai hingga mengenai sepatu mahal milik Pearly. Suasana kantin yang tadinya ramai oleh suara dari para siswa hingga suara alat makan yang digunakan para siswa seketika lenyap. Semua mata tertuju pada Pearly dan seorang siswi yang tertunduk ketakutan, termaksud Alea yang sedang menikmati makanannya.


"Apa yang kau lakukan, Hah! Kau tidak punya mata!..," teriak Pearly menatap tajam siswi di depannya yang merupakan salah satu siswa dari bantuan sosial.


Siswi bernama Rinianty itu makin menundukkan kepalanya, enggan menatap Pearly. "Maa..af-..."


"Diamlah! Siswa seperti dirimu ini seharusnya tidak pantas berada di sekolah ini.., dasar pembuat masalah!..," Pearly menjambak rambut Rinianty lalu menghempaskan tubuh mungil itu ke lantai yang berceceran makanan. Rinianty hanya pasrah dan menangis di lantai kotor itu, ia tidak berani melawan Pearly yang bak seorang moster ketimbang seorang siswa palajar.


Alea yang menyaksikan kejadian itu berdiri dari duduknya, hendak menolong Rinianty dan memberi pelajaran pada Pearly yang menurutnya sangat keterlaluan.


"Kau mau kemana?..," tanya Fernand menahan lengan Alea.


"Aku ingin membantunya..," jawab Alea hendak melepaskan cekalan tangan Fernand dari lengannya, yang ia ketahui sahabat dari adiknya, ia mengetahui hal itu tadi malam saat ia membongkar album foto Alena yang banyak menampilkan laki- laki bernama Fernand sedang berpose ceria dengan adiknya.


Bukannya melepaskan tangan Alea, Fernand malah menarik lengan Alea agar duduk kembali. "Kau ingin membantunya?.., apa kau lupa kita juga pernah ada di posisinya.., bahkan jika kau membantunya posisimu akan lebih menyedihkan darinya..," Alea terdiam, ia berusaha mencerna setiap ucapan dari Fernand. Itu artinya adiknya pernah mendapatkan kekerasan fisik juga.


[Apa luka dan memar ditubuhnya karena ulah perempuan gila itu?] Alea menatap tajam ke arah Pearly.


Jika memang benar perempuan itu yang telah melakukan itu pada Alena adiknya, ia tidak akan tinggal diam. Alea pasti akan perbuatan Pearly, bagaimana pun caranya, yang penting Pearly hancur.

__ADS_1


"Apa kau lupa? Pearly itu bukan seorang manusia, melainkan monster. Ia bahkan tega menindas siapa saja yang dia anggap pengganggu..," Alea beralih menatap Fernand, itu artinya perempuan itu benar- benar gila.


"Luka di dahimu saja baru kemarin kau dapatkan, apa kau nyakin ingin membantunya?..," Tanya Fernand menatap ke arah dahi Alea. Namun, ia terheran saat mendapati dahi Alea yang tidak terdapat luka sedikit pun.


"Luka di dahimu kok!.." Alea reflek menyentuh dahinya. Ia lupa saat bertemu dengan adiknya, Alena terluka di bagian dahinya. Hal itu membuat jantungnya berdebar kencang, ia takut ada orang yang menyadari keberadaannya. Alea tersenyum menatap Fernand untuk mengurangi rasa gugupnya.


"Aku memakai foundation untuk menyamarkan bekas lukanya..," Fernand ingin percaya, tapi masih ada rasa yang menjanggal di hatinya. "Tapi-..,"


Perkataan Fernand terhenti ketika Pearly menyiram Rinianty dengan sebotol air minum di depan banyak orang. Alea dan sebagian siswa di sana bahkan tak bisa berkata- kata menyaksikan tindakan Pearly yang sangat tidak bermoral itu.


"Dasar menjijikan!.."


Buk!


Pearly melempar botol air mineral itu ke arah Rinianty, Lalu meninggalkan area kantin. Semua siswa di dalam kantin menatap ke arah Rinianty dengan rasa penuh prihatin. Banyak siswa dari kelas ekonomi atas yang sangat mengecam tindakan Pearly yang selalu menindas siswa dari bantuan sosial, tapi apa boleh buat? Mereka tidak ada yang berani menegur Pearly atau bahkan membantu Si korban.


Alea berdiri dari duduknya lalu menghampiri Rinianty, membantu Rinianty berdiri dari posisinya. Fernand sudah tidak bisa lagi mencegah Alea karena pergerakannya yang tiba- tiba. Hal itu membuat beberapa siswa terkejut dan panik. Mereka panik karena takut Pearly melihat tindakan Alea dan akan berdampak buruk untuknya.


"Apa yang kau lakukan?.."


"Mengapa kau membantunya?.."


"Kau dalam masalah!.."


Pertanyaan bernada peringatan itu tidak di dengar oleh Alea. Ia tetap membantu Rinianty berdiri dan menggenggam tangan Rinianty dengan erat, memberinya semangat. Ia tidak pernah membayangkan bahwa adiknya pernah merasakan apa yang Rinianty rasakan saat ini, atau bahkan lebih parah.

__ADS_1


"Sebaiknya kita bersihkan dirimu terlebih dahulu.." ajak Alea.


Di dalam toilet...


"Kenapa kau membantuku?.." Rinianty bertanya, menatap pantulan diri Alea dari cermin besar di depannya. Alea tengah membersihkan rok bagian belakang Rinianty tissue.


"Memangnya salah jika aku membantumu?.." Alea balik bertanya tanpa menatap lawan bicaranya. Ia masih sibuk dengan rok Rinianty.


"Ya salah! Bagaimana jika Pearly tahu bahwa kau membantuku? Ia pasti akan menyakitimu lagi!.." sebagai sesama siswa dari bantuan sosial Rinianty tentunya khawatir dengan teman- temannya. Apalagi sesamanya mendapat masalah akibat membantunya.


Di tambah Alena yang membatunya, yang digadang- gadang paling tidak di sukai oleh Pearly. Dugaan itu muncul karena seringnya Pearly melakukan tindakan yang melukai batin hingga fisik kepada Alena tanpa ada alasan yang mendasar. Alena berjalan saja, Pearly langsung menyerangnya.


"Aku membantumu maupun tidak, itu tidak akan merubah apapun.., Pearly akan tetap menyakitiku kapanpun yang ia mau!.., Benarkan?.." Alea membuang tissue bekas di tangannya ke dalam tong sampah, lalu mengambil yang baru.


Rinianty tidak bisa memungkiri jika apa yang di katakan Alea benar. Mereka tidak melakukan kesalahan saja Pearly tetap menindasnya hanya karena perbedaan status sosial yang mencolok.


Alea hendak membersihkan kembali rok Rinianty. Namun, Rinianty malah menjauhkan tubuhnya."Aku akan melakukannya sendiri.." tolaknya.


"Apa kau nyakin?..," Rinianty mengangguk. "Iya.."


Alea memberikan tissue di tangannya. Rinianty segera membersihkan roknya dengan tissue pemberian Alea. Rinianty kesusahan membersihkan roknya karena terdapat banyak noda makanan dari insiden di kantin.


"Di ujung rok mu terdapat noda kecap!.."


"Benarkah?..," Rinianty berusaha melihat ke belakang roknya dan yang dikatakan Alea benar. "Apa aku harus menggunakan air untuk menghilangkan nodanya?.."

__ADS_1


"Aku akan membantumu!.." Akhirnya Alea ikut andil lagi membersihkan rok Riniantyq. Karena kesibukan keduanya, mereka berdua tidak menyadari jika sejak tadi Ricard sedang berdiri di depan pintu. Ricard tersenyum penuh arti lalu meninggalkan toilet.


__ADS_2