Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Firasat Aneh


__ADS_3

"Iya...dia orangnya, Aya."


"Apa kau yakin, bukankah namanya Raisha?"


"Tentu saja, aku dapat informasi langsung dari salah satu keluarganya, aku sendiri juga tidak tahu kenapa dia menggunakan nama panggilan itu di sini."


"Jadi bagaimana? kamu merestui mereka kan? apa kau tega memisahkan mereka berdua setelah sekian lama akhirnya dipertemukan lagi?" Suhendra bertanya pada Anita dengan serius.


"Tapi bagaimana dengan Ima? pacar Alan yang baru saja dia putuskan?" Anita tampak bingung.


"Dari yang Alan ceritakan, sebenarnya di sini yang paling menderita adalah Aya, dia merelakan Alan bersama dengan Ima, mengorbankan perasaannya sendiri, tapi kamu tahu sendiri kalau putramu itu egois dan keras kepala, mana mau dia dipaksa bersama dengan orang yang tidak dicintainya, dari awal yang salah itu sebenarnya putramu, dia mengenali orang yang salah hanya karena nama depan mereka sama." Suhendra menjelaskan.


Memang tadi pagi sebelum Suhendra menemui Anita ia sempat berbicara berdua dengan Alan, menyuruh putranya itu menjelaskan duduk perkaranya. Suhendra juga sempat memukul beberapa kali punggung putranya karena kecerobohannya itu, hingga membuatnya semakin rumit. Tapi ia tidak menyinggung masalah Ima yang kata Alan meracuni pikiran Anita, ia tahu...mungkin saja gadis itu sangat marah hingga mampu melakukan hal seperti itu. Ia juga tidak mau merusak hubungan pertemanan Ima dan Anisa putrinya.


Anita tampak melamun setelah kepulangannya dari Cafe tempat pertemuannya dengan sang mantan suami.


"Mama belum tidur?" Suara putri kesayangannya membuat lamunan Anita buyar.


"Belum.... kamu sendiri kenapa belum tidur? Kok kesini nanti Ima nyariin kamu?" Anita membelai rambut putrinya yang tengah ikut merebahkan dirinya di ranjang samping Anita.


"Dia udah tidur kok Ma." Anisa diam sesaat. "Anisa kangen sama Kak Al." Lirihnya.


"Boleh ibu bertanya? Apa kamu yakin kalau Raisha menggoda kakakmu dan juga Romi?" Tanya Anita hati-hati karena ia tahu kalau putrinya itu sudah lama menaruh hati pada Romi teman putranya.


"Aku sih tidak melihat secara langsung, aku cuma mendengar cerita dari Aya....eh, maksud Anisa Ima."


Anita menghembuskan nafas perlahan, ternyata putrinya sama seperti dirinya, "Kamu pernah bertemu langsung dengannya?" Dan langsung dijawab anggukan kepala.


"Menurut pandangan matamu sendiri Raisha itu orang seperti apa? Terlepas dari semua yang dikatakan Ima." Anita menatap putrinya intens.


"Raisha itu cantik, ceria, humoris, dia juga pandai bergaul, selain itu dia juga pandai memasak, masakannya enak banget lho Ma, aku pernah dibawakan bubur sama dia saat aku masih di rumah sakit, enak banget pokoknya! katanya dia juga sabuk hitam taekwondo, aku sempat gak percaya. Satu lagi dia juga pandai bernyanyi dan bermain musik sama seperti Kak Alan." Anisa menjelaskannya dengan menggebu-gebu.


Membuat Anita tertawa, ia menangkap kalau sebenarnya putrinya itu mengagumi bahkan mengidolakan Aya.


"Terus apa alansannya kamu ikut-ikutan membenci dia?"


"Habis kak Romi perhatian banget sama dia, sampe rela mesenin Makanan, Anisa kan juga pengen diperhatiin." Anisa merengek.


Anita makin tertawa, ternyata putrinya ini tengah cemburu. "Kamu pengen gak kakakmu bahagia?" Pertanyaan Anita yang langsung di jawab anggukan kepala.


"Jadi biarkan saja Kakakmu dengan Raisha."


"Jadi Mama setuju kalau Kak Al dengan gadis itu?.... Terus Aya...eh, maksudku Ima bagaimana? kan aku yang sudah menjodohkan mereka, lagi pula Ima baik kok orangnya."


"Sekarang Mama tanya, kalau kamu dijodohkan dengan orang lain selain Romi memangnya kamu mau?" Putrinya langsung menggeleng kuat.


Anita tersenyum, ternyata putrinya belum benar-benar dewasa. "Sama seperti kamu, Kakakmu juga seperti itu."


"Tapi kan Kak Al sendiri yang mau pacaran sama Ima, terus kenapa sekarang minta putus? Seenaknya saja!" Ternyata putrinya masih kesal.


"Soal itu hanya kakakmu sendiri yang tahu, yang terpenting sekarang kamu tidak usaha ikut campur masalah mereka, kamu tidak mau kan hubungan kamu dengan Ima renggang? Jadi usahakan untuk tidak pernah menyinggung masalah itu lagi."

__ADS_1


Walaupun sedikit terpaksa Anisa mengangguk setuju, "Jadi kapan Kak Al pulang?" Anisa tampak tidak sabaran.


"Untuk sementara biarkan dulu kakakmu tinggal di rumah Papanya."


Anisa tampak terkejut, "Jadi Kak Al sudah memaafkan Papa?"


Anita mengangguk, sontak Anisa langsung kegirangan. Memang dari dulu Anisa tidak membenci ayahnya terlepas dari apa yang ayahnya lakukan dia tidak perduli, dia sangat menyayangi ayahnya, dengan Alan yang sudah berbaikan dengan sang ayah dia jadi tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi untuk bisa bertemu dengan ayahnya. Karena memang dulu Alan melarangnya untuk menemui ayah mereka.


***


"Kapan kamu mau masuk kuliah?" Tanya Mita, malam itu Mita memutuskan untuk menginap juga di apartemen Asher, sebenarnya ia terpaksa melakukannya, ia hanya ingin membantu menyelesaikan masalah sahabat satu kostnya itu.


"Gak tau Kak, aku malas banget ketemu Alan apalagi sekarang aku jadi panitia Pentas Seni, jadi sekertaris lagi...bakal sering interaksi sama dia." Aya menjawabnya malas kemudian bersandar di kepala ranjang. Tiba-tiba Seperti ada bola lampu yang menyala di kepalanya, ia tersenyum menyeringai.


"Kalian ada masalah? Pantas saja dari kemaren Alan nyariin kamu sama Asher di kampus."


Aya mengerutkan keningnya dalam, "oh jadi dia tahu aku menginap di tempat Asher?" Batin Aya.


"Habisnya dia mempermainkanku Kak! dia bilang cinta sama aku tapi malah cium cewek lain, memang sih yang dia cium itu ceweknya sendiri! tapi dia pernah bilang dia sama sekali gak cinta sama pacarnya, Apa namanya kalau tidak mempermainkan aku!" Ujar Aya penuh emosi. Rasanya ia benar-benar kesal sekali mengingat kejadian itu.


"Memang kamu yakin yang cium duluan itu dia?" Mita memperhatikan raut wajah Aya.


Aya tampak tertegun, benar juga yang dikatakan Mita Aya hanya melihatnya sekilas, tapi Aya kembali tersadar "Yakin lah, orang dia itu sering cium aku tiba-tiba__" aduh! Aya langsung menutup mulutnya merasa keceplosan.


Mita langsung tertawa terbahak-bahak. Wajah Aya langsung memerah bak kepiting rebus, ia menutup wajahnya dengan bantal karena malu.


"Mungkin saja yang pertama mencium Alan itu pacarnya." Ujar Mita setelah meredakan tawanya.


Ucapan Mita membuat Aya membuka wajahnya, "Gak mungkin! Ima...eh Aya bukan orang seperti itu, aku sudah mengenalnya sejak kecil."


"Masalah itu harusnya di hadapi bukan dihindari." Mita mulai memejamkan matanya.


Aya memikirkan apa yang baru saja dikatakan Mita memang ada benarnya. Aya bertekad mulai besok akan menghadapi Alan dengan hati lapang.Dia juga akan memutuskan hubungan persahabatan yang aneh itu.


Pagi-pagi sekali Aya sudah sampai di kampus, ia kembali menggunakan motor maticnya, tadi pagi ia menyuruh Asher mengantarkannya ke kost untuk mengambil motor dan perlengkapan penyamaran tentunya. Saking paginya bahkan kendaraan yang terparkir bisa di hitung dengan jari.


Alan tersenyum sambil berlenggang menuju ruang rapat. Ia mendapatkan kabar dari Romi kalau hari ini Aya datang ke kampus.


Alan merasa sangat bahagia bisa melihat wajah itu hari ini walaupun dengan kumis tipisnya.Tapi Ada yang aneh dengan formasi tempat duduk, kenapa dia ada di bagian seksi konsumsi bukankah dia bagian sekretaris.


Ternyata dia bertukar posisi dengan Sheila, sungguh menyebalkan. Awalnya Alan protes tapi karena lebih banyak suara yang setuju Aya bagian seksi konsumsi mau tidak mau Alan mengalah. Mengingat dulu saat kegiatan Mapala Sheila yang bagian konsumsi malah jadi kacau.


Padahal nanti makanan untuk konsumsi kan bisa pesan di restoran tidak perlu harus bagian konsumsi yang memasaknya sendiri, tapi entah sudah di sogok apa hingga semua menyetujui usulan Aya dengan mudah.


"Janji ya, nanti bikinin kita makanan yang paling enak!"


"Oke, loe tenang aja."


"Kenapa kamu gak masuk jurusan koki aja, malah masuk jurusan bisnis?"


"Lha...jangan salah, gue udah pinter masak ya, gue masuk jurusan bisnis buat nanti kalo gue bikin bisnis kuliner."

__ADS_1


"Bisa aja lu."


Itulah obrolan yang dapat di dengar di telinga Alan, walaupun jaraknya cukup jauh. "Oh ternyata dia menggunakan cara itu untuk membuat semua orang menyetujuinya." Batin Alan.


Tangan Alan mengepal saat salah satu dari mereka ada yang merangkul pundak Aya, seketika darahnya mendidih di serang api cemburu.


"Al...terus ini gimana jadinya?" Alan sedikit tersentak, ternyata Sheila yang bertanya.


Alan menatapnya jengah, pertanyaan yang tidak butuh jawaban. Ia hafal sekali sebenarnya Sheila sedang mencari perhatian. Apakah kabar putusnya sudah menyebar. Alan tau pelakunya, siapa lagi kalau bukan Nando.


Sekilas ia melihat Aya buru-buru keluar setelah rapat selesai. Tanpa pikir panjang dia langsung berlari menyusulnya dan menghiraukan panggilan Sheila.


"Tunggu, aku perlu bicara sama kamu." Alan mencekal lengan Aya.


Aya tampak diam seperti enggan untuk menoleh. Tanpa menatap Alan, Aya mengajaknya bicara berdua di cafe depan kampus.


"Ay, aku mohon dengarkan penjelasanku." Alan menggenggam kedua tangan Aya.


Aya sedikit tersentak lalu menarik tangannya lagi, "Jaga sikapmu Al, ini tempat umum." Lirihnya dengan penuh penekanan.


Oke, Alan akan menahan diri untuk tidak melakukan kontak fisik pada gadis di depannya. Ia sudah sangat senang bisa berbicara dengan gadis itu.


"Yang kamu lihat tidak seperti kenyataannya....malam itu aku memutuskan hubunganku dengan Ima, tapi dia tidak mau, tiba-tiba saja dia menciumku.... sepertinya dia tahu kamu ada di sana, dia sengaja karena dia sudah tahu kalau yang selama ini aku cintai adalah kamu."


Aya terbelalak, "Tidak mungkin!... kamu pasti bohong! jangan fitnah ya?"


"Dia itu tidak sebaik yang kamu fikirkan!...dia sebenarnya sangat membencimu, dia sendiri yang mengatakannya padaku."


"Cukup!....kamu boleh mempermainkan perasaanku tapi jangan pernah menjelek-jelekkan sahabatku! tidak ada yang lebih mengenal dia lebih baik daripada aku!" Sentak Aya tidak terima.


"Apa kamu tahu, karena dia aku diusir dari rumah! Karena dia kita salah paham! Karena dia juga ibuku__"


"Cukup!....aku bilang Cukup!" Teriak Aya sambil menutup telinganya, para pengunjung Cafe sedikit terkejut menatap heran dua orang yang terlihat sedang bertengkar itu.


Aya mengatur nafasnya supaya lebih tenang, ia tidak mau menjadi pusat perhatian.


"Aku tidak tahu apa tujuanmu yang sebenarnya, yang ingin aku katakan sekarang adalah jangan pernah menggangguku ataupun Ima lagi!.... hubungan persahabatan konyolmu itu kita akhiri saja sampai di sini!... Jika kamu ingin membongkar rahasiaku, aku sudah tidak peduli!" Aya langsung berdiri dan pergi begitu saja.


Alan yang baru tersadar atas keterkejutannya, langsung berjalan dengan cepat mengejar Aya. Tapi naas dia menabrak Pramusaji yang tengah membawa nampan hingga isi gelasnya tumpah. Alan langsung meminta maaf dan meninggalkan uang seratus ribuan untuk minuman pesanannya dan yang ia tumpahkan.


Alan terlambat, Aya sudah menaiki motornya dan melaju. Alan tidak putus asa, ia berlari mengejar Aya.


"Ayaaaa.... tunggu!" Teriaknya berulang kali sambil terus berlari. Alan tidak menghiraukan laju kendaraan yang ada di sekitarnya hingga......


Tin!.....Tin!


Ciiiiitttt!


Braaaaakkkk!


Sepanjang perjalanan, entah kenapa Aya merasa sangat gelisah, ia tidak tahu kenapa, ia seperti merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga.

__ADS_1


Bersambung.....


Seneng banget karena kalian makin suka sama ceritaku, komentar-komentar kalian jadi mood booster banget buat aku, maaf ya hanya bisa up 1 hari 1 episode, karena pada dasarnya aku penulis amatiran, asal kalian tahu 1 episode itu aku bacanya berulang kali mencari kesalahan dalam penulisan dan agar enak di baca dan di pahami... hehehe, jangan bosan-bosan buat jadi mood booster aku ya?... vote juga..


__ADS_2