Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Mimpi yang Menjadi Nyata


__ADS_3

Alan tengah menelfon pamannya menanyakan soal perkembangan perusahaan karena untuk sementara ia tidak bisa menghendel perusahaan karena keadaannya sekarang. Tak lupa ia melarang pamannya memberi tahu, ibunya soal keadaannya. Walaupun ia jarang mengunjungi perusahaan yang dibangun bersama pamannya itu tak jarang Alan ikut dalam rapat via online.


Saking seriusnya tak terasa waktu terus berlalu, setelah menutup telfon ia melihat Aya tengah tidur di kursi dengan kepala terbaring di pinggiran ranjang.


Alan tersenyum sambil mengelus rambut Aya, rambut hitam agak kecoklatan yang halus dan lembut. Dipandangnya wajah cantik gadis itu. Alan tak menyangka bisa melihat bahkan menyentuh gadis idamannya sedari kecil ini.


"Aya bangun...!" Perlahan ia goyang-goyangkan pundak Aya. "Pindah ke sofa gih, tidur posisi begini nanti badan kamu sakit semua."


"Hmmm." Gumam Aya tidak jelas.


"Ayo bangun!"


Aya terbangun setengah sadar, matanya mengerjab beberapa kali. Sangat menggemaskan pikir Alan.


"Ada apa Al? kamu butuh apa?" Aya yang belum sadar sepenuhnya tampak seperti kebingungan.


Alan tertawa kecil, "Pindah gih tidur di sofa, kalau di sini nanti badan kamu sakit."


"Sofa?" Tanya Aya masih dalam mode bingung.


"Oh...kamu gak mau? ya sudah tidur di sampingku aja, aku menerimanya dengan senang hati." Nampak Alan langsung menyingkir lalu menepuk ranjang sampingnya dengan senyum menggoda.


Sontak atau Langsung tersadar dipukulnya pundak Alan, "Enak aja...gak mau!"


Aya mendengus kemudian beranjak berdiri, dengan perasaan kesal ia menjatuhkan diri di sofa dan langsung membelakangi Alan.


"Sayang....jangan marah, aku kan hanya bercanda." Ujar Alan dengan suara lembut penuh perasaan.


Mendengar panggilan sayang keluar dari mulut Alan membuat pipi Aya langsung memanas, ia semakin tidak berani berbalik menatap Alan.


"Ayo hadap sini! Kalau gak aku kesitu sekarang nih!" Ancam Alan.


"Eh...jangan-jangan!.. iya-iya aku hadap sana." Aya buru-buru berganti posisi menjadi menghadap Alan.


"Gitu dong, aku kan bisa lihat wajah cantikmu."


"Udah gak usah gombal...ayo buruan tidur aku udah ngantuk!" Aya tampak sewot karena Alan terus saja menggodanya.


"Ucapanmu barusan kok kerasa kayak kita udah nikah aja ya? Dikamar berdua habis malam pertama." Alan tertawa.


"Alan!...aku pulang nih!" Aya sewot dan langsung terduduk.


"Iya-iya, yuk buruan tidur sayang, kamu di sofa dan aku di ranjang ini." Alan berusaha menahan tawanya, ia sangat suka sekali menggoda gadisnya ini, Aya nampak semakin cantik dengan pipi merah merona.


Benar saja wajah Aya sekarang makin memerah, buru-buru ia memejamkan mata agar omongan Alan tidak merembet kemana-mana, hari ini Aya benar-benar capek.


Alan yang melihat Aya memejamkan mata ia pun turut ikut memejamkan matanya dengan bibir yang mengulas senyum, sungguh hari ini hari yang sangat membahagiakan.


Mata Alan mengerjab saat terkena sinar matahari yang masuk lewat celah gorden rumah sakit. Ia terduduk bersandar di kepala ranjang sambil menatap keseluruhan ruangan. Tidak ada Aya, apakah kemarin cuma mimpi?


Suara pintu kamar mandi terbuka dan sosok cantik dengan rambut agak basah yang baru saja keluar membuat perasaan gundah Alan langsung menguap. Dipandangnya gadis yang tengah mengeringkan rambutnya itu.


"Kamu sudah bangun?....aku mau pulang dulu, gak enak pakai baju yang kemaren, lengket dan bau." Ujar Aya masih sibuk mengering rambutnya.


"Masa?....coba sini!" Alan melambaikan tangannya menyuruh Aya mendekat.


Aya menurut saja ia mendekati Alan, dan saat Alan menarik tangannya.


Cup!

__ADS_1


Alan mendaratkan ciuman di pipi Aya yang langsung memerah.


"Ih....kamu, selalu saja mesum!" Sentak Aya yang langsung melayangkan pukulan bertubi-tubi ke tubuh Alan.


"Aduh!...aduh... ampun!..aku laporin dokter ni ya?.. karena sudah berani menganiaya pasiennya." Alan mencoba menghalau segala pukulan yang Aya berikan.


"Biarin!...biar nanti sekali aku minta kamu biar di suntik!"


"Eh jangan dong!" Kedua tangan Aya akhirnya berhasil Alan genggam. Mereka bersitatap pancaran cahaya cinta berbinar di mata mereka masing-masing.


Ceklek!


"Pagi nak... Bagaimana keadaanmu?" Pertanyaan dari suara barito seseorang membuat mereka tersadar.


Alan dan Aya tampak salah tingkah setelah melepaskan tangan mereka.


"Eh.. pagi Pa."


Aya sedikit terkejut, mendengar Alan memanggil Suhendra dengan sebutan Papa karena setahu dia Alan tidaklah akur dengan sang ayah bahkan yang ia dengar Alan tidak mau memanggil ayahnya dengan sebutan Papa, apakah berarti Alan sudah berbaikan dengan ayahnya?


"Pagi Om!" Ujar Aya sambil melemparkan senyuman.


"Siapa ini Nak?" Suhendra pura-pura tidak mengenali Aya.


Alan memutar bola matanya jengah, saat ayahnya mulai berakting. "Ini...pacar Alan Pa." Ada rasa bangga pada dirinya saat mengucapkan kata Pacar.


"Oh cantik sekali pantas saja kamu tergila-gila padanya." Suhendra melirik Alan dengan senyum menyeringai.


Alan terbelalak, bisa-bisa ayahnya bilang seperti itu, walaupun memang benar tapi tidak seharusnya ayahnya mengungkapkannya secara langsung hingga membuat Alan malu.


"Maafkan anak Om ya? Pasti dia sangat merepotkan dirimu Nak....?"


"Om panggil Aya saja ya? seperti Alan." Suhendra menyambut tangan Aya kemudian membelai rambutnya.


"Ini Bunda bawakan sarapan, pasti kamu belum makan?" Suara lembut seseorang membuat Aya langsung menyadari ternyata ada sosok lain yang sekarang berdiri di samping Suhendra ayah Alan.


"Saya bundanya Alan, ibunya Lila dan Radit." Wanita itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum, membuat Aya semakin sungkan.


Awalnya Aya menolak tapi Ela Terus saja mendesak karena merasa tidak enak akhirnya ia memakan sarapan yang dibawakan ibu sambung Alan itu, ia jadi mengurungkan niatnya yang awalnya ingin pulang.


Radit menyelonong masuk, "Pagi Kak Al, bagai___" tiba-tiba ia berhenti lalu mengerjab beberapa kali saat melihat sosok gadis cantik yang tengah duduk sambil makan di temani ibunya.


"Lho Kakak cantik kok di sini? Mama udah kenal sama calon istri Radit?" Tanpa basa-basi Radit langsung ikut duduk di depan Aya sambil tersenyum lebar.


"Hey...bocah! jaga sikapmu sama calon kakak iparmu?" Alan memperingatkan, dia yang tadinya mengobrol dengan Suhendra langsung naik pitam saat mendengar ucapan Radit.


Radit terdiam seperti tengah mencerna ucapan Alan, "oohh....aku mengerti pantas saja, di supermarket kemaren Kak Al kebakaran jenggot nyariin Kaka cantik."


"Aku gak punya jenggot ya?!"


"Yaelah...itu kan perumpamaan, gitu aja sensi!" Radit mendengus lalu merebahkan kepalanya di sandaran sofa.


"Hey...bocah tengil!....kurang ajar main ditinggalin aku diparkiran!" Teriakan melengking Lila terdengar dari ambang pintu.


"Lila!" Ela mengingatkan putrinya. "Maaf ya nak Aya, mereka berdua memang begitu selalu saja bertengkar.


Melihat adiknya bersantai tanpa merasa bersalah membuat Lila naik pitam. Ia langsung memiting leher Radit saat duduk disampingnya, hingga adiknya meringis.


"Titipan ku udah kamu bawain Lil?" Tanya Alan.

__ADS_1


"Tentu saja,...yuk Ay kamu belum ganti bajukan ini udah aku bawain baju ganti." Lila langsung membawa Aya masuk ke dalam kamar mandi.


Brak!


Suara pintu terbuka dengan sangat keras, tampak wanita paruh baya yang sedang berdiri di ambang pintu, dengan raut wajah yang sulit di jelaskan.


Ia masuk dan langsung memeluk Alan yang terlihat masih syok. "Anak kurang ajar!...apa kamu sudah tidak menganggap Mama ini sebagai Ibumu?!" Tanyanya dengan suara sedikit bergetar, air matanya kini sudah mengalir dengan deras.


"Maafin Alan Ma, Alan tidak mau membuat Mama sedih." Matanya sudah nampak berkaca-kaca.


iya! Itu adalah Anita Ibunya Alan, dipeluknya putra semata wayang yang sangat ia rindukan, bagaimanapun kesalahan yang sudah ia lakukan, dia tetaplah putranya. Anak yang sudah ia lahirkan dan sangat ia sayangi.


"Ibu kan tidak bisa marah lama-lama sama kamu Nak." Anita tersenyum setelah menghapus air matanya. "Bagaimana keadaan mu? Kok bisa sampai seperti ini?"


Alan menatap ibunya dalam diam, "Alan tertabrak mobil karena tidak hati-hati saat menyeberang. Tidak ada luka serius, cuma patah tulang saja. Kata dokter hanya butuh terapi beberapa hari akan cepat sembuh."


Alan tidak mengatakan kalau ia kecelakaan karena mengejar Aya, bisa-bisa ibunya tambah membencinya.


Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka hingga membuat semua orang menoleh. Anita tidak menyadari ternyata di sana ada Ela istri mantan suaminya. Ela nampak diam dan menunduk tidak berani menatap Anita.


"Kamu gak kangen sama aku El? Apa kamu begitu marah sampai kamu gak mau ketemu bahkan melihat wajahku." Ujar Anita setelah duduk di samping Ela.


"Mbak Anita!" Ela langsung memeluk Anita dengan berderai air mata. "Tidak!...aku sama sekali tidak marah pada Mbak, aku di sini yang salah, aku yang sudah merebut mas Hendra dari mbak." Ela menyalahkan dirinya sambil terus menangis.


"Itu semua bukan salahmu, itu adalah takdir tuhan, dari awal dia adalah jodohmu, tapi mungkin memang harus melalui aku terlebih dahulu... sudahlah masa lalu biarlah berlalu, sekarang kita bisa bersama-sama lagi menjadi sahabat sekaligus ibu dan bersama membesarkan anak-anak kita."


Aya dan semua yang ada di ruangan itu, seakan ikut larut dalam keharuan. Persahabatan lama yang sempat terputus sekarang bisa bersama lagi.


"Apakah gadis cantik ini, pilihan hati putraku?" Anita beralih memandang Aya.


"Kamu yang namanya Aya bukan?"


Alan mengeryit, bukankah Ibunya tahunya nama gadis yang dicintainya itu Raisha? Kenapa seolah ibunya sekarang mengenal Aya? Alan langsung memandang sang Papa. Suhendra mengangguk sambil tersenyum. Itu sudah cukup menjadi jawaban dari semua pertanyaan yang bersarang di kepala Alan.


"Kamu masih ingat Tante? Tante belum sempat mengucapkan terima kasih kamu sudah pergi." Anita tersenyum kemudian membelai rambut Aya dengan rasa Sayang.


Alan yang melihat semua perlakuan Ibunya pada Aya, tampaknya ayahnya sudah berhasil membuat sang ibu luluh dan mau menerima Aya sebagai pacar dan calon pendamping hidupnya.


Selagi semua orang tua bernostalgia mengobrol masa-masa muda mereka. Alan meminta Aya mengajaknya berjalan-jalan sebentar, jangan tanya Radit dia sudah pergi entah kemana setelah meminta uang saku pada Alan, sedang Lila pergi ke kampus.


Alan duduk di kursi roda sedangkan Aya berdiri di belakangnya. Alan menatap orang-orang yang sedang berlalu lalang yang memakai baju yang sama dengannya.


"Sayang...saat aku bangun tadi dan kamu tidak ada, aku kira yang terjadi tadi malam cuma mimpi, aku masih belum percaya kita bisa bersama-sama." Alan menyentuh tangan Aya yang ada di pegangan kursi roda.


Aya belum terbiasa dengan panggilan sayang itu, wajahnya makin memerah saat tangan Alan memegang tangannya. Sebenarnya ia juga sama, belum percaya dengan kenyataan ini, bisa bersama pangeran penolongnya sungguh seperti mimpi.


"Al, aku bisa membuktikan kalau ini bukan mimpi." Aya beralih berdiri di depan Alan, ia sedikit menunduk menyamakan tinggi.


Belum sempat Alan bereaksi. Tiba-tiba Aya menarik hidung Alan dengan keras kemudian mengacak-acak rambutnya. Membuat lelaki itu terkejut dengan mata yang melotot. "Beraninya kamu__!"


Aya langsung menjauh sambil menjulurkan lidahnya mengejek. "Ayo tangkap aku kalau bisa?"



Aya menatap Alan dari jauh sedikit berjongkok sambil Terus tertawa melihat Alan yang melajukan kursi roda dengan kedua tangannya, sedikit kesusahan.


Alan dan Aya seperti larut dalam kebahagiaan. Mereka tak tahu saja kalau rintangan cinta mereka baru akan dimulai.


Bersambung.....

__ADS_1


Selamat tahu baru semuanya. maaf kemaren gak up, biar pada penasaran aja....biar dikira tamat beneran gitu, tapi aku seneng dengan gitu yang koment makin banyak, apa aku upnya dua hari sekali aja ya??? hehehehe


__ADS_2