Bertukar Identitas

Bertukar Identitas
Pesta Pertunangan berkedok Ulang Tahun


__ADS_3

"Maksud Om?" Ezra tampak kaget.


"Om berencana akan melangsungkan pertunangan kamu bertepatan dengan hari ulang tahun Om. Kamu setuju kan?"


"Kenapa mendadak sekali Om? Lagi pula Ezra belum membicarakan masalah ini sama Yaya."


"Memang sengaja Om lakukan. Om ingin membuat kejutan untuk Aya. Jadi Om mohon jangan hubungi Aya dulu dan kalau Aya menghubungi kamu abaikan saja oke?"


Ezra tampak kaget. "Kok gitu Om? Kalau Yaya keberatan dengan pertunangan ini bagaimana? Ezra juga belum sempat melamar Yaya Om."


"Pasti dia setuju bahkan senang sekali. Tujuan Om melarang kamu menghubungi Aya supaya dia makin kangen sama kamu. Setelah itu pasti dia langsung nyusul ke sini secepatnya. Iya kan Shakiel?" Jonathan menatap putra sulungnya meminta dukungan.


"Eh...i.iya." Shakiel sedikit kelabakan.


"Baiklah kalau itu mau Om. Ezra setuju saja."


Jonathan menepuk pundak Ezra senang. "Gitu dong....Jangan lupa undang teman kamu yang punya perusahaan besar itu ya?"


"Oke Om....beres."


***


Sepasang sejoli tengah menjadi pusat perhatian di Bandara internasional Changi Singapura. Si Pria yang begitu tampan dengan badan tegapnya dan sorot mata yang tajam juga si wanita yang cantik dengan wajah yang membuat orang betah lama-lama melihatnya. Setiap orang melihatnya pasti sangat setuju kalau pasangan itu begitu cocok dan serasi.


"Al kok kita tidak cek in di tempat orang-orang itu." Tunjuk Aya pada bagian antrian cek in orang-orang pada umumnya.


"Tidak sayang. Kita cek in di sebelah sini." Alan menuntun Aya untuk masuk ke antrian cek in yang hanya ada mereka berdua dan beberapa orang berpakaian hitam yang tampak seperti pengawal membantu membawakan koper mereka.


Aya yang di panggil dengan sebutan sayang pipinya langsung memerah dengan senyum malu-malu yang berusaha ia sembunyikan dari pandangan Alan. Tapi tiba-tiba Aya mendongak tatkala melihat sesuatu yang menakjubkan di hadapannya.


"Ini kan pesawat jet pribadi Al? Punya siapa ini?" Tanya Aya di sela-sela rasa keterkejutannya.


"Punyaku. Baru aku beli dua hari yang lalu. Jadi kita adalah orang pertama yang akan mencobanya." Alan menoleh melempar senyum kemudian merangkul pundak Aya.


Aya makin terkejut hingga mulutnya harus di tutup dengan kedua telapak tangannya. "Kamu pasti bohong kan? Kamu Dapat uang dari mana Al? Jangan bilang kamu pesugihan, pelihara tuyul atau malah ngepet?"


Cletak


"Aw...aw ..sakit Al!" Teriak Aya sambil mengusap keningnya.


Alan terkekeh. "Sembarangan! Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya begitu. Asal kamu tahu sekarang aku itu salah satu Crazy Rich J****." Alan membanggakan diri.


"Bukankah dulu aku sudah berjanji untuk memantaskan diri buat kamu yang seorang putri raja. Dan sekarang aku sudah menjadi seorang pangeran." Sambungnya sambil tersenyum.


Aya yang diberi sebutan putri raja langsung memeluk Alan dan menyembunyikan wajahnya didada bidang pria itu. Tidak tahu Semerah apa wajahnya sekarang.


"Alan ih... gombal." Aya memukul sedikit dada Alan yang malah terlihat menggemaskan bagi Alan.


Walaupun masih belum sepenuhnya percaya sebisa mungkin Aya mempercayai ucapan Alan. Semua orang tidak bisa memperkirakan ataupun memprediksi apa yang terjadi selama empat tahun yang sudah Aya lewati tanpa Alan. Dan bisa jadi perusahaan Alan dulu yang masih kecil bisa berkembang pesat. Tidak ada yang tahu kan?


"Kamu juga mau ikut ke Jakarta atau ke J**** dulu?" Tanya Aya di sela-sela ia menaiki tangga pesawat.


"Aku mau mampir ke Jakarta dulu memeriksa perusahaanku yang ada di sana baru ke J****." Mendengar itu Aya mengangguk-angguk.


Untuk kesekian kalinya Aya kagum dengan interior yang tersaji di dalam pesawat.


__ADS_1


"Apakah kamu suka? Aku sengaja membeli pesawat ini untukmu." Alan menatap Aya. Sebenarnya Alan sudah lama berniat membeli pesawat jet pribadi. Tapi ia menunggu saat-saat dirinya sudah menemukan Aya. Selama ini Alan lebih memilih melakukan perjalanan bisnis maupun pulang pergi indo-singapur menggunakan pesawat komersial walaupun kadang memakan waktu Lebih lama.


"Bagus sekali Al." Terlihat raut wajah senang di wajah Aya.


"Ini lebih mewah dan luas dari pada pesawat jet punya Papa." Batin Aya.


Akhirnya mereka duduk dan menikmati perjalanan bersama untuk yang pertama kalinya. Moment yang akan di kenang Aya. Ia merasa menjadi wanita yang paling bahagia dan beruntung saat bersamaan Alan. Seberapa sederhana ataupun mewah kalau bisa bersama dengan orang yang kita cintai pasti akan selalu bermakna.


Mereka berpisah di pintu keluar bandara. Awalnya Alan menawarkan supir yang akan mengantarkan Aya pulang tapi ia menolaknya dengan alasan tidak mau membuat ayahnya, Jonathan curiga hingga memilih menggunakan Taxi.


Aya kini berdiri sambil menatap pintu gerbang yang menjulang tinggi di hadapannya sudah sekitar empat tahun ia tidak pernah mengunjungi tempat itu. Entah kenapa dulu setiap ke dua orang tuanya menyuruhnya pulang ia selalu menolak dengan alasan yang bermacam-macam. Ia tidak tahu kenapa hatinya enggan sekali menginjakkan kakinya di rumah yang bagaikan istana itu. Tapi sekarang ia sudah tahu alasannya. Instana yang dari luarnya mewah itu sebenernya seperti sangkar emas baginya apalagi peristiwa terakhir sangat membekas di ingatannya. Jadinya Keluarganya hanya bisa datang sesekali untuk mengunjungi Aya di apartemet miliknya.


"Papa Mama Aya pulang!" Teriak Aya yang langsung menggema di ruangan.


Tentu saja kedatangan putri satu-satunya itu sangat mengagetkan seluruh keluarga yang saat itu tengah sarapan. Bahkan kakaknya Shakiel sampai tersedak.


"Kapan datang sayang? Kenapa kamu tidak bilang-bilang? Pulang sama siapa kamu?" Silvia memeluk erat putri yang sangat ia rindukan.


"Baru saja sampai Ma. Aya sengaja gak bilang-bilang mau bikin kejutan. Gimana berhasil gak?" Aya menaikkan turunkan alisnya sambil tersenyum manis di depan ibunya, memendam rasa yang sesungguhnya dalam hati.


"Berhasil sekali sayang. Mama sampai hampir jantungan. Iya kan Pa?" Silvia membalas senyuman Aya kemudian memandang suaminya.


"Eh...iya tentu saja nak." Jonathan ikut berdiri kemudian memeluk Putrinya juga walaupun sedikit kaku, entah kenapa ada perasaan sedikit was-was.


"Bagaimana kabar Papa? Baik kan?" Aya memeluk Papanya erat menahan rasa kecewa karena selama ini sudah dibohongi oleh lelaki yang sekarang ini memeluknya.


"Papa Baik. Kamu sendiri bagaimana? Ezra bilang kamu beberapa akhir ini sering pingsan dan mengeluh sakit kepala. Apakah ingatanmu ada kemajuan Nak?" Jonathan berusaha mengorek informasi maupun kejujuran putrinya.


"Belum ada kemajuan Pa, masih sama. Mungkin aku pingsan gara-gara kecapekan. Aya kan baru saja selesai skripsi dan langsung ngambil S2." Aya berusaha mengulas senyum, menutupi raut wajah yang sebenarnya.


"Rupanya kamu bersandiwara di depan Papa. Oke! Papa akan mengikuti permainan kamu nak." Batin Jonathan.


Tak terasa dua hari berlalu begitu cepat. Untuk kesekian kalinya ia mengurungkan niatnya untuk menemui Ezra karena disibukkan oleh urusan persiapan ulangan tahun ayahnya. Entah kenapa tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Kali ini Jonathan seperti sengaja memberikan tanggung jawab untuk menyiapkan Pesta.


Dan entah kenapa Aya tiba-tiba khawatir. Ia merasa curiga saat tidak sengaja mendengar pembicaraan ayahnya dengan seseorang. Kata 'Pesta pertunangan' itu membuatnya begitu cemas. Apakah apa yang ia fikirkan benar? Kalau ayahnya sedang merencanakan sesuatu.


Saat ia ingin menghubungi Alan suara dari pintu membuatnya mengurungkan niatnya.


Ceklek


"Papa ada apa tumben masuk ke kamar Aya? Kan bisa menyuruh Bibi atau Mama." Aya menatap Jonathan sambil melemparkan senyum walaupun sedikit dipaksakan. Ia melihat ayahnya dan tentu saja asisten pribadinya Mike yang selalu setia menemani Jonathan.


"Tidak apa-apa sayang Papa hanya ingin melihat langsung keadaan Putri Papa. Boleh Papa pinjem handphone kamu sebentar?" Jonathan mengusab puncak kepala Aya sebentar kemudian mengantungkan tangan.


"Un..untuk apa? Papa kan punya handphone sendiri." Aya tampak sedikit kelabakan.


"Sebentar saja sayang. Biasanya juga saat di Singapura dulu Papa sering pinjam handphone milikmu." Akhirnya dengan terpaksa mau tidak mau Aya memberikan ponselnya pada Jonathan. Tapi tiba-tiba Aya menangkap gelagat aneh saat Mike mengunci pintu balkon dan menyimpan kuncinya. Tak hanya itu sekarang Ayahnya bahkan memberikan ponselnya pada Mike.


"Apa yang Papa lakukan? Kembalikan handphone milikku Pa!" Aya sedikit meninggikan intonasinya.


"Maaf sayang, ini demi kebaikan kamu. Papa gak mau kamu kabur saat acara pertunanganmu besok."


Jederrrr!!


Aya seperti di sambar petir. Ternyata dugaannya memang benar ada udang di balik batu. Di balik acara ulang tahun Papanya ada acara pertunangan yang bahkan Aya sendiri tidak tahu.


"Aya gak mau Pa! Aya gak cinta sama Ezra! Aya hanya cinta sama Alan!" Teriak Aya tidak menyadari apa yang baru saja ia katakan.

__ADS_1


"Apa? Alan? Jadi putriku ini sudah mengingat semuanya? Sudah mengingat Alan?" Jonathan mengubah raut wajahnya berpura-pura terkejut.


Aya yang baru menyadari kesalahannya hanya bisa menutup mulutnya sambil menggeleng. Air mata yang sedari tadi meluncur makin deras membanjiri pipinya.


Jonathan mulai mendekati Putrinya dan perlahan mengelus rambut Aya. "Papa mohon untuk kali ini saja turuti kemauan Papa. Bertunanganlah dengan Ezra. Papa tidak bisa membatalkannya sayang. Undangan sudah di sebar. Dan apakah kamu tidak kasian sama Papanya Ezra? Om Kevin dia punya riwayat penyakit jantung dan kesehatannya sedikit menurun. Coba kamu pikirkan bagaimana reaksi Om Kevin saat putranya dipermalukan?" Jonathan menampakkan raut wajah sedih.


Aya hanya bisa menunduk, memikirkan semua yang diucapkan ayahnya. Mana tega ia membuat Ezra sedih atau bahkan kehilangan ayahnya. Walaupun tidak ada rasa cinta pada lelaki itu tapi masih ada rasa sayang sebagai seorang Kakak yang selama ini menjaganya.


"Bisakah kau melakukan ini demi Ezra dan Om Kevin sayang?" Jonathan menatap Aya intens dan perlahan Aya mengangguk. Senyum smirk tercetak di bibir Jonathan tanpa Aya sadari.


"Bisa kembalikan handphone Aya Pa?" Tanya Aya lirih sedikit mengintip reaksi ayahnya.


"Maaf sayang, untuk sementara handphone mu Papa sita dulu. Papa tidak mau benda itu membuatmu berubah fikirkan. Dan untuk sementara jangan keluar kamar sampai acara pertunangan." Jonathan lantas pergi. Dan Aya hanya bisa menatap punggung ayahnya pasrah.


***


Hari pertunangan


Sebuah mobil sport Lamborghini Aventador masuk ke kediaman mewah keluarga Narendra. Para penjaga berpakaian serba hitam bersiap menyambut dan langsung membukakan pintu mobil.


Seorang lelaki tampan keluar kemudian diikuti wanita cantik dan langsung berjalan menggandeng tangan lelaki itu.


"Apa kamu yakin Al?" Wanita itu menatap pria yang ia panggil Al.


"Aku yakin...Ayo kita masuk!" Para pengawal yang berderet membungkuk hormat dan salah satu diantara mereka yang tampak sebagai pimpinan pengawal menghubungi seseorang dari alat komunikasi di telinganya.


"Hallo Tuan Muda... tamu kehormatan yang anda tunggu-tunggu sudah datang."


Suasana di kediaman keluarga Narendra sudah cukup ramai. Pesta itu dibuat dengan konsep yang begitu mewah. Beberapa meja bulat dan kursi-kursi juga sudah disiapkan untuk tamu undangan. Tidak lupa meja VIP di bagian depan.


Pria tampan yang langsung menjadi sorotan itu langsung di persilahkan menuju meja VIP. Tepukan di pundaknya membuat Lelaki itu menoleh.


"Hey Niel! Bagaimana kabarmu?" Tanya si pelaku yang langsung merangkul lelaki yang tak lain adalah Alan.


"Baik... kamu sendiri bagaimana? Tahu-tahu untuk mau tunangan. Perasaan kemarin belum diterima lamarannya."


"Ini rencana Om Jonathan Papanya Yaya, aku sendiri tidak tahu apa-apa." Tiba-tiba pandangan mata Ezra beralih ke perempuan yang duduk di samping.


"Siapa dia? Apakah dia cinta pertamamu yang pernah kau ceritakan itu." Bisik Ezra. Alan hanya tersenyum menanggapinya.


"Oh...iya aku sampai lupa. Ada seseorang yang Sangat ingin sekali menemuimu? Dia kagum dengan kesuksesanmu di usia muda. Bahkan katanya kalau saja dia masih punya anak gadis satu lagi dengan senang hati akan dia jodohkan dengan mu." Ezra tampak antusias membicarakan seseorang yang ingin berkenalan dengan Alan.


"Benarkah? Siapa orangnya?" Alan menaikkan sebelah alisnya.


"Ayo! Aku ajak kau berkenalan dengannya." Tanpa pikir panjang Ezra langsung merangkul Alan mengajaknya menghampiri kumpulan pria paruh baya yang sekarang membelakangi mereka.


"Om...ini dia sahabat Ezra sekaligus pemilik perusahaan 'A Light Incorporated'." Ezra menepuk pundak lelaki paruh baya yang ia panggil Om dan tentu saja orang itu langsung menoleh.


"Mana orang___?" Ucapan Jonathan terpotong berganti dengan raut wajah terkejut.


"Kau?!"


Alan tersenyum kemudian mengulurkan tangannya. "Bagaimana kabar anda Tuan Jonathan? Perkenalkan nama saya Alan Nathaniel Suhendra pemilik perusahaan 'A Light Incorporated'."


Bersambung.....


Maaf untuk para readers tercinta...saya baru bisa up. akhir-akhir ini author kurang enak badan. pusing, perut gak enak, lemes mata juga susah melek, eh kok malah curhat. Cuma takutnya penyakit tipesnya kumat semoga saja gak ya? jadi mohon maaf gak sesuai janji. dan author juga gak mau janji-janji lagi. sebisa mungkin up gak tau besok apa besoknya lagi apa malah besoknya lagi.doain aja. jangan lupa tinggalkan jejak like, koment dan vote... macacihhhhh

__ADS_1


__ADS_2